roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Semakin liar pestanya, semakin ia ramah lingkungan. Club Watt, diskotek organik di Belanda yang dibuka September lalu, memanfaatkan para pengunjung yang berjoget untuk menghasilkan listrik dan menyalakan lampu diskotek.
Sekilas, Club Watt di Rotterdam tampak sama dengan diskotek pada umumnya. Musik tekno, permainan cahaya, diskjockey di panggung dan pengunjung yang kelelahan di meja bar.
Tapi, di tengah-tengah ruangan gelap itu, lantai menyala dengan cahaya merah, biru dan hijau. Lantai itulah jantung diskotek organik pertama di dunia itu.
Dan Roosegaarde yang menemukan permainan warna itu menerangkan, "Kalau saya mulai bergoyang, maka cahaya di lantai itu mulai menyala. Makin asyik saya berdansa, makin intensif juga cahayanya."
Dan energi listrik yang dihasilkan juga semakin besar. Setiap langkah menyebabkan lantai yang terdiri dari 86 pelat segi 8 itu melengkung sedikit. Gerakan ini ditransfer ke sebuah generator yang mengubahnya menjadi energi listrik. Setiap pelat bisa menghasilkan sampai 20 Watt. Energi itulah yang digunakan pemilik klub untuk pencahayaan diskotek misalnya.
"Kami memperkirakan bisa menghemat listrik 117.000 Watt setahun. Jadi kami menggunakan listrik sekitar 30 % lebih sedikit dibanding diskotek konvensional. Yang terpenting, kami menghemat 102.000 kilo karbondioksida setahun. Kedengarannya memang sedikit, tapi di sini pengunjung kami melepas lebih sedikit karbondioksida dibanding jika mereka diam di rumah, atau nonton film", kata Michel Smit, salah satu pendiri Club Watt.
Ia ingin menguji konsep itu di Rotterdam lalu mengekspornya ke seluruh dunia. Ketertarikan sudah muncul bukan hanya dari negara Eropa lain, tapi juga Australia.
Ted Langenbach DJ yang juga bertanggungjawab untuk program budaya di Watt Club mengatakan, "Kami ingin menunjukkan bahwa orang bisa bersenang-senang dan tetap berbuat sesuatu untuk lingkungan, jika prinsip daurulangnya dijaga. Tapi kami tidak mau menonjolkannya jadi masalah moral."
Bukan hanya listrik dan CO2 yang dihemat, tapi juga air. WC di diskotek itu memanfaatkan air hujan. Langkah ini menghemat air lebih dari empat juta liter.
Restoran di klub itu juga berpegang pada konsep ramah lingkungan, kata koki kepala Minke Verdoner:
"Kami mencoba menyajikan hanya bahan-bahan yang sedang musim. 99% bahan pangan yang kami gunakan berasal dari produk organik dan kami menjaga agar didatangkan dari tempat yang dekat. Daun Rucolla yang kami gunakan misalnya berasal dari produsen yang lokasinya hanya berjarak dua jalan dari sini", kata Verdoner.
Apakah konsep itu bisa bertahan, akan terbukti dalam bulan-bulan mendatang. Sejauh ini para pengunjung menunjukkan ketertarikan besar. Salah satunya Ruud, pemuda 21 tahun. Ia mengatakan, "Saya mengunjungi banyak diskotek di kota lain. Tapi yang di sini hebat. Kita bisa melihat energi yang kita hasilkan sendiri. Saya pikir penting, orang-orang bisa memperhatikan, berapa banyak energi yang sebetulnya dibutuhkan untuk berpesta." (rp)
Sekilas, Club Watt di Rotterdam tampak sama dengan diskotek pada umumnya. Musik tekno, permainan cahaya, diskjockey di panggung dan pengunjung yang kelelahan di meja bar.
Tapi, di tengah-tengah ruangan gelap itu, lantai menyala dengan cahaya merah, biru dan hijau. Lantai itulah jantung diskotek organik pertama di dunia itu.
Dan Roosegaarde yang menemukan permainan warna itu menerangkan, "Kalau saya mulai bergoyang, maka cahaya di lantai itu mulai menyala. Makin asyik saya berdansa, makin intensif juga cahayanya."
Dan energi listrik yang dihasilkan juga semakin besar. Setiap langkah menyebabkan lantai yang terdiri dari 86 pelat segi 8 itu melengkung sedikit. Gerakan ini ditransfer ke sebuah generator yang mengubahnya menjadi energi listrik. Setiap pelat bisa menghasilkan sampai 20 Watt. Energi itulah yang digunakan pemilik klub untuk pencahayaan diskotek misalnya.
"Kami memperkirakan bisa menghemat listrik 117.000 Watt setahun. Jadi kami menggunakan listrik sekitar 30 % lebih sedikit dibanding diskotek konvensional. Yang terpenting, kami menghemat 102.000 kilo karbondioksida setahun. Kedengarannya memang sedikit, tapi di sini pengunjung kami melepas lebih sedikit karbondioksida dibanding jika mereka diam di rumah, atau nonton film", kata Michel Smit, salah satu pendiri Club Watt.
Ia ingin menguji konsep itu di Rotterdam lalu mengekspornya ke seluruh dunia. Ketertarikan sudah muncul bukan hanya dari negara Eropa lain, tapi juga Australia.
Ted Langenbach DJ yang juga bertanggungjawab untuk program budaya di Watt Club mengatakan, "Kami ingin menunjukkan bahwa orang bisa bersenang-senang dan tetap berbuat sesuatu untuk lingkungan, jika prinsip daurulangnya dijaga. Tapi kami tidak mau menonjolkannya jadi masalah moral."
Bukan hanya listrik dan CO2 yang dihemat, tapi juga air. WC di diskotek itu memanfaatkan air hujan. Langkah ini menghemat air lebih dari empat juta liter.
Restoran di klub itu juga berpegang pada konsep ramah lingkungan, kata koki kepala Minke Verdoner:
"Kami mencoba menyajikan hanya bahan-bahan yang sedang musim. 99% bahan pangan yang kami gunakan berasal dari produk organik dan kami menjaga agar didatangkan dari tempat yang dekat. Daun Rucolla yang kami gunakan misalnya berasal dari produsen yang lokasinya hanya berjarak dua jalan dari sini", kata Verdoner.
Apakah konsep itu bisa bertahan, akan terbukti dalam bulan-bulan mendatang. Sejauh ini para pengunjung menunjukkan ketertarikan besar. Salah satunya Ruud, pemuda 21 tahun. Ia mengatakan, "Saya mengunjungi banyak diskotek di kota lain. Tapi yang di sini hebat. Kita bisa melihat energi yang kita hasilkan sendiri. Saya pikir penting, orang-orang bisa memperhatikan, berapa banyak energi yang sebetulnya dibutuhkan untuk berpesta." (rp)
