• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

dhamma yang meleset/kurang tepat

marcedes

IndoForum Junior E
No. Urut
17648
Sejak
21 Jun 2007
Pesan
1.552
Nilai reaksi
20
Poin
38
pertama,saya berbasa-basi sebentar...

dulu,saya bukanlah orang yang mengenal buddha dhamma seperti sekarang dan berusaha merealisasikan nibbana.
saya sama sekali tidak tahu tujuan yang diajarkan buddha(nibbana).
dan mengira bahwa semua agama itu memiliki tujuan sama...yakni surga.

setelah saya berdiskusi dengan seorang bikhu sangha barulah saya mau mempelajari buddhis(theravada),dimana sebelumnya saya menganut kristen setelah itu mldd..

===============================

nah,pada waktu saya memulai langkah saya ke vihara theravada,saya mendengar ceramah yang kurang lebih sama dengan kristen maupun mldd....

(vihara tempat saya)kebanyakan diajarkan untuk lebih condong ke berbuat baik,tidak berbuat jahat....tapi mensucikan hati dan pikirannya tidak pernah di bahas.

saya sendiri 95% belajar dhamma melalui internet,forum,buku,dsb-nya.
bukan di vihara loh.

ironis nya lagi..........kebanyakan umat yang tua,maupun muda sering kali di katakan untuk berbuat baik(berdana untuk vihara)
dan tujuan mental nya adalah "agar mendapat keuntungan(rejeki) itu bertambah,kekayaan bertambah"

bukankah itu bertujuan untuk menambah ketamakan?
jika berdana untuk vihara dengan mental melepas ( oke sah-sah sesuai dhamma )
tapi ini sudah terbalik,bukan melepas...malah berharap LEBIH dari yang SEKARANG.

bahkan sering membuat acara seperti tari-tarian,dsb-nya.(kek party saja)

mungkin di vihara tempat saya ini...sangat sedikit(cuma 1-3 orang) yang sadar akan ini....

masalah pengetahuan tentang dukkha,anatta,dsb-nya dimana inti ajaran buddha,,,ada bahkan yang tidak tahu sama sekali.
bahkan masih sering sembayang di tempat sembayang sambil meminta-minta.

ada bahkan ibu perumah tangga(tepat berada di samping saya) memegang tiga batang dupa,lalu mulut nya komat kamit seperti meminta sesuatu kepada
patung sang buddha yang dianggapnya pengabul rezeki.
(mudah-mudahan dugaan saya meleset dan yang dia komat-kamitkan adalah hal wajar seperti :sabbe satta bhavantu sukhitata,namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhassa)


=======================

pernah sekali saya mendiskusikan hal ini kepada bikhu sangha yang datang....tetapi kata beliau ada benar-nya.
"apakah orang tua-tua,maupun muda yang memiliki kemelekatan sebegitu hebatnya dengan pemahaman mereka yang dulu,mau mereka lepas?

saya jadi teringat post avuso singthung..
gelas tidak akan bisa di-isi sesuatu karena 4 hal.
1.didalamnya sudah ada sesuatu(adanya pemahaman konsep yg melekat kuat)
2.miring/terbalik(orang yang tidak waras)
3.bocor(masuk kiri keluar kanan)
4.pecah(mati)

jadi saya lebih memilih diam saja dan membiarkan hal itu....

========================

maka oleh sebab itu,,,karena hal ini...dimana vihara yang seharusnya tempat untuk mengajarkan dhamma(4 kesunyataan mulia / merealisasikan nibbana)
dijadikan tempat dengan tujuan sudah berbeda....
-berbuat baik demi tujuan masuk surga
-berdana demi tujuan menambah rezeki(kekayaan)

2 hal ini yang paling kental...jika bermental seperti ini maka tidak akan pernah bisa mencapai nibbana...
paling-paling sampai di alam dewa ^.^


semoga hal ini patut menjadi perhatian semua kalangan buddhis. agar dhamma yang bertujuan membawa kebahagiaan(nibbana) dapat tetap terlihat dimata umat buddha.
 
Yata Nana Dasa (Demikianlah Apa Adanya)... Semoga tidak menjadi apatis...

Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci. Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri. Tak seorangpun yang dapat mensucikan orang lain.

( Dhammapada XII. 9 )





"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Jika ada orang yang mengatakan bahwa Tathagatha mempunyai pikiran : "Aku akan membebaskan semua makhluk hidup". Subhuti, jangan mempunyai pikiran demikian. Mengapa? Karena sebenarnya tidak ada makhluk hidup yang dibebaskan oleh Tathagatha. Jika ada makhluk hidup yang dibebaskan oleh Tathagatha, maka Tathagatha akan mempunyai konsepsi
keakuan, manusia, makhluk hidup, dan kehidupan. Subhuti, keberadaan konsepsi keakuan dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan keberadaan konsepsi diri tetapi orang awam menganggapnya sebagai keberadaan konsepsi keakuan. Subhuti, orang awam dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan orang awam. Oleh sebab itu dinamakan orang awam."


(Sutra Intan)
 
@Mercedes

Menarik menyimak postingan anda. Bukan sebuah permasalahan yang menarik bila saya mengutarakan setuju atau tidak. Titik berat yang ingin saya tanggapi justru pada kebiasaan-kebiasaan yang sudah mendarah daging. Dalam istilah anda, anda mengambil perumpamaan cangkir yang sudah terisi.

Menjadi sangat menarik di sini. Bahwa perbuatan demikian hanya sampai pada alam dewa saja. Dan dalam tujuan universal mahluk hidup terutama manusia dalam lingkup dunia modern seperti sekarang ini. Agaknya untuk selalu berbuat baik sehingga mendapat 'imbalan' kebahagiaan hidup di surga saja saya rasa sudah susah sekali dijalankan.

Sang Buddha memberikan atau melemparkan ide yang jauh lebih tinggi lagi. Dalam hal ini termaktub dalam konsep Nibbana yang sangat unik dan sangat berbeda dengan tujuan akhir agama-agama besar kebanyakan. Dimana surga yang umumnya menjadi tujuan dari agama-agama lain bukan akhir bagi orang-orang yang beruntung berjodoh dengan ajaran Buddha.

Bagi saya sendiri Vihara ibarat sebuah tempat yang kompleks dalam hal mempelajari nilai-nilai religi agama Buddha. Sebenarnya harus kita sadari bahwa selain cangkir yang kosong.... ada juga tangga untuk menuju tempat tertinggi. Seperti candi Borobudur yang dari angkasa laksana mandala. Demikian juga tahapan mencapai apa yang disebut Nibbana.

Mungkin dalam tahap awal dan ini yang paling banyak terlihat dari luar. Bahwa pelaksanaan sila, berdana dan perbuatan-perbuatan baik, yang paling menonjol di sini. Sebagai tahap awal, inilah yang memang harus dilakukan sebelum masuk ke tahap pendalaman religi dengan tujuan yang lebih tinggi.

Dengan perlahan, mungkin kesadaran bisa dicapai. Sehingga muncul keinginan atau niat untuk memperbaiki diri lebih baik lagi.

Proses ini bila mulus akan sampai pada tahap kesadaran akan tujuan. Bukan tujuan mendapatkan imbalan surga bila berprilaku baik. Namun sebagai daya upaya atau usaha untuk mencapai sesuatu yang lebih Buddhis lagi. Nibbana. Dengan cara apa, salah satunya dengan konsentrasi, kesadaran dan usaha yang benar.

Biarkan saja berjalan apa adanya. Sedikit orang ang berjodoh Buddha. Lebih sedikit lagi yang mau membuktikan nibbana.
 
yup2
gw stuju ama TS nih...

soalnya akhir2 ini banyak 'tindakan bhante' yg mnurut pemikiran saya agak meleset...
(meleset nya ya spt yg TS bilang itu...)

beberapa hal yang saya amati adalah...
"mengajarkan umat, bahwa dengan berdana maka akan dapat menambah peruntungan (rejeki)"
padahal hal ini akan smakin membuat umat/siswa melekat ke hal2 yg bersifat duniawi.
bukankah salah satu fungsi dari buddha dhamma adalah utk membuat umat manusia terbebas dari kemelekatan yang merupakan salah 1 aspek dari dukkha ??

sedangkan, makna yang sebenarnya dan seharusnya disampaikan (menurut saya) adalah "dengan berdana, maka kita dapat memupuk karma baik, dan memetik/menikmati buah karma baik itu setelah matang..."

bukan malah mengajarkan doktrin2 yg sbenarnya nda jelas dan makin bikin rancu...
serta dapat menjauhkan umat/siswa dari buddha dhamma...

salah satu contoh doktrin yg pernah saya dengar dari beberapa bhante...
"karma buruk dapat dihapuskan/dikurangi dengan berdana/beramal/berbuat karma baik"
bukankah itu sangat bertolak belakang dari doktrin yg mengatakan bahwa "setiap makhluk lahir dari karmanya sendiri, menanggung karmanya sendiri, dan menjalani karma nya sendiri"

bukankah makna dari menanggung/menjalani berbeda dengan dihapuskan/dikurangi ??

so... bila bhante itu mengajarkan doktrin bahwa "berdana dapat mengurangi/menghapuskan karma" bukankah doktrin itu semakin menjauhkan kita dari buddha dharma yang sebenarnya dan mendekatkan kita kepada doktrin tetangga yang lengkap dengan sakramen2 nya ???

(d bawah ini buat bhante / siswa nya yg kbetulan melintas d forum ini)
gimana nih bhante ??
meditasi 7 hari 7 malem dulu donk sblm dhamma desana...
so... jgn asbun aja klo dhamma desana gitu lho... ^^
ntar ujung2nya bkn membabarkan dhamma, tapi merancukan dhamma lhoo.....
padahal kan tujuan mulia anda menjadi bhante kan meninggalkan keduniawian skaligus membabarkan dhamma ^^

(di bawah ini untuk semua siswa sang buddha gotama)
tidak ada salahnya ehipasiko selalu kita terapkan dalam kehidupan sehari2...
tidak ada salahnya kita bertindak / bersikap waspada terhadap awal mula dr dukkha...
 
Untuk menghilangkan suatu tradisi yang mendarah-daging tidak semudah dengan membalikkan telapak tangan apalagi dia orang tua kita. kita yang generasi muda yang harus merubah walaupun setahap demi setahap,mengambil tradisi mana yang bermanfaat dan tidak bermanfaat.

Kemarin saya menghadiri acara pemakaman famili saya(A Kim). Malahan putri pertamanya tidak hadir pada acara pemakaman maupun waktu disemayankan dirumah duka gara-gara pantangan karena anaknya baru tunangan dan sudah cari hari baiknya untuk menikah. Bahkan beliau tanya dewa ini dewa itu,tanya suhu ini, tanya suhu itu bahkan tanya pendeta bilang jangan pergi acara pemakaman. ini merupakan suatu sangat ironis sekali. Sampai adik-adiknya bilang kok sampai tega begini. Mau hadiri pemakaman ibu kandungan sendiri pantang juga. ini salah satu contoh bahwa memilih pantangan lebih penting daripada mengakhir pemakaman ibu kandung sendiri. Ini yang harus dihindari bagi kita sebagai umat Buddha.

Terlahir sebagai umat Buddha.

Seperti analogi, seekor kura-kura buta berada di samudera yang luas dan ada sebuah gelang mengapung berpindah-pindah di permukaan. Kura-kura buta tersebut muncul ke permukaan setiap seratus tahun sekali, berapa kali kemungkinan kura-kura buta tersebut dapat meraih gelang itu? Seperti itulah kita untuk terlahir sebagai manusia yang dapat mengenal, mempelajari dan mempraktikkan Dhamma. Kesempatan ini sangat susah untuk didapatkan.


 
Kemarin saya menghadiri acara pemakaman famili saya(A Kim). Malahan putri pertamanya tidak hadir pada acara pemakaman maupun waktu disemayankan dirumah duka gara-gara pantangan karena anaknya baru tunangan dan sudah cari hari baiknya untuk menikah. Bahkan beliau tanya dewa ini dewa itu,tanya suhu ini, tanya suhu itu bahkan tanya pendeta bilang jangan pergi acara pemakaman. ini merupakan suatu sangat ironis sekali. Sampai adik-adiknya bilang kok sampai tega begini. Mau hadiri pemakaman ibu kandungan sendiri pantang juga. ini salah satu contoh bahwa memilih pantangan lebih penting daripada mengakhir pemakaman ibu kandung sendiri. Ini yang harus dihindari bagi kita sebagai umat Buddha.

mnurut gw bner neh... (ga tau lg klo menurut aktivis forum yg laen)
banyak skali doktrin2 dari aliran tetangga yg membuat kita melakukan kesalahan2 yg berulang - ulang.....
maybe oleh sebab itu jg maka ada istilah/perumpamaan mengenai yang mengerti dan yang tidak mengerti dalam menyerap buddha dhamma ^.^v :P~

contoh kasus neh...
oleh sebuah aliran, anda dianjurkan untuk berbakti kepada orang tua...
(sebut aja aliran X deh... biar nda d bilang personal attack lg)
namun, oleh aliran itu jg.. anda dilarang menghadiri pemakaman ortu anda sendiri (contoh kasus nya sesuai dgn cerita diatas deh...)

kalo kasusnya uda spt itu...
bukankah sudah jelas, bahwa ajaran dalam aliran itu sebenarnya bersifat overlapping, yakni tumpang - tindih tidak jelas asal - usul dan tujuannya ??
so... knapa masi melakukan hal2 yg dianjurkan oleh ajaran2 yg nda jelas itu, sedangkan ajaran yang sudah jelas - jelas mengarahkan kita kepada kebebasan universal sudah ada di dpn mata... ??

cocok sekali dengan apa yang dikatakan singthung dalam signature nya

"Ada penderitaan, tapi tidak ada yang menderita,
Ada jalan, tapi tidak ada yang menempuhnya, <- malah yg kita lakukan adalah yg sebaliknya, yakni dengan tidak bijaksana menempuh jalan lain yang bukan merupakan jalan yang sebenarnya.
Ada nibbana, tapi tidak ada yang mencapainya."
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.