• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Dhamma bagaikan rakit

singthung

IndoForum Junior E
No. Urut
7164
Sejak
21 Sep 2006
Pesan
1.634
Nilai reaksi
27
Poin
48
A. Keterikatan mulia pada Dhamma


Seperti yang telah disebutkan, Buddha menasihati kita untuk menggunakan Dhamma ini selayaknya seseorang menggunakan rakit. Yakni kita seharusnya hanya menggunakan Dhamma ini untuk menyeberangi pantai seberang (Nibbâna), bukan untuk hal-hal lainnya, seperti untuk mencari perdebatan, permusuhan, kemahsyuran, bahkan bukan untuk sekedar menjadi seorang ahli Dhamma (yang masih belum mencapai pantai seberang). Buddha menyuruh kita untuk melepaskan rakit tersebut setelah tiba di pantai seberang.[MN 22].

Tetapi orang-orang bertanya, “Bukankah dengan berkeyakinan terhadap ajaran Buddha (melatih diri sesuai dengan Dhamma) itu juga termasuk keterikatan?” Benar! Tapi keterikatan semacam ini tidak dapat dikatakan tak pantas. Karena keterikatan tersebut bertujuan untuk mengurangi keterikatan lebih lanjut. Dalam perumpamaan rakit di atas, kalau kita tidak terikat dulu pada rakit itu, maka kita akan tenggelam. Jadi kita hanya terikat pada rakit itu untuk membawa kita ke pantai seberang yang aman.

Marilah kita mempelajari ulang nasihat Bhante Ânanda mengenai hal ini. Pernah seorang bertanya kepada Bhante Ânanda, "Apakah mungkin keinginan (keterikatan) tertentu dapat melenyapkan (segala) keinginan (keterikatan)?"

Bhante Ânanda menjelaskan demikian [SN 51.15]:
Bagaikan seseorang yang berkeinginan untuk pergi ke taman, maka ia harus mampu membedakan mana arah yang benar dan salah [menuju ke taman tersebut], dan ketika ia telah tiba di taman tersebut, maka keinginannya(untuk pergi ke taman) tersebut akan lenyap dengan sendirinya.

Begitu pula keinginan (keterikatan) pada Dhamma, ia yang bijaksana berkeinginan mengenal (terikat) pada Dhamma, dan jeli dalam "membedakan" hal yang sesuai dengan Dhamma dan yang tidak, dan ketika ia telah mencapai tujuan akhir (Nibbâna), maka (segala) keterikatan akan lenyap dengan sendirinya.”

Perinciannya adalah sebagai berikut:

Kita seharusnya dengan sungguh-sungguh menjaga sîla kita,bagaikan seorang menjaga harta berharganya, hanya sejauh untuk melatih pikiran ini. Pikiran ini juga seharusnya dilatih (termasuk keterikatan) hanya sejauh untuk menembusi Dhamma ini. Dan Dhamma yang telah ditembusi tersebut hanya akan menghasilkan lenyapnya semua keterikatan [AN 11.1, MN 24].

Inilah yang dinamakan “keterikatan mulia pada Dhamma."

Perumpamaan lainnya yang lebih rinci adalah sebagai berikut. Bagaikan seorang yang ingin mencapai puncak tebing, ia akan memegang erat-erat bagian tebing yang rendah dulu, dan kemudian melepaskan genggamannya pada bagian tebing yang lebih rendah itu untuk meraih bagian tebing yang lebih tinggi (naik ke atas). Proses ini akan diulang olehnya sampai akhirnya ia mencapai puncak tebing; di mana pada saat itu, ia tidak akan lagi mengenggam tebing tersebut [Pelajarilah perumpamaan yang serupa di MN
24].

Dengan demikian, ajaran Buddha tidak mengatakan, "Tidak diperbolehkan segala jenis keterikatan!" Lebih tepatnya, terikat pada hal dasar(moral) untuk mencapai hal yang lebih tinggi (pelatihan pikiran); dan setelah itu, terikat pada hal yang tinggi untuk mencapai kebebasan total (Nibbâna).

Karena setelah mencapai Nibbâna, segala keterikatan akan lenyap dengan sendirinya. Dan ia yang belum mencapai Nibbâna, tentu masih memiliki keterikatan di dirinya. Bedanya, keterikatan jenis apa yang berada di dirinya itu? Itu juga alasannya mengapa dikatakan bahwa Dhamma ini bersifat bertahap-tahap pelaksanaannya [MN 107].

Tetapi 'sudah tidak terikat lagi' seharusnya tidak dianggap sudah tidak memiliki sîla (tidak bermoral), dan seterusnya. Malahan oleh karena cara pelaksanaan sîla yang benar itulah maka seseorang akan meraih hasil selanjutnya (pikiran yang lebih terlatih).
Dengan demikian sîla tersebut dimengerti dengan benar manfaatnya (cara kerjanya), dan dipakai hanya sejauh untuk meraih manfaat yang lebih tinggi tersebut (pelatihan pikiran)yang masih terus ia kembangkan untuk meraih tahap yang lebih tinggi.

Kami tak mengatakan bahwa segala keterikatan terhadap Dhamma adalah pantas adanya. Hal-hal yang mengakibatkan keresahan diri adalah jenis keterikatan yang seharusnya diwaspadai oleh seorang Buddhis (baca poin no. 4 dari [AN 4.170]). Sedangkan kegirangan yang timbul dari pelatihan diri (Dhamma) seharusnya dipahami kemunculnya dan digunakan untuk mencapai ketenangan batin yang lebih tinggi tingkatannya. Pada akhirnya, ia juga seharusnya melepaskan keterikatan tersebut untuk mencapai yang Tertinggi, Nibbâna [AN 11.1, MN 22, MN 24].

B. Ketika ketidakkekalan dianggap nihilistik

Ketidakkekalan (anicca) memang adalah ajaran Buddha. Semuanya adalah sementara keberadaannya. Mulai dari materi yang berbentuk sampai kepada segala unsur batiniah yang tidak berbentuk.

Kebahagiaan yang diperoleh dari perbuatan baik adalah juga tidak kekal. Penderitaan yang diperoleh dari perbuatan jahat adalah juga tidak kekal. Yah, kalau dipikir-pikir untuk apa susah-susah berbuat baik? Mending “enjoy” saja lah, ya kan? Kalau berbahagia, kita menerimanya loh. Kalau menderita, kita juga menerimanya begitu.

Terus kalau semuanya adalah tidak kekal, apa yang menjadi tujuan hidup ini? Apakah kita hanya sekedar berusaha untuk melarikan diri dengan mengatakan semuanya adalah semu, semuanya adalah tidak nyata? Bila demikian adanya, maka niat berbuat baik akan dengan sendirinya terkikis habis, niat berbuat jahat tidak akan dilenyapkan.

Itu adalah pengertian terhadap ketidakkekalan yang tidak benar.
Seseorang yang memiliki pandangan nihilistik seperti yang disebutkan di atas memegang pandangan yang cukup berbahaya untuk dirinya dan orang lain. Sekilas terlihat pandangan di atas adalah sesuai dengan ajaran Buddha karena ada kata “ketidakkekalan” nya itu lho. Tapi kalau dianalisa dengan jeli, maka terlihat jelas itu adalah bukan lain “kegelapan batin” yang berkedok “Buddhis.”

Jadi apa pandangan yang sesuai dengan Dhamma dan yang bermanfaat bagi kesejahteraan diri kita? Perbuatan jahat seharusnya dihindari untuk menjauhi diri kita dari penyesalan, penderitaan, dan keresahan batin. Perbuatan baik seharusnya dikembangkan untuk menghasilkan kebahagiaan, kegirangan, dan ketenangan. Ketidakkekalan seharusnya dipahami melalui kebijaksanaan dan ketenangan batin yang telah diperoleh sebelumnya dari terhindarnya perbuatan jahat dan berkembangnya perbuatan baik [AN 11.1, MN 22].

Dengan kata lain:

Hindarilah perbuatan jahat, kembangkanlah perbuatan baik, raihlah batin yang terhindar dari kerisauan, batin yang penuh energi, dan kegirangan;kemudian sifat-sifat batiniah ini dikembangkan untuk menghasilkan batin yang lebih tenang dan terkonsentrasi. Batin yang tenang dan terkonsentrasi inilah yang sanggup melihat “segala sesuatu seperti apa adanya” yang kesemuanya memang bersifat tidak kekal.

Jadi perbuatan jahat dihindari demi menghindarkan diri kita dari kerisauan batin. Perbuatan baik dikembangkan demi menghasilkan ketenangan batin. Karena tanpa batin yang tenang, bagaimana mungkin ketidakkekalan ini dapat dipahami dengan sebenar-benarnya? Jadi inilah manfaat dari penghindaran diri dari perbuatan jahat, pengembangan diri dengan perbuatan baik, dan pelatihan pikiran melalui meditasi. Singkatnya: Dengan melatih diri sesuai dengan sîla, kita akan meraih ketenangan. Dengan teraihnya ketenangan batin ini, kita kemudian menggunakannya untuk melihat kenyataan (Dhamma).

C. Benar dan salah: sejauh itu saja kah?

Terdapat dua hal ekstrim dalam hal ini. Yang pertama adalah sekelompok orang yang berpandangan: “Kalau bukan demikian, maka pasti salah. Hanya yang ini benar, yang lainnya salah.” Ini adalah pandangan ekstrim jenis pertama. Jenis orang seperti ini adalah tergolong orang yang kolot, ekstrimis, yang umumnya kurang memiliki toleransi. Kesulitan yang akan ditempuh jenis orang pertama ini adalah ketenangan batin. Mereka cenderung akan sulit meraih batin yang tenang dan tentram, yang merupakan persyaratan dalam mencapai kebahagiaan dalam Dhamma.

Jenis ekstrim kedua adalah orang yang berpandangan, “Tidak ada benar dan salah. Semuanya adalah sama saja.” Jenis orang kedua ini adalah orang yang liberal, yang umumnya tidak memiliki kepercayaan, yang skeptikal. Mereka cenderung akan sulit meraih kebijaksanaan yang mendalam, yang juga merupakan persyaratan dalam mencapai kebahagiaan dalam Dhamma.

Mengerti bahaya dari kedua pandangan ekstrim ini, maka seorang Buddhis seharusnya menelusuri jalan tengah, yang terelak dari dua ekstrim yang berbahaya yang disebut di atas.
Kalau kita meneliti ajaran Buddha secara lebih cermat, maka kita akan mengetahui dengan jelas bahwa ajaran Buddha adalah bersifat perlahan lahan meningkatkan pemahaman kita (pandangan), kemudian meningkatkan perilaku kita (sîla), dan setelah itu meningkatkan kualitas pikiran kita (meraih kebijaksanaan dan ketenangan batin yang lebih tinggi tingkatnya), dan pada akhirnya menyuruh kita untuk melepaskan semuanya!

Poin yang ingin ditekankan di sini adalah kata “perlahan-lahan.” Banyak umat Buddha yang begitu ingin mencapai tujuan akhir (Nibbâna) sehingga mereka langsung tancap gas ke latihan meditasi tanpa mengerti secara jelas dulu apa yang akan diraih dari meditasi mereka dan apa peran meditasi dalam mecapai tujuan akhir tersebut. Mereka lebih memilih mengikuti ajaran seseorang yang terkenal dalam bidang meditasi, tanpa secara cermat dan teliti menganalisa metode yang diajarkan tersebut terdahulu. Tanpa ragu, kita dapat mengatakan bahwa “analisa Dhamma” adalah sesuatu yang harus dimiliki dan dikembangkan dalam diri seorang Buddhis. Analisa Dhamma adalah faktor kedua dari 7 faktor pencerahan, yang merupakan persyaratan utama yang telah disebut dan dijelaskan oleh Buddha berkali-kali [SN 46.16].

Pandangan adalah sebagai landasan utama. Pandangan yang tidak sejalan dengan Dhamma akan menghasilkan pikiran yang juga tidak sejalan dengan Dhamma, kemudian menghasilkan perkataan dan perbuatan yang juga tidak sejalan dengan Dhamma. Dalam hal ini, seorang Buddhis seharusnya mengutamakan pandangan mereka. Secara umum, Buddhis atau tidak bukanlah dinilai dari berapa liontin Buddha yang ia pakai atau dari organisasi apa yang ia ikuti, akan tetapi dari pandangannya terhadap hidup ini.

Seseorang dapat meraih pandangan yang sesuai Dhamma dengan banyak cara. Semua hal ini juga telah dijelaskan oleh Buddha, antara lain, rajin dan teliti mempelajari Dhamma, bergaul dengan mereka yang hidup sesuai dengan Dhamma, sering merenungi dan menganalisa Dhamma [yang telah didengar/dibaca tersebut], dan berusaha hidup sesuai dengan Dhamma [SN 55.55].

Maka kalau kita kembali ke topik pembahasan kita, “Benar dan salah, sejauh itu saja kah?” tentu kita akan menarik kesimpulan bahwa Dhamma mengajarkan kita secara bertahap-tahap cara untuk menghindari hal-hal yang merugikan (yakni : hal-hal yang menjauhkan diri kita dari tujuan Dhamma), kemudian mengembangkan hal-hal yang meningkatkan kualitas kita demi meraih ketenangan batin dan kebijaksanaan (keduanya adalah syarat kebahagiaan sejati dalam Dhamma). Dan dalam konteks ini, benar dan salah hanyalah berfungsi sebagai pedoman dalam membimbing kita ke tujuan, dan bukanlah sesuatu yang mutlak (tidak terkondisi). Yakni ia sendiri bukanlah tujuan, melainkan alat yang dipakai untuk mencapai tujuan. Dan pada akhirnya alat ini juga akan dilepaskannya.

Contohnya bila seseorang terlalu terikat pada apa yang benar dan salah, dan tidak mengerti tujuan yang lebih mendalam darinya, maka ia akan berdebat sengit dengan orang lain, “Yang ini benar, yang lainnya salah.”

Dari pandangan ini, maka kebencian akan muncul. Sebagai Buddhis yang terpelajar, kita dapat menyimpulkan tanpa keraguan bahwa, “Apapun yang menghasilkan kebencian adalah dengan sendirinya tidak sesuai dengan Dhamma.” Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa pandangan ekstrim seperti ini adalah tidak sejalan dengan Dhamma.

Jadi dalam hal ini, kita seharusnya memiliki pandangan yang sesuai dengan Dhamma, yang dapat melihat langsung pandangan-pandangan dangkal yang ekstrim tersebut, dan setelah itu melenyapkan pandanganpandangan ekstrim tersebut dari diri kita. Ingat, pergunakanlah Dhamma ini bagaikan rakit!
 
Ketidakkekalan (anicca) memang adalah ajaran Buddha. Semuanya adalah sementara keberadaannya. Mulai dari materi yang berbentuk sampai kepada segala unsur batiniah yang tidak berbentuk.

Kebahagiaan yang diperoleh dari perbuatan baik adalah juga tidak kekal. Penderitaan yang diperoleh dari perbuatan jahat adalah juga tidak kekal. Yah, kalau dipikir-pikir untuk apa susah-susah berbuat baik? Mending “enjoy” saja lah, ya kan? Kalau berbahagia, kita menerimanya loh. Kalau menderita, kita juga menerimanya begitu.

Terus kalau semuanya adalah tidak kekal, apa yang menjadi tujuan hidup ini? Apakah kita hanya sekedar berusaha untuk melarikan diri dengan mengatakan semuanya adalah semu, semuanya adalah tidak nyata? Bila demikian adanya, maka niat berbuat baik akan dengan sendirinya terkikis habis, niat berbuat jahat tidak akan dilenyapkan.

Itu adalah pengertian terhadap ketidakkekalan yang tidak benar.
Seseorang yang memiliki pandangan nihilistik seperti yang disebutkan di atas memegang pandangan yang cukup berbahaya untuk dirinya dan orang lain. Sekilas terlihat pandangan di atas adalah sesuai dengan ajaran Buddha karena ada kata “ketidakkekalan” nya itu lho. Tapi kalau dianalisa dengan jeli, maka terlihat jelas itu adalah bukan lain “kegelapan batin” yang berkedok “Buddhis.”

Jadi apa pandangan yang sesuai dengan Dhamma dan yang bermanfaat bagi kesejahteraan diri kita? Perbuatan jahat seharusnya dihindari untuk menjauhi diri kita dari penyesalan, penderitaan, dan keresahan batin. Perbuatan baik seharusnya dikembangkan untuk menghasilkan kebahagiaan, kegirangan, dan ketenangan. Ketidakkekalan seharusnya dipahami melalui kebijaksanaan dan ketenangan batin yang telah diperoleh sebelumnya dari terhindarnya perbuatan jahat dan berkembangnya perbuatan baik [AN 11.1, MN 22].

Dengan kata lain:

Hindarilah perbuatan jahat, kembangkanlah perbuatan baik, raihlah batin yang terhindar dari kerisauan, batin yang penuh energi, dan kegirangan;kemudian sifat-sifat batiniah ini dikembangkan untuk menghasilkan batin yang lebih tenang dan terkonsentrasi. Batin yang tenang dan terkonsentrasi inilah yang sanggup melihat “segala sesuatu seperti apa adanya” yang kesemuanya memang bersifat tidak kekal.

Jadi perbuatan jahat dihindari demi menghindarkan diri kita dari kerisauan batin. Perbuatan baik dikembangkan demi menghasilkan ketenangan batin. Karena tanpa batin yang tenang, bagaimana mungkin ketidakkekalan ini dapat dipahami dengan sebenar-benarnya? Jadi inilah manfaat dari penghindaran diri dari perbuatan jahat, pengembangan diri dengan perbuatan baik, dan pelatihan pikiran melalui meditasi. Singkatnya: Dengan melatih diri sesuai dengan sîla, kita akan meraih ketenangan. Dengan teraihnya ketenangan batin ini, kita kemudian menggunakannya untuk melihat kenyataan (Dhamma).

apakah jika tidak berbuat baik dan tidak berbuat jahat.seseorang tidak bisa mendapat ketenangan?

menurut gw semua memang bersifat sementara..bukan berarti ilusi / semu.
kebahagian di peroleh karena menanam karma kebajikan di masa lampau...
kesedihan di peroleh karena menanam karma buruk d masa lampau...
jadi janganlah berlebihan dalam hal bahagia maupun kesedihan.

saya kira jika tujuan seseorang netral-netral saja..tidak melakukan karma baik,juga tidak melakukan karma buruk...hidup dengan normal apa salah?...menurut buddhis alam mana kelahiran selanjut nya orang seperti ini?..
 
apakah jika tidak berbuat baik dan tidak berbuat jahat.seseorang tidak bisa mendapat ketenangan?

menurut gw semua memang bersifat sementara..bukan berarti ilusi / semu.
kebahagian di peroleh karena menanam karma kebajikan di masa lampau...
kesedihan di peroleh karena menanam karma buruk d masa lampau...
jadi janganlah berlebihan dalam hal bahagia maupun kesedihan.

saya kira jika tujuan seseorang netral-netral saja..tidak melakukan karma baik,juga tidak melakukan karma buruk...hidup dengan normal apa salah?...menurut buddhis alam mana kelahiran selanjut nya orang seperti ini?..

Terus kalau semuanya adalah tidak kekal, apa yang menjadi tujuan hidup ini? Apakah kita hanya sekedar berusaha untuk melarikan diri dengan mengatakan semuanya adalah semu, semuanya adalah tidak nyata? Bila demikian adanya, maka niat berbuat baik akan dengan sendirinya terkikis habis, niat berbuat jahat tidak akan dilenyapkan.

Itu adalah pengertian terhadap ketidakkekalan yang tidak benar.

yang sangat menentukan dilahirkan di alam mana sangat tergantung juga pikiran beliau saat menjelang kematian.
 
masalah benar dan salah....ini adalah 2 sisi yang berbeda..tetapi ada kemungkinan bersifat pespektif ( benar di pandangan kita..belum tentu di pandangan orang lain benar ).....

benar pasti lah memiliki unsur kebahagiaan,,dan tidak ada pihak yang di rugikan dalam unsur kebenaran....

dhamma sesuatu hal yang sangat halus..kadang-kadang terlalu halus nya saya sendiri lebih memilih untuk diam diri tidak maju dan tidak mundur./netral saja.
kadang-kadang saya merasa berhenti di sini adalah benar..tapi kadang saya pikir melaju kedepan tentu lebih baik...tapi sampai kapan maju ke depan? maju dan maju tanpa ujung................anda bisa menjelaskan kepada gw?

kalau di lihat...dalam contoh bhante ananda...sudah jelas bahwa yang di tujuan adalah taman(nibbana)..sudah jelas tujuan nya di situ...
kadang gw merasa kosong..tetapi merasa lebih enak dalam kekosongan itu.

apakah dukha?
-kelahiran
-kehilangan orang yg di cintai
-mati
-pasang surut
-untung rugi

kadang saya pikir itu bukanlah sebuah dukha,,karena hanya sebuah proses kehidupan normal..dimana tidak kekal berlanjut dan berlanjut...hidup ke mati,,mati ke hidup lagi...terus dan menerus....
memang kadang melihat situasi yang tidak ada habis nya adalah awal kebosangan...tapi apakah itu termasuk penderitaan?

bahagia-sedih-bahagia-sedih..saya pikir hanya lah sebuah proses...
tapi memang lebih baik memilih BAHAGIA....makanya gw terus berpikir positif saja..dari pada berlarut dalam kesedihan...
bisa di jelaskan pandangan gw ini termasuk apa?
kalau menurut buddha dhamma salah?..jadi bagaimana pandangan buddha dhamma?
 
masalah benar dan salah....ini adalah 2 sisi yang berbeda..tetapi ada kemungkinan bersifat pespektif ( benar di pandangan kita..belum tentu di pandangan orang lain benar ).....

benar pasti lah memiliki unsur kebahagiaan,,dan tidak ada pihak yang di rugikan dalam unsur kebenaran....

dhamma sesuatu hal yang sangat halus..kadang-kadang terlalu halus nya saya sendiri lebih memilih untuk diam diri tidak maju dan tidak mundur./netral saja.
kadang-kadang saya merasa berhenti di sini adalah benar..tapi kadang saya pikir melaju kedepan tentu lebih baik...tapi sampai kapan maju ke depan? maju dan maju tanpa ujung................anda bisa menjelaskan kepada gw?

kalau di lihat...dalam contoh bhante ananda...sudah jelas bahwa yang di tujuan adalah taman(nibbana)..sudah jelas tujuan nya di situ...
kadang gw merasa kosong..tetapi merasa lebih enak dalam kekosongan itu.

apakah dukha?
-kelahiran
-kehilangan orang yg di cintai
-mati
-pasang surut
-untung rugi

kadang saya pikir itu bukanlah sebuah dukha,,karena hanya sebuah proses kehidupan normal..dimana tidak kekal berlanjut dan berlanjut...hidup ke mati,,mati ke hidup lagi...terus dan menerus....
memang kadang melihat situasi yang tidak ada habis nya adalah awal kebosangan...tapi apakah itu termasuk penderitaan?

bahagia-sedih-bahagia-sedih..saya pikir hanya lah sebuah proses...
tapi memang lebih baik memilih BAHAGIA....makanya gw terus berpikir positif saja..dari pada berlarut dalam kesedihan...
bisa di jelaskan pandangan gw ini termasuk apa?
kalau menurut buddha dhamma salah?..jadi bagaimana pandangan buddha dhamma?

Buddha Dhamma adalah Paramatha-sacca, dulu saya seperti persis yang anda pikiran ,namun setelah memahami Buddha Dhamma lebih dalam dan merenungkannya maka pikiran saya tentang itu tidak ada lagi. Memang kadang-kadang kita sangat sulit membedakan Paramatha-sacca dengan Sammuti-sacca dalam kehidupan sehari-hari,untuk itu diperlukan pemahaman yang lebih dalam dan merenungkannya. Pilihlah pandangan Jalan Tengah yang telah diajarkan oleh Sang Buddha sehingga tidak timbul pandangan yang ekstrim.^_^
 
wah kalau gitu mesti belajar dari anda ini....paramatha-sacca itu apa? dan sammuti-sacca itu apa?
jelasin nya jgn setengah-setengah donk^^

gw hanya tahu paramatta-sacca adalah kebenaran apa adanya,tidak terikak oleh waktu,dll
samutti-sacca adalah kebenaran pula tetapi dalam situasi dan kondisi serta terikat oleh waktu..

contoh-contoh dan kehidupan dalam berpandangan kek gw jelasin donk
 
Kebenaran atau dalam bahasa Pali disebut dengan sacca, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti keadaan (hal dan sebagainya) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya. Jadi, kebenaran tidak selamanya menyangkut mengenai masalah moral semata.

Kebenaran sendiri terdiri dari 2 jenis, yaitu Paramatha-sacca atau Kebenaran Mutlak (Absolute) dan Sammuti-sacca atau Kebenaran Relatif.

Paramatha-sacca atau Kebenaran Mutlak adalah Kebenaran yang harus memiliki kriteria sebagai berikut:

Harus benar (apa adanya)
Tidak terikat oleh waktu, baik waktu dulu, sekarang dan waktu yang akan datang, kebenaran ini tetap ada dan tidak berubah ataupun berbeda.
Tidak terikat oleh tempat, baik di suatu tempat atau di tempat lain, di Indonesia atau di planet Mars, kebenaran ini ada dan tidak berubah ataupun berbeda.
Sammuti-sacca atau Kebenaran Relatif adalah Kebenaran yang masih terikat dengan waktu dan tempat. Kebenaran ini hanya ada berlaku di tempat tertentu dan waktu tertentu.



Dalam ajaranNya, Guru Buddha mengajarkan 2 jenis Dhamma, yaitu yang bersifat Paramatha-sacca dan yang bersifat Sammuti-sacca.

-----------------------------------------

sacca = kenyataan/kebenaran (reality), utk selanjutnya saya menggunakan kata kenyataan saja ya

kenyataan dibagi menjadi 2 macam, yaitu:

1. sammuti-sacca,
seperti yang tulis sebelumnya, sammuti-sacca adalah kenyataan konvensional. disebut juga sebagai pannati dalam Abhidhamma.

2. paramattha-sacca,
adalah kenyataan yg sebenar-benarnya (ultimate). disebut juga paramattha dalam abhidhamma.


Apa perbedaan sammuti-sacca dan paramattha-sacca?
dengan kata lain, sammuti-sacca adalah kenyataan yg 'tampak' hanya di permukaan.
sebenarnya kenyataan ini tidaklah nyata.
contoh : 'sungai berasal dari gunung & pergi ke laut'.
mengatakan bahwa sungai berasal dari gunung hanyalah membedah sebuah kenyataan di permukaan saja.
apakah sungai ada karena gunung? walau benar, gunung hanyalah salah satu bagian dari cerita.
paramattha-sacca membedah sebuah kenyataan sampai pada taraf yg paling dalam sampai ke dasar-dasarnya.

setelah membedah sampai ke bagian paling dasar, hanya ditemukan ada 4 paramattha yaitu:

-citta
-cetasika
-rupa
-nibbana

citta, cetasika & rupa, secara kolektif disebut sankhata dhamma (berkondisi)
sedangkan nibbana adalah asankhata dhamma (tidak berkondisi)
---------------------------------

sankhata = berkondisi
asankhata = tidak berkondisi

berkondisi artinya bergantungan pada kondisinya.

apa yg berkondisi? citta, cetasika & rupa
apa yg tidak berkondisi? nibbana

semua yg berkondisi memiliki 3 corak:
1. tidak memuaskan
2. tidak kekal
3. tidak berinti

& yg tidak berkondisi:
1. memuaskan
2. kekal
3. tidak berinti

----------------------------

4 Paramattha:

* Citta = kesadaran, sadar akan objek / mengalami sesuatu (objek)
Citta ada 121 (atau 89) macam. Pembagian secara vipassanà-yànika total citta adalah 89 macam, sedangkan secara samatha-yànika total citta adalah 121 macam. Perbedaan jumlah ini hanyalah masalah klasifikasi pada jenis lokuttara citta, di mana vipassanà-yànika membagi menjadi 8 lokutara citta, sedangkan samatha-yànika membagi menjadi 40 lokutara citta.
8 lokutara citta itu adalah:
* Sotàpatti-magga-cittaü
* Sakadàgàmi-magga-cittaü
* Anàgàmi-magga-cittaü
* Arahatta-magga-cittaü
* Sotàpatti-phala-cittaü
* Sakadàgàmi-phala-cittaü
* Anàgàmi-phala-cittaü
* Arahatta-phala-cittaü
di setiap 8 lokutara itu, secara samatha dibagi lagi menjadi jhana1, jhana2, jhana3, jhana4, jhana5. jadi total = 8 x 5 = 40 citta.

* Cetasika = faktor mental
Cetasika bergantung pada Citta, karena itu cetasika selalu muncul dan hilang bersama-sama dengan citta. Keberadaan/kemunculan cetasika ini mempengaruhi keaadaan citta. Keseluruhannya, ada 52 macam cetasika.

* Rupa = fenomena bentuk
Dapat berupa fisik, warna, temperatur, dll. Lengkapnya, ada 28 macam rupa.

* Nibbàna = keadaan yg terbebas dari segala penderitaan
Secara umum, citta kita yg berada di Samsara, selalu terkontaminasi oleh kotoran2 (kotoran bathin). Kotoran2 ini dapat berupa ketamakan, kebencian, delusi, dll. Merekalah akar dari segala penderitaan dan penyebab proses kelahiran-kematian yg terus berulang-ulang. Dalam banyak kelahiran kita mengalami sakit, tua & pasti mengalami kematian. Sakit, tua & mati yg terus menerus kita alami adalah sebuah penderitaan yg seperti tidak ada akhir. Nibbàna adalah akhir dari penderitaan ini. Nibbàna dicapai dengan menghapus segala kotoran bathin tadi, dengan demikian kita terbebas dari proses kelahiran kembali & tidak mengalami tua, sakit & mati.


semoga bisa dimengerti ya
 
semua yg berkondisi memiliki 3 corak:
1. tidak memuaskan
2. tidak kekal
3. tidak berinti
semua yang berkondisi memang memiliki 3 corak tersebut...tapi mengapa di sebut dukha?
padahal kenyataan nya, itu semua memang berubah-ubah secara alami.
apakah pikiran ini termasuk samuti-sacca / paramatha-sacca?
tolong jelaskan alasan pula..

-------------------------------------------------------------------------------

& yg tidak berkondisi:
1. memuaskan
2. kekal
3. tidak berinti
apakah ini di sebut bahagia?.....
yang sekarang saya rasakan.....jika mendapat keuntungan...dan kerugian saya hanya melihat nya sebagai fenomena alami..atau proses alami...

jadi di golongkan pada kebahagiaan dan kesedihan...saya semua merasa hal ini biasa-biasa saja....tidak senang dan juga tidak sedih(mungkin senang..tapi tidak berlarut-larut..mungkin kadang mengalami sedih juga...tapi tidak berlarut-larut).

tetapi dalam hal pola pikir seperti ini saya lebih memilih untuk tidak maju..dan tidak mundur....jadi diam di tempat.....apakah saya termasuk orang yang pesimis?...apakah saya termasuk dalam pola pikir sammuti-sacca doank?

paramatha-sacca(kebenaran absolut) memang memperlihatkan kenyataan yang seperti ini bukan? di mana tidak ada yang kekal dan semua selalu berubah-ubah.

saya sendiri tidak tahu nibbana itu seperti apa...karena mungkin dari hal terkecil saya merasa masih ada unsur hawa nafsu.

masalah nya jika hawa nafsu sudah hilang..bukankah pikiran tidak akan maju dan mundur lagi?dimana lebih memilih untuk diam dan menetap..jadi yang gw rasakan ini mungkin mirip nibbana donk....tolong penjelasan nya...
di daerah gw tidak ada bikhu sangha..walau ada..sangat jarang datang...jadi sedikit kesempatan untuk sharing dhamma...yah lewat internet doank seperti ini baru saya bisa berkembang.
 
semua yang berkondisi memang memiliki 3 corak tersebut...tapi mengapa di sebut dukha?
padahal kenyataan nya, itu semua memang berubah-ubah secara alami.
apakah pikiran ini termasuk samuti-sacca / paramatha-sacca?
tolong jelaskan alasan pula..

Paramatha-sacca atau Kebenaran Mutlak adalah Kebenaran yang harus memiliki kriteria sebagai berikut:
-Harus benar (apa adanya)
-Tidak terikat oleh waktu, baik waktu dulu, sekarang dan waktu yang akan datang, kebenaran ini tetap ada dan tidak berubah ataupun berbeda.
-Tidak terikat oleh tempat, baik di suatu tempat atau di tempat lain, di Indonesia atau di planet Mars, kebenaran ini ada dan tidak berubah ataupun berbeda.


apakah ini di sebut bahagia?.....
yang sekarang saya rasakan.....jika mendapat keuntungan...dan kerugian saya hanya melihat nya sebagai fenomena alami..atau proses alami...

jadi di golongkan pada kebahagiaan dan kesedihan...saya semua merasa hal ini biasa-biasa saja....tidak senang dan juga tidak sedih(mungkin senang..tapi tidak berlarut-larut..mungkin kadang mengalami sedih juga...tapi tidak berlarut-larut).

tetapi dalam hal pola pikir seperti ini saya lebih memilih untuk tidak maju..dan tidak mundur....jadi diam di tempat.....apakah saya termasuk orang yang pesimis?...apakah saya termasuk dalam pola pikir sammuti-sacca doank?

paramatha-sacca(kebenaran absolut) memang memperlihatkan kenyataan yang seperti ini bukan? di mana tidak ada yang kekal dan semua selalu berubah-ubah.

saya sendiri tidak tahu nibbana itu seperti apa...karena mungkin dari hal terkecil saya merasa masih ada unsur hawa nafsu.

masalah nya jika hawa nafsu sudah hilang..bukankah pikiran tidak akan maju dan mundur lagi?dimana lebih memilih untuk diam dan menetap..jadi yang gw rasakan ini mungkin mirip nibbana donk....tolong penjelasan nya...
di daerah gw tidak ada bikhu sangha..walau ada..sangat jarang datang...jadi sedikit kesempatan untuk sharing dhamma...yah lewat internet doank seperti ini baru saya bisa berkembang.

Nibbana

Nibbana merupakan sesuatu yang tak dipahami oleh pemikiran biasa. Usaha menjelaskan Nibbana dalam bahasa keduniawian akan mengalami kegagalan, karena Nibbana tidak bersifat duniawi, malah berlawanan. Mengatakan bahwa Nibbana sama dengan ini dan sama dengan itu ibarat menggambarkan kucing sama dengan harimau.

Nibbana bukanlah kemusnahan. Mungkinkah Sang Buddha meninggalkan kerajaan, istri, anak, dan keluarga hanya untuk mencapai sesuatu yang musnah? Nibbana bukan suatu keberadaan. Nibbana berada di luar keberadaan dan ketidak beradaan, di mana kedua aspek itu bersyarat, mutlak, dan tidak dapat digambarkan sebagai keberadaan maupun ketidak beradaan.

Nibbana ya Nibbana. Sabda Sang Buddha dalam Udana:

"Itulah tempatnya dimana tiada tanah maupun air, tiada api maupun udara, bukan dunia ini pun bukan dunia lain, tanpa matahari maupun bulan. Aku nyatakan pada kalian, disana tidak ada yang datang maupun pergi, tak ada yang tetap maupun timbul, tanpa awal tanpa akhir,tanpa perkembangan, tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak diciptakan, dan yang mutlak.

Saat dalam kedalaman dan keheningan pikiran, Yang Suci Bijaksana mencapai kebenaran, Ia terlepas dari kegembiraan dan rasa sakit, dari yang berbentuk dan tidak berbentuk. Di mana air, tanah, dan udara tidak ditemukan. Tiada bintang maupun matahari yang bersinar, bulan tidak lagi memancarkan cahayanya. Namun, kegelapan tidak ada disana."

Setelah Parinibbana, Sang Tathaghata tidak dapat dikatakan ada, juga tidak dapat dikatakan tidak ada. Tidak dapat pula dikatakan ada baik kedua-duanya ada dan tidak ada. Tidak bisa pula dikatakan ada atau tidak ada. Di dalam Milanda Panha disebutkan, "Tidak di tempat yang terlihat di timur, selatan, barat, atau utara, di atas, di bawah, atau di luar di mana Nibbana berada, walau demikian Nibbana adalah milik orang yang mengatur hidupnya dengan benar, berbicara dengan benar, dan memiliki pengertian benar di manapun dia hidup."

Nibbana bukanlah sesuatu yang tercipta dengan sendirinya, juga bukan sesuatu yang diciptakan.

"Di mana tidak terdapat 4 unsur air, tanah, api, dan angin, di situlah Nibbana."

"Di mana ke-4 unsur yang mengikat, membentang, membakar, dan bergerak tidak lagi ditemukan, di situlah Nibbana."

"Oh, para bhikkhu, seperti sungai-sungai yang mencapai samudra dan derasnya hujan yang jatuh dari langit, tak ada kekurangan atau kelebihan yang dapat teramati pada samudra, demikian pula bahwa banyak para bhikkhu yang memasuki Nibbana tak bersisa, tak ada kekurangan atau kelebihan di dalam Nibbana," kata Sang Buddha.

Dinyatakan dalam Visudhi Maggha:

"Kesedihan memang ada, tak ada yang disedihkan, tidak ada pelaku pelaku di sana, tidak ada hasil perbuatan ditemukan, Nibbana ada, tetapi tak ada si 'pencari'. Jalannya ada, tetapi si penempuh tidak sesungguhnya ada"

Nibbana berada di luar jhana , karena di sana api keserakahan, kebencian dan kegelapan batin beserta semua gangguan yang menyertai, hambatan dan penderitaan berakhir. Demikianlah, Nibbana sendiri abadi, bahagia, dan patut didambakan Laksana seorang yang menderita penyakit kulit yang menimbulkan rasa gatal, dan Nibbana seperti kebahagiaan saat penyakitnya telah disembuhkan. Kebahagiaan sementara didapatkan ketika ia menggaruk, tetapi kuku yang segera menginfeksi menjadi sebab yang memperpanjang penyakit penyakit tersebut. Seperti itulah kerinduan akan nafsu membawa kepuasan sementara yang akan memperpanjang lingkaran kelahiran kembali.

Begitulah Nibbana di mana 108 kemelekatan, usia tua, penyakit, kematian, penyesalan, rasa sakit, keputusasaan dan kesedihan, dihentikan sepenuhnya. Demikianlah, saat kondisi tertinggi tercapai, kita akan memahami bagaimana kehidupan bahagia yang kita rindukan itu tak pernah diperoleh. Mimpi kita akan berakhir. Tidak akan ada lagi angan-angan. Prahara berakhir. Perjuangan hidup selesai. Proses alamiah akan berhenti. Maka, sang roda kereta kehidupan akan patah. Keinginan untuk hidup berakhir. Dasar sungai akan mengering. Tiada air lagi yang mengalir.

Tidak akan roda yang patah itu bergulir. Inilah akhir kesedihan. Inilah pelepasan akhir. Yang tersisa hanya NIBBANA.
 
sebaiknya kita tidak membahas lebih lanjut tgg nibbana..soalnya gw blom pernah mengalami nya...dan tidak pernah melihat..sama hal nya membahas rasa dari suatu buah-buahan tanpa pernah memakan nya.....useless..^^
kalo sekedar penjelasan-penjelasan umum sih ga masalah.

nah yang masalah ini DUKKHA nya.
-kehilangan orang yang di cintai
-mati
-sakit
-tua
-keinginan yang tidak tercapai
apakah semua ini termasuk dukha?
dolo gw merasa memang ini semua adalah KESEDIHAN
tapi sekarang GW MERASA ANEH..setelah belajar dhamma..saya melihat hal ini hanya sebatas PROSES ALAMI,dan tidak ada perasaan sedih(jika ada paling hanya sebentar / sedikit...yah istirahat 1 hari dah plong lagi).......gimana itu? apa ada yang salah dengan gw?
yang saya rasakan setidak nya lebih baik dari yang dolo..dimana mental makin kuat,dan lebih bijak serta tahan emosi.
tolong penjelasan
 
sebaiknya kita tidak membahas lebih lanjut tgg nibbana..soalnya gw blom pernah mengalami nya...dan tidak pernah melihat..sama hal nya membahas rasa dari suatu buah-buahan tanpa pernah memakan nya.....useless..^^
kalo sekedar penjelasan-penjelasan umum sih ga masalah.

nah yang masalah ini DUKKHA nya.
-kehilangan orang yang di cintai
-mati
-sakit
-tua
-keinginan yang tidak tercapai
apakah semua ini termasuk dukha?
dolo gw merasa memang ini semua adalah KESEDIHAN
tapi sekarang GW MERASA ANEH..setelah belajar dhamma..saya melihat hal ini hanya sebatas PROSES ALAMI,dan tidak ada perasaan sedih(jika ada paling hanya sebentar / sedikit...yah istirahat 1 hari dah plong lagi).......gimana itu? apa ada yang salah dengan gw?
yang saya rasakan setidak nya lebih baik dari yang dolo..dimana mental makin kuat,dan lebih bijak serta tahan emosi.
tolong penjelasan

berarti hebat dong,anda sudah mau memasuki tahap keseimbangan batin (upekkha)dan bijaksana. lahir,tua,sakit,mati termasuk dalam Empat Kesunyataan Mulia.^_^
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.