• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Cunda si Pemotong Babi

singthung

IndoForum Junior E
No. Urut
7164
Sejak
21 Sep 2006
Pesan
1.634
Nilai reaksi
27
Poin
48
Cunda si Pemotong Babi



Kisah ini menceritakan seorang lelaki bernama Cunda. Selama lima puluh tahun ia memotong babi untuk dimakan atau untuk dijual. Di belakang rumahnya terdapat sebidang tanah. Tanah itu diberi pagar dan dijadikan kandang untuk memelihara babi-babi. Babi-babi itu diberinya makanan berupa rumput-rumputan, sampah atau kotoran-kotoran.
Apabila Cunda ingin makan daging babi, ia mengambil salah seekor babinya untuk dipotong. Babi itu diikatnya pada sebuah tonggak, badan babi itu dimasukkan ke dalam keranjang. Kemudian mulut babi itu dibuka dengan paksa, dan diganjal dengan sepotong kayu. Kemudian ia memasak air, air panas itu dituangkannya ke dalam mulut babi yang sudah terbuka. Air panas itu gunanya untuk membersihkan perut babi dari kotoran-kotoran yang masih tersisa. Air mengalir keluar melalui anus bersama dengan kotoran-kotoran, apabila air yang keluar dari anus sudah jernih, berarti perut babi sudah bersih. Air panas yang masih tersisa itu lalu disiramkannya ke punggung babi, supaya kulitnya mengelupas. Kemudian ia membakar bulu-bulu babi dengan sebuah obor. Setelah itu kepala babi dipotongnya dengan sebuah golok. Daging babi itu kemudian diberi bumbu-bumbu lalu dipanggangnya, untuk dimakan bersama anggota keluarganya. Apabila daging babi lebih, ia menjual daging itu ke pasar. Dengan cara seperti itulah Cunda menjalani kehidupannya selama lima puluh tahun.
Ketika itu Sang Buddha sedang berdiam di Vihara yang tidak jauh dari tempat tinggal Cunda. Tetapi ia tidak pernah sekalipun mengunjungi Sang Buddha, dengan mempersembahkan bunga ataupun berdana makanan. Cunda tidak pernah melakukan kebaikan.
Pada suatu hari ia menderita sakit berat, karena perbuatan yang dilakukan selama hidupnya, meskipun ia belum mati ia sudah merasakan panasnya Neraka Avici. Ketika siksaan Neraka itu sudah dirasakannya, sifatnya langsung berubah seperti seekor babi. Ia mulai mendengkur dan menjerit seperti seekor babi yang hendak dipotong. Ia merangkak dengan tangan dan kaki ke depan dan ke belakang rumah, persis seperti seekor babi. Keluarganya menyergap dan menyumpal mulutnya. Tetapi ia tetap mendengkur dan menjerit seperti seekor babi. Orang-orang di sekitar rumahnya tidak dapat tidur nyenyak. Karena ketakutan melihat tingkah laku Cunda, keluarganya lalu mengurungnya di dalam rumah, dan mereka berjaga-jaga di sekitar rumah. Setelah tujuh hari Cunda merasa siksaan Neraka Avici, ia meninggal dunia dan terlahir di Neraka Avici.
Beberapa orang bhikkhu yang melewati rumah Cunda, mendengar dengkuran dan jeritan babi-babi, mereka kembali ke Vihara menghadap Sang Buddha dan menceritakan apa yang mereka lihat dan mereka dengar:
"Yang Mulia, selama tujuh hari ini rumah Cunda ditutup, pasti ia sedang berpesta. Berapa banyak babi yang ia potong. Ia sama sekali tidak mempunyai cinta kasih dan belas kasihan kepada makhluk lain. Belum pernah kami menemukan orang yang sekejam dan sesadis Cunda ini".
Sang Buddha menjawab:
"O para bhikkhu, ia tidak memotong babi selama tujuh hari ini. Sebagai hukuman atas apa yang dilakukannya selama ini meskipun ia belum meninggal ia sudah merasakan siksaan Neraka Avici. Selama tujuh hari ini, ia merangkak ke sana ke mari di dalam rumahnya, mendengkur dan menjerit-jerit seperti seekor babi. Hari ini ia meninggal dunia dan terlahir di Neraka Avici".
Para bhikkhu lalu menjawab:
"Yang Mulia, setelah menderita di dunia ini, ia akan pergi menuju tempat yang menderita dan terlahir di sana".
"Ya bhikkhu", jawab Sang Buddha.
"Ia yang lengah, baik ia seorang umat ataupun seorang bhikkhu, akan menderita di kedua dunia".
Sang Buddha lalu mengucapkan syair:


"Di dunia ini ia bersedih hati, di dunia sana ia bersedih hati, pelaku kejahatan akan bersedih hati di kedua dunia itu. Ia bersedih hati dan meratap karena melihat perbuatannya sendiri yang tidak bersih".

Janganlah berbuat jahat
Tambahkanlah kebaikan
Sucikan hati dan pikiran
Ini ajaran semua Buddha
 
Seorang Pemburu Yang Dimangsa
Oleh Anjing-anjingnya Sendiri

Pada suatu pagi, seorang pemburu bernama Koka, sedang dalam perjalanan menuju sebuah hutan untuk berburu binatang. Ia membawa busur panah di tangannya, diiringi sekelompok anjing pemburu. Dalam perjalanan ia bertemu dengan seorang bhikkhu yang sedang berjalan menuju desa untuk pindapata. Melihat bhikkhu itu, Pemburu Koka memendam rasa marah, sambil melanjutkan perjalanannya, ia berpikir:
"Pagi ini saya bertemu orang pembawa sial, hari ini pasti saya tidak mendapat apa-apa".
Setelah selesai berpindapata maka bhikkhu itu pulang ke Viharanya kembali. Demikian pula pemburu yang telah berkeliling di hutan dan tidak memperoleh binatang buruannya keluar dari hutan, untuk pulang ke rumahnya.
Dalam perjalanan pulang si pemburu bertemu kembali dengan bhikkhu yang dijumpainya sebelum masuk ke hutan. Melihat bhikkhu itu lagi, ia menjadi amat marah dan pikirnya:
"Tadi pagi saya bertemu dengan si pembawa sial ini, lalu saya pergi ke hutan untuk berburu binatang, ternyata saya tidak mendapat apa-apa, sekarang tiba-tiba ia muncul lagi di depan saya, lebih baik saya suruh anjing-anjing memakannya".
Pemburu Koka segera memerintahkan anjing-anjingnya untuk menyerang bhikkhu itu. Bhikkhu tersebut memohon belas kasihannya dengan berkata:
"Jangan, jangan lepaskan anjing-anjing itu".
Pemburu Koka menjawab:
"Hai, Orang Pembawa Sial, pagi hari ini saya bertemu denganmu, dan karena kamu membawa sial, saya tidak mendapat apa-apa di hutan. Sekarang kamu muncul lagi di depan mata saya, biar anjing-anjing saya memakanmu, hanya itu yang ingin saya katakan".
Setelah berkata demikian, Pemburu Koka tanpa banyak bicara lagi segera melepas anjing-anjingnya dan memerintahkan untuk menyerang bhikkhu tersebut. Bhikkhu itu segera berlari dan memanjat pohon, dan duduk di cabang pohon. Anjing-anjing itu segera memburunya, menggonggong dan menggeram-geram di bawah pohon, bersiap-siap untuk menerkam bhikkhu tersebut. Pemburu Koka yang mengikuti anjingnya, berdiri di bawah pohon sambil berkata:
"Kamu pikir kamu dapat melepaskan diri dari cengkeraman saya dengan naik ke pohon itu?".
Ia segera memanah kaki bhikkhu yang tergantung itu dengan anak-anak panahnya. Bhikkhu itu sekali lagi memohon:
"Jangan panah saya, Saudara".
Pemburu Koka tidak perduli dengan permohonan itu, ia tetap memanah kaki-kaki bhikkhu itu.
Ketika semakin banyak anak-anak panah menembus salah satu kakinya, bhikkhu itu menarik kakinya yang terluka, dan membiarkan kaki yang satunya tetap tergantung. Tetapi anak-anak panah itu terus menerus menembus kakinya yang masih tergantung, karena kesakitan ia lalu menarik kakinya ke atas. Pemburu Koka tetap terus memanah kedua kaki bhikkhu tersebut. Akhirnya bhikkhu itu merasakan badannya panas seperti terbakar. Karena ia merasa amat sakit, ia tidak dapat lagi memusatkan pikirannya. Ia tidak tahu ketika jubahnya jatuh. Ternyata jubahnya jatuh menutupi seluruh tubuh Pemburu Koka.
"Bhikkhu itu jatuh dari pohon", pikir anjing-anjing itu. Dengan segera anjing-anjing itu menyerang orang yang berada di bawah jubah, menyeret, merobek-robek dan memakan majikannya sendiri. Akhirnya yang tersisa tinggal tulang-tulangnya saja.
Setelah itu, anjing-anjing itu duduk diam, menunggu perintah selanjutnya. Tidak lama kemudian banyak anak panah berjatuhan dari atas pohon dan mengenai mereka, pada saat itu mereka lalu melihat bhikkhu yang mereka kejar masih berada di atas pohon, mereka lalu berpikir,
"Wah, kita makan majikan sendiri!".
Menyadari hal itu mereka lari tunggang langgang. Bhikkhu itu amat kaget dan bingung melihat apa yang terjadi di bawah pohon, ia berpikir,
"Pemburu itu kehilangan nyawanya karena jubah saya jatuh dan menutupinya, apakah kesucian saya tidak ternoda?".
Dengan pikiran yang berkecamuk, ia turun dari pohon, pergi menemui Sang Buddha dan menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya, sejak dari awal.
"Yang Mulia, semua itu terjadi karena jubah saya, sehingga pemburu itu kehilangan nyawanya, apakah kesucian saya tidak ternoda? Apakah saya tetap dapat mempertahankan kesucian saya?".
Setelah Sang Buddha mendengar seluruh cerita itu, Beliau menjawab:
"Bhikkhu, kesucianmu tidak ternoda, kamu tetap suci, barangsiapa yang berniat melukai orang lain yang tidak bersalah, ia akan menerima hukumannya. Lagi pula, hal seperti ini bukan yang pertama kalinya ia lakukan. Pada kehidupannya yang terdahulu, ia juga berniat melukai orang yang tidak bersalah dan menerima hukumannya".
Sang Buddha lalu bercerita:
"Pada kehidupannya yang terdahulu, ia adalah seorang tabib yang berkeliling desa untuk mencari pasien. Pada hari itu tidak ada seorang pasien pun yang datang padanya. Dengan amat lapar, ia keluar dari desa. Di pintu gerbang desa, ia melihat anak-anak yang sedang bermain. Dengan segera timbul pikiran jahatnya,
"Saya akan membawa seekor ular dan akan saya biarkan ular itu menggigit salah satu anak itu, sehinga ia terluka. Lalu saya obati, sehingga saya memperoleh uang untuk membeli makanan".
Lalu ia mencari seekor ular dan meletakkannya di lubang pohon dekat tempat anak-anak bermain. Kepala ular menyembul keluar dari lubang pohon, lalu ia berkata kepada anak-anak:
"Anak-anak, lihatlah ada seekor burung Salika, tangkaplah".
Salah seorang anak segera memegang leher ular itu erat-erat, dan menariknya keluar dari lubang pohon. Tetapi ketika ia melihat yang dipegangnya itu ternyata seekor ular, ia menjerit ketakutan, berteriak-teriak lalu melempar ular itu ke atas. Ternyata ular itu jatuh tepat di atas kepala tabib itu. Dengan segera ular itu membelit leher si tabib dan menggigitnya keras-keras, akhirnya tabib itu mati.
"Jadi", kata Sang Buddha, "Dalam kehidupannya yang terdahulu, pemburu Koka berniat melukai orang yang tidak bersalah dan ia memperoleh hukumannya".
Sang Buddha lalu mengucapkan syair:


"Barangsiapa yang berbuat jahat terhadap orang baik,
orang suci dan orang yang tidak bersalah maka kejahatan
akan berbalik menimpa orang bodoh itu bagaikan debu
yang dilempar melawan angin".

(Dhammapada, Papa Vagga no. 10)
 
"Engkau Akan Segera Meninggal"


Pada waktu itu, Sang Buddha sedang bersemayam di Vihara Jetavana, Savatthi.
Ketika itu lewatlah seorang pedagang kaya raya bernama Mahadhana. Ia membawa lima ratus kereta yang dipenuhi berbagai macam bahan baju yang indah-indah, yang dicelup dengan wewangian. Ia berangkat dari Benares untuk berdagang, menjual barang dagangannya itu ke Savatthi.
Ketika ia sampai di tepi sungai besar di dekat Savatthi, karena lelah, ia lalu memutuskan :
"Besok sajalah saya menyeberangi sungai ini, karena saya amat lelah." Ia lalu menempatkan kereta-keretanya di tepi sungai dan bermalam disana. Ternyata pada malam itu turun hujan lebat, kilat menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Selama tujuh hari, hujan turun amat lebatnya, sehingga air sungai meluap, dan selama tujuh hari itu pula penduduk di sekitar tempat tersebut tidak dapat bekerja, hanya berdiam di dalam rumah saja. Akibatnya, Mahadhana si pedagang itu kehilangan kesempatan untuk menjual barang dagangannya.
Pedagang itu berpikir :
"Saya datang dari tempat yang jauh, kalau saya pulang kembali saya akan rugi besar, kalau begitu biar sajalah saya tetap disini selama musim hujan, musim gugur dan musim panas, sampai barang dagangan saya habis terjual."
Sang Guru Agung ketika itu sedang menerima dana dari umatnya dan berjalan melewati kota. Beliau tersenyum karena mengetahui tekad si pedagang. Bhikkhu Ananda yang mengiringiNya bertanya :
"Mengapa Yang Mulia tersenyum?"
Sang Buddha lalu berkata :
"Ananda, apakah engkau melihat pedagang yang kaya raya itu?"
"Ya, saya melihatnya, Yang Mulia."
"Ia tidak menyadari bahwa kehidupannya hampir berakhir, padahal ia mengambil keputusan untuk tinggal disana sepanjang tahun ini, untuk menjual barang dagangannya."
"Tetapi, Yang Mulia, apakah benar hidupnya akan segera berakhir?"
"Ya, Ananda, ia hidup tinggal tujuh hari lagi, kemudian ia akan mati dimakan seekor ikan besar."
Kemudian Sang Buddha mengucapkan syair :


"Berbuatlah untuk dirimu sendiri, dan apa yang dapat dilakukan pada hari ini.
Siapa yang mengetahui bahwa pada esok hari kematian akan datang?
Kita tidak dapat melawan kematian dan bukanlah pemilik kematian."
"Kebahagiaan adalah orang-orang yang hidup bersemangat pada siang dan malam hari, tidak khawatir meskipun ia hidup hanya satu malam. Ia amat tenang dan bijaksana."​

"Yang Mulia, saya akan pergi menemuinya dan mengatakan hal ini kepadanya."
"Pergilah Ananda."
Bhikkhu Ananda segera pergi mengunjungi Mahadhana. Pedagang kaya raya itu menyambut Bhikkhu Ananda dengan penuh hormat. Ia lalu mempersembahkan dana makanan dan lainnya.
Setelah itu Bhikkhu Ananda bertanya :
"Berapa lamakah anda berniat tinggal disini?"
"Yang Mulia, saya datang dari tempat yang jauh, kalau sekarang saya kembali, saya akan menderita kerugian besar, jadi lebih baik saya tetap tinggal disini sepanjang tahun, setelah saya berhasil menjual barang dagangan ini, saya akan segera pulang."
"Saudara, apabila seseorang mengetahui kehidupannya akan segera berakhir, tentu saja amat sulit bagi orang itu untuk menerima kenyataan ini, tetapi bagaimanapun juga hal ini harus kita perhatikan."
"Mengapa, Yang Mulia, apakah hidup saya hampir berakhir?"
"Ya, saudara, kamu hanya akan hidup tujuh hari lagi, kamu akan segera meninggal."
Mahadhana yang mendengar berita itu amat kaget, gelisah, bingung dan juga sedih. Setelah ia berhasil mengatasi segala kekacauan perasaannya, ia lalu mengundang Sangha yang dipimpin oleh Sang Buddha untuk menerima dana yang dipersembahkannya.
Selama tujuh hari berturut-turut, Sang Buddha menerima undangannya. Pada hari ketujuh, Sang Buddha mengambil mangkuk dan jubahnya, lalu mengucapkan terima kasih dengan berkata :
"Anakku, seseorang yang bijaksana tidak akan pernah membiarkan dirinya berpikir, 'Disinilah saya akan tinggal selama musim hujan, musim gugur dan musim panas. Saya akan melakukan pekerjaan ini dan saya akan melakukan pekerjaan itu'. lebih baik seseorang bermeditasi pada akhir kehidupannya."
Sambil berkata demikian, Sang Buddha mengucapkan syair :

"Di sini aku berdiam selama musim hujan, di sini aku berdiam selama musim gugur dan musim panas, demikianlah pikiran orang bodoh yang tidak menyadari bahaya (kematian)."
(Dhammapada, Magga Vagga no. 14)​

Ketika Sang Buddha mengakhiri ucapannya pedagang itu memperoleh Tingkat Kesucian; demikian pula orang-orang yang hadir di sana memperoleh manfaat yang besar bagi diri mereka masing-masing setelah mendengarkan Dhamma yang diajarkan Sang Buddha sendiri.
Pedagang itu mengantarkan Sang Buddha pergi setelah itu ia kembali ke tempatnya.
"Oh, kepalaku ini sakit, pasti ada yang kurang beres," katanya.
Ia berbaring di tempat tidurnya. Tidak lama kemudian, ia meninggal dunia. Tetapi karena perbuatan baik yang amat besar telah dilakukannya di akhir kehidupannya, ia terlahir kembali di Alam Surga Tusita.
 
SEORANG KAKEK DALAM KERANJANG


Tersebutlah sebuah kisah yang amat terkenal di Asia, yang menceritakan tentang kekejaman seorang lelaki terhadap ayah kandungnya sendiri.
Pada suatu ketika tinggallah sepasang suami isteri muda yang mempunyai seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun. Ayah si suami itu tinggal bersama mereka, ia sudah amat tua, sangat lemah serta sulit untuk berjalan sendiri. Isteri muda itu amat tidak menyukai kehadiran ayah mertuanya di antara mereka. Tetapi suaminya, amat menyayangi ayahnya dan selalu menenangkan isterinya untuk merawat orangtuanya dengan baik.
Pada suatu malam, si isteri itu menunggu sampai anak laki-lakinya tidur nyenyak, ia lalu meminta kepada suaminya untuk menyingkirkan ayah mertuanya itu dari rumahnya, apabila suaminya ingin tetap hidup bersamanya.
Suaminya amat sedih dan merasa tidak berdaya menghadapi permintaan isterinya itu. Akhirnya ia menyetujui permintaan isterinya, supaya kehidupan rumah tangganya tidak terganggu lagi oleh ayahnya yang sudah tua renta itu.
Setelah yakin anaknya sudah tidur nyenyak, mereka lalu merencanakan bagaimana caranya untuk membuang ayahnya itu. Si isteri berkata : "Besok pagi-pagi sekali, kamu harus katakan kepada ayahmu, bahwa kamu akan membawanya ke tempat ziarah. Taruh saja dia di dalam keranjang besar dan bawa dia ke dalam hutan lebat. Tinggalkan saja di sana, biar dimakan binatang buas, setelah itu cepat-cepat pulang ke rumah."
Keesokkan paginya, anak laki-laki itu bangun pagi-pagi sekali. Seperti yang telah direncanakan orangtuanya, si ayah membawa kakeknya yang dimasukkan ke dalam keranjang besar dan pergi keluar. Anak itu lalu bertanya :
"Ayah, mau dibawa kemana kakekku ini?"
"Anakku, saya akan membawanya pergi berziarah."
"Baiklah ayah, tetapi jangan lupa ya membawa pulang kembali keranjang besar itu, karena kalau nanti ayah sudah setua kakek, saya akan membawa ayah berziarah juga."
Kata-kata anak laki-laki itu menyadarkan mereka, pasangan suami isteri muda itu lalu berubah pikiran. Mereka akhirnya merawat orangtua itu dengan baik.

Cerita ini menyinggung dengan tajam dan tepat nilai-nilai moral pada masa sekarang ini. Di India, pada masa yang lampau, banyak cerita-cerita seperti ini. Dimana perhatian utama adalah ketidak-puasan seorang anak terhadap orangtuanya dan hal ini diperbaiki oleh cucunya. Cerita yang lain tentang hal seperti ini sebagai berikut.

Seorang ayah yang masih muda merencanakan membuang ayahnya yang sudah tua, si ayah dimasukkan ke dalam sebuah kereta. Ia lalu membawanya ke kuburan. Cucunya juga ikut serta. Ketika cucunya melihat ayahnya sedang menggali lubang kuburan untuk mengubur kakeknya, anak kecil itu berkata kepada ayahnya :
" Ayah, tolong gali sebuah lubang lagi untuk kuburanmu sendiri. Nanti, kalau ayah sudah tua saya tinggal mengubur ayah saja di situ, jadi saya tidak usah repot-repot menggali kuburan untukmu."
Tentu saja hal ini menakutkan si ayah muda itu.

Pesan moral yang terkandung dalam cerita ini adalah apa yang kita lakukan terhadap ayah, akan terjadi pula pada diri kita sendiri, yang akan dilakukan oleh anak kita.

Ada cerita lain lagi, seorang kakek diberikan makanan dengan sebuah piring yang amat kotor, ditaruh di atas tanah. Piring itu begitu kotornya sehingga tak seorang pun yang sanggup untuk memakan makanan dari piring tersebut. Ketika anak laki-laki tua tersebut melihat bahwa tak ada gunanya lagi untuk memberi makan kepada ayahnya, ia ingin membuangnya. Anaknya yang masih muda lalu berkata :
"Ayah, piring tua itu jangan dibuang. Saya ingin menyimpannya."
Ayahnya bertanya : "Untuk apa?"
Anak muda itu berkata :
"Untuk apa....? Tentu saja untuk memberikan makanan ayah di atas piring itu kalau ayah sudah setua kakek saya ini."

Inilah pelajaran untuk seorang ayah muda untuk lebih mengasihi dan merawat orangtuanya yang sudah tua.
 
kayanya judul threadnya lebih cocok 'Kumpulan kisah menarik' atau apa gitu soalnya dlmnya banyak cerita-2 yang berbeda-beda, hehehehehe
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.