• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Buddha adalah pekerja sosial yang sering mengalami pelecehan

singthung

IndoForum Junior E
No. Urut
7164
Sejak
21 Sep 2006
Pesan
1.634
Nilai reaksi
27
Poin
48
BUDDHA ADALAH PEKERJA SOSIAL YANG SERING MENGALAMI PELECEHAN

137.jpg

Tak ada seorang pun yang tak melakukan kesalahan ketika memberikan pelayanan pada negara, bangsa, agama, masyarakat, dan pada dunia. Di semua negara, bangsa, masyarakat, terdapat kelompok- kelompok yang menentang pekerja sosial. Ada yang salah mengartikan pelayanan, juga ada yang menderita karena ingin melayani orang lain, sehingga wajar saja jika orang-orang menentang pelayanan sosial.

Di seluruh negara, seseorang yang melayani cara-cara tradisioanal dengan membabi-buta dapat merusak keyakinan sebuah negara, bentuk-bentuk pemujaan yang kuat dan pemikiran-pemikiran yang ketinggalan zaman adalah masalah besar. Pekerja sosial yang berpikiran maju akan menentang kekuatan-kekuatan yang merusak semacam itu. Sementara yang lainnya mencoba berbagai cara untuk melenyapkan pekerja-pekerja sosial demikian. Kita telah sering mendengar banyak pekerja sosial yang disingkirkan dari negaranya.

Buddha memulai mengubah revolusi sosial dan bangsa di India kuno. Beliau melakukannya dengan tanpa kekerasan, melalui cinta kasih dan kasih sayang, disertai kesabaran dan pengendalian diri, sehingga kehidupan beliau senantiasa selamat.

Setelah Beliau semakin populer, jumlah orang yang menghormatinya semakin bertambah, di saat yang sama jumlah orang yang menentangnya juga bertambah. Akan tetapi, Buddha berkeliling ke desa-desa dan kota-kota, hanya bersama sama dengan pengikutnya. Beliau tidak mendapat perlindungan dari polisi. Kualitas Buddhalah yang melindungiNya.

Di antara dinasti-dinasti kerajaan di India kuno, keturunan sakya adalah yang paling terhormat. Ketika pangeran yang lahir dari garis keturunan terhormat tersebut menjadi seorang petapa yang pindapata, berkeliling ke jalan untuk memperoleh danang makanan, meninggalkan kehormatan dan kemewahan istana, cara-cara beliau sangat bertolak belakang dengan sistim kapitalis pada saat itu, kediktatoran, kehormatan, cara hidup mewah, dan kekuasaan raja-raja. Ada raja dan anggota keluarga kerajaan merasa terhina dengan cara Pangeran Siddhattha itu. Beberapa orang tidak senang dengan melepaskan semua kemewahan pada saat berada di puncak, turun menjadi orang biasa, dan akhirnya tidak memiliki apa-apa.

Mereka para pemimpin spiritual lainnya yang lebih awal terkenal, beserta pengikut-pengikutnya, juga menentang Buddha. Banyak brahmana merasa dendam dengan sikap berlawanan Buddha mengenai konsep kasta dari para brahmana yang menjauh dari kehidupan suci, senang menikmati kemewahan. Devadatta dan pemujanya Asattha juga menentang Buddha.

Sang Buddha harus membimbing umat manusia di saat banyak orang yang memiliki kekuasaan menentang Nya. Mereka menggulingkan batu untuk membunuhnya, mengirimkan panah, menyebarkan racun pada gajah untuk menghancurkan Beliau. Mereka memfitnah dengan keji melalui petapa wanita Sundari dan Cinca Manavika. Mereka menyewa pembunuh. Beliau menanggung siksaan dan tuduhan dari musuh-musuhnya. Seorang brahmana menghina Beliau secara langsung, dengan menyebutnya Vasala (gembel) dan mundaga (kepala botak). Tetapi Buddha tetap tak tergoyahkan akan semua itu. Ia menunjukkan kepada mereka kasih sayang yang sama yang ia berikan kepada putranya, Rahula, serta tanpa pamrih.

Buddha tak pernah menyimpan dendam sedikitpun walau sekali saja terhadap bekas akibat kekerasan, hinaan dan caci maki. Beliau tak pernah berpikir untuk meninggalkan kerajaannya. Ia tidak pernah berpikir untuk mengurangi pelayanan yang telah ia lakukan. Ia tidak ingin balas dendam, ia tak sedikitpun merasa takut, ia tak tergoyahkan. Beliau menunjukkan kasih yang sama pada semua orang. Karena berkat kekuatan cinta kasih, ia dapat mengatasi penghalangnya. Merekalah yang dikendalikan, dengan rintangan-rintangan tersebut kebesaran beliau semakin meningkat. Lain halnya dengan devadatta, kebesaran namanya tidak dikenal luas. Devadatta terlahir sebagai manusia dengan akar dendam. Buddha menjadi orang yang termulia karena mengembangkan cinta kasih tanpa tujuan balas dendam. Devadatta adalah contoh yang terburuk dari sifat dendam. Contoh yang terbaik adalah Buddha, Beliau tak memiliki dendam sedikitpun

Buddha adalah sosok terbaik seorang pekerja sosial, pengatur dan pemimpin yang tetap terkendali ketika mengalami pelecehan, dan bagi mereka yang tidak menyukai jalan kekerasan. Mereka yang tak sanggup menerima penderitaan tak akan dapat melakukan pekerjaan sosial. Orang hendaknya terlibat dalam pelayanan sosial dengan harapan menemui tekanan-tekanan. Mereka yang senantiasa aman tak melakukan apa-apa tetapi mereka tak sebesar orang yang mengalami siksaan dan hinaan. Penderitaan di kala membimbingi orang lain adalah ukuran seberapa besar bimbingan yang diberikan.

Jika ia tak berani atau menghindari siksaan, ia bukanlah pekerja sosial sejati. Ketika anda membimbing orang lain dan mengalami pelecehan atau usaha pembunuhan, berusahalah mengikuti jalan Buddha. Sebagai umat Buddha, kapan saja kita mengalami penderitaan harus selalu mengingat bagaimana Buddha juga pernah mengalaminya dan tetap tidak terganggu sama sekali dan Beliau menghadapi segala kesukaran dengan penuh kesabaran.


 
Sekarang penghujat Buddha juga semakin banyak saya lihat. Heran saja, entah apa yang sudah dirugikan oleh ajaran Buddha sehingga bisa berbuat demikian. Bahkan ada yang dengan sombong menganggap Buddha Sakyamuni pembohong. Tidak percaya dengan ajaran Buddha it's ok saja.... tapi kalau sampai menghujatnya? Ada apa sebenarnya?

Dan mengapa ini bisa terjadi?

Kalau Dumbledore mengatakan (berteori - lagi) 'memang akan lebih sulit manusia untuk mengakui kesalahannya sendiri dan mengakui kebenaran orang lain'. Yah kondisinya seperti itu.

Apapun yang diajarkan sang Buddha, mengenai duka, mengenai nibbana, kebahagian sejati, meditasi dan lain-lain.... walau sukar bahkan teramt sukar, hampir mustahil dicapai, tapi itulah kebenaran sejati.

Tidak ada jalan pintas. Memang harus seperti itu. Itu kebenaran yang hakiki. Bukan dogma. Makanya ada yang dikatakan ehipasiko. Nabi agama mana yang berani menganjurkan konsep ini?

Umumnya, agama lain menganggap surga sebagai kebahagiaan yang terakhir. Namun, Sang Buddha memberikan 'Nibbana' yang ngerti pun 'mereka' tidak. Lalu, secara alam bawa sadar.... sedikit banyak mengakui juga bahwa ada benarnya konsep Nibbana ini. Dan, yang muncul ke permukaan justru 'menghujat'nya.... Mengapa tidak di ehipassiko saja? Buktikan sendiri, jalankan meditasi. Kalau belum berhasil membuktikan, tidak lantas mengklaim bahwa nibbana itu konsep yang bodoh. Lihat diri sendiri. Sudah benar gak cara yang kita pilih? Atau kekotoran bathin masih begitu tebal?

Karena susah dan sulitnya mencapai apa yang dikonsepkan sang Buddha... lalu muncullah pemikiran, 'ah..... itukan teori..... bisa-bisanya dia saja...' dengan mentereng justru memblokade diri pada sesuatu yang sebenarnya hanya 'keterikatan'.

Hingga akhirnya nibbana dianggap hayalan sang Buddha sendiri yang akhirnya diyakini banyak umat manusia yang mengaku sebagai murid Sang Buddha.

Akibat terakhir, yang ini justru begitu jelas. Muncul keinginan akan adanya sesuatu yang lebih dari ajaran Sang Buddha yang maha sulit. Fenomena Satria Piningit muncul di sini. Hampir di semua agama ada. Sebuah ketidak puasan pada ajaran nabi yang ada akan pencapaian kebahagiaan. Seperti harapan akan munculnya presiden Indonesia yang bakal membawa Indonesia ke puncak kejayaan. Menunggu dan menunggu.

Dalam agama lain ada Isa Almasih yang masih akan datang untuk menghakimi. Agama Jahudi bahkan masih menunggu Mesias mereka. Demikian juga dengan Imam Mahdi... lalu dari agama Buddha sendiri, muncul ide tentang Meitreya. Semuanya dengan ciri-ciri pencapaian kehidupan yang lebih baik, kebahagiaan yang lebih tinggi dengan cara yang lebih gampang, lebih sempurna, lebih segalanya....

Benarkah? Pengendapan keinginan terdalam akibat kegagalan diri sendiri ini, kalau tidak dicermati oleh diri sendiri, tidak akan diperbaiki oleh orang lain, bahkan oleh 'nabi-nabi' yang akan datang itu sendiri.....

Kalau saya pribadi.... mengapa menunggu esok, bila semuanya bisa dikerjakan hari ini....
 
Jaman sekarang ajaran buddha dianggap sesuatu yg mustahil utk dicapai. Dan sering kali dilecehkan.
Sehingga munculah wacana2 instan yg menjanjikan kebahagiaan.
Ini bisa kita lihat di ajaran2/agama2 "Yg menjanjikan" sesuatu yg gampang, mudah, dan tanpa membina kesadaran.
Dan bahkan terjadi pembusukan dari dalam ajaran agama buddha.
Agama buddha dipakai untuk sesuatu yg tidak jelas, spt aliran yg mendompleng nama besar buddha, dan diaplikasikan/diadopsi ke sesuatu yg instan... pelatihan mental (meditasi) yg paling susah diterapkan dijaman sekarang, dijadikan alasan untuk "membunuh" ajaran buddha, dan mengumandangkan ajaran buddha yg baru, serta buddha2 yg baru pun bermunculan.
 
santai bro... dhamma itu universal. semua agama, semua ajaran... pada akhirnya akan mengambil dhamma. kesukaran-kesukaran untuk mencapai nibbana.... akhirnya memang hanya bisa selesai dengan 8 jalan utama.

Beda, bila surga dianggap segalanya.... kebahagian duniawi dianggap kebahagian sejati. Kemelekatan dianggap kepintaran. Ketidak tahuan dianggap sebagai kemustahilan.

Tak ada gunanya banyak bicara bila tak setitikpun perbuatan yang bisa diterima.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.