talam
IndoForum Senior E
- No. Urut
- 48451
- Sejak
- 16 Jul 2008
- Pesan
- 3.672
- Nilai reaksi
- 25
- Poin
- 48
Pernikahan seorang putri konglomerat nasional yang masuk dalam keluarga besar ternama dan terkaya di Indonesia dengan seorang pengusaha yang masuk dalam keluarga besar ternama di Singapura membuat heboh kalangan sosialit Jakarta. Kedatangan pejabat negara dan tokoh nasional melengkapi kemewahan acara itu, padahal para korban keluarga lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, masih terlantar.
Acara resepsi Adinda Bakrie dan Seng-Hoo Ong berlangsung Jumat malam di Grand Ballroom Hotel Mulia, Jakarta, marak dan mewah dan glamor. Wedding planner pun tidak tanggung-tanggung. Preston Bailey, perencana dan perancang yang tidak jarang di pakai oleh pesta-pesta Oprah Winfrey dan Donald Trump, didatangkan khusus dari Hollywood, AS.
Putri dari Indra Bakrie, keponakan Aburizal Bakrie, seorang perempuan muda yang lulus kuliahnya dengan predikat magna cum laude melangsungkan pernikahannya dengan biaya yang dilaporkan mencapai Rp20 miliar, tertutup untuk umum dan dijaga sangat ketat. Pasangannya putra dari keluarga pemilik DBS bunk di Singapura.
Hebohnya pernikahan mereka mendapat respons dari kalangan pengamat. Keluarga Bakrie dinilai tidak sensitif dengan penderitaan korban lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur.
"Seharusnya keluarga besar Bakrie bisa menjaga tingkat sensitifitas sosial yang tinggi dan menjaga citra di mata masyarakat," kata Wakil Ketua Fraksi PDIP Aria Bima, Jumat (25/7) malam.
Aria mengakui bahwa penyelenggaraan pernikahan adalah hak setiap orang. Tapi dia ingatkan juga penyelesaian lumpur Lapindo sampai sekarang belum selesai. "Apa pantas kita melaksanakan pesta yang dananya puluhan miliar rupiah, sedangkan kita juga masih punya masalah sosial yang begitu banyak korbannya," cetus Aria.
Apalagi, sekarang ini tingkat sensifitas dalam keluarga Bakrie sangat tinggi, mengingat Aburizal adalah seorang Menko Kesra. "Dengan mereka melakukan hal itu, bagaimana hati korban Lapindo melihat itu. Semestinya mereka harus lebih mengutamakan bagaimana menghilangkan penderitaan rakyat."
Aria juga mengingatkan, dampak lumpur Lapindo telah menghancurkan status sosial ekonomi masyarakat setempat dan sekitarnya sekitarnya, dan menilai lebih bermanfaat apabila acara itu dilangsungkan di daerah pengungsian. Sebagian dana itu pun bisa digunakan untuk proses penyelesaian dan penuntasan kasus itu. "Kalau tidak, maka kepercayaan dan kerjasama rakyat dengan pihak terkait untuk mencari solusi akan turun," katanya.
Keluarga Bakrie-lah yang sebenarnya paling menikmati dampak bencana lumpur Lapindo, kata Aria.
"Masyarakat yang paling menderita sekarang. Padahal yang paling menikmati hasil jika tidak ada bencana ya keluarga Bakrie. Jadi sudah sepatutnya kalau mereka bekerja keras dan bekerja sama dengan rakyat untuk mencari solusi terbaik, bukan malah menghancurkan perasaan masyarakat korban Lapindo," tandasnya.
Irfan Simatupang, antropolog sosial dari Universitas Sumatera Utara menilai, apapun dia dengan kondisi perekonomian sekarang ini, nilai dua puluh miliar rupiah untuk sebuah pesta pernikahan terkesan berlebihan dan kurang peka terhadap penderitaan para korban Lapindo, yang tentu memiliki keterkaitan dengan keluarga Bakrie.
"Satu miliar saja sudah sangat membantu para korban itu dalam memenuhi kehidupan sehari-hari mereka yang sampai sekarang masih terkatung-katung," kata dia.
Dia menegaskan dengan uang Rp20 miliar itu, apabila dialokasikan ke BLT (bantuan langsung tunai), sudah ratusan keluarga miskin yang tertolong dan meringankan beban hidup mereka. "Itu nilai yang sangat luar biasa, betul-betul tidak memikirkan dampak sosial yang melibatkan rakyat miskin," tegas Irfan yang menyayangkan keluarga Bakrie tidak memiliki kepekaan sosial.