• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Kamma Buruk Melalui Ucapan

singthung

IndoForum Junior E
No. Urut
7164
Sejak
21 Sep 2006
Pesan
1.634
Nilai reaksi
27
Poin
48
Kamma Buruk Melalui Ucapan



"Saccaṁ bhaṇe na kujjheyya
dajjā appasmimpi yācito
Etehi tīhi ṭhānehi, gacche devāna santike"

Hendaknya orang berbicara benar, hendaknya orang tidak marah; hendaknya orang memberi walaupun sedikit kepada mereka yang membutuhkan. Dengan tiga cara ini, orang dapat pergi ke hadapan para dewa.

(Dhammapada XVII: 4)


Ucapan buruk adalah ucapan yang disampaikan tidak baik, buruk, ternoda, dan tercela. Kita sering sekali mendengarkan kata-kata yang kasar dalam kehidupan sehari-hari, apakah di rumah, di kantor, lingkungan masyarakat, atau di tempat-tempat lainnya. Mereka sering berkata dan berucap kata-kata kotor, kasar, tanpa berpikir terlebih dahulu. Pokoknya kalau tidak suka dengan orang lain, apapun akan keluar dari mulutnya, sampai-sampai penghuni kebun binatang dibawa-bawa demi melampiaskan kemarahannya. Kita tahu bahwa ucapan yang kasar itu akan membawa akibat bagi dirinya dan orang lain yang diajak bicara. Contoh yang sederhana saja, adalah jika kita membentak orang lain, tentu orang itu akan marah dan benci dengan kita. Tetapi sebaliknya, jika kita berucap dengan kata yang lemah lembut dan sopan kepada orang lain, maka akan menimbulkan kebahagiaan bagi orang tersebut dan kita pun merasa bahagia dengan orang yang kita ajak bicara.

Kata-kata yang kita ucapkan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan kita terutama dalam berkomunikasi terhadap teman atau orang lain. Kata-kata yang kita ucapkan dengan niat yang baik akan membawa kebahagiaan, sebaliknya jika diucapkan dengan kata-kata yang tidak ramah atau kotor dan kasar, sudah barang tentu akan merusak hubungan komunikasi, menimbulkan permusuhan, kebencian, kekecewaan, dendam, dan sakit hati. Kita sering membaca koran, majalah, dan yang lainnya, bahwa ucapan yang tidak baik atau kasar akan membawa akibat penderitaan bagi si pembuatnya. Hal ini pernah terjadi, ada seorang suami yang tega membunuh istrinya gara-gara ucapan. Ceritanya sebagai berikut: ”Pada suatu hari sang suami pulang kerja, kemudian ia meminta diambilkan makanan oleh istrinya, lalu sang istri menjawab dengan kata-kata yang pedas, maka terjadilah perang berdarah yang menimbulkan korban jiwa, sungguh merupakan peristiwa yang tragis sekali.”

Kasihan kan! Kalau hanya gara-gara urusan sepele saja sang istri menjadi korban pembunuhan sang suami, akibatnya bukan saja istri yang menjadi korban meninggal dunia, sang suami pun ikut masuk dalam penjara, anak-anak pun menjadi terlantar. Kalau sudah begini semuanya ikut menderita, terutama anak-anak yang tidak tahu permasalahannya. Hal serupa juga pernah terjadi pada jaman Sang Buddha, seperti yang terdapat dalam Dhammapada Aññhakathā, dikisahkan bahwa pada masa Buddha Kassapa terdapat seorang bhikkhu bernama Kapila yang sangat terpelajar, ia memperoleh kemasyhuran dan keberuntungan. Ia menjadi sangat sombong dan memandang rendah bhikkhu-bhikkhu lain. Bila bhikkhu lain menunjukkan keadaannya yang pantas dan apa yang tidak pantas, ia selalu menjawab dengan kata-kata yang kasar dan pedas. Hal ini menandakan bahwa ia tahu lebih banyak daripada bhikkhu-bhikkhu yang lain. Dengan demikian, lama-kelamaan semua bhikkhu yang baik menjauhinya. Pada suatu hari di hari uposatha, ketika para bhikkhu mengulang patimokkha, Kapila berbicara melecehkan para bhikkhu, kemudian ia meninggalkan para bhikkhu yang berkumpul. Jadi Kapila merupakan rintangan bagi para bhikkhu. Berhubung perbuatannya yang jahat, setelah kematiannya ia dilahirkan sebagai ikan emas di Sungai Acirawati. Ikan tersebut mempunyai tubuh berwarna keemasan yang sangat indah, tetapi mulutnya berbau busuk.

Suatu hari ikan tersebut ditangkap oleh beberapa nelayan dan membawanya ke hadapan raja dan kemudian raja membawa ikan tersebut kepada Sang Buddha. Ketika ikan membuka mulutnya, bau busuk sangat menusuk hidung dan menyebar ke sekeliling. Kemudian raja bertanya kepada Sang Bhagava; ’Mengapa ikan yang seindah ini memiliki bau busuk?’ O Raja, pada masa Buddha Kassapa ada seorang bhikkhu yang sangat terpelajar yang mengajarkan Dhamma pada yang lainnya, karena perbuatan baik itu, ia lahir kembali pada kehidupan yang lain. Meskipun sebagai ikan, ia mempunyai tubuh keemasan, tetapi bhikkhu itu sangat serakah, sombong, dan memandang rendah orang lain. Karena perbuatan yang buruk ia dilahirkan di alam neraka, dan sekarang ia menjadi seekor ikan yang indah dengan mulut yang berbau busuk. Dengan dipenuhi perasaan sedih pada saat kematiannya, ikan tersebut dilahirkan kembali di alam neraka untuk menerima akibatnya.

Dari cerita ini bisa diambil kesimpulan bahwa ternyata ucapan itu apabila diucapkan dengan kata-kata kasar, melecehkan atau merendahkan orang lain, nantinya akan membawa akibat bagi kita, menimbulkan kelahiran di alam yang rendah.

Seperti seorang bhikkhu yang bernama Kapila, meskipun ia pandai, pintar, tetapi karena tidak bisa menjaga ucapan dan selalu merendahkan serta melecehkan orang lain, maka ia terlahir di alam neraka, dan setelah lahir di alam neraka ia terlahir kembali menjadi ikan emas yang bertubuh indah tetapi mulutnya berbau busuk. Untuk itu, kita sebagai umat Buddha, kita harus berbicara yang benar. Sang Buddha pernah menerangkan bahwa bagaimana cara yang baik dan benar dalam berbicara. Dalam petikan Aïguttara Nikāya (kelompok V, 198), dijelaskan bahwa kata-kata yang diucapkan dengan baik memiliki lima khandha, apakah lima khandha itu? Ucapan yang tepat waktu, ucapan yang benar, ucapan lembut, ucapan bertujuan, ucapan yang diucapkan dengan pikiran cinta kasih. Inilah lima tanda ucapan yang baik. Kalau kita ingin berbicara hendaklah berpikir terlebih dahulu jangan sampai merugikan orang lain. Untuk itu, marilah kita sebagai umat Buddha janganlah melakukan perbuatan yang salah melalui ucapan, karena ucapan yang tidak baik akan merugikan kita dan semua makhluk.


 
Kisah Kapila dan Ikan

Kisah Kapila dan Ikan



Pada masa Buddha Kasapa, ada seorang bhikkhu bernama Kapila yang sangat terpelajar dalam Kitab Pitaka. Karena sangat terpelajarnya, ia memperoleh kemasyuran dan keberuntungan. Ia juga menjadi sangat sombong dan memandang rendah bhikkhu-bhikkhu lain. Bila para bhikkhu lain menunjukkan padanya apa yang pantas dan apa yang tidak pantas, ia selalu saja menjawab dengan pedas, "Berapa banyak yang kau tahu?" Hal itu menyiratkan bahwa ia tahu lebih banyak daripada bhikkhu-bhikkhu lain. Dengan demikian, lama kelamaan semua bhikkhu yang baik menjauhinya dan hanya bhikkhu-bhikkhu yang tidak baik berada di sekelilingnya.

Pada suatu hari Uposatha, ketika para bhikkhu mengulang `Peraturan Pokok` bagi para bhikkhu (=Patimokkha), Kapila berkata, "Tidak ada apa yang dikatakan sebagai Sutta, Abidhamma, atau Vinaya. Tidak ada bedanya apakah kamu mempunyai kesempatan untuk mendengar Patimokkha atau tidak," dan lain-lainnya. Kemudian ia meninggalkan para bhikkhu yang sedang berkumpul. Jadi, Kapila merupakan rintangan bagi pengembangan dan pertumbuhan Ajaran (Sasana).

Untuk perbuatan jahat ini, Kapila harus menderita di alam neraka (niraya) antara masa Buddha Kasapa dan Buddha Gotama. Setelah itu ia dilahirkan kembali sebagai seekor ikan di Sungai Aciravati. Ikan tersebut, seperti disebutkan di atas, mempunyai tubuh berwarna keemasan yang sangat indah, tetapi mulutnya berbau tidak enak yang sangat menusuk hidung.

Suatu hari, ikan tersebut ditangkap oleh beberapa nelayan dan karena sangat indah, mereka membawanya kepada Raja. Kemudian Raja membawa ikan tersebut kepada Sang Buddha. Ketika ikan itu membuka mulutnya, bau yang tidak enak dan sangat menusuk menyebar ke sekeliling. Raja bertanya kepada Sang Buddha, mengapa ikan seindah itu mempunyai bau yang sedemikian tidak enak dan menusuk hidung.

Kepada Raja dan para pengiringnya, Sang Buddha menjelaskan, "O Raja! Pada masa Buddha Kasapa, ada seorang bhikkhu yang sangat terpelajar, yang mengajarkan Dhamma pada lainnya. Karena perbuatan baik itu, ketika ia dilahirkan kembali pada kehidupan yang lain, meskipun sebagai seekor ikan, ia memiliki tubuh keemasan. Tetapi bhikkhu itu sangat serakah, sombong, dan memandang rendah orang lain; ia juga mengabaikan Peraturan Ke-bhikkhu-an (Vinaya), dan mencaci maki para bhikkhu yang lain. Karena perbuatan buruk ini, ia dilahirkan di alam neraka (niraya), dan sekarang, ia menjadi seekor ikan yang indah dengan mulut yang berbau busuk."

Sang Buddha kemudian beralih kepada ikan itu dan bertanya apakah ia mengetahui ke mana ia akan dilahirkan kembali pada kehidupan yang akan datang. Ikan tersebut memberi isyarat bahwa ia akan masuk kembali ke alam neraka (niraya) dan ia dipenuhi dengan perasaan sangat sedih. Sebagai mana diperkirakan, pada saat kematiannya, ikan tersebut dilahirkan kembali di alam neraka (niraya), untuk menerima akibat perbuatan buruk lain.

Semua yang hadir mendengarkan kisah ikan tersebut menjadi terkejut. Pada mereka, Sang Buddha memberikan khotbah tentang manfaat mengkombinasikan antara belajar dengan praktek.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 334, 335, 336, dan 337 berikut ini :

"Manujassa pamattacarino
tanha vaddhati maluva viya
so plavati hura huram
phalamicchamva vanasmi vanaro.

Yam esa sahate jammi
tanha loke visattika
soka tassa pavaddhanti
abhivatthamva biranam.

Yo cetam sahate jammim
tanham loke duraccayam
soka tamha papatanti
udabindu va pokkhara.

Tam vo vadami bhaddam vo
yavante` ttha samagata
tanhaya mulam khanatha
usiratthova biranam
ma vo nalamva sotova
maro bhanji punappunam."

Bila seseorang hidup lengah,
maka nafsu keinginan tumbuh,
seperti tanaman Maluwa yang menjalar.
Ia melompat dari satu kehidupan
ke kehidupan yang lain,
bagaikan kera yang senang mencari
buah-buahan di dalam hutan.

Dalam dunia ini,
siapapun yang dikuasai oleh
nafsu keinginan rendah dan beracun,
penderitaannya akan bertambah
seperti rumput Birana yang tumbuh dengan cepat
karena disirami dengan baik.

Tetapi barang siapa dapat mengatasi nafsu keinginan
yang beracun dan sukar dikalahkan itu,
maka kesedihan akan berlalu dari dalam dirinya,
seperti air yang jatuh dari daun teratai.

Kuberitahukan hal ini kepadamu:
Semoga engkau sekalian yang telah datang
berkumpul di sini memperoleh kesejahteraan!
Bongkarlah nafsu keinginanmu,
seperti orang mencabut akar rumput Birana yang harum.
Jangan biarkan Mara
menghancurkan dirimu berulang kali,
seperti arus sungai menghancurkan rumput ilalang
yang tumbuh di tepi.


 
Nice Thread....go on....

nyata sekali ya.....ucapan-ucapan bagaikan pisau tajam yg menusuk ...bisa juga dikatakan ucapan dapat menjadi sumber kebajikan....
Pas ya peribahasa Mulutmu adalah harimaumu...

have a nice day
 
Nice Thread....go on....

nyata sekali ya.....ucapan-ucapan bagaikan pisau tajam yg menusuk ...bisa juga dikatakan ucapan dapat menjadi sumber kebajikan....
Pas ya peribahasa Mulutmu adalah harimaumu...

have a nice day

betul nasehatin abg namanya "joke" diforum ini,kasi tau jangan teriak2 perkosa,hati2 nanti karma buruk melalui ucapan,kata2 menjadi kenyataan yang menimpa dirinya,diperkosa,jangan sampai ucapannya berbalik menjadi bumerang baginya,kasian tuh anak,masi kecil bicarnya ngawur,menfitnah seorang yang arya,biarpun kita katakanlah memang betulan yah ada seorang bhiksu memperkosa,tetapi ingat jubahnya mewakili budha dharma sangha,so jangan menghina seseorang yang masi memakai jubah budha,ingat itu........

nasehatin dah tuh abg "joke" jaga mulut nya
 
betul nasehatin abg namanya "joke" diforum ini,kasi tau jangan teriak2 perkosa,hati2 nanti karma buruk melalui ucapan,kata2 menjadi kenyataan yang menimpa dirinya,diperkosa,jangan sampai ucapannya berbalik menjadi bumerang baginya,kasian tuh anak,masi kecil bicarnya ngawur,menfitnah seorang yang arya,biarpun kita katakanlah memang betulan yah ada seorang bhiksu memperkosa,tetapi ingat jubahnya mewakili budha dharma sangha,so jangan menghina seseorang yang masi memakai jubah budha,ingat itu........

nasehatin dah tuh abg "joke" jaga mulut nya


@gatot
tot gatot kamu ni ngk ada otak ya, tu nasehat buat dirimu,
km ni masih bayi berlagak da pinter. uda km belajar yg banyak tot,
emg dia memperkosa??km kok bingung sendiri si, klo LSY memeperkosa ya uda, kalo ngk ya uda, km loh kyk org bodoh aja.
makanya dia itu mewakili sangha kok bisa nya melakukan pelecehan n pemerkosaan menakutkan donk??:-O:-O
km ni anak bayi ya gatot gatot bodoh nya:D:D:D:D

GURU SILIT SILIT SHENG YEN LU
 
@gatot
tot gatot kamu ni ngk ada otak ya, tu nasehat buat dirimu,
km ni masih bayi berlagak da pinter. uda km belajar yg banyak tot,
emg dia memperkosa??km kok bingung sendiri si, klo LSY memeperkosa ya uda, kalo ngk ya uda, km loh kyk org bodoh aja.
makanya dia itu mewakili sangha kok bisa nya melakukan pelecehan n pemerkosaan menakutkan donk??:-O:-O
km ni anak bayi ya gatot gatot bodoh nya:D:D:D:D

GURU SILIT SILIT SHENG YEN LU


inilah ciri2 orang yang suka meributkan hal2 yang tidak berguna,tata bahasa kurang dijaga,kayanya sih ortunya nga sanggup ajarin sopan santun ama anak ini,tul nga???? belajar kata2 bajik dari liao fan tuh ABG " joke":P:P:P=))=))=))=))=))=))
 
inilah ciri2 orang yang suka meributkan hal2 yang tidak berguna,tata bahasa kurang dijaga,kayanya sih ortunya nga sanggup ajarin sopan santun ama anak ini,tul nga???? belajar kata2 bajik dari liao fan tuh ABG " joke":P:P:P=))=))=))=))=))=))



hehehe.. tata bahasa itu sesuai dengan bukti yg ada. mau lu sangah gimana tot.bodoh km tu

sopan santun,, emg lu ada??

belajar buku padmakumara,bisa terbang ntar hehehehehe terbang ke neraka avici ama LSY:D:D:D:D
 
hehehe.. tata bahasa itu sesuai dengan bukti yg ada. mau lu sangah gimana tot.bodoh km tu

sopan santun,, emg lu ada??

belajar buku padmakumara,bisa terbang ntar hehehehehe terbang ke neraka avici ama LSY:D:D:D:D

bikin theard jorok aja nih abg"joke",tobatlah kerajaan allah sudah dekat,wakkakkakakka=))=))=))=))
 
perang di semua thread...^^

Ucapan mencerminkan kematangan mental. Saat mental mulai dewasa, org2 akan merubah cara bicaranya. Kalo ada karma itu da pasti, karna setiap tindakan ada karma nya. Hny saja jangan terlalu takut pada karma. Tapi risau laah bahwa mental kita tak maju2. Jika mental ada kemajuan maka karma itu hanyalah sebuah pelajaran saja dan bisa menjadi sebuah motivasi yg baik bagi diri menuju kebijaksanaan. ^^
 
gue si uda kagak ngurusin loh,
tp tau tu,, si gatot..hehehe ngk ada sopan nya
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.