• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Buddha Menjawab Pertanyaan Dewa

singthung

IndoForum Junior E
No. Urut
7164
Sejak
21 Sep 2006
Pesan
1.634
Nilai reaksi
27
Poin
48
BUDDHA MENJAWAB PERTANYAAN DEWA
FAKTA & REALITA
(Untuk kalangan sendiri)


BUDDHA MENJAWAB PERTANYAAN DEWA.

Demikian apa yang telah Aku (Y.M. Ananda Thera) dengar, ketika Bhagawa menetap di Sawatthi di hutan Jeta, Taman milik Ananthapindhika. Begitu menjelang pagi Dewa berkunjung dengan raut wajah ceria dan sumringah, lalu menghampiri dan bersujud menghormat Bhagawa, sambil bercerita dengan penuh pertanyaan sbb:

Pertanyaan Dewa: “Pedang apakah yang paling tajam? Racun apakah yang sangat menjijikan? Api apakah yang berkobar? Kegelapan apakah yang sangat kelam?”.

Jawaban Buddha: “Ucapan yang sangat kasar adalah pedang yang sangat tajam. Keserakahan dan nafsu keinginan adalah racun yang sangat menjijikan. Kebencian adalah Api yang berkobar-kobar. Kebodohan adalah Kegelapan yang sangat kelam”.

Pertanyaan Dewa: “Bagaimanakah yang disebut Manusia yang menerima manfaat? Bagaimanakah yang disebut Manusia yang kehilangan manfaat? Cinta apakah yang sangat kuat? Senjata apakah yang sangat tajam?”.

Buddha menjawab: “ Siapapun yang memberi, sebenarnya dialah yang menerima manfaat (buah karma baiknya). Sebaliknya siapapun yang menerima dialah sebenarnya yang kehilangan manfaat (karma baiknya habis). Kesabaran adalah Cinta yang sangat kuat. Kebijaksanaan adalah senjata yang sangat tajam”.

Pertanyaan Dewa: “Apakah yang disebut Perampok? Apakah harta dari Kebijaksanaan? Siapakah yang punya kekuatan untuk merampok baik di surga atau di dunia ini?

Buddha menjawab: “ Pikiran yang salah adalah Perampok yang sangat lihai. Sila atau Moralitas adalah harta Kebijaksanaan. Orang yang suka melanggar Sila adalah yang punya kemampuan sebagai Perampok ulung baik di dunia maupun di surga”.

Pertanyaan Dewa: “Siapakah yang paling berbahagia? Siapakah yang paling kaya dan dihormati? Siapakah yang patut dihormati? Siapak yang paling buruk?”.

Buddha menjawab: “Orang yang sedikit keinginan adalah yang paling bahagia. Orang yang merasa puas adalah yang paling kaya dan dihormati. Orang yang suka melanggar Sila adalah yang sangat buruk”.

Pertanyaan Dewa: “Siapakah kerabat yang paling baik? Siapak musuh dari pikiran jahat? Apakah penderitaan yang paling berat? Apakah kebahagiaan yang tertinggi?”.

Buddha menjawab: “Jasa kebajikan merupakan kerabat yang terbaik. Metta (cinta-kasih) merupakan musuh dari pikiran jahat. Neraka adalah adalah penderitaan yang paling berat. Tak terlahir kembali di alam manapun adalah kebahagiaan yang tertinggi”.

Pertanyaa Dewa: “Apakah yang tak pantas dan bernafsu keinginan? Apa pantas dan tak bernafsu keinginan? Demam apa yang terhebat? Siapa yang merupakan tabib ahli dan terlatih?”

Buddha menjawab: “Kesenangan dalam kepuasan hawa nafsu adalah tidak pantas dan bernafsu keinginan. Terbebas dari nafsu keinginan adalah pantas dan tak bernafsu keinginan. Kesrakahan adalah Demam yang terhebat. Buddha adalah tabib yang ahli dan terlatih”.

Pertanyaan Dewa: “Apa yang mampu menutupi dunia? Oleh siapakah dunia dibutakan? Apa penyebab seseorang ditinggalkan keluarga dan teman-temanya? Apa yang merintangi orang untuk terlahir di alam surga (Dewa)?”

Buddha menjawab: “Ketidakmengertian mampu menutupi dunia. Kebodohan dan kegelapan batin menyebabkan dunia dibutakan. Kekikiran dan keserakahan adalah penyebab orang ditinggalkannya oleh keluarga dan teman-temannya. Kemelekatan akan kekotoran batin penghalang orang untuk terlahir di alam Dewa”.

Pertanyaan Dewa: “Benda apa yang tidak dapat terbakar oleh api, juga tidak dapat dihancurkan oleh angin, tidak lapuk oleh air, tapi mampu menhan dunia?” Siapakah yang berani menghadapi Raja mapupun Pencuri dan bisa ditangkap oleh manusia dan bukan manusia?”

Buddha menjawab: “Jasa kebajikan tidak dapat terbakar oleh api, juga tidak dapat dihancurkan oleh angin, tidak lapuk oleh air, namun mampu menahan dunia. Jasa kebajikan yang mampu menghadapi Raja dan Pencuri, juga tidak bisa dibawa pergi oleh manusia maupun bukan manusia.”

Pertanyaan Dewa: ”Kami masih punya keraguan, mohon Buddha untuk mengatasinya, dalam dunia ini maupun dunia mendatang, siapakah yang membodohi dirinya sendiri?”

Buddha menjawab: “Orang yang punya harta kekayaan, tapi tidak mau menanam jasa kebajikan, dalam dunia ini maupun dunia mendatang, dialah orang yang paling membodohi dirinya sendiri”.

Setelah mendengarkan Dhammadesana dari Buddha, maka Dewa itu dipenuhi rasa bahagia, hingga merasa kagum dan memujinya, lalu Dewa itupun beranjali dan bersujud menghormat kepada Buddha yang maha tahu, kemudian pergi tanpa bekas.”

Sumber: Dhamma Bagi Pemula oleh Y.M. Phra Rajavaracariya (Bhnate Vin Vijjano)
 
Ada sekte Buddhis yang mengagungkan Buddha dan melihat dewa sebagai makhluk inferior (dibandingkan dengan Sang Buddha).

Ada pula sekte Buddhis yang lain, melihat semua makhluk adalah dalam perjalanan menuju Kebuddha-an, semua-nya adalah berpotensi untuk mencapai Ke-Buddha-an. Kalau ada yang inferior adalah mereka yang Melatih diri tanpa mengembangkan BodhiCitta, mereka yang membina diri untuk mencapai pelepasan (liberation) diri sendiri (of ownself).
 
Ada sekte Buddhis yang mengagungkan Buddha dan melihat dewa sebagai makhluk inferior (dibandingkan dengan Sang Buddha).

Ada pula sekte Buddhis yang lain, melihat semua makhluk adalah dalam perjalanan menuju Kebuddha-an, semua-nya adalah berpotensi untuk mencapai Ke-Buddha-an. Kalau ada yang inferior adalah mereka yang Melatih diri tanpa mengembangkan BodhiCitta, mereka yang membina diri untuk mencapai pelepasan (liberation) diri sendiri (of ownself).

Mungkin sudah dipengaruhi kebudayaan/adat istiadat/tradisi setempat. Agama Buddha sangat fleksibel bisa berbaur dengan kebudayaan asal tidak bertentangan dengan ajaran Sang Buddha.

Theravada ====> cenderung ke Sang Buddha(Gautama dan di dampingin dua siswa utama).
Mahayana ====> cenderung ke Buddha Amitabha dan Kwan IM(dipengaruhi kebudayaan cina)
Tantrayana ====>mirip dengan Mahayana ditambah tradisi tibet dan hindu)
 
dewa-dewi kan lebih banyak di temui di aliran kong hu chu.
bagaimana kalau di agama buddha?
apakah agama buddha mengakuinya juga?
kalau ya, dimanakah posisi mereka?

thanks
 
dewa-dewi kan lebih banyak di temui di aliran kong hu chu.
bagaimana kalau di agama buddha?
apakah agama buddha mengakuinya juga?
kalau ya, dimanakah posisi mereka?

thanks

Dalam agama Buddha juga mengenal dewa. Dewa adalah makhluk yang lahir di alam Bahagia yang terdapat dalam 31 alam kehidupan. Menjadi dewa-dewi juga tidak kekal.
 
hmm kalo masalah dewa mungkin bisa juga di sebut brahma
saya krang ngerti juga sebenernya.T_T
mohon bantuannya
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.