Amaterasu
IndoForum Junior A
- No. Urut
- 83190
- Sejak
- 28 Okt 2009
- Pesan
- 2.702
- Nilai reaksi
- 170
- Poin
- 63
Ini adalah kisah nyata yang diceritakan dan ditulis kembali oleh si Adik. Kisah ini mengenai dua saudara kembar yang sedari Bayi sudah terpisah karena masalah keluarga,mereka tidak pernah bertemu, dan baru dipertemukan kembali saat mereka sudah dewasa, yaitu tepatnya saat mereka berusia 20 Tahun. Sang Kakak dibesarkan oleh Ayahnya, sementara sang Adik oleh ibunya.
Ayah dan Ibu yg masing2 memiliki keyakinan berbeda, berbeda pula dalam cara membesarkan anak masing masing. Sang Ayah yg memiliki kemampuan Finansial jauh lebih baik mengajarkan si Kakak untuk melihat segala sesuatu berdasarkan Logika,bukti dan hukum Sebab - Akibat. Ajaran agama yg dianut oleh sang Ayah tidak diajarkan begitu mendalam, karena baginya Agama itu hanya sebatas keyakinan, dan tidak begitu masuk Logika. Akibatnya, si Kakak tumbuh sebagai anak yang cenderung Materialistis (senantiasa mengaitkan segala hal dengan materi).
Sementara di lain pihak, sang Ibu mengajarkan si Adik ajaran Islam yang taat. Ibu yg secara Finansial tidak lebih baik dari Ayah, mengajarkan si Adik untuk hidup sederhana, dan selalu bersyukur atas setiap Rejeki yg didapat. Sebagai hasilnya, si Adik tumbuh menjadi Pribadi yg rendah hati, dewasa, dan senantiasa Bersyukur.
Pada suatu masa,atas seizin Allah kedua saudara ini dipertemukan. Banyak hal baik yg terjadi setelah itu. Dan setelah pertemuan itu, mereka berdua pun berjanji untuk selalu menjaga tali silaturahmi.
Suatu hari, si Kakak menghadapi masalah berat di pekerjaanya. Dia diharuskan untuk menyelesaikan pekerjaan yang banyak ditengah waktu Deadline yang semakin dekat. Si Kakak mengeluh, marah, mencaci orang2 di sekelilingnya dan melihat apapun yang ada disekitarnya tampak menyebalkan. Dia berfikir, dia sudah bekerja sangat keras, baik dan memuaskan, tapi kenapa hasilnya hanya ini yang didapat. Semakin lama bukannya semakin santai, tapi malah semakin sibuk dan semakin membuatnya stress. Ditengah kekesalannya pada saat itu, terbersit pikiran darinya untuk berkunjung ke tempat Adiknya. Akhirnya, si Kakak pergi menuju kontrakan Adiknya.
Sampailah si Kakak di sebuah kontrakan sederhana, dimana ruangannya hanya seukuran 1 x 2 meter, dan hanya terdapat sebuah kasur gulung tipis, satu lemari pakaian kecil, sebuah Sajadah, dan sebuah kipas angin kecil. Dalam hati dia berfikir, ruangan ini bahkan tidak lebih besar dari Ruang Kerjaku, apalagi Fasilitas yang ada didalamnya. Aku bukannya tidak ingin membantunya, tapi dia sendiri yang menolak pemberianku dengan alasan, dia masih sanggup untuk berusaha sendiri.
Tapi, bukan itu yg si Kakak ingin obrolkan dengan si Adik. Si Kakak ingin bercerita mengenai masalah pekerjaan yang tengah dihadapinya. Segera setelah si Adik selesai menunaikan Shalat Isya, dialog pun terjadi,...
Ayah dan Ibu yg masing2 memiliki keyakinan berbeda, berbeda pula dalam cara membesarkan anak masing masing. Sang Ayah yg memiliki kemampuan Finansial jauh lebih baik mengajarkan si Kakak untuk melihat segala sesuatu berdasarkan Logika,bukti dan hukum Sebab - Akibat. Ajaran agama yg dianut oleh sang Ayah tidak diajarkan begitu mendalam, karena baginya Agama itu hanya sebatas keyakinan, dan tidak begitu masuk Logika. Akibatnya, si Kakak tumbuh sebagai anak yang cenderung Materialistis (senantiasa mengaitkan segala hal dengan materi).
Sementara di lain pihak, sang Ibu mengajarkan si Adik ajaran Islam yang taat. Ibu yg secara Finansial tidak lebih baik dari Ayah, mengajarkan si Adik untuk hidup sederhana, dan selalu bersyukur atas setiap Rejeki yg didapat. Sebagai hasilnya, si Adik tumbuh menjadi Pribadi yg rendah hati, dewasa, dan senantiasa Bersyukur.
Pada suatu masa,atas seizin Allah kedua saudara ini dipertemukan. Banyak hal baik yg terjadi setelah itu. Dan setelah pertemuan itu, mereka berdua pun berjanji untuk selalu menjaga tali silaturahmi.
Suatu hari, si Kakak menghadapi masalah berat di pekerjaanya. Dia diharuskan untuk menyelesaikan pekerjaan yang banyak ditengah waktu Deadline yang semakin dekat. Si Kakak mengeluh, marah, mencaci orang2 di sekelilingnya dan melihat apapun yang ada disekitarnya tampak menyebalkan. Dia berfikir, dia sudah bekerja sangat keras, baik dan memuaskan, tapi kenapa hasilnya hanya ini yang didapat. Semakin lama bukannya semakin santai, tapi malah semakin sibuk dan semakin membuatnya stress. Ditengah kekesalannya pada saat itu, terbersit pikiran darinya untuk berkunjung ke tempat Adiknya. Akhirnya, si Kakak pergi menuju kontrakan Adiknya.
Sampailah si Kakak di sebuah kontrakan sederhana, dimana ruangannya hanya seukuran 1 x 2 meter, dan hanya terdapat sebuah kasur gulung tipis, satu lemari pakaian kecil, sebuah Sajadah, dan sebuah kipas angin kecil. Dalam hati dia berfikir, ruangan ini bahkan tidak lebih besar dari Ruang Kerjaku, apalagi Fasilitas yang ada didalamnya. Aku bukannya tidak ingin membantunya, tapi dia sendiri yang menolak pemberianku dengan alasan, dia masih sanggup untuk berusaha sendiri.
Tapi, bukan itu yg si Kakak ingin obrolkan dengan si Adik. Si Kakak ingin bercerita mengenai masalah pekerjaan yang tengah dihadapinya. Segera setelah si Adik selesai menunaikan Shalat Isya, dialog pun terjadi,...
Adik : Jadi, kenapa mukanya kusut begitu?belum disetrika?(tersenyum)
Kakak : Yah, jika ada setrikaan yang bisa merapihkan muka, maka aku akan beli 10 buah. Satu diantaranya akan kuberikan kepadamu.
Adik : (tersenyum)Jadi, ada masalah apa...
Kakak : tiap kali datang kemari, aku hanya mengeluh,...aku jadi malu karena lahir lebih awal 20 menit darimu...apakah aku masih pantas dibilang sebagai Kakak?..
Adik : Apa aku tampak seperti tidak suka kamu datang kemari?..
Kakak : ...yah, baiklah. Tampaknya memang dalam hal ini, kmu lebih mengerti dibanding denganku.
Adik : Jadi, silahkan dimulai,...(senyum)
Kakak : Begini, hari ini bisa dibilang aku berada dalam puncak Stress ku. Pekerjaan teramat banyak yang sudah mendekati Deadline, benar2 menguras seluruh tenaga, pikiran dan waktu ku. Aku tidak tahu apakah aku sanggup menyelesaikannya. Semua orang yang harusnya membantuku, tidak melakukan pekerjaannya dengan baik. Bahkan mereka meminta jatah penghasilan jauh lebih banyak. Kenapa mereka berfikir soal Uang lebih dulu, bukan berfikir mengenai bagaimana caranya untuk menyelesaikan pekerjaan?aku sendiri tak akan pelit pada mereka jika memang pekerjaan mereka bagus, dan aku selalu memberikan sesuatu sesuai dengan hasil kerjanya?apa yang harus aku lakukan sekarang Dik?
Adik : Sebelum aku jawab, boleh aku tanya sesuatu padamu?
Kakak : Yah, tanyakan saja..
Adik : Siapa yang memutuskan untuk menerima pekerjaan yang teramat banyak itu?dan siapa yang berfikir sanggup untuk menyelesaikan pekerjaan itu tepat pada waktunya?
Kakak : ...(merenung)...aku tahu maksudmu Dik. Seharusnya aku tidak menyalahkan orang lain. Karena bagaimanapun, aku sendiri yang memutuskan segala hal mengenai kepentinganku.
Adik : Jadi, masih ada masalah?
Kakak : Hanya saja, aku jadi berfikir lebih luas,...posisi ku sekarang sudah jauh lebih baik ketimbang dari awal aku mulai bekerja. Tapi kenapa aku tidak merasa hidupku menjadi lebih baik?aku pikir, berada di atas itu seharusnya menyenangkan, tapi pada kenyataanya tidak seperti itu. Semua waktu, tenaga dan pikiran ku kini hanya terfokus pada pekerjaan. Apa maksudnya semua ini sebenarnya?
Adik : Tau pepatah, semakin tinggi pohon, semakin kencang pula anginnya
Kakak : Oke (menyela), aku mengerti maksudmu lagi. Ya, 2 kali kmu menyindirku. Tapi yang aku inginkan sekarang adalah kebahagiaan. Bukankah untuk mencapai kebahagiaan itu, kita harus bekerja keras?aku sudah bekerja keras, tapi apa hasilnya?aku malah semakin stress?
Adik : Memangnya, kmu lupa kmu sekarang datang ke tempatku dengan mengendarai apa?apa kmu juga lupa, sudah lama kamu hampir tidak pernah membawa uang kertas karena dompetmu sudah dipenuhi Kartu Pembayaran untuk menggantikan uang Kertas yang biasa?lalu apakah kmu juga lupa, bahwa sekarang kmu sudah mampu memerintah setidaknya 6 orang yang bekerja di Kantormu?Kakak ku yang satu ini bukanlah orang yang mudah lupa, bukan begitu? (tersenyum)
Kakak : Yah, satu sindiran lagi mengarah kepadaku. Sepertinya aku sekarang memang harus menenangkan diri dan berkaca. Merenung, hal yang sangat jarang aku lakukan. Tapi aku tidak mau disindir lagi oleh mu, setelah ini aku akan merenung.
Adik : Bagus klo begitu. Manusia diberikan Otak untuk Berfikir dengan Logika, dan diberikan Hati untuk mampu mengarahkan logika pada kebenaran. Sekarang bagaimana?ada lagi masalahmu?
Kakak : Yah, saat ini cukup sampai disitu. Oy, ngomong2, kamu sendiri bagaimana?apa masalah mu?biar aku bantu jika aku bisa. Jangan katakan kmu tidak punya masalah!
Adik : hmmm, tentu saja aku memiliki banyak masalah. Tapi hingga saat ini, aku masih bisa mengatasinya sendiri. Tenang saja, nanti saat aku sudah kehabisan ide, aku akan menelpon mu.
Kakak : mmm, ngomong2 masalah seperti apa yang biasa kamu hadapi?
Adik : yah, bermacam-macam. Tapi yang paling sering si, soal uang. Karena gajiku yang terbatas, sementara aku harus membagi sebagian untuk Ibu, sebagian untuk kuliahku, sebagian untuk Sedekah, dan sisanya untuk diriku sendiri. Aku kadang kesulitan, bahkan sering telat membayar kontrakan (senyum). Tapi sudah hampir 2 tahun, aku masih bisa mengatasinya.
Kakak : Jadi itu yang sering kmu hadapi?bukannya aku sering tawarkan kepadamu sedikit bantuan. Oke lah, anggap kmu meminjamnya dariku dan suatu saat harus dikembalikan olehmu, sehingga kmu tidak perlu merasa malu karena sudah menghindari pemikiran orang lain yang mungkin berfikir, kamu hanya bisa meminta-minta. Tapi kamu selalu keras kepala dan menolak pemberianku.
Adik : Kakak ku yang pintar, terima kasih atas semua bantuan yang kmu tawarkan kepadaku. Tapi apa kamu lupa, tadi aku bilang jika aku sudah berhadapan dengan situasi macam ini selama hampir 2 tahun. Dan jika aku tidak sanggup melewatinya, maka pasti aku akan berhenti 2 tahun lalu. Tapi buktinya, aku masih bertahan hingga sekarang bukan?
Kakak : ..., yah oke lah Dik. Kamu masih bertahan. Dan aku juga akan menghormati pendirianmu. Well, katakan saja jika kmu butuh sesuatu. Dan ngomong2, jika aku boleh tahu, hal apa yang membuatmu selalu memilki keyakinan bahwa dengan kondisi dan kemampuan mu, kmu mampu bertahan hidup di Dunia yang keras ini?
Adik : hmm, aku Yakin jika Rejeki Setiap Makhluk hidup sudah ada yang mengaturnya. Dan rejeki bagiku, untuk Ibu, untuk mu, Ayah juga, orang lain, dan semua makhluk hidup termasuk Tumbuhan dan Hewan sudah ada bagian dan porsi-nya masing masing. Tinggal bagaimana kita mau meraihnya saja. Jika rejeki untukku tidak datang hari ini, maka aku yakin akan datang di esok hari berikutnya. Jika rejeki untukku datang hari ini, maka ini adalah jatah yang paling pas yang telah diberikan kepadaku.
Kakak : ?..panjang juga kmu bicara...Tapi tadi kmu bilang, ada yang mengatur, lalu siapa yang mengatur itu? Bos mu kah?dia yang memberi mu Gaji setiap bulannya. Dan besaran gaji tiap bulan ya sama, jadi kmu pastinya sudah dapat gambaran donk, sekarang, bulan depan hingga bulan2 berikutnya kamu akan hidup seperti apa?ya masih seperti ini..Kecuali jika kamu mau menerima bantuanku
Adik : Salah Kak, yang mengatur rejeki ku bukan Bos ku. Melainkan Tuhan. Dia yang mengatur rejeki ku, dan rejeki seluruh makhluk ciptaan Nya di dunia. Bos hanyalah salah satu perantara Tuhan dalam memberikan rejeki Nya kepadaku.
Kakak : Tuhan ya,...Kamu yakin Tuhan yang memberikanmu rejeki?mohon maaf sebelumnya, memangnya kmu yakin jika Tuhan mu itu ada?
Adik : Tentu saja aku yakin. Jika tidak, untuk apa aku bertahan mencari penghidupan seorang diri di Jakarta selama 2 tahun ini?dikarenakan aku yakin Tuhan itu ada, dan telah menetapkan rejeki untukku, maka aku pun masih kuat untuk bertahan.
Kakak : mmm,...lalu jika kamu yakin Tuhan itu ada, seperti apakah wujud rupa dari Tuhan mu itu Dik?dan apakah kmu pernah melihat Nya?Tuhan mu itu?bukankah selama ini, manusia beragama memiliki penafsiran yang berbeda-beda mengenai Wujud Tuhan bukan?ada yg berwajah manusia, ada yang mirip binatang, dan lain sebagainya. Maaf Dik, aku tidak bermaksud menyinggung keyakinan mu. Tidak apa2 jika kmu tidak mau menjawab...
Adik : (senyum)....Aku tidak pernah melihat wujud dari Tuhan ku Kak. Jadi, aku tidak tau wujudnya seperti apa. Tapi yang pasti, Dia tidak berwujud persis/mirip dengan ciptaan Nya. Dia tidak membutuhkan dua rongga hidung untuk bernafas, karena Dia adalah Maha Hidup. Dia tidak membutuhkan dua bola mata untuk melihat, karena Dia adalah Maha Melihat.Dia tidak membutuhkan sepasang telinga untuk mendengar, karena Dia adalah Maha Mendengar. Dia tidak membutuhkan lidah untuk berbicara karena Dia adalah sumber dari Firman, dan Dia tidak membutuhkan alat reproduksi, karena Dia tidak ber keturunan, dan tidak perlu orang lain(keturunan) untuk melanjutkan Kekuasaan Nya.
Kakak : mmm, Maha Segala - galanya ya. Sebenarnya masih ada yang ingin kutanyakan lebih jauh. Tapi jika kamu tidak keberatan
Adik : Tanyakan saja Kak, sekarang saat ini juga. Daripada nanti Kakak Penasaran..Tidak perlu sungkan, aku akan menjawab se pengetahuanku.
Kakak : Oke klo begitu. Mohon maaf jika aku salah. Sekarang pertanyaanku adalah, tadi kmu bilang kmu tidak tau wujud Tuhan mu karena kmu sendiri tidak pernah melihatnya. Tapi, darimana kmu yakin, jika Dia, Tuhan mu itu benar2 ada?apa kmu hanya ber imajinasi?
Adik : (senyum)...hal sederhana sebenarnya, untuk mengetahui apakah Tuhan itu ada atau tidak. Aku tidak pernah melihat wujud dari Tuhanku secara langsung, tapi aku tahu klo Dia ada, karena aku mengenal dan melihat Sifat-Sifat Nya di Dunia ini. Sifat Tuhan. Salah satu Sifat Tuhan adalah Maha Pencipta. Dia yang menciptakan Dunia ini, dan segala isinya. Dengan melihat hasil Ciptaan Nya, aku bisa merasakan klo Tuhan ku itu benar benar ada.
Kakak : Mencipta ya?apa kmu yakin, Tuhan mu itu adalah pencipta dunia ini?bukankah Dunia dari dulu berjalan semestinya dengan sendirinya?Bunga tumbuh karena serbuk sari terbawa oleh angin, serangga, maupun burung. Pohon melakukan proses Fotosintesis karena bantuan Cahaya matahari yang dari dulu hingga sekarang rutin muncul di pagi hari?dan hal lain yang tidak mungkin aku sebutkan semuanya. Dan sampai kapan pun, dunia akan tetap begitu.
Adik : sekarang aku tanya, siapa yang sudah membuat Kaca Mata yang Kakak pakai sekarang ini?apa Kacamata itu terjadi dengan sendirinya?
Kakak : ya si Tukang Optik yang buat,siapa lagi?si Tukang Optik kan manusia biasa, bukan Tuhan.
Adik : Lalu, apakah mungkin sesuatu, katakanlah benda itu terjadi atau ada dengan sendirinya?Jika Kakak bilang Kacamata itu ada yang membuat yaitu si Tukang Optik, maka kenapa Kakak tidak berfikir, Dunia ini juga ada yang menciptakannya?
Kakak : (terdiam)....oke, sesuatu terjadi karena ada yang menciptakan sesuatu itu. Aku bisa terima pendapatmu. Sekarang aku tanya, siapa yang menciptakan Tuhan mu?apakah Tuhan yang lain?karena aku sudah setuju dengan pendapatmu. Dan siapa pula pencipta Tuhan mu yang pencipta Tuhan setelahnya dan sebelumnya?
Adik : Kakak (senyum), apa kakak Berfikir hubungan sebab akibat?sesuatu terjadi karena ada yang menghendaki, ada yang menciptakan?
Kakak : Ya, tentu saja. Terjadinya sesuatu itu karena adanya suatu proses. Oke, aku terima pendapatmu soal Dunia ini diciptakan oleh Tuhan, karena tidak ada sesuatu terjadi dengan sendirinya. Tapi, pertanyaan ku yang sama aku tanyakan kepada Tuhan mu, siapa yang menciptakan Nya?harus ada hukum sebab-akibat donk!
Adik : (senyum)....Tuhan ku adalah Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Kuasa, ingat Kak, Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia ber Kuasa atas segala sesuatu. Lalu, jika hukum sebab-akibat itu berlaku juga untuk Tuhan ku, maka Tuhan ku tidak dibilang Berkuasa atas segala sesuatu donk?Kekuasaan Nya terbatas karena adanya hukum Sebab-Akibat. Jika Tuhan memiliki Kekuasaan Terbatas, maka Ia tak Jauh bedanya dengan Presiden yang kekuasaanya terbatas, tak jauh bedanya juga dengan Direktur, bahkan dengan Kakak sendiri yang kekuasaannya terbatas. Nah, Tuhan macam apakah itu, yang kekuasaanya terbatas?
Kakak : ...aku belum begitu mengerti..
Adik : (senyum) begini, aku berusaha mengatakan kalau, Hukum Sebab-Akibat tidaklah berlaku untuk Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Segala galanya, karena dari Dia lah sebenarnya hukum itu berasal, dan tidak akan berlaku bagi Diri Nya sendiri, karena Dia yang menciptakan hukum itu. Berbeda halnya jika aku melihat Kakak di Kantor. Kakak menetapkan peraturan kepada bawahan Kakak untuk datang tidak kurang dari jam 8 pagi, dan peraturan yang kakak Buat itu juga berlaku untuk diri sendiri bukan?Tapi, hukum dan bisa dibilang peraturan yang dibuat oleh Tuhan, tidak akan berlaku bagi Tuhan itu sendiri. Jika Tuhan menghendaki terjadi sesuatu, maka terjadilah. Dan itulah yang membedakan kita, dengan Tuhan.
Kakak : ...(terdiam)...
Adik : bagaimana Kak, masih ada pertanyaan?
Kakak : Oke Dik, aku tau sekarang. Semua pertanyaanku adalah pertanyaan yang hanya diajukan oleh orang bodoh. Aku benar2 malu karenanya.
Adik : (senyum), tidak ada orang bodoh di dunia ini Kak. Yang ada adalah, orang yang belum tahu.
Kakak : (senyum), kau ini sebenarnya lebih pantas lahir lebih awal dan dibilang Kakak, sipat, dan tingkah laku mu, sudah jauh melebihi diriku. Kau sangat dewasa.
Adik : kita hanya berbeda sekitar 20 menit, klo bukan karena norma dan aturan moral yang mengharuskan ku memanggilmu Kakak, mungkin aku tidak memanggilmu demikian! (senyum)
Kakak : Well, oke dah. Kita ini serupa tapi tak sama. Tapi dik, masih ada yang aku heran. Kamu begitu yakin dan percaya pada Tuhan mu. Solat mu pun rajin, kamu bahkan rela menyisihkan sebagian uang Gaji mu untuk sedekah. Tapi apa yang diberikan Tuhan mu kepada orang yang telah begitu baik taat dan menyembahnya seperti mu?selain kamar kontrakan sempit, dan Kipas angin yang sudah mau rusak ini?
Adik : (senyum terus). Apa yang sudah Tuhan ku berikan kepadaku?Apa Kakak lupa, tadi aku bilang bahwa Rejeki bagi setiap makhluk di dunia ini sudah ada yang mengatur, dan jika Rejeki ku hanya kamar kontrakan sempit dan kipas angin rusak ini, maka aku menerima dan bersyukur.
Kakak : bersyukur kmu bilang?(menyela), apa Tuhan sudah berlaku adil padamu?aku seumur hidup hanya pernah merayakan N**** sebanyak 3 kali, dan hampir tidak pernah pergi ke G*****. Jika pun pergi, itu hanya untuk acara pernikahan. Dan jika Tuhan yang memang ada dan benar-benar ada adalah Tuhan mu, dan bukan Tuhan yang Ayah dan guruku di sekolah ajarkan sedari kecil, aku tidak pernah sekalipun menyembah Nya, tidak pernah sekalipun aku Solat. Tapi kenapa aku yang tidak menyembah Tuhan dengan baik ini diberikan Mobil, sementara kamu yang Setiap hari bersujud kepada Nya hanya diberikan Kontrakan sempit?apakah Tuhan mu sudah berlaku adil kepadamu?maaf Dik, aku tidak bermaksud menyalahkan Tuhan mu, aku hanya menanykan keadilan Nya padamu yang sangat baik ini.
Adik : (senyum)kakak ini kalimatnya seperti tengah menyalahkan Tuhan saja. Menyalahkan Tuhan karena tidak memberiku mobil, atau tidak memberiku kontrakan yang lebih bagus. Yah Kak, bukan itu yang Tuhan ku ajarkan kepadaku. Yang Tuhan ajarkan kepadaku adalah, bagaimana caranya untuk bersyukur atas segala nikmat yang Ia telah berikan.
Kakak : bersy..(berusaha menyela)
Adik : stop, jangan menyela dulu. Biar aku lanjutkan oke. Begini, sederhana nya, Tuhan sudah memberiku kesempatan untuk hidup dan merasakan indahnya dunia dan melihat dunia ini dari aku lahir hingga sekarang. Dan Nikmat yang Ia berikan, jika dibatasi selama 1 menit saja aku hidup sudah banyak sekali. Misalnya, selama 1 menit, berapa kali jantung ku sudah diijinkan oleh Nya untuk berdetak, sehingga bisa memompa darah ke seluruh tubuhku, menghantarkan oksigen yang Tuhan berikan dan masuk ke paru paru dan darahku. 1 menit saja waktu yang Ia berikan, akan sangat sombong jika aku tidak mensyukurinya. Dan jika dipikirkan aku sudah hidup selama 20 tahun, dan memikirkan nikmat apa saja yang sudah aku dapat selama ini, aku bahkan tidak akan sanggup menghitungnya. Jadi, aku tidak ingin sombong dengan tidak bersujud menyembah Nya.
Kakak : ...(sedikit bersedih) tapi Dik, maksudku adalah,..kenapa Dia yang sudah kamu sembah setiap hari tidak memberi mu lebih banyak kebahagiaan ketimbang aku yang tidak pernah menyembah Nya sama sekali?masihkah kmu melihat keadilan?dan masihkah kamu perlu bersyukur?
Adik : Kakak, coba pikirkan. Saat Kakak perjalanan kemari, apakah di Lampu merah Kakak melihat pengamen, atau pengemis yang usianya masih kecil2. Saat usia masih kecil, saat mereka seharusnya bermain dan belajar, tapi kenapa mereka harus mencari uang?
Kakak : ya, itu karena orang tua mereka tidak sanggup membiayai mereka. Dan aku yakin, ibadah mereka juga tidak sebagus ibadah mu Dik. Jadi aku si terima saja, jika orang yang tidak banyak beribadah hanya diberikan rejeki yang sedikit. Tapi kamu..
Adik : kakak jangan berfikir Ibadah ku lebih baik dari Ibadah orang lain. Aku sendiri tidak begitu yakin Ibadahku diterima oleh Tuhan. Aku hanya berusaha sebaik mungkin untuk mewujudkan rasa bersykur ku. Dan Kakak tau, saat kecil aku tidak pernah diminta Ibu untuk berjualan. Aku bermain dan belajar sebagaimana anak2 lainnya. Sekarang, aku dan Kakak sudah melihat ada orang2 yang ternyata nasibnya tidak lebih baik dariku. Dan, hal apa lagi yang menghalangiku untuk tidak bersyukur?
Kakak : ...(terdiam sejenak)
Adik : Bagaimana?...
Kakak : ...dik, satu pertanyaan lagi kepadamu, mungkin lebih tepatnya, ini sebuah permintaan tolong ,boleh kan?
Adik : katakan saja, akan aku bantu selama tidak berhubungan dengan uang! (tersenyum)
Kakak : bukan kok. Aku cuman ingin tau,...bolehkah Aku mengenal Tuhan mu yang telah mengajarkanmu menjadi seperti ini?
Adik : ...
Kakak : ...bagaimana?tidak boleh ya?
Adik : bukan, (meneteskan air mata)...tentu saja boleh,...jangan Ijinkan aku untuk memanggilmu Kakak jika aku tidak mau mengenalkanmu pada Tuhan ku.
(dan mereka pun mengakhiri malam itu dengan pelukan kakak beradik yang hangat)
sekitar 7 bulan setelah dialog itu, si Kakak dengan disaksikan seorang Imam, Adik dan Ibunya, mengucapkan dua kalimat syahadat.
Selesai!
Email yang dikirimkan Adik saya.




.Ko Pas dr sini,dan kmu edit jg tidak apa apa..
)
