Amaterasu
IndoForum Junior A
- No. Urut
- 83190
- Sejak
- 28 Okt 2009
- Pesan
- 2.702
- Nilai reaksi
- 170
- Poin
- 63
Mungkin bagi sebagian besar pria di Indonesia . masalah keperawanan calon istri masih dianggap sebagai hal yang sangat penting . bahkan bagi yang pria yang sudah nggak perjaka lagi . (egois yah..
) . Keperawan itu dianggap sakral . dan merupakan simbol kesucian wanita . Lalu, bagaimana jika calon istri ternyata sudah tidak perawan lagi, dan itu baru diketahui setelah hubungan menjadi sangat serius?
Mungkin banyak pria yang akan kecewa ketika dihadapkan dalam posisi demikian, dan tidak jarang yang akhirnya memilih untuk membatalkan niatnya untuk menikah . Namun, seiring dengan pergeseran nilai-nilai moral dalam masyarakat, semakin banyak juga yang tidak terlalu mempedulikan masalah keperawanan calon istrinya .
Tapi, apakah sesederhana itu pertimbangannya? Hmm,jika saya dihadapkan pada situasi seperti itu, ada satu hal yang akan saya pertimbangkan sekali, sebelum akhirnya membuat keputusan . Oh yaa, saya masih termasuk orang yang mensakralkan keperawanan .
Sebagai orang yang masih mensakralkan keperawanan, saya nggak anti sama calon istri yang sudah nggak perawan . Ada hal yang bisa memupus masa lalu calon istri yang . Anggaplah nggak sesuai dengan harapan, yaitu kejujuran dari calon istri itu sendiri . Karena itu, apakah saya mengetahui ketidak-perawanan calon istri dari pengakuannya sendiri, atau malah saya mengetahuinya dari orang lain?menjadi hal yang penting bagi saya sebelum sampai pada tahapan untuk mengambil keputusan .
Kejujuran, mungkin dapat dijadikan sebagai barometer untuk menilai seberapa besar sang calon istri itu ingin membuka dan memperkenalkan dirinya dengan jelas . Dengan berani menceritakan masa lalunya yang tidak sesuai dengan harapan calon suami, maka sesungguhnya, dia tengah berupaya untuk membuka dirinya . agar calon suaminya mengenal betul siapa dirinya . Itu artinya, dia tidak ingin membohongi calon suaminya itu . Walaupun ada resiko bahwa dia akan ditinggalkan . Jika sebelum menikah saja dia tidak mau membohongi calon suaminya, maka mudah-mudahan setelah menikah, dia juga bisa menjadi istri yang lebih dapat dipercaya .
Cukupkah sampai di situ?Yaa enggak juga. Banyak masalah lain yang juga mesti dipertimbangkan . Misalnya, karena sebab apa keperawanannya hilang?atau seberapa sering hubungan badan dilakukan sebelum dengan calon suami yang sekarang?Beda pertimbangannya dong antara calon istri yang hilang keperawanannya karena diperkosa atau dibohongi, yang melakukannya karena terpaksa, dengan yang memang doyan melakukan hubungan badan, dan menganggap itu sebagai hal yang biasa saja yang sudah umum dilakukan. Itu semua tergantung seberapa besar toleransi yang bisa diberikan oleh sang calon suami . Tapi setidak-tidaknya, kejujuran calon istri itu bisa jadi pertimbangan awal sebelum menentukan langkah selanjutnya .
Oh yaa . kejujuran itu juga mestinya bukan cuma dituntut kepada calon istri, tapi juga berlaku bagi calon suami . Biar adil, dan tercipta hubungan saling percaya . Berani nggak ?
) . Keperawan itu dianggap sakral . dan merupakan simbol kesucian wanita . Lalu, bagaimana jika calon istri ternyata sudah tidak perawan lagi, dan itu baru diketahui setelah hubungan menjadi sangat serius? Mungkin banyak pria yang akan kecewa ketika dihadapkan dalam posisi demikian, dan tidak jarang yang akhirnya memilih untuk membatalkan niatnya untuk menikah . Namun, seiring dengan pergeseran nilai-nilai moral dalam masyarakat, semakin banyak juga yang tidak terlalu mempedulikan masalah keperawanan calon istrinya .
Tapi, apakah sesederhana itu pertimbangannya? Hmm,jika saya dihadapkan pada situasi seperti itu, ada satu hal yang akan saya pertimbangkan sekali, sebelum akhirnya membuat keputusan . Oh yaa, saya masih termasuk orang yang mensakralkan keperawanan .
Sebagai orang yang masih mensakralkan keperawanan, saya nggak anti sama calon istri yang sudah nggak perawan . Ada hal yang bisa memupus masa lalu calon istri yang . Anggaplah nggak sesuai dengan harapan, yaitu kejujuran dari calon istri itu sendiri . Karena itu, apakah saya mengetahui ketidak-perawanan calon istri dari pengakuannya sendiri, atau malah saya mengetahuinya dari orang lain?menjadi hal yang penting bagi saya sebelum sampai pada tahapan untuk mengambil keputusan .
Kejujuran, mungkin dapat dijadikan sebagai barometer untuk menilai seberapa besar sang calon istri itu ingin membuka dan memperkenalkan dirinya dengan jelas . Dengan berani menceritakan masa lalunya yang tidak sesuai dengan harapan calon suami, maka sesungguhnya, dia tengah berupaya untuk membuka dirinya . agar calon suaminya mengenal betul siapa dirinya . Itu artinya, dia tidak ingin membohongi calon suaminya itu . Walaupun ada resiko bahwa dia akan ditinggalkan . Jika sebelum menikah saja dia tidak mau membohongi calon suaminya, maka mudah-mudahan setelah menikah, dia juga bisa menjadi istri yang lebih dapat dipercaya .
Cukupkah sampai di situ?Yaa enggak juga. Banyak masalah lain yang juga mesti dipertimbangkan . Misalnya, karena sebab apa keperawanannya hilang?atau seberapa sering hubungan badan dilakukan sebelum dengan calon suami yang sekarang?Beda pertimbangannya dong antara calon istri yang hilang keperawanannya karena diperkosa atau dibohongi, yang melakukannya karena terpaksa, dengan yang memang doyan melakukan hubungan badan, dan menganggap itu sebagai hal yang biasa saja yang sudah umum dilakukan. Itu semua tergantung seberapa besar toleransi yang bisa diberikan oleh sang calon suami . Tapi setidak-tidaknya, kejujuran calon istri itu bisa jadi pertimbangan awal sebelum menentukan langkah selanjutnya .
Oh yaa . kejujuran itu juga mestinya bukan cuma dituntut kepada calon istri, tapi juga berlaku bagi calon suami . Biar adil, dan tercipta hubungan saling percaya . Berani nggak ?




g ada pilihan buat yang tetep strict pada 'keperawanan'
mau lu dapet yg udah berbekas, yg udah longgar, yg udah ga kerasa

