• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Berita Kualitas Dosen Indonesia setaraf Guru SD

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. judi
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

judi

IndoForum Activist D
No. Urut
12992
Sejak
22 Mar 2007
Pesan
12.330
Nilai reaksi
459
Poin
83
JAKARTA(SINDO) – Kualitas dosen dosen di Indonesia dinilai masih jauh di bawah standar. Bahkan,kualitasnya disejajarkan dengan guru SD.

Penilaian itu disampaikan pakar pendidikan dan guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof Dr HAR Tilaar. Menurut dia, dalam Undang- Undang (UU) 14/2005 tentang Guru dan Dosen disebutkan bahwa para pendidik jenjang pendidikan dasar dan menengah harus memiliki pendidikan minimal sarjana (S-1).

Sementara untuk pendidikdijenjang pendidikanakademis S-1 sekurang-kurangnya bergelar magister (S-2). ”Begitu pun bagi program pascasarjana, pengajarnya harus bergelar doktor (S-3) dan profesor,” ujar Tilaar di Jakarta kemarin.

Namun, yang terjadi di Indonesia justru pengajar di perguruan tinggi hanya memiliki gelar sarjana saja. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa pemerintah dan pengelola perguruan tinggi telah melanggar UU. Pendapat ini didukung survei Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) pada Desember 2007–Februari 2008.

Dalam surveinya,APTISI menemukan bahwa 67% dosen hanya lulusan sarjana dengan kompetensi mengajar terbatas. Ketua APTISI Suharyadi mengatakan, kualitas dosen memang jauh di bawah standar. ”Pada 2009 nanti, ketika anggaran pendidikan sudah 20%,kita ingin ada perhatian lebih.

Pemerintah harus bertanggung jawab dan konsisten dalam menjalankan UU Guru dan Dosen,”tandasnya. Diketahui sebelumnya, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menyatakan lebih dari separuh dosen yang ada di Indonesia hanya memiliki pendidikan setingkat S-1.Padahal, standar untuk menjadi pengajar di perguruan tinggi harus memiliki pendidikan setingkat S-2.

Direktur Ketenagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Depdiknas Muchlas Samani mengaku, 60.000 dari 120.000 atau 50,65% dosen tidak memenuhi syarat pendidikan minimal pengajar universitas.

Sementara itu,Ketua Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Prof Dr Soedijarto meminta pemerintah menetapkan regulasi dan ketentuan tegas agar perguruan tinggi dapat mensyaratkan pendidikan S-2 bagi pengajarnya.

”Sungguh memprihatinkan kalau sekarang ini ternyata mahasiswa kita diajar oleh dosen yang kemampuan dan kapasitasnya setara dengan guru SD, SMP, atau SMA,”tandasnya. Soedijarto mengungkapkan, di Eropa dan Amerika, seluruh dosen sudah berpendidikan hingga taraf doktor. ”Di sana, siswa SMA saja gurunya master.

Jika ini dibiarkan, sama saja pemerintah terus membuat daya saing perguruan tinggi kita rendah,” ujarnya. Koordinator Education Forum Suparman melihat rendahnya mutu dosen tidak lepas dari kondisi objektif perguruan tinggi. Secara umum, ujar dia, kondisi objektif perguruan tinggi di Indonesia masih jauh dari mutu yang ideal.

”Perguruan tinggi hanya melayani selera pasar tanpa memedulikan tugas utamanya sebagai institusi yang mengajarkan kebenaran, menemukan kebenaran, membangun nilai-nilai baru. Tiga tugas luhur itu sudah lama ditinggalkan perguruan tinggi,”tudingnya.

Hampir semua perguruan tinggi,kata Suparman,masih berorientasi sebagai ”perguruan tinggi tukang mengajar” yang tentu saja kegiatan rutinnya hanya pada transfer of knowledge dengan proses belajartatapmukadengankualitas pembelajaran ala kadarnya.

”Karena itu, sumber pendapatan adalah uang SPP (sumbangan penyelenggaraan pendidikan), SPI (sumbangan pengembanganinstitusi), BMOM (Badan Musyawarah Orangtua Mahasiswa), dan sejenisnya yangintinya sebetulnya adalah pemerasan kepada mahasiswa,” paparnya. (rendra hanggara)
Sumber : Koran Sindo
pertanyaannya apakah kenyataan ini yang membuat lemahnya daya saing sarjana-sarjana indonesia? lalu apakah ada hubungannya dengan tingginya angka penganguran?

sumber kutipan:
majalah Bobo dengan gadis
 
iya nih masih ada aj dosen cuma modal gelar s1.............
 
kalo menurut gw sih
asal ngajarnya bagus gpp
tapi biasa sih kalo orang s2
lebih kuat ilmunya
jadi ngajarnya lebih dapet
kalo s1 jadi dosen kan
logikanya sama aja kayak ngajarin ilmu sebatas maksimal dia
 
kalo menurut gua, bukan masalah s1 atau S2 nya...
tapi lebih menjurus kepada bagaimana dosen tersebut menjelaskan sebuah permasalahan kepada mahasiswanya..
biasanya mahasiswa akan mudah menyerap pelajaran jika dosen menerangkan pelajaran tersebut dengan memakai pendekatan yang di mengerti oleh mahasiswa.

disini, dosen bisa memahami bagaimana kemampuan mahasiswa yang di ajarinya.
 
padahal guru SD aja sekarang pling kecil harus sarjana
 
Gelar memang penting untuk seorang dosen tapi yang lebih terpenting itu bagaimana kemampuan si dosen nya. Ada dosen yang gelarnya S2 tapi soal pengetahuan masih kalah dibanding mahasiswanya /ok

Untuk guru sd gak ketinggian ya gelarnya harus s1 gitu /hmm
 
Gelar memang menting untuk seorang dosen tapi yang lebih terpenting itu bagaimana kemampuan si dosen nya. Ada dosen yang gelarnya S2 tapi soal pengetahuan masih kalah dibanding mahasiswanya /ok

Untuk guru sd gak ketinggian ya gelarnya harus s1 gitu /hmm

memang sebaiknya Guru SD juga dari S1..karena SD adalah pondasi dasar yg teramat penting bagi kesinambungan proses belajar sampai pada tingkat yg paling akhir:D
 
memang sebaiknya Guru SD juga dari S1..karena SD adalah pondasi dasar yg teramat penting bagi kesinambungan proses belajar sampai pada tingkat yg paling akhir:D
Ya kalau diliat dari peting atau tidaknya memang seharusnya guru sd pun harus s1, bener juga kata ente brur /ok

Tapi apa nanti gak jadi masalah kalau untuk guru sd harus di patok gelar gitu, trus nasib orang yang tinggal di daerah gimana ya kira-kira. Jangankan s1, untuk biaya hidup sehari-hari aja susah. Kalau transfer guru dari kota apa mau tuh ngajar di pelosok-pelosok ya /hmm
 
yang jelasnya profesi guru/dosen haruslah jadi profesi Primer, bukan sampingan..
kebanyakan sekarang yang gua liat profesi guru/dosen hanyalah di jadikan profesi sampingan, di karenakan gaji yang kecil sementara biaya hidup besar..sehingga guru/dosen tidak fokus dalam memberikan pengajaran kepada anak ajar-nya ..
 
Jadi kebanyakan mahasiswa/i di Indo diajar sama guru sd/hmm...
 
Ya kalau diliat dari peting atau tidaknya memang seharusnya guru sd pun harus s1, bener juga kata ente brur /ok

Tapi apa nanti gak jadi masalah kalau untuk guru sd harus di patok gelar gitu, trus nasib orang yang tinggal di daerah gimana ya kira-kira. Jangankan s1, untuk biaya hidup sehari-hari aja susah. Kalau transfer guru dari kota apa mau tuh ngajar di pelosok-pelosok ya /hmm

bukannnya harus bung semut...:D

guru SD itu wajib SI itu sudah lama diberlakukan....
hanya saja karena tidak meratanya pembangunan didaerah ,masih sering terjadi guru SD hanya lulusan SMA atau bahkan dibawahnya...:D

padahal sarjana pengangguran juga banyak di daerah/Propinsi itu....

mungkin karena profesi guru memang masih dianggap sebelah mata kali yeh:D
 
Dosen kuliahan ama dosen tk sama =))
 
perumpamaan yang pas 'masa jeruk makan jeruk'...

mungkin sebenarnya cara berpikir dan kuatnya penalaran yang dibarengi dengan jumlah ilmu yang terserap menjadi yang utama dalam pembelajaran...

baik itu S1 ataupun S apapun tergantung dari bagaimana seseorang tersebut menguasai dan mengamalkan/mengajarkannya...

Mau S1/S2/S3 ampe S teler pun, kalau memang dia sangat ahli/advance dalam suatu hal namun tidak dapat mengamalkan/mengajarkan kepada orang lain, masihkah pantas disebut dengan pendidik/pengajar/guru???

Karena menurut ane sebaik-baik ilmu dilihat bukan dari pangkat atau latar belakang pendidikan, namun kembali pada suatu pertanyaan 'apakah telah berhasil ilmu tersebut untuk diamalkan/diajarkan kepada orang lain?'

Ya ini menurut ane...
 
^
Setuju kang..

sekarang ni yang kebanyakan dosen/guru adalah "Pengajar" bukan "Pendidik"
 
perumpamaan yang pas 'masa jeruk makan jeruk'...

mungkin sebenarnya cara berpikir dan kuatnya penalaran yang dibarengi dengan jumlah ilmu yang terserap menjadi yang utama dalam pembelajaran...

baik itu S1 ataupun S apapun tergantung dari bagaimana seseorang tersebut menguasai dan mengamalkan/mengajarkannya...

Mau S1/S2/S3 ampe S teler pun, kalau memang dia sangat ahli/advance dalam suatu hal namun tidak dapat mengamalkan/mengajarkan kepada orang lain, masihkah pantas disebut dengan pendidik/pengajar/guru???

Karena menurut ane sebaik-baik ilmu dilihat bukan dari pangkat atau latar belakang pendidikan, namun kembali pada suatu pertanyaan 'apakah telah berhasil ilmu tersebut untuk diamalkan/diajarkan kepada orang lain?'

Ya ini menurut ane...

tapi memang untuk menentukan Kualifikasi agak sulit kalau hanya patokan "pada kemampuan mengajar" dan memang yg paling mudah untuk menentukan kualifikasi yah dengan Strata pendidikan:)
 
bukannnya harus bung semut...:D

guru SD itu wajib SI itu sudah lama diberlakukan....
hanya saja karena tidak meratanya pembangunan didaerah ,masih sering terjadi guru SD hanya lulusan SMA atau bahkan dibawahnya...:D

padahal sarjana pengangguran juga banyak di daerah/Propinsi itu....

mungkin karena profesi guru memang masih dianggap sebelah mata kali yeh:D
Nah itu dia bung jud, kasian nanti untuk orang yang mau melamar jadi guru SD tapi orang nya tinggal di pelosok kalau harus dibatasi sama gelar, malah bisa nganggur nantinya /wah
 
perumpamaan yang pas 'masa jeruk makan jeruk'...

mungkin sebenarnya cara berpikir dan kuatnya penalaran yang dibarengi dengan jumlah ilmu yang terserap menjadi yang utama dalam pembelajaran...

baik itu S1 ataupun S apapun tergantung dari bagaimana seseorang tersebut menguasai dan mengamalkan/mengajarkannya...

Mau S1/S2/S3 ampe S teler pun, kalau memang dia sangat ahli/advance dalam suatu hal namun tidak dapat mengamalkan/mengajarkan kepada orang lain, masihkah pantas disebut dengan pendidik/pengajar/guru???

Karena menurut ane sebaik-baik ilmu dilihat bukan dari pangkat atau latar belakang pendidikan, namun kembali pada suatu pertanyaan 'apakah telah berhasil ilmu tersebut untuk diamalkan/diajarkan kepada orang lain?'

Ya ini menurut ane...

setuju juga..
kadang proffesor skalipun ga bisa mendidik dgn baik..

pinter buat dirinya sendiri aja kali ;))
 
skrg aja di daerah gw sma minta jasa s2 lho.......................
 
Nah itu dia bung jud, kasian nanti untuk orang yang mau melamar jadi guru SD tapi orang nya tinggal di pelosok kalau harus dibatasi sama gelar, malah bisa nganggur nantinya /wah

kemaren di acara Kick andy di daerah juga masih banyak guru SD yg cuma tamatan SMP:D
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.