• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Yang Tenggelam dan Terkena Puting Beliung

T!T!~ch@/\/

IndoForum Banned
No. Urut
1035
Sejak
11 Mei 2006
Pesan
21.523
Nilai reaksi
1.324
Poin
113
Bencana alam rutin tahunan. Sama seperti musim-musim hujan sebelumnya, kali ini musim hujan juga membawa dampak buruk. Musibah. Pada saat seperti sekarang ini, cuaca sering membawa bencana.

Simak saja kecelakaan laut yang menimpa Kapal Motor Teratai Prima rute Pare-pare-Samarinda. Sampai kemarin, 249 penumpangnya hilang setelah Teratai Prima diterjang ombak besar di Perairan Majene.

Daftar musibah dan bencana masih akan bertambah jika harus memasukkan banjir yang terjadi di daerah seperti Mataram, Denpasar, dan Polewali serta Majene si Sulawesi Barat (Sulbar). Selain meminta enam orang tewas, banjir bandang di Sulbar merusak jalan trans Sulbar yang menghubungkan Pulau Sulawesi dari utara ke selatan.

Apakah cuara buruk belakangan setiap musim hujan memang hanya terjadi Indonesia? Tidak. Di negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, atau Filipina yang semusim dengan Indonesia, bencana alam juga sering terjadi.

Hanya, masalahnya, bencana alam yang terjadi di Indonesia belakangan ini selalu meminta korban jiwa serta materi yang amat banyak dan kerugian yang sangat besar. Seolah bencana yang menimpa Nusantara cenderung makin buruk dari waktu ke waktu. Akibat yang ditimbulkan juga sering lebih negatif dan memiliki implikasi luas terhadap jiwa manusia dan lingkungan.

Kalau demikian, adakah sesuatu yang terjadi secara amat luar biasa di Indonesia itu terkait dengan ancaman bencana yang akibat buruknya telah memeras tenaga, pikiran, materi, serta meminta amat banyak korban jiwa?

Barangkali yang mau dibeber terkait dengan begitu mudahnya bencana terjadi di Indonesia yang meminta banyak korban, antara lain, adalah keseriusan untuk menyadari dan memahami perubahan lingkungan yang tergolong buruk.

Ketika isu-isu internasional global terkait dengan global warming (pemanasan global) mencuat sebagai agenda kerja bersama antarbangsa, kita terkesan tak cukup serius menanggapinya dengan kerja-kerja nyata tentang penyelamatan lingkungan, ekosistem, serta temperatur bumi yang terus mengancam keselamatan bersama.

Simak saja, misalnya, belum banyak regulasi politik atau kebijakan nasional yang secara nyata teruji untuk menyelamatkan bumi, ekologi, dan lingkungan sosial. Memang ada kampanye nasional, tapi tidak teragendakan menjadi kerja-kerja penyadaran yang berimplikasi konkret bagi perubahan perilaku warga agar lebih ramah dan tidak ''kolonialis'' terhadap bumi beserta isinya di sekitar mereka.

Sudah tahu kalau merusak hutan berakibat pada gundulnya hutan yang membuat tanah mudah longsor, toh tidak banyak upaya untuk menghentikannya. Perambahan hutan, eksploitasi isi hutan, serta pengubahan fungsi lahan terus berlangsung sistematis.

Karana itu, sebagai balasannya, air hujan yang jatuh dari langit di berbagai kawasan tak memiliki penyangga. Sebagai ongkos yang arus dibayar, si hujan dengan curah tinggi dan menjadi air bah itu harus mengiris lereng demi lereng perbukitan yang berbuah longsor.

Berikutnya, kekejaman manusia terhadap hutan dan lingkungan dibalas oleh bencana yang tidak kalah kejam. Yakni, setiap longsor harus meminta korban jiwa dalam jumlah amat besar.

Selanjutnya, kecuekan terhadap kualitas bangunan yang memantulkan panas telah mengakselerasi perubahan iklim global yang pada kawasan atau letak geografis tertentu mengakibatkan perubahan temperatur bumi yang tidak bisa diprediksi oleh perangkat mutakhir teknologi pemantauan badan meteorologi dan geofisika (BMG).

Akibatnya, lalu lintas laut dan udara sering tak bisa memperkirakan perubahan cuaca yang menghasilkan udara atau gelombang yang mengancam keselamatan lalu lintas dan angkutan publik.

Mungkin gejala itu dapat dipahami pula sebagai buta hati dan pikiran. Atau, begitu besarnya korban bencana tersebut mencerminkan kuda tuli. Menurut pepatah, ''hanya kuda tuli yang terperosok pada jurang yang sama''. Tapi, apakah bangsa Indonesia memang seperti kuda tuli? Tidak tahulah.


Sumber : www.jawapos.co.id
 
moga2 berhenti sampe sana dee...

kasian...
hix2
 
kabarnya si human error...
klo menurut gw si, kapalnya aje yang udah keTuaan...
waktu mo nyebrang ke sumatra aja gw ketakutan gara2 kapalnya Parah Bet...

untung selamat... pulangnya gw naek pesawat...(tetep aja ceyem... ), tarnsportasi indonesia... Parah Bet Dagh.. padahal MenHub nya udah baru nih...
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.