Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Cangkeman.net -HRD.Human Resource Development. Atau ada juga yg menyebut sebagai Hanya Repot Doang. Ada juga yg mengatakan HanyaReportDoang alias pekerjaannya tak lebih dari lapor sana, lapor sini. Apa pun itu, intinya mereka yg bekerja dalam lingkup SDM (Sumber Daya Manusia), punya pandangan tersendiri. Salah satunya, adanya anggapan HR merupakan musuh bersama & pantas dibenci oleh karyawan dari divisi lain.
Sebetulnya sih, sentimen tersebut agak berlebihan juga. Namun, gimana, ya? Perasaan tidak suka kepada karyawan yg mengurusi manusia di suatu perusahaan sudah mendarah daging. Tidak cuma karyawan internal dari divisi lain, kadang calon pekerja pun tidak menyukainya.
Pandangan orang awam sering menganggap HRD tugasnya mengurus rekrutmen saja. Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah. Namun tidak betul-betul benar juga. HRD punya banyak tugas & tanggung jawab. Mengurus seleksi & rekrutmen hanyalah salah satu contoh yg dibebankan pada posisi HR Rekrutmen. Ada pula beberapa tipe lain, seperti: HRTraining & Development, HRCompensation and Benefit, HRIndustrial Relationship,HROrganizational Development, HRInformation System, & sebagainya. Tergantung dari seberapa detail struktur organisasi di suatu perusahaan. Ada juga sih, yg mengurus semuanya, yaitu: HRGeneralist, atau biasa dilabelkan sebagai HR Serabutan lantaran pekerjaan tipe HR lain diambil semua olehnya.
Selain beberapahard skillsyang harus dipunya oleh setiap karyawan divisi HR supaya sanggup mengerjakan tugas & tanggung jawab dengan baik, pintarngelambeatau bercuap-cuap merupakan kemampuan penting. Kalau nggak punya, potensi timbulnya konflik dapat saja terjadi. Apalagi yg berkaitan antara perusahaan dengan karyawan. Atau yg lebih sempit, antara seorang bawahan dengan atasan di suatu divisi.
Ada lagi contoh yg lebih ekstrim. Perkara orang dalam. Apalagi yg punya titipan adalah yg punya jabatan tinggi dari sang HR, atau karyawan kesayangan perusahaan. Contoh yg lebih seram lagi, yg punya pesan titipan berasal dari yg punya perusahaan. Bisa saja, calon karyawan baru itu datang tanpa proses rekrutmen & seleksi alias langsung muncul dari langit & minta diproses dengan segera.
Kalau sekadar menambah satu karyawan baru sebetulnya dapat dianggap biasa saja. Namun, kalau harus mengorbankan karyawan lama bagaimana? Saat melihat korban, HR cuma dapat mengelus dada.Kasihan, dia mesti resign secepatnya, sambil membangun narasi di otak tentang kabar duka yg harus dihinggakan.
Iya kalau proses negosiasi berjalan lancar. Kalau nggak, wih, pihak yg bertikai dapat mengamuk & tak mau tahu. Pakai power of pokoknya lah. Atau dapat juga memunculkan drama sarat kesedihan & air mata. Artinya, punya kemampuan negosiasi juga suatu hal yg tidak boleh diabaikan juga.
Ada juga contoh yg lebih receh. Biasanya sih, kalau seorang karyawan punya tuntutan seperti misalkan, naik gaji atau jabatan, mereka muncul di hadapan manusia HR. Awalnya bercerita hal lain. Namun semakin lama, semakin menjurus ke suatu tuntutan yg harap dihinggakan. HR dapat apa kalau atasan mereka belum mengizinkan? Kadang, karyawan yg punya tuntutan belum mengatakannya kepada atasan mereka. Karena perkara tuntutan macam ini, atasan punya peran besar. Hal ini agak sulit diterima oleh penuntut. Terlebih kalau hubungan yg terjadi di antara mereka tidak baik.
Bekerja di divisi HR dapat mendapatkan pusing tambahan. Bukan perkara beban kerja. Karena kalau masalah ini setiap karyawan pasti punya. Suka atau tidak suka, terpaksa atau tidak, HR mesti mengerjakan politik dua kaki. Satu kaki berada di kepentingan perusahaan, sementara satunya untuk karyawan. Artinya, sanggup menyeimbangkan kepentingan dua kubu dijadikan evaluasi sendiri apakah HR tersebut sukses atau tidak selama membereskan pekerjaan. Masalah isu politik kantor memang bikin jengkel juga. Namun, yah, namanya juga pekerjaan. Selama dapat menyelesaikannya dengan baik, ya sudah.
Sementara dalam masalah eksternal, misalkan urusan rekrutmen & seleksi, semakin banyak & mudah menemukan keluh kesah calon karyawan di tempatnya melamar kerja. Adapun keluhan terbanyak adalah tiada kabar untuk proses lebih lanjut.
Nah, masalah tersebut memang dapat dijadikan saran supaya HR Rekrutmen sanggup bekerja lebih baik lagi. Kita kan pernah berada di posisi mereka, barangkali sudah setengah putus asa mencari pekerjaan. Sekedar memberikan kabar dapat mendatangkan angin segar juga terlepas berisi informasi diterima atau tidak.
Namun, pihak calon karyawan sebetulnya tidak terlalu berlebihan. Terutama saat HR Rekrutmen sudah mengatakan kabar tentang proses lanjut rekrutmen & seleksi akan diberikan beberapa waktu kedepan, misalkan dua pekan lagi.
Sebetulnya, ini pun sudah termasuk kabar. Artinya kalau tidak mendapatkannya, ya, mohon maaf. Namun hal ini sepertinya hingga agak sulit diterima oleh kandidat. Akhirnya, HR yg disalahkan. Padahal untuk menentukan kandidat akan proses lanjut atau diterima,tidak cuma tugas HR tetapi juga berbagai pihak yg terkait.
Artikel ini bukan bermaksud mengadu nasib. Lagian untuk apa mengerjakan hal itu. Karena setiap posisi di divisi punya masalah yg harus dihadapi. Meskipun tulisan ini hanyalah sedikit citra masalah yg dihadapi oleh HR, setidaknya dapat memberikan suatuinsightbahwa jadi HR pun sama beratnya dengan pekerjaan lain.
Lha, kalau nggak suka & menganggap berat, mengapa nggak resign saja, Bro?Wah, kadang-kadang manusia memberikan komentar jarang dipikirkan lebih dulu. Masalah memilih atau bertahan pada suatu pekerjaan bukan cuma masalah suka atau tidak, kuat atau tidak. Banyak faktor yg menyebabkan mereka bertahan. Bisa jadi alasannya terlalu pribadi.
Pada akhirnya, setelah saya memberikan sedikit citra tentang HRD, masihkah anda yakin untuk memilih divisi ini sebagai jalan karirmu?
Tulisan ini ditulis oleh Angga Prasetyo diCangkemanpada tanggal 26 Agustus 2022.
Hari ini 10:18