• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Yakin Kita Harus Bersyukur?

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Yakin Kita Harus Bersyukur?


Cangkeman.net -Dihadapkan melihat kondisi hal yg memperihatinkan dalam konteks bekerja tentu merasa miris. Mulai dari simbah-simbah penjual tempe sengek keliling dengan mengolah tempe mencapai 15 kg per olahan hingga bapak-bapak setengah sepuh yg naik-turun gunung membawa belerang yg dihargai sekitar tiga ribu per kg.

Banyak warga internet yg menggaungkan kisah-kisah miris melihat kejadian seperti di atas, apalagi warga Jogja yg UMP-nya paling rendah se-Indonesia. Meski banyak juga warga internet yg bilang kalau kita harus tetap bersyukur.

Dalam hal ini saya setuju soal bersyukur tetapi tidak pada menerima apalagi ikhlas. Betul, hidup ini lebih baik banyak syukurnya. Betul, menerima itu mulia. Betul, kerja yg penting halal. Betul, yg penting kerja daripada tidak. Tapi dalam hal yg sama, saya akan mengiyakan pada mengatakan mengeluh, berat hati bahkan tak menerima kenyataan ini. Kenyataan upah rendah. Hati, pikiran, badan bekerja siang malam. Lebih-lebih pada anak-anak muda. Saya benar-benar harap anak muda khususnya Jogja, tidak membiarkannya begitu saja.

Mari kita melihat-lihat.Yogyakarta adalah Provinsi strategis. Akses menuju Jogja hingga ke desa-desanya di kabupatennya terbilang cukup mudah. Jogja juga sering disebut sebagai kota pelajar yg universitas terbaiknya ada di sini. Pelajar asli Jogja atau Kalimantan, Sulawesi,bahkan Papuamblederberserakan ada di Jogja. Tempat wisata dari daratan, pegunungan, perairan ada di Jogja.

Bukankah semestinya pemuda tidak boleh diam oleh alasan tempat yg sudah strategis? Bahkan tidak cuma pemudanya yg bergerak tetapi juga pemerintahnya, sebagaimana sudah disebutkan dalam Kedaulatan Rakyat halaman 11 opini berjudul O Nasibmu... Trans Jogja! oleh Bapak Bernando J. Sujibto "Yogyakarta sebenarnya relatif mudah untuk berkembang dalam aspek moda transportasi dengan kehendak serius para pemimpinnya yg berkomitmen untuk memajukan Yogyakarta & masyarakatnya".

Saya yg merasa Jogja mudah diakses ternyata masih dapat dimudahkan lagi kalau opini itu dijalankan semestinya & dapat mengangkat Jogja plus masyarakatnya,lalu setelah akses yg mudah bukankah akan ada rentetan peluang yg akan terbuka? Atau bahkan mungkin-mungkin saja peluang lain sudah terbuka sebelum opini Pak Bernando J.S itu terlaksana.

Saya tidak menyarankan berdemo minta naik upah, juga tidak menghimbau untuk berhenti bekerja. Tapi bagaimanapun pemuda harus mau berambisi untuk mendapatkan upah yg lebih layak. Jika sekarang sedang bekerja dengan upah yg terbilang minim maka saya berharap dapat suatu saat pindah berevolusi mendapatkan upah yg (sekali lagi) lebih layak. Setidaknyanyicilmemiliki pemikiran, keharapan untuk lebih baik. Bersyukur ya bersyukur. Cukup ya dicukup-cukupkan, yg perlu diketahui sebagai anak mudanya adalah meskipun bersyukur kita para pemuda nantinya tidak se-sengsara simbah-simbah itu.

Kita perlu ingat juga bahwa kemungkinan akbar kita para pemudalah yg akhirnya meneruskan hidup lebih panjang, & melihat fenomena alam yg semakin renta. Sampah, pemanasan global, korupsi, badan hukum yg sulit dipercaya, upah rendah berbarengan harga BBM naik yg otomatis bahan makanan pun mengikuti. Anak muda yg juga punya masalah terhadaptrend fashion, jajan, nonton film, berwisata yg menimbulkan serangan mental tetapi di sisi lain juga baik untuk mendukung UMKM lokal.

Yang terakhir investasi & asuransi. Investasi dapat berbentuk apa saja dapat berbentukskill(kemampuan) baikhardskillatausoftskill. Investasi dengan saham, obligasi,reksa danang,dll. Lalu ada asuransi terdiri dari asuransi kesehatan & teman-temannya. Belum lagi ada cara hidup memikirkan cita-cita target 5-10 tahun ke depan & langkah apa saja yg perlu ditempuh. Serinci itu se-ruwet itu.
Kita dalam subjektifitas juga harus memiliki objektifitas dalam menjalani hidup. Karena dalam hidup kita memiliki kesamaan kepentingan & kebutuhan. Selayaknya bermasyarakat kita kan tidak mungkin untuk sering menuntut kemauan kita tanpa peduli kondisi lainnya. Begitupula dalam memenuhi kebutuhan finansial kita tidak dapatsaklekmengpakai cara yg kita rasa nyaman karena cara itu tidaklah sering efektif dipakai pada masa sekarang.Dengan hidup yg sedemikian banyaknya kebutuhan maka kurang pantas kalau cuma hidup untuk hari ini karena selazimnya orang-orang sekarang memiliki perencanaan hidup.

Jika boleh jujur, saya juga belum dapat hidup dengan perencanaan yg bagus, apalagi urusan membagi uang dengan berbagai kebutuhan jangka panjang. Saya sadar berasumsi bahasan seperti ini adalah bahasan enteng terlebih bagi mahasiswa, guru-guru (muda), aktivis, atau doktor-profesor tetapi kok di sisi lain saya sedikit-banyak yakinnya bahwa pekerja muda lulusan SMA kurang begitu melek akan pengelolaan uang (terutama untuk jangka panjang), untuk itu tulisan ini dibuat. Sebab kembali pada hidup sekarang tidak cuma kondusif hari ini karena kita tidak akan pernah tahu apa yg akan terjadi besok sedang investasi yg berhasil akan sangat njomplang dengan gaji yg dibelanjakan begitu saja. Investasi akan menghasilkan beberapa kali lipat,sedang kalau dibelanjakan langsung akan habis tanpa meninggalkan bekas yg berarti, cara untuk menyeimbangi pun sulit kalau demikian. Dan bila yg berinvestasi (dalam bentuk apapun) hanyalah orang-orang lulusan bangku kuliah terlebih mereka dari golongan atas maka rakyat kecil seperti inilah yg akan tenggelam ke bumi. Mereka sudah pintar (terdidik) kaya pula, maka kira-kira mereka-lah yg berkuasa & menciptakan diri mereka lebih kaya lagi & memonopoli.

Lihatlah harga tanah yg semakin lama harganya semakin mahal di luar nalar, kerena ya memang cuma si kaya yg memiliki pengetahuan tentang investasi lslu membeli tanah, & akan menjualnya kembali dengan harga mahal. Sedang si miskin yg perih hati akibat tak siap mental sebagaidigital native(penduduk era digital) justru malah diam-diam menjual tanah orang tua (menuntut sanggup tanpa berusaha) cuma untuk jajan dandan nyentrik unjuk gigi menuruti gengsi, iri melihat postingan si kaya yg nongkrongnya dicoffee shop, warung kopi elit. Bukankah tragis?

Tulisan ini ditulis oleh Sayidah Chovivah diCangkemanpada tanggal 21 Oktober 2022.
Hari ini 08:07
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.