Axl Enoch
IndoForum Newbie B
- No. Urut
- 77255
- Sejak
- 7 Agt 2009
- Pesan
- 204
- Nilai reaksi
- 9
- Poin
- 18
Klinik-klinik bedah plastik kini marak di jalan-jalan kota Riyadh
Wanita Arab identik dengan ajaran Islam yang ketat. Dan ajaran Islam yang ketat mengharamkan operasi plastik. Meski demikian, operasi plastik kini tengah melanda wanita-wanita Arab menengah atas, khususnya warga kota Riyadh.
Mengencangan payudara, memadatkan bokong, dan membentuk garis bibir yang turun menjadi bentuk tersenyum, menginginkan mengubah bentuk bibir agar seperti penyanyi A, dan operasi dagu agar seperti artis B, kini bukan lagi hal asing bagi wanita Arab, khususnya warga kota Riyadh.
Klinik-klinik bedah plastik kini marak di jalan-jalan kota Riyadh. Dalam iklan halaman depan di surat kabar, mereka menawarkan perawatan dengan laser, pencangkokan rambut dan sedot lemak.
“Bedah plastik sudah membanjiri pasar Saudi,” demikian kata Ahmad Al-Utaibi, seorang spesialis kulit, sebagaimana dikutip harian Al-Hayat.
Menurut Al-Utaibi, sedot lemak, pengencangan payudara dan operasi hidung adalah pilihan bedah plastik untuk kecantikan yang paling populer di kalangan wanita. Sementara para pria banyak yang meminati pencangkokan rambut dan operasi hidung.
Wanita Saudi memandang operasi plastik sebagai hal yang lumrah, mereka bisa menutupinya dengan jubah dan kerudung.
Reporter Kantor Berita AP melakukan wawancara dengan sejumlah gadis Kota Riyad , dan dengan identitas yang dirahasiakan mengatakan, menginginkan bibir seperti penyanyi Libanon Haifa Wahbi, dan sedikit memperkecil lebar hidungnya, meskipun dokter bedahnya saat ini telah menolak untuk melakukan operasi hidung karena dipandang tidak perlu.
Di bawah jubah mereka, demikian laporan wartawan AP, para wanita mengenakan pakaian rancangan desainer, potongan rambut trendi, yang akan ditampakkan dalam acara pertemuan khusus wanita, untuk ditunjukkan kepada suami mereka, dan dipamerkan ketika bepergian ke luar negeri.
“Kami sering menghadiri acara-acara pribadi, dan kami juga sering bepergian,” kata Sarah yang menolak untuk menyebutkan nama lengkap untuk menjaga privasinya.
Ia mengatakan sedang menimbang-nimbang untuk melakukan 22 operasi, termasuk di antaranya pengencangan payudara, memadatkan bokong, dan membentuk garis bibir yang turun menjadi bentuk tersenyum.
Ayman Al-Sheikh, dokter Saudi dengan pengalaman praktik 14 tahun di Amerika Serikat, terutama di Harvard, mengatakan bahwa permintaan bedah plastik di Saudi sejalan dengan peningkatan permintaan operasi plastik secara global.
Tapi, menurutnya ada yang berbeda di dunia Arab, khususnya Saudi, yang mana permintaan memperbaiki wajah itu sampai pada titik di mana wajah tidak lagi kelihatan alami. Trennya mengikuti para artis yang memiliki bibir sensual, perut yang singset dan dada yang kencang, seperti yang terlihat di televisi-televisi Arab.
Shaikh Muhammad Al-Nujaimi, ulama yang sering diminta pendapatnya menyatakan, banyak wanita Saudi yang datang kepadanya untuk berkonsultasi seputar bedah plastik. Apakah operasi plastik bertentangan dengan syariah dan termasuk mengubah bentuk cipataan Allah.
Sesuai pertemuan ulama 3 tahun silam, dia menyatakan, halal jika operasi dilakukan terhadap bentuk payudara yang kecil tidak normal, memperbaiki bentuk yang menimbulkan penderitaan pada seseorang, atau memperbaiki kerusakan akibat kecelakaan.
Tapi, melakukan bedah plastik yang tidak aman, atau mengubah bentuk “hidung yang sudah sempurna” hanya untuk meniru seorang artis, maka hukumnya haram.
Tapi tidak semua orang bertanya tentang hukum halal haramnya, dan tidak semua dokter bedah patuh terhadap petunjuk para ulama. Jadi seorang wanita bebas memilih dokter bedahnya, tergantung seberapa liberalnya orang itu.
“Orang seringkali berbuat kelewatan baik disengaja atau tidak,” kata dokter Ayman Al-Sheikh, 43, kepada AP. “Jika sesuatu ada pada seorang figur terkenal, maka itu akan menjadi ikon di dunia kami, meskipun hal tersebut tidak kelihatan indah.”
Seorang kolumnis Saudi, Abdu Khal, menulis sebuah karya yang berjudul Kami Tidak Ingin Engkau Menjadi Sinderella. “Berbondong-bondongnya para wanita melakukan operasi plastik merupakan sebuah obsesi yang diakibatkan oleh kegelisahan wanita,” tulisnya.
“Dan itu menegaskan pemikiran bahwa wanita hanya untuk urusan tempat tidur saja, ” katanya. (dms)
Sumber : poskota
Wanita Arab identik dengan ajaran Islam yang ketat. Dan ajaran Islam yang ketat mengharamkan operasi plastik. Meski demikian, operasi plastik kini tengah melanda wanita-wanita Arab menengah atas, khususnya warga kota Riyadh.
Mengencangan payudara, memadatkan bokong, dan membentuk garis bibir yang turun menjadi bentuk tersenyum, menginginkan mengubah bentuk bibir agar seperti penyanyi A, dan operasi dagu agar seperti artis B, kini bukan lagi hal asing bagi wanita Arab, khususnya warga kota Riyadh.
Klinik-klinik bedah plastik kini marak di jalan-jalan kota Riyadh. Dalam iklan halaman depan di surat kabar, mereka menawarkan perawatan dengan laser, pencangkokan rambut dan sedot lemak.
“Bedah plastik sudah membanjiri pasar Saudi,” demikian kata Ahmad Al-Utaibi, seorang spesialis kulit, sebagaimana dikutip harian Al-Hayat.
Menurut Al-Utaibi, sedot lemak, pengencangan payudara dan operasi hidung adalah pilihan bedah plastik untuk kecantikan yang paling populer di kalangan wanita. Sementara para pria banyak yang meminati pencangkokan rambut dan operasi hidung.
Wanita Saudi memandang operasi plastik sebagai hal yang lumrah, mereka bisa menutupinya dengan jubah dan kerudung.
Reporter Kantor Berita AP melakukan wawancara dengan sejumlah gadis Kota Riyad , dan dengan identitas yang dirahasiakan mengatakan, menginginkan bibir seperti penyanyi Libanon Haifa Wahbi, dan sedikit memperkecil lebar hidungnya, meskipun dokter bedahnya saat ini telah menolak untuk melakukan operasi hidung karena dipandang tidak perlu.
Di bawah jubah mereka, demikian laporan wartawan AP, para wanita mengenakan pakaian rancangan desainer, potongan rambut trendi, yang akan ditampakkan dalam acara pertemuan khusus wanita, untuk ditunjukkan kepada suami mereka, dan dipamerkan ketika bepergian ke luar negeri.
“Kami sering menghadiri acara-acara pribadi, dan kami juga sering bepergian,” kata Sarah yang menolak untuk menyebutkan nama lengkap untuk menjaga privasinya.
Ia mengatakan sedang menimbang-nimbang untuk melakukan 22 operasi, termasuk di antaranya pengencangan payudara, memadatkan bokong, dan membentuk garis bibir yang turun menjadi bentuk tersenyum.
Ayman Al-Sheikh, dokter Saudi dengan pengalaman praktik 14 tahun di Amerika Serikat, terutama di Harvard, mengatakan bahwa permintaan bedah plastik di Saudi sejalan dengan peningkatan permintaan operasi plastik secara global.
Tapi, menurutnya ada yang berbeda di dunia Arab, khususnya Saudi, yang mana permintaan memperbaiki wajah itu sampai pada titik di mana wajah tidak lagi kelihatan alami. Trennya mengikuti para artis yang memiliki bibir sensual, perut yang singset dan dada yang kencang, seperti yang terlihat di televisi-televisi Arab.
Shaikh Muhammad Al-Nujaimi, ulama yang sering diminta pendapatnya menyatakan, banyak wanita Saudi yang datang kepadanya untuk berkonsultasi seputar bedah plastik. Apakah operasi plastik bertentangan dengan syariah dan termasuk mengubah bentuk cipataan Allah.
Sesuai pertemuan ulama 3 tahun silam, dia menyatakan, halal jika operasi dilakukan terhadap bentuk payudara yang kecil tidak normal, memperbaiki bentuk yang menimbulkan penderitaan pada seseorang, atau memperbaiki kerusakan akibat kecelakaan.
Tapi, melakukan bedah plastik yang tidak aman, atau mengubah bentuk “hidung yang sudah sempurna” hanya untuk meniru seorang artis, maka hukumnya haram.
Tapi tidak semua orang bertanya tentang hukum halal haramnya, dan tidak semua dokter bedah patuh terhadap petunjuk para ulama. Jadi seorang wanita bebas memilih dokter bedahnya, tergantung seberapa liberalnya orang itu.
“Orang seringkali berbuat kelewatan baik disengaja atau tidak,” kata dokter Ayman Al-Sheikh, 43, kepada AP. “Jika sesuatu ada pada seorang figur terkenal, maka itu akan menjadi ikon di dunia kami, meskipun hal tersebut tidak kelihatan indah.”
Seorang kolumnis Saudi, Abdu Khal, menulis sebuah karya yang berjudul Kami Tidak Ingin Engkau Menjadi Sinderella. “Berbondong-bondongnya para wanita melakukan operasi plastik merupakan sebuah obsesi yang diakibatkan oleh kegelisahan wanita,” tulisnya.
“Dan itu menegaskan pemikiran bahwa wanita hanya untuk urusan tempat tidur saja, ” katanya. (dms)
Sumber : poskota


