Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Polusi udara berpengaruh buruk bagi kesehatan seperti meningkatkan risiko obesitas, diabetes, bahkan infertilitas loh. Namun faktanya 92 persen populasi dunia tinggal di daerah yg polusi udaranya tinggi. Baru-baru ini para peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Maryland (UMSOM) mengungkapkan bahwa polusi udara dapat menurunkan jumlah sperma.
Hal ini diketahui saat mereka mengerjakan uji coba pada tikus. Dalam studi yg diterbitkan di jurnal Environmental Health Perspectives ini menunjukkan tikus yg terpapar polusi udara mengalami penurunan jumlah sperma. Namun, tikus-tikus tersebut tidak sering mengalami peradangan pada testis, yaitu organ seks yg menciptakan sperma.
Para peneliti UMSOM lalu mulai mencari prosedur lainkarena peradangan testis jelas tidak bertanggung jawab atas berkurangnya jumlah sperma. Mereka mengetahui bahwa otak berkomunikasi dengan organ reproduksi karena kesuburan & jumlah sperma dapat dipengaruhi oleh stres. Misalnya, stres emosional dapat menyebabkan periode menstruasi yg terlewat pada wanita.
Para peneliti kemudian memutuskan untuk mengekspos tikus yg dikaitkan dengan polusi udara & menguji apakah pengurangan jumlah sperma mereka mungkin dimediasi oleh perubahan di otak.
Eksperimen menunjukkan bahwa tikus yg terpapar polusi udara mengalami peningkatan peradangan di otak. Uji coba lantas difokuskan pada tikus sehat & tikus yg sudah dibiakkan dengan kekurangan penanda peradangan otak tertentu yg disebut Inhibitor Kappa B Kinase 2, atau disingkat IKK2. Protein ini secara spesifik terletak di neuron otak.
Baca : Ahli Bedaah AS Uji Transplantasi Ginjal Babi Pada Manusia
Kedua kelompok tikus ini terkena udara yg disaring atau tercemar. Ketika para ilmuwan menguji jumlah sperma, mereka menemukan bahwa tikus yg dibiakkan tanpa penanda peradangan IKK2 tidak mengurangi jumlah sperma saat terkena udara yg tercemar. Sebaliknya, tikus sehat menunjukkan penurunan produksi sperma.
Penulis utama Dr. Zhekang Ying mengatakan temuan ini menunjukkan bahwa kerusakan akibat polusi udara dapat diatasi dengan menghilangkan satu penanda peradangan di otak tikus. Kami mungkin dapat mengembangkan terapi yg dapat mencegah atau membalikkan kerusakan efek polusi udara pada kesuburan, ujarnya diberitakan dariEarth.com, Selasa (26/10/2021).
Peneliti lainnya, Dr. Charles Hong menilai temuan ini memiliki implikasi yg lebih luas dari sekadar kesuburan, karena ada banyak kondisi, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, & penyakit jantung yg dapat diakibatkan oleh peradangan otak akibat polusi udara.
Setelah analisis lebih lanjut & lebih rinci, para ilmuwan mencoba untuk menemukan neuron yg tepat di otak yg jadi meradang. Mereka menemukan bahwa satu tipe neuron tertentu, biasanya terkait dengan siklus tidur & obesitas, bertanggung jawab atas pengurangan jumlah sperma di hadapan polusi udara.
Neuron ini ditemukan di hipotalamus, wilayah otak yg mengontrol rasa lapar, haus, & dorongan seks. Hipotalamus juga bekerja dengan kelenjar pituitari otak, yg menciptakan hormon yg berkomunikasi langsung dengan organ reproduksi.
Melihat ke belakang, sangat masuk akal bahwa neuron di hipotalamus adalah penyebab yg melanggengkan respons peradangan yg menghasilkan jumlah sperma yg rendah, seperti yg kita ketahui bahwa hipotalamus adalah jalur utama penghubung antara otak & sistem reproduksi, terangnya.
Sumber :https://hypeabis.id/read/6325/waduh-...-jumlah-sperma Hari ini 15:24