• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Wisata Religi yg Semakin Dikomersialisasi

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Wisata Religi yg Semakin Dikomersialisasi


Cangkeman.net -Dengan segunung niat suci menyambut Ramadhan tahun ini, saya ikut teman yg mengajak ziarah kubur ke salah satu tempat wisata religi di daerah saya, Pandeglang, yg terletak di provinsi Banten.

Ini memang perdana kalinya saya ikut wisata semacam ini karena sebelumnya rasa ketertarikan kepada yg satu ini tidak terlalu kuat.Biar hati tidak gersang seperti sekarang!Begitu teman saya membujuk dengan sedikit keras.

Setiba di gerbang lokasi, saya sama sekali tidak merasakan aura sakralnya, apakah karena hati saya memang benar-benar sudah gersang seperti yg diungkapkan teman? Entahlah?

Yang jelas, setelah saya turun dari kendaraan roda empat, justru saya dibuat kesal oleh sikap pedagang souvenir & oleh-oleh yg menyorongkan jualannya dengan cara setengah memaksa. Entah strategi marketing level berapa yg mereka implementasikan ini, tetapi jelas, bukan cuma saya yg merasakan ketidaknyamanan itu. Saya melihat peziarah yg lainnya merasakan hal yg sama. Teman saya yg sudah terbiasa dengan hal ini cuek & tetap melanjutkan perjalanan suci ini dengan berjalan kaki ke letak pemakanan & meninggalkan kendaraan di letak parkir yg sudah ditentukan pihak pengelola.

Ternyata oh ternyata, lumayan jauh antara letak parkir & pemakaman yg akan kami ziarahi. Jarak yg lumayan & kondisi yg panas itu menciptakan saya harap mengistirahatkan kaki & membasahi tenggorokan dengan air sejuk. Aqua, merklejenyang hingga saat ini jadi raja air di kalangan air kemasan saya beli. Ketika saya tanya harga, wow, Sungguh terlalu! (ucapkan dengan nada bang Haji Rhoma). Untuk botol kecil dihargai setara dengan harga botol ukuran akbar yg biasa saya beli. Jika di letak wisata hiburan saya mungkin tidak heran. Tapi, ya sudahlah.

Kami melanjutkan perjalanan & kemudian tiba di letak makam. Rasa takjub menusuk hati nurani yg gersang ini. Tidak, bukan suasana sakral yg sebelumnya saya bayangkan saya dapati, tetapi sikap para panitia pengelola yg ada di sana sungguh menciptakan miris hati ini atau lebih tepatnya menciptakan jengkel.

Sambutan yg diberikan oleh pengelola yg berdiri di samping sebuah kotak amal tinggi akbar layaknya lemari baju anak kos sungguh tidak menyenangkan. Tanpa senyum tanpa kata, dengan gestur memaksa, memukul-mukul permukaan kotak amal yg ia kawal dengan tangan kiri sambil mengarahkan para peziarah supaya memasukkan uang ke dalam kotak dengan tangan kanannya.

Hari sudah siang. Kami memutuskan sholat dzuhur terlebih dahulu. Memasuki tempat wudhu, hal yg sama terjadi lagi. Seorang pria tanpa kata, tanpa senyum, & juga tanpa basa-basi berlaku sama dengan pria yg tadi saya ceritakan di atas. Berdiri di samping kotak amal & memberikan kode keras supaya menyelipkan sejumlah uang ke dalam kotak yg ukurannya sama dengan yg perdana tadi. Rasa tidak nyaman semakin berat menggelayuti langkah kaki ini. Ternyata itu semua belum selesai.

Usai wudhu & sholat kami tunaikan, kami berjalan ke letak pemakaman yg dilingkari tembok. Ada pagar gerbang dijaga oleh pihak pengelola yg duduk di kursi & terdapat meja dengan buku catatan, alat tulis, dan. lagi-lagi kotak amal. Betapa eksistensi benda yg satu ini begitu kuat di sini, tetapi ukurannya lebih kecil dari ukuran yg tadi. Di bagian yg ini, pengelola agak sedikit ramah meski cuma sekadar berbasa-basi dengan menanyakan alamat asal kami. Benar dugaan saya, kotak amal di sorongkan & bertanya, berapa jumlah uang yg akan kami sumbangkan untuk kotak tadi sambil bersiap mencatat di buku catatan mereka.

Sambil menanti urusan proses administrasi tadi, saya melayangkan pandangan ke dalam pagar gerbang, beberapa orang laki-laki berdiri dengan pandangan terus memperhatikan kami & peziarah lainnya. Saya mengira mereka adalah peziarah yg hendak pulang tetapi tertahan oleh antrian kami, karena sistem keluar-masuk cuma satu pintu. Setelah urusan catat-mencatat selesai, kami dipersilahkan masuk. Para pria yg tadi saya perhatikan menggamit teman saya yg berjalan lebih dulu. Terlihat mereka berbicara sebentar & kemudian berjalan beriringan. Ternyata pria tadi menawarkan jasa memimpin doa yg nantinya di penghujung doa saya melihat teman saya memberikan amplop berisi uang untuknya.

Di dalam pagar, kami melewati selasar sekitar belasan meter. Sepanjang selasar banyak bocah-bocah kecil yg langsung menyerbu ke arah kami & peziarah lain. Menengadahkan tangan sambil mulut mereka tak henti-henti mengucap minta uang tanpa ragu tanpa malu. Mungkin mental mengemis mereka sudah terbentuk, atau memang sengaja dibentuk oleh orang-orang dekat mereka.

Kami tiba di letak ziarah, & melaksanakan ziarah hingga tuntas. Setelah semua selesai, kami bersiap pulang. Seluruh rangkaian kejadian ketika kami datang kembali terulang, tetapi prosesnya terbalik. Dalam hati saya berpendapat bahwa segala sesuatunya berjalan dengan tidak benar di tempat ini. Tempat yg semestinya jadi tempat mengingat mati sebagai langkah membersihkan hati.

Bocah-bocah yg mengemis, penjaga kotak-kotak amal yg memaksa, jasa memimpin doa, pedagang yg sedikit memaksa, ditambah penitipan wajib alas kaki, toilet dengan tarif tak wajar & debat dengan juru parkir yg belum sempat saya ceritakan di sini. Bagi saya ini adalah sebuah potret buram siklus ekonomi di lingkungan wisata religi.

Teman saya mengatakan bahwa memang beginilah tempat-tempat ziarah. Hampir semua wisata religi sudah kaprah dengan keadaan-keadaan seperti ini, yg bagi saya sangat meresahkan & mengganggu para pengunjung dari berbagai daerah. Komersialisasinya begitu nyata, bahkan terlalu gamblang. Kaprah bukan berarti tidak boleh diubah. Kaprah bukanlah sebuah pembenaran untuk sesuatu yg salah & sudah lama berlaku.

Bukankan dalam Islam mengemis diharamkan kecuali dalam keadaan terpaksa? Tetapi bocah-bocah di tempat ini seperti sudah membiasakan atau dibiasakan untuk meminta sehingga tak ragu & tak malu untuk mengemis dengan setengah memaksa. Bukankah tidak ada paksaan untuk mengisi uang pada kotak-kotak amal di mana saja benda ini berada?

Seharusnya pemuka agama di wilayah ini mengerjakan peranan penting untuk memperbaiki keadaan seperti itu. Mereka punya hak & kewajiban memberikan edukasi mana yg boleh & tidak. Dengan memanfaatkan pengaruh mereka sebagai tokoh masyarakat. Serta adanya pemerintah setempat yg turut juga memberi penyuluhan untuk memperbaiki masalah seperti ini.


Tulisan ini ditulis oleh Latatu Nandemar diCangkemanpada tanggal 10 April 2022.
Hari ini 21:29
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.