Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Sudah bukan rahasia lagi kalau Facebook pimpinan Mark Zuckerberg membeli Whatsapp & Instagram karena takut kalah bersaing dengan perusahaan-perusahaan tersebut di kemudian hari. Dengan tumpukan uang mudah saja bagi Mark Zuckerberg menyabotase masa depan gemilang perusahaan-perusahaan tersebut dengan cara membelinya.
Reputasi Mark Zuckerberg & perusahaannya Facebook semakin hari memang semakin buruk terlebih lagi semenjak kasus Cambridge Analytica yg kabarnya juga sempat meraup sekitar 1 juta data pribadi pengguna dari Indonesia. Semenjak kasus tersebutlah seluruh dunia akhirnya mulaiconcernterkait keamanan data digital khususnya data pribadi/privacy.
Rasanya memang terlambat karena sebenarnya perdebatan tentang data-data digital ini sudah dimulai sejak awal-awal gempita Internet di Silicon Valley. Senior Silicon ValleyJaron Lanier menceritakanbahwa sejak awalnya ada perdebatan dua kubu terkait layanin Internet/situs/aplikasi ini.
Kubu perdana yaitu kubu yg berpandangan bahwa layanin sebaiknya gratis & keuntungan perusahaan didapat dari iklan sehingga ada resiko data pribadi dimanfaatkan. Sedangkan kubu yg kedua adalah kubu yg berpandangan kalau layanin haruslah berbayar & keuntungan perusahaan didapat dari biaya langganan pengguna sehingga data pribadi dapat dijamin aman.
Kedua kubu inilah yg hingga hari ini eksis karena ternyata kedua kubu tersebut sama-sama maju & berkembang dalam bisnis layanin internet/situs/aplikasi. layanin gratisan plus iklan yg saat ini memang mendominasi bisnis & tumbuh sangat signifikan sedangkan layanin berbayar tetap dapat hidup & berkembang sembari terus menyindir layanin gratisan plus iklan karena dianggap semakin hari cara beriklannya semakin keterlaluan.
Cara beriklan yg keterlaluan ini maksudnya adalahtargeting ads, yaitu iklan yg ditargetkan pada perseorangan tertentu berdasarkan data-data pribadi perseorangan yg bersangkutan. Data-data pribadi ini dapat menunjukan profil lengkap individu, apa yg dibutuhkan individu, & apa yg sedang diharapkan individu.
Data-data pribadi ini didapat dari hampir seluruh aktivitas & profil perseorangan di dalam aplikasi, seluruh aktivitas perseorangan di browser internet yg berkaitan denganhistorydancookies, dari metadata/informasi perangkat keras/gadget, daftar kontak, & dari sistem operasi yg dipakai perseorangan bersangkutan.
Keterlaluan bukan? Dalam hal kerakusan mengoleksi data pribadi pengguna ini juaranya adalah Facebook plus Instagram,runner upnya adalah Google plus Youtube & yg ketiga adalah Amazon. Horornya adalah perusahaan-perusahaan akbar tersebut khususnya Facebook & Google sering hadir dalam hari-hari kita satu hingga dua dekade belakangan ini.
Walaupun Facebook juaranya Mark Zuckerberg tidak seperti Google & Amazon yg sangat dharap & menutup diri terkait masalah privasi & koleksi data pribadi pengguna. Mark Zuckerberg berani unjuk diri & bersuara kalau yg dilakukannya tersebut adalah untuk kebaikan bersama yaitu untuk menjadikan masyarakat dunia yg lebih guyub & terkoneksi secara efektif.
Hal tersebut dapat dilihat ketika Mark Zuckerberg mengundang Yuval Noah Harari ke kantor pusat Facebook untuk berdiskusi terkait privasi/data pribadi & kecerdasan buatan. Apa yg dilakukan Mark Zuckerberg ini ibarat Jokowi yg mengundang Habib Rizieq ke Istana Merdeka untuk diskusi tentang Pancasila & Agama secara empat mata yg disiarkan secara langsung.
Dalam diskusi yg rekamannya dapat dilihat di akun Facebook Mark Zuckerberg & akun Youtube Yuval Noah Harari tersebut Yuval mengatakan kalau pengumpulan data pribadi secara massal danmassiveakan berakibat buruk karena data pribadi tersebut memiliki kekuatan luar biasa & akan ada pihak tertentu yg dapat mengontrol hal tersebut untuk kepentingan sendiri.
Sedangkan Mark Zuckerberg mengatakan hal yg sebaliknya kalau pengumpulan data pribadi itu akan berdampak baik karena akan menciptakan masyarakat dunia lebih guyub & terkoneksi secara efektif satu sama lain. Keduanya tetap teguh pada persepsi masing-masing hingga diskusi selesai.
Persepsi Mark Zuckerberg tentang data pribadi inilah yg sering kita baca dalam kesepakatan privasi di aplikasi-aplikasinya. Dengan persepsi tersebut Mark Zuckerberg menjalankan perusahaan yg dimilikinya & terus menerus mencoba menyedot data pribadi pengguna lebih banyak lagi. Ini terlihat dari notifikasi pembaruan kebijakan privasi Whatsapp baru-baru ini.
Disamping itu sebenarnya Mark Zuckerberg ini juga keras kepala karena persepsinya ternyata tidaklah benar bahkan berbeda 180 derajat dengan fakta lapangan. Fakta lapangan lebih dekat kepada apa yg dikatakan oleh Yuval Noah Harari yaitu adanya aktivitas pengumpulan data pribadi secara massal danmassiveuntuk kepentingan pihak tertentu yg akibatnya sangat buruk, yg paling terlihat & terasa adalah polarisasi yg terjadi hampir diseluruh belahan dunia.
Terkait fenomena tersebut hampir semuanya sepakat bahwa Facebook khususnya & umumnya semua medsos pengumpul data pribadi seperti Youtube, Twitter, & Instagram bertanggung jawab atas setiap pertajaman polarisasi karena berbagai sosial media tersebut malakukantargeting adsyang satu paket dengan personalisasi konten.
Targeting adsdan personalisasi konten ini menyebabkan "buble world" atau "simulacra" bagi pengguna medsos yg dampaknya direal life/lapangan adalah polarisasi juga hoax. Masyarakat dunia tidak lebih guyub seperti yg dikatakan Mark Zuckerberg tetapi ternyata sebaliknya, masyarakat dunia jadi lebih saling membenci satu sama lain.
Maka jelaslah pengumpulan data pribadi sebenarnya memiliki motif lain. Banyak analisis mengatakan bahwa data pribadi ini selain dipakai untuk kepentingan komersil juga dipakai untuk kepentingan monopoli baik itu monopoli perusahaan tertentu ataupun monopoli opini tertentu, bahkan monopoli politisi/partai tertentu, yg paling terlihat saat ini adalah pengumpulan data pribadi dipakai untuk kepentingan monopoli perusahaan khususnya perusahaan teknologi seperti Facebook, Google, danMarketplaceseperti Amazon.
Data pribadi dalam jumlah yg banyak (big data) memang memiliki kekuatan yg luar biasa & dapat dipakai untuk banyak sekali kepentingan secara efektif & akurat. Dalam hal monopoli perusahaan contohnya adalah Amazon yg mengpakai data pribadi penggunanya untuk menargetkan produk bentukan Amazon sendiri kepada pengguna/pembeli daripada produk pengusaha lain di marketplace tersebut.
Sebagai marketplace terbesar bahkan pasar terbesar di dunia & terus tumbuh maka dengan data & danang yg dimilikinya mudah saja bagi Bos Amazon Jeff Bezos untuk memonopoli banyak sektor usaha & membunuh usaha-usaha lain khususnya usaha mikro di berbagai belahan negara.
Sedangkan Google yg sudah memonopoli mesin pencari juga mengintervensi hasil mesin pencarinya untuk merekomendasikan situs-situs & usaha-usaha afiliasinya sendiri di halaman utama dalam hasil pencarian & menenggelamkan hasil pencarian dari situs-situs & usaha-usaha pesaingnya seperti kasus dari produkSmart HomeNest & Vivint.
Facebook dalam hal monopoli untuk saat ini memang masih lebih kepada membeli secara langsung calon pesaing potesialnya seperti Whatsapp & Instagram, namun sudah sejak lama Facebook harap mengintegrasikan ketiga aplikasi akbar yg dimilikinya ini & menyedot data pribadi sebanyak mungkin darinya, tujuan besarnya adalah diduga untuk menjadikan tiga aplikasi akbar tersebut sebagai suatu kesatuan yg akan menopang proyek ambisius Facebook yaitu Libra yg belakangan disebut "Diem" & menjadikan Libra/Diem sebagai mainstream mata uang dunia yg berbasis kripto.
Bayangkan setiap iklan di Facebook & Instagram langsung ditransaksikan produk iklannya lewat Whatsapp & pembayarannya direkomendasikan memakai mata uang buatan Facebook sendiri. Bayangkan skala transaksi yg dapat dicapai oleh perusahaan teknologi dengan pengguna terbanyak di dunia ini.
Apakah Facebook harap merebut monopoli penerbitan mata uang dari para bankir? Rasanya futuristik sekali bahkan mungkin utopis, rencana peluncuran Libra saja langsung diprotes & ditentang para bankir juga politisi di berbagai negara.
Walaupun begitu yg perlu dicatat adalah bahwa dalam era big data nanti orang yg paling kuat adalah orang yg memiliki data khususnya data pribadi yg paling akbar & paling banyak. Untuk saat ini orang tersebut adalah Mark Zuckerberg & Mark Zuckerberg masih belum kenyang dengan big data yg dimilikinya.
Hari ini 12:56