Lampu Abang
IndoForum Beginner E
- No. Urut
- 284246
- Sejak
- 8 Jan 2015
- Pesan
- 427
- Nilai reaksi
- 10
- Poin
- 18
Tio, 57 tahun, panik ketika dia sampai di rumah. Rencana untuk mengambil uang buat kebutuhan anaknya sekolah kandas. Sisa duit di rekeningnya sebesar Rp 400 ribu raib tanpa sisa. Padahal dia baru saja berencana mengambil uang itu. Namun karena mesin ATM-nya tak kunjung mengeluarkan uang, akhirnya dia urungkan.
"Ketika saya masukan kartunya, kok tidak bisa masuk," ujar Tio saat berbincang dengan merdeka.com beberapa waktu lalu. Dia pun mencoba kembali menuju mesin ATM itu hanya dalam waktu setengah jam.
"Saya balik lagi, sudah ada orang bunk di sana," ujarnya.
Tio baru menyadari setelah dia mengambil uang di lokasi mesin ATM tempat lain. Saat memasukkan kartu dan melakukan transaksi penarikan tunai, saldonya lenyap. Sontak dia kaget. Apalagi transaksi dilakukan di mesin ATM sebelumnya tak berhasil. Jumlah nominal uang dia masukkan, tak kunjung keluar.
Keberadaan petugas bunk tempatnya membuat rekening itu pun membuat penasaran. "Setelah saya tanya, ternyata mesin ATM-nya habis di bobol, katanya dipasangkan alat," tutur Tio. Dia pun langsung mencurigai dua orang di belakang mesin ATM itu saat dirinya melakukan transaksi.
Menurut Tio, saat melakukan transaksi pertama kali, tepat di belakangnya, ada dua orang lelaki berpakaian rapih. Lelaki itu juga dengan sukarela membantunya untuk memasukkan kartu ATM ke dalam mesin itu. Mereka mendorong kartu ATM milik Tio dengan kartu mirip terbitan bunk sejenis. "Hanya beda warnanya saja. Punya dia lebih lebih pudar," ujarnya.
Setelah dia mengobrol dengan petugas bunk datang membenarkan mesin ATM itu, Tio baru mengetahui jika rekening di bobol. Pelaku menggunakan tusuk gigi untuk mengganjal mulut slot tempat buat memasukkan kartu pada mesin ATM itu. "Pelaku mengganjal pakai tusuk gigi. Itu yang juga kemudian kartu saya sulit masuk. Saat dia dorong dengan menggunakan kartunya dan saya masukan kartu ATM, saya bisa membuka. Tetapi saat saya transaksi kok uangnya tidak keluar," kata Tio.
Belakangan Tio baru mengetahui jika raib duit di rekeningnya adalah ulah skimmer. Pelaku memasangkan alat skimmer kartu pada mulut slot mesin ATM. Para pelaku kemudian mengopi data nasabah dari alat skimmer dipasang pada mesin ATM itu. Pelaku pun dengan leluasa mengendalikan rekening korban dan kemudian menguras seluruh uang nasabah.
Sebetulnya, pada Agustus tahun lalu kasus pembobolan dengan menggunakan mesin Skimmer ini ramai menjadi perbincangan saat Kepolisian Daerah Metro Jaya meringkus lima pelaku. Modus para pelaku ialah membeli ATM sudah digandakan atau di-skimmer oleh kelompok hacker atau peretas database perbankan lewat website atau laman internet. Pelaku pun dengan leluasa menguras isi rekening korban karena sudah memiliki data termasuk juga PIN ATM nasabah.
Paling mengejutkan ialah pembobolan 1.214 rekening nasabah bunk Mandiri pada 2014 lalu. Para pelaku melakukan modus serupa dengan menggunakan alat skimmer ditaruh pada mesin ATM. Dari penelusuran bunk Mandiri ada enam mesin ATM dipasang alat tersebut. Uang nasabah yang hilang pun akhirnya diganti oleh bunk Mandiri.
Pakar IT dari Infosec Consultant, Ruby Zukri Alamsyah mengatakan jika sejatinya kartu ATM dimiliki perbankan kita memiliki banyak kelemahan bisa ditembus mesin skimmer. Salah satunya ialah media penyimpanan data pada kartu ATM masih menggunakan pita magnetik. Data dalam pita itu juga kemudian mudah di pindahkan menggunakan alat skimmer. "Kelemahan justu dengan kartu ATM kita masih menggunakan media penyimpanan pita magnetik," ujarnya melalui sambungan seluler Sabtu pekan lalu.
Karena kasus kejahatan skimmer ini sering terjadi, dia pun mendorong setiap bunk untuk meningkatkan keamanan di setiap mesin ATM. "Dulu ada satu bunk yang setiap satu mesin ATM-nya dijaga satpam. Skimmer itu biasanya takut kalau ATM itu di jaga," kata Ruby.
Sejatinya kasus kejahatan perbankan dengan menggunakan alat skimmer di Indonesia mulai hangat enam tahun belakangan ini. Kasus pertama mencuat ialah pembobolan skimmer nasabah bunk Central Asia. Sejak saat itu kasus kejahatan perbankan dengan modus skimmer ramai di Indonesia.
Pakar IT dari Infosec Consultant, Ruby Zukri Alamsyah mengatakan pembobolan rekening nasabah bunk dilakukan skimmer itu memang mendapat celah untuk beraksi di Indonesia. Apalagi, kartu debit (Kartu ATM), terbitan milik beberapa bunk ada di Indonesia kebanyakan masih menggunakan media penyimpanan data pita magnetik. Media tersebut juga kemudian menjadi celah buat skimmer menjalankan aksinya di Indonesia.
Menurut Ruby, media penyimpanan pita magnetik itu paling mudah menyalin data nasabah. "Karena peraturan BI mengganti ke kartu chip tetapi masih ter undur," ujar Ruby saat berbincang dengan merdeka.com, Sabtu dua pekan lalu. Dia pun mengatakan jika alat skimmer itu menyalin data nasabah melalui magnetic card rider. "Di ATM-ATM jenis tertentu itu mudah sekali dipasangkan alat skimmernya,"
Untuk cara kerja, Ruby menjelaskan, hanya cukup dua menit untuk memasangkan alat skimmer pada mesin ATM. Alat itu biasanya di taruh di mulut slot kartu ATM. Selain memasang alat skimming kartu berbentuk mirip lobang slot kartu, buat membaca nomor PIN, pelaku juga memasang kamera pengintai. Kamera itu kemudian mengawasi gerakan tangan nasabah ketika menekan tombol angka kode PIN ATM.
"Ada kamera kecil mengarah ke Pin Pad ATM," tutur Ruby. Namun selain dengan kamera pengintai, biasanya pelaku juga ikut dalam antrean sambil memperhatikan gerakan tangan korban menekan angka PIN.
Jika pelaku berhasil mengopi data nasabah, selanjutnya data itu akan di pindahkan menggunakan kartu kosong. Tanpa menggunakan nomor PIN untuk transaksi, pelaku juga bisa dengan leluasa menguras rekening nasabah. Sebab saat ini, fungsi kartu debit (ATM) tak perlu lagi menggunakan validasi tandatangan ketika melakukan transaksi. "Hampir sama seperti kartu kredit," ujar Ruby.
Kepala Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran BI Eni Panggabean pun mengantisipasi ulah para pelaku kejahatan perbankan ini. Salah satunya ialah dengan memperkuat sistem transaksi keuangan. bunk Indonesia pun menggandeng Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia untuk mempersempit ruang gerak para pelaku.
Berdasarkan data yang dimiliki BI, sejak 2012 hingga saat ini, Indonesia menempati posisi terendah untuk tindak kejahatan perbankan. Dari data itu tercatat, kejahatan perbankan menggunakan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) hanya 0,0008 persen. Angka itu diambil dari total nominal transaksi selama 2014 hingga Februari 2015.
"Meskipun relatif kecil, bunk Indonesia tetap berkomitmen untuk menjaga keamanan transaksi dalam rangka menjaga kepercayaan masyarakat terhadap instrumen APMK," ujar Eni.
Senada dengan Eni, Ruby pun berpendapat sama, dia pun mendorong agar bunk selaku pembuat fasilitas itu juga harus memberikan informasi ke nasabah mengenai tindak kejahatan ini. Apalagi, kejahatan skimmer masih kerap terjadi dan menimpa nasabah bunk. Kemudian dia pun mendorong bunk meningkatkan pengamanan karena kejahatan skimmer terus berkembang. Mereka mengikuti perkembangan teknologi.
Untuk menghindar dari pelaku skimmer, Ruby pun berpesan agar nasabah baiknya menggunakan mesin ATM di bunk, karena lebih aman untuk melakukan transaksi. "Paling aman ke ATM yang ada sekuritinya," ujar Ruby.
"Kebanyakan pelaku merupakan orang luar. Mereka adalah otak intelektualnya," ujar Pakar IT dari Infosec Consultant, Ruby Zukri Alamsyah saat berbincang dengan merdeka.com melalui sambungan seluler Sabtu dua pekan lalu. Menurut dia, hingga kini aksi skimmer pembobol rekening nasabah masih sering terjadi. "Awalnya memang 2009 dan 2010," katanya.
Skimming adalah tindak pencurian data nasabah dengan menggunakan alat perekam data. Biasanya kejahatan ini terjadi di mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan Mesin Electronic Data Capture (EDC). Menurut Ruby, para pelaku kejahatan itu merupakan rekrutan asal Kanada. Mereka beraksi di beberapa kota di Indonesia termasuk juga Jakarta.
Sedangkan pelaku intelektualnya, mengendalikan dari Kanada. "Dia ada di beberapa kota lain," ujar Ruby. Dia pun menjelaskan jika mereka memiliki jaringan masing-masing. "Kebanyakan itu dilakukan pelaku lokal yang sudah di latih," katanya.
April tahun lalu, Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia berhasil mengungkap jaringan ini. Seorang Warga Negara Bulgaria, berinisial ITT, 46 tahun, ditangkap di Kawasan Seminyak, Bali karena melakukan pembobolan rekening nasabah dengan menggunakan mesin skimmer. Dari hasil penyelidikan, sebanyak 560 warga negara asal Eropa sedang libur ke Bali menjadi korban.
Menurut Ruby, faktor penyebab Indonesia menjadi sasaran para pembobol bunk itu memang bukan tanpa alasan. Salah satunya ialah, media penyimpanan data kartu Anjungan Tunai Mandiri terbitan bunk-bunk di Indonesia menjadi penyebabnya. Sistem penyimpanan kartu model pita magnetic itu paling gampang untuk di bobol dengan mesin skimmer. "Mesin skimming bisa mengopi data nasabah," kata Ruby. Dia pun menegaskan jika target kejahatan skimmer ialah negara-negara berkembang.
Apalagi kata dia, sebelum menjalankan aksinya para pembobol rekening ini terlebih dahulu mempelajari jenis mesin ATM termasuk merek dipakai banyak digunakan. Tujuannya ialah untuk memudahkan aksi mereka dalam melakukan tindakan kejahatan. Namun demikian, sejatinya aksi para pembobol bunk ini bisa diatasi asalkan pihak bunk mau sedikit mempekerjakan petugas keamanan di setiap Mesin ATM.
"Selama di jaga, para pelaku tidak akan berani," ujarnya.
Mudahnya mendapatkan alat skimmer ini juga bisa menjadi salah satu faktor. Apalagi alat itu mudah di dapat dengan membeli melalui situs internet. Harganya pun relatif murah, untuk satu alat skimmer dihargai Rp 4 juta. Sedangkan Pin Pad, yaitu alat yang berfungsi untuk merekam Personal Identification Number (PIN) dimasukan oleh nasabah. Biasanya Pin Pad ditaruh tepat di atas keypad angka di Mesin ATM. Fungsinya merekam nomor PIN saat nasabah melakukan transaksi.
Selain Pin Pad, alat lain juga merupakan satu kesatuan buat membobol rekening adalah Magnetic Stripes Encoder. Harganya di bandrol Rp 7 juta. Salah seorang penjual barang ini tak merespon saat merdeka.com hubungi. Namun dalam situsnya, penjual menuliskan syarat untuk melakukan pemesanan. Pertama ialah transaksi akan dilakukan setelah mengirim 50 persen uang tanda jadi. Kemudian barang akan di kirim melalui jasa antar barang.
Kemudian pembeli bisa memesan alat skimmer sesuai dengan permintaan. "harga sudah pas tidak bisa di nego lagi," ujar si penjual. Dalam keterangannya penjual itu juga menuliskan fungsi mesin skimmer. "Alat ini berfungsi untuk mengambil data-data dari kartu ATM dan memasukkan data-data tersebut ke dalam kartu ATM kosong," tulis penjual itu.
Ruby pun tak heran dengan gampangnya membuat kartu untuk mengopi data nasabah. Apalagi saat ini, beberapa perlengkapan seperti printer untuk membuat kartu itu juga sudah ada di Indonesia. "Karena gampang untuk mendapatkannya," ujar Ruby. "Sekarang teknologi printer sudah canggih semua,".
"Ketika saya masukan kartunya, kok tidak bisa masuk," ujar Tio saat berbincang dengan merdeka.com beberapa waktu lalu. Dia pun mencoba kembali menuju mesin ATM itu hanya dalam waktu setengah jam.
"Saya balik lagi, sudah ada orang bunk di sana," ujarnya.
Tio baru menyadari setelah dia mengambil uang di lokasi mesin ATM tempat lain. Saat memasukkan kartu dan melakukan transaksi penarikan tunai, saldonya lenyap. Sontak dia kaget. Apalagi transaksi dilakukan di mesin ATM sebelumnya tak berhasil. Jumlah nominal uang dia masukkan, tak kunjung keluar.
Keberadaan petugas bunk tempatnya membuat rekening itu pun membuat penasaran. "Setelah saya tanya, ternyata mesin ATM-nya habis di bobol, katanya dipasangkan alat," tutur Tio. Dia pun langsung mencurigai dua orang di belakang mesin ATM itu saat dirinya melakukan transaksi.
Menurut Tio, saat melakukan transaksi pertama kali, tepat di belakangnya, ada dua orang lelaki berpakaian rapih. Lelaki itu juga dengan sukarela membantunya untuk memasukkan kartu ATM ke dalam mesin itu. Mereka mendorong kartu ATM milik Tio dengan kartu mirip terbitan bunk sejenis. "Hanya beda warnanya saja. Punya dia lebih lebih pudar," ujarnya.
Setelah dia mengobrol dengan petugas bunk datang membenarkan mesin ATM itu, Tio baru mengetahui jika rekening di bobol. Pelaku menggunakan tusuk gigi untuk mengganjal mulut slot tempat buat memasukkan kartu pada mesin ATM itu. "Pelaku mengganjal pakai tusuk gigi. Itu yang juga kemudian kartu saya sulit masuk. Saat dia dorong dengan menggunakan kartunya dan saya masukan kartu ATM, saya bisa membuka. Tetapi saat saya transaksi kok uangnya tidak keluar," kata Tio.
Belakangan Tio baru mengetahui jika raib duit di rekeningnya adalah ulah skimmer. Pelaku memasangkan alat skimmer kartu pada mulut slot mesin ATM. Para pelaku kemudian mengopi data nasabah dari alat skimmer dipasang pada mesin ATM itu. Pelaku pun dengan leluasa mengendalikan rekening korban dan kemudian menguras seluruh uang nasabah.
Sebetulnya, pada Agustus tahun lalu kasus pembobolan dengan menggunakan mesin Skimmer ini ramai menjadi perbincangan saat Kepolisian Daerah Metro Jaya meringkus lima pelaku. Modus para pelaku ialah membeli ATM sudah digandakan atau di-skimmer oleh kelompok hacker atau peretas database perbankan lewat website atau laman internet. Pelaku pun dengan leluasa menguras isi rekening korban karena sudah memiliki data termasuk juga PIN ATM nasabah.
Paling mengejutkan ialah pembobolan 1.214 rekening nasabah bunk Mandiri pada 2014 lalu. Para pelaku melakukan modus serupa dengan menggunakan alat skimmer ditaruh pada mesin ATM. Dari penelusuran bunk Mandiri ada enam mesin ATM dipasang alat tersebut. Uang nasabah yang hilang pun akhirnya diganti oleh bunk Mandiri.
Pakar IT dari Infosec Consultant, Ruby Zukri Alamsyah mengatakan jika sejatinya kartu ATM dimiliki perbankan kita memiliki banyak kelemahan bisa ditembus mesin skimmer. Salah satunya ialah media penyimpanan data pada kartu ATM masih menggunakan pita magnetik. Data dalam pita itu juga kemudian mudah di pindahkan menggunakan alat skimmer. "Kelemahan justu dengan kartu ATM kita masih menggunakan media penyimpanan pita magnetik," ujarnya melalui sambungan seluler Sabtu pekan lalu.
Karena kasus kejahatan skimmer ini sering terjadi, dia pun mendorong setiap bunk untuk meningkatkan keamanan di setiap mesin ATM. "Dulu ada satu bunk yang setiap satu mesin ATM-nya dijaga satpam. Skimmer itu biasanya takut kalau ATM itu di jaga," kata Ruby.
Sejatinya kasus kejahatan perbankan dengan menggunakan alat skimmer di Indonesia mulai hangat enam tahun belakangan ini. Kasus pertama mencuat ialah pembobolan skimmer nasabah bunk Central Asia. Sejak saat itu kasus kejahatan perbankan dengan modus skimmer ramai di Indonesia.
Pakar IT dari Infosec Consultant, Ruby Zukri Alamsyah mengatakan pembobolan rekening nasabah bunk dilakukan skimmer itu memang mendapat celah untuk beraksi di Indonesia. Apalagi, kartu debit (Kartu ATM), terbitan milik beberapa bunk ada di Indonesia kebanyakan masih menggunakan media penyimpanan data pita magnetik. Media tersebut juga kemudian menjadi celah buat skimmer menjalankan aksinya di Indonesia.
Menurut Ruby, media penyimpanan pita magnetik itu paling mudah menyalin data nasabah. "Karena peraturan BI mengganti ke kartu chip tetapi masih ter undur," ujar Ruby saat berbincang dengan merdeka.com, Sabtu dua pekan lalu. Dia pun mengatakan jika alat skimmer itu menyalin data nasabah melalui magnetic card rider. "Di ATM-ATM jenis tertentu itu mudah sekali dipasangkan alat skimmernya,"
Untuk cara kerja, Ruby menjelaskan, hanya cukup dua menit untuk memasangkan alat skimmer pada mesin ATM. Alat itu biasanya di taruh di mulut slot kartu ATM. Selain memasang alat skimming kartu berbentuk mirip lobang slot kartu, buat membaca nomor PIN, pelaku juga memasang kamera pengintai. Kamera itu kemudian mengawasi gerakan tangan nasabah ketika menekan tombol angka kode PIN ATM.
"Ada kamera kecil mengarah ke Pin Pad ATM," tutur Ruby. Namun selain dengan kamera pengintai, biasanya pelaku juga ikut dalam antrean sambil memperhatikan gerakan tangan korban menekan angka PIN.
Jika pelaku berhasil mengopi data nasabah, selanjutnya data itu akan di pindahkan menggunakan kartu kosong. Tanpa menggunakan nomor PIN untuk transaksi, pelaku juga bisa dengan leluasa menguras rekening nasabah. Sebab saat ini, fungsi kartu debit (ATM) tak perlu lagi menggunakan validasi tandatangan ketika melakukan transaksi. "Hampir sama seperti kartu kredit," ujar Ruby.
Kepala Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran BI Eni Panggabean pun mengantisipasi ulah para pelaku kejahatan perbankan ini. Salah satunya ialah dengan memperkuat sistem transaksi keuangan. bunk Indonesia pun menggandeng Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia untuk mempersempit ruang gerak para pelaku.
Berdasarkan data yang dimiliki BI, sejak 2012 hingga saat ini, Indonesia menempati posisi terendah untuk tindak kejahatan perbankan. Dari data itu tercatat, kejahatan perbankan menggunakan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) hanya 0,0008 persen. Angka itu diambil dari total nominal transaksi selama 2014 hingga Februari 2015.
"Meskipun relatif kecil, bunk Indonesia tetap berkomitmen untuk menjaga keamanan transaksi dalam rangka menjaga kepercayaan masyarakat terhadap instrumen APMK," ujar Eni.
Senada dengan Eni, Ruby pun berpendapat sama, dia pun mendorong agar bunk selaku pembuat fasilitas itu juga harus memberikan informasi ke nasabah mengenai tindak kejahatan ini. Apalagi, kejahatan skimmer masih kerap terjadi dan menimpa nasabah bunk. Kemudian dia pun mendorong bunk meningkatkan pengamanan karena kejahatan skimmer terus berkembang. Mereka mengikuti perkembangan teknologi.
Untuk menghindar dari pelaku skimmer, Ruby pun berpesan agar nasabah baiknya menggunakan mesin ATM di bunk, karena lebih aman untuk melakukan transaksi. "Paling aman ke ATM yang ada sekuritinya," ujar Ruby.
"Kebanyakan pelaku merupakan orang luar. Mereka adalah otak intelektualnya," ujar Pakar IT dari Infosec Consultant, Ruby Zukri Alamsyah saat berbincang dengan merdeka.com melalui sambungan seluler Sabtu dua pekan lalu. Menurut dia, hingga kini aksi skimmer pembobol rekening nasabah masih sering terjadi. "Awalnya memang 2009 dan 2010," katanya.
Skimming adalah tindak pencurian data nasabah dengan menggunakan alat perekam data. Biasanya kejahatan ini terjadi di mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan Mesin Electronic Data Capture (EDC). Menurut Ruby, para pelaku kejahatan itu merupakan rekrutan asal Kanada. Mereka beraksi di beberapa kota di Indonesia termasuk juga Jakarta.
Sedangkan pelaku intelektualnya, mengendalikan dari Kanada. "Dia ada di beberapa kota lain," ujar Ruby. Dia pun menjelaskan jika mereka memiliki jaringan masing-masing. "Kebanyakan itu dilakukan pelaku lokal yang sudah di latih," katanya.
April tahun lalu, Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia berhasil mengungkap jaringan ini. Seorang Warga Negara Bulgaria, berinisial ITT, 46 tahun, ditangkap di Kawasan Seminyak, Bali karena melakukan pembobolan rekening nasabah dengan menggunakan mesin skimmer. Dari hasil penyelidikan, sebanyak 560 warga negara asal Eropa sedang libur ke Bali menjadi korban.
Menurut Ruby, faktor penyebab Indonesia menjadi sasaran para pembobol bunk itu memang bukan tanpa alasan. Salah satunya ialah, media penyimpanan data kartu Anjungan Tunai Mandiri terbitan bunk-bunk di Indonesia menjadi penyebabnya. Sistem penyimpanan kartu model pita magnetic itu paling gampang untuk di bobol dengan mesin skimmer. "Mesin skimming bisa mengopi data nasabah," kata Ruby. Dia pun menegaskan jika target kejahatan skimmer ialah negara-negara berkembang.
Apalagi kata dia, sebelum menjalankan aksinya para pembobol rekening ini terlebih dahulu mempelajari jenis mesin ATM termasuk merek dipakai banyak digunakan. Tujuannya ialah untuk memudahkan aksi mereka dalam melakukan tindakan kejahatan. Namun demikian, sejatinya aksi para pembobol bunk ini bisa diatasi asalkan pihak bunk mau sedikit mempekerjakan petugas keamanan di setiap Mesin ATM.
"Selama di jaga, para pelaku tidak akan berani," ujarnya.
Mudahnya mendapatkan alat skimmer ini juga bisa menjadi salah satu faktor. Apalagi alat itu mudah di dapat dengan membeli melalui situs internet. Harganya pun relatif murah, untuk satu alat skimmer dihargai Rp 4 juta. Sedangkan Pin Pad, yaitu alat yang berfungsi untuk merekam Personal Identification Number (PIN) dimasukan oleh nasabah. Biasanya Pin Pad ditaruh tepat di atas keypad angka di Mesin ATM. Fungsinya merekam nomor PIN saat nasabah melakukan transaksi.
Selain Pin Pad, alat lain juga merupakan satu kesatuan buat membobol rekening adalah Magnetic Stripes Encoder. Harganya di bandrol Rp 7 juta. Salah seorang penjual barang ini tak merespon saat merdeka.com hubungi. Namun dalam situsnya, penjual menuliskan syarat untuk melakukan pemesanan. Pertama ialah transaksi akan dilakukan setelah mengirim 50 persen uang tanda jadi. Kemudian barang akan di kirim melalui jasa antar barang.
Kemudian pembeli bisa memesan alat skimmer sesuai dengan permintaan. "harga sudah pas tidak bisa di nego lagi," ujar si penjual. Dalam keterangannya penjual itu juga menuliskan fungsi mesin skimmer. "Alat ini berfungsi untuk mengambil data-data dari kartu ATM dan memasukkan data-data tersebut ke dalam kartu ATM kosong," tulis penjual itu.
Ruby pun tak heran dengan gampangnya membuat kartu untuk mengopi data nasabah. Apalagi saat ini, beberapa perlengkapan seperti printer untuk membuat kartu itu juga sudah ada di Indonesia. "Karena gampang untuk mendapatkannya," ujar Ruby. "Sekarang teknologi printer sudah canggih semua,".
