yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Media sosial saat ini memang menjadi alat berkomunikasi yang mudah digunakan oleh semua kalangan. Lantaran itu, sebagian orang memanfaatkannya sebagai lahan bisnis untuk berjualan produk apapun, termasuk menjajakan diri.
Belum lama ini Twitter dijadikan lahan basah bagi pekerja seks untuk menarik pelanggan. Mereka bahkan secara terang-terangan membuka bisnis haramnnya dengan memposting foto-foto hasil transaksi dengan pelanggannya yang mayoritasnya warga Kota Bandung, Jawa Barat.
Salah satunya yang terlihat di #bisyarbdg, layaknya forum diskusi umum, deretan akun twitter yang namanya disamarkan oleh sang pemilik begitu leluasa menawarkan jasa layanin seks dengan berbagai varian harga yang tentunya ditujukan pada para lelaki hidung belang. Seperti yang terlihat di akun @wennywie, dalam akun tersebut disebutkan usia, ukuran bra, warna kulit, serta tarif booking untuk wilayah Bandung dan luar kota.
Bahkan ada beberapa di antaranya secara terang-terangan mengunggah foto ruangan tempat melakukan perbuatan mesum, termasuk nama-nama hotel yang dijadikan tempat transaksi para pekerja seks ini dengan konsumennya.
Di akun twitter @fabriana22 misalnya, untuk meyakinkan konsumennya perempuan yang mengaku berusia 23 tahun ini memposting tulisan akun @fabriana22 miliknya setiap kali melakukan transaksi dengan lelaki hidung belang di sejumlah hotel di Kota Bandung, termasuk jumlah nominal uang yang harus dibayar konsumen sesuai dengan kesepakatan yang ditentukan.
Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Mashudi menyatakan pihaknya sudah mendapat laporan dari beberapa orangtua terkait maraknya jasa layanin seks di dunia maya secara terang-terangan. Dalam hal ini polisi akan segera mengambil tindakan agar dampaknya tidak sampai merusak para pengguna twitter yang didominasi remaja belia.
Sehubungan dengan munculnya penyalahgunaan situs jejaring sosial, Mashudi menegaskan pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Muspida dan walikota untuk mengatur sistem penjaringan informasi agar akun twitter yang disalahgunakan tidak mudah diterima para remaja, termasuk melakukan penyuluhan untuk para pelajar.
Belum lama ini Twitter dijadikan lahan basah bagi pekerja seks untuk menarik pelanggan. Mereka bahkan secara terang-terangan membuka bisnis haramnnya dengan memposting foto-foto hasil transaksi dengan pelanggannya yang mayoritasnya warga Kota Bandung, Jawa Barat.
Salah satunya yang terlihat di #bisyarbdg, layaknya forum diskusi umum, deretan akun twitter yang namanya disamarkan oleh sang pemilik begitu leluasa menawarkan jasa layanin seks dengan berbagai varian harga yang tentunya ditujukan pada para lelaki hidung belang. Seperti yang terlihat di akun @wennywie, dalam akun tersebut disebutkan usia, ukuran bra, warna kulit, serta tarif booking untuk wilayah Bandung dan luar kota.
Bahkan ada beberapa di antaranya secara terang-terangan mengunggah foto ruangan tempat melakukan perbuatan mesum, termasuk nama-nama hotel yang dijadikan tempat transaksi para pekerja seks ini dengan konsumennya.
Di akun twitter @fabriana22 misalnya, untuk meyakinkan konsumennya perempuan yang mengaku berusia 23 tahun ini memposting tulisan akun @fabriana22 miliknya setiap kali melakukan transaksi dengan lelaki hidung belang di sejumlah hotel di Kota Bandung, termasuk jumlah nominal uang yang harus dibayar konsumen sesuai dengan kesepakatan yang ditentukan.
Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Mashudi menyatakan pihaknya sudah mendapat laporan dari beberapa orangtua terkait maraknya jasa layanin seks di dunia maya secara terang-terangan. Dalam hal ini polisi akan segera mengambil tindakan agar dampaknya tidak sampai merusak para pengguna twitter yang didominasi remaja belia.
Sehubungan dengan munculnya penyalahgunaan situs jejaring sosial, Mashudi menegaskan pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Muspida dan walikota untuk mengatur sistem penjaringan informasi agar akun twitter yang disalahgunakan tidak mudah diterima para remaja, termasuk melakukan penyuluhan untuk para pelajar.