Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Jika sobat melewati Jalan Palagan Tentara Pelajar di Sleman, Yogya, mungkin kawasan eksotik yg akan dilihat & diingat adalah Hotel Hyatt Regency Yogyakarta, atau biasa disebut Hotel Hyatt. Bagaimana tidak, hotel bintang 5 tersebut memiliki luas 24 hektare.
Saking luasnya, megahnya bangunan hotel jaringan multinasional asal Chicago, Amerika Serikat ini tidak tampak dari luar, karena terhalang pohon-pohon besar.
Namun, ada yg tidak biasa dari kompleks Hotel Hyatt. Jika diamati, ada satu rumah sederhana yg nyempil di halaman muka Hotel Hyatt.
Keberadaan rumah sederhana yg bukan bagian dari Hotel Hyatt ini menimbulkan pemandangan cukup kontras. Pasalnya, di rumah itu ada sebuah papan bertuliskan: Warung Makan Bu Lasiyem.
Pasangan suami istri Tukidi (70) & Lasiyem (60) adalah pemilik rumah sekaligus warung tersebut.
Rumah yg ditempati Tukidi & Lasiyem sangat sederhana. Teras rumah berisi etalase untuk dagangan makanan, sementara di ruang tamu ada kursi & meja makan bagi pelanggan. Tidak banyak perabotan atau hiasan di dinding rumah.
Dulu, tanah seluas 1.000 meter persegi tempat warung itu berdiri juga sempat ditawar untuk jadi bagian hotel. Namun, Tukidi menolaknya.
Hingga akhirnya, hotel tersebut dibangun pada 1995 & diresmikan pada 1997. Warung milik Tukidi tetap pada di tempatnya. Warung dengan menu ramesan itu hingga kini tetap mendampingi hotel bintang lima tersebut.
Tukidi mengakui, sejumlah karyawan hotel sering makan di warungnya. Harga makanan yg ditawarkan Tukidi pun terjangkau.
Pria dengan dua anak & empat cucu ini selama lebih dari 20 tahun bertetangga dengan hotel seluas 25 hektare. Bukan tanpa alasan Tukidi menolak tanah ini dijual. Sebab, tanah tersebut merupakan tanah warisan. Sejak 1985 dia sudah tinggal di sana.
Sampai sekarang, pria ini tak menyesali keputusannya. Bahkan, dia yakin kalau dia menjual tanah tersebut seperti mungkin uangnya juga sudah habis.
Dia juga bercerita, banyak orang-orang yg berpesan kepadanys supaya memberi kabar kalau hendak menjual tanahnya.
Warung Bu Lasiyem. Foto: istimewa
Menyikapi banyaknya tawaran untuk tanah miliknya, Tukidi tampak tidak tertarik. Dia mengaku masih harap terus mempertahankan tanah & warung tersebut, meski setiap tahunnya dia harus membayar pajak Rp 2,5 juta.
Kini Tukidi mengaku tetap akan mempertahankan tanahnya. Dia harap tanah ini diwariskan kepada anak-anaknya kelak.
Ia yakin, kelak tanah & warung yg dikelola Tukidi ini akan tetap diwariskan ke kedua anaknya. Sumber
https://www.localtrip.my.id/2021/03/...i-incaran.html Kemarin 23:33
Saking luasnya, megahnya bangunan hotel jaringan multinasional asal Chicago, Amerika Serikat ini tidak tampak dari luar, karena terhalang pohon-pohon besar.
Namun, ada yg tidak biasa dari kompleks Hotel Hyatt. Jika diamati, ada satu rumah sederhana yg nyempil di halaman muka Hotel Hyatt.
Keberadaan rumah sederhana yg bukan bagian dari Hotel Hyatt ini menimbulkan pemandangan cukup kontras. Pasalnya, di rumah itu ada sebuah papan bertuliskan: Warung Makan Bu Lasiyem.
Pasangan suami istri Tukidi (70) & Lasiyem (60) adalah pemilik rumah sekaligus warung tersebut.
Rumah yg ditempati Tukidi & Lasiyem sangat sederhana. Teras rumah berisi etalase untuk dagangan makanan, sementara di ruang tamu ada kursi & meja makan bagi pelanggan. Tidak banyak perabotan atau hiasan di dinding rumah.
Dulu, tanah seluas 1.000 meter persegi tempat warung itu berdiri juga sempat ditawar untuk jadi bagian hotel. Namun, Tukidi menolaknya.
Hingga akhirnya, hotel tersebut dibangun pada 1995 & diresmikan pada 1997. Warung milik Tukidi tetap pada di tempatnya. Warung dengan menu ramesan itu hingga kini tetap mendampingi hotel bintang lima tersebut.
Tukidi mengakui, sejumlah karyawan hotel sering makan di warungnya. Harga makanan yg ditawarkan Tukidi pun terjangkau.
Pria dengan dua anak & empat cucu ini selama lebih dari 20 tahun bertetangga dengan hotel seluas 25 hektare. Bukan tanpa alasan Tukidi menolak tanah ini dijual. Sebab, tanah tersebut merupakan tanah warisan. Sejak 1985 dia sudah tinggal di sana.
Sampai sekarang, pria ini tak menyesali keputusannya. Bahkan, dia yakin kalau dia menjual tanah tersebut seperti mungkin uangnya juga sudah habis.
Dia juga bercerita, banyak orang-orang yg berpesan kepadanys supaya memberi kabar kalau hendak menjual tanahnya.
Warung Bu Lasiyem. Foto: istimewa
Menyikapi banyaknya tawaran untuk tanah miliknya, Tukidi tampak tidak tertarik. Dia mengaku masih harap terus mempertahankan tanah & warung tersebut, meski setiap tahunnya dia harus membayar pajak Rp 2,5 juta.
Kini Tukidi mengaku tetap akan mempertahankan tanahnya. Dia harap tanah ini diwariskan kepada anak-anaknya kelak.
Ia yakin, kelak tanah & warung yg dikelola Tukidi ini akan tetap diwariskan ke kedua anaknya. Sumber
https://www.localtrip.my.id/2021/03/...i-incaran.html Kemarin 23:33