yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Dukungan terhadap keraton yang diwujudkan dalam piagam tersebut menjadi salah satu upaya dari warga Tionghoa Yogyakarta yang selama 14 tahun terakhir merasa terayomi oleh keraton dan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X. “Reformasi pada 1998 menjadi salah satu bukti bahwa kami mendapatkan pengayoman dari HB X dan Keraton,”tandas salah satu tokoh paguyuban Tionghoa Yogyakarta,Soekeno.
Menurut dia, piagam yang diserahkan secara prinsip masih belum senilai dengan perlindungan yang diterima warga Tionghoa di Yogyakarta. Selama ini masyarakat keturunan dapat melakukan usaha dan hidup tenteram berdampingan dinilainya tidak sebanding dengan ikrar tersebut. Namun demikian, mempertimbangkan kultur bahwa warga Tionghoa selama ini jarang berbicara politik, maka seluruh konsekuensi dari dukungan terhadap keistimewaan DIY tersebut akan dihadapi.
“Kami sebenarnya trauma untuk berbicara politik, tapi kami tetap dukung (Keistimewaan DIY) sebagai bentuk ucapan terimakasih," tandasnya. Di Yogyakarta tercatat warga keturunan Tionghoa jumlahnya mencapai 20.000 orang.Mereka bergabung dalam sejumlah paguyuban seperti seperti Yayasan Bhakti Loka, Paguyuban Hakka,Perhimpunan Fu Qing,serta Hin An Hwee Koan.
Sementara itu, KGPH Hadiwinoto mengatakan, hubungan baik antara Keraton Yogyakarta dengan masyarakat Tionghoa telah terbangun sejak awal didirikannya keraton. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai prasasti di sekitar keraton yang sudah mencantumkan tulisan dalam huruf kanji Cina. Selain itu, bentuk tata kota dengan terlihatnya sentralistik tempat tinggal warga Tionghoa di Yogyakarta bukan sesuatu yang kebetulan.
Menurutnya, hal tersebut menjadi bagian dari tata kota yang direncanakan untuk membangun kehidupan bermasyarakat di Yogyakarta yang damai. “Semuanya kita rengkuh. Bukan hanya masalah RUUK, tapi juga masalah-masalah lain. Kita nggak membeda-bedakan,” kata kerabat yang juga memiliki jabatan Pengageng Paniti Kismo tersebut.
Di DIY menurut dia,masyarakat Tionghoa memiliki andil yang cukup besar dalam perputaran roda ekonomi. “Bukan hanya di Yogyakarta, di semua Indonesia juga begitu. Dari dulu kan mereka memang unggul di bidang perekonomian dan perdagangan,” pungkasnya.