Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Spoiler for Wapres:
Hal yg dikhawatirkan akhirnya terjadi juga. Akibat dari memaksakan pembelanjaran pesantren yg notabene berbasis asrama di tengah pandemi, maka muncullah klaster corona pesantren. Baru saja pesantren-pesantren dibuka, sudah timbul 6 pesantren yg jadi klaster Covid-19. Tak dipikirkankah oleh pengelola pesantren, kekhawatiran orang tua para santri ketika muncul kasus corona di ponpes yg sudah mereka beri amanah?
Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masduki Baidlowi mengatakan, 6 pesantren yg jadi klaster corona tersebar di berbagai wilayah. Seperti pesantren milik Ketua DPRD Rembang, KH Majid Kamil MZ & pesantren Gontor.
Masduki yg juga Stafsus Wapres Maruf Amin itu mewanti-wanti pesantren yg sudah terpapar harus mengerjakan karantina kepada santri yg sudah positif corona & mengerjakan tes pada santri lainnya.
Sumber
etik [PBNU: 6 Pesantren Jadi Klaster COVID-19, Harus Waspada]
Sebelum terjadi klaster corona di pesantren, semestinya para pemegang kepentingan sudah mengantisipasinya dengan mengerjakan tes yg benar-benar dapat menetukan seseorang positif corona atau tidak, yakni tes PCR.
Tapi kenyataannya, ponpes cuma mengpakai rapid test. Beberapa kali penulis membaca headline berita : Ponpes di Jawa Timur mengerjakan rapid tes massal, atau Sebelum masuk ponpes santri wajib lakukan rapid test. Alhasil, santri atau pengajar dapat saja tidak reaktif rapid test, namun ternyata sudah bersemayam virus corona di tubuhnya. Maka muncullah silent spreader di pondok pesantren yg menyebabkan klaster Covid-19.
Nasi jadi bubur, semua sudah terjadi. Menyalahkan kebijakan sebelumnya tidak akan ada habisnya. Maka ada baiknya pemerintah maupun pihak terkait cepat bertindak sebelum klaster corona pesantren meluas.
Pada 15 Juli 2020, Masduki Baidlowi menyampaikan kabar baik. Ia mengaku Wapres Maruf Amin sudah memanggil & berdiskusi dengan Ketua Gustu Covid-19 Doni Monardo terkait kemunculan klaster pesantren. Dari pertemuan itu, Maruf & Doni sepakat bahwa sebaiknya pihak pesantren menunda kedatangan santri yg masih libur atau belum kembali ke ponpes masing-masing. Pesantren yg diperbolehkan mengerjakan kegiatan belajar mengajar pun cuma pesantren di zona kuning & hijau.
Hal yg menarik adalah bahwa keharapan Wapres & Ketua Gustu supaya pesantren secara rutin mengerjakan tes PCR & dikoordinasikan dengan gugus tugas setempat. Sementara pesantren yg sudah jadi klaster harus dikarantina.
Sumber :Tempo [Pesantren Jadi Klaster Covid-19, Ma'ruf Amin Panggil Doni Monardo]
Upaya pemerintah ini patut diapresiasi & didukung. Sebab keharapan pemerintah untuk mengpakai tes PCR secara rutin di pesantren jauh lebih baik ketimbang rapid test yg selama ini dipakai.
Hari ini 17:27
Hal yg dikhawatirkan akhirnya terjadi juga. Akibat dari memaksakan pembelanjaran pesantren yg notabene berbasis asrama di tengah pandemi, maka muncullah klaster corona pesantren. Baru saja pesantren-pesantren dibuka, sudah timbul 6 pesantren yg jadi klaster Covid-19. Tak dipikirkankah oleh pengelola pesantren, kekhawatiran orang tua para santri ketika muncul kasus corona di ponpes yg sudah mereka beri amanah?
Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masduki Baidlowi mengatakan, 6 pesantren yg jadi klaster corona tersebar di berbagai wilayah. Seperti pesantren milik Ketua DPRD Rembang, KH Majid Kamil MZ & pesantren Gontor.
Masduki yg juga Stafsus Wapres Maruf Amin itu mewanti-wanti pesantren yg sudah terpapar harus mengerjakan karantina kepada santri yg sudah positif corona & mengerjakan tes pada santri lainnya.
Sumber
etik [PBNU: 6 Pesantren Jadi Klaster COVID-19, Harus Waspada]Sebelum terjadi klaster corona di pesantren, semestinya para pemegang kepentingan sudah mengantisipasinya dengan mengerjakan tes yg benar-benar dapat menetukan seseorang positif corona atau tidak, yakni tes PCR.
Tapi kenyataannya, ponpes cuma mengpakai rapid test. Beberapa kali penulis membaca headline berita : Ponpes di Jawa Timur mengerjakan rapid tes massal, atau Sebelum masuk ponpes santri wajib lakukan rapid test. Alhasil, santri atau pengajar dapat saja tidak reaktif rapid test, namun ternyata sudah bersemayam virus corona di tubuhnya. Maka muncullah silent spreader di pondok pesantren yg menyebabkan klaster Covid-19.
Nasi jadi bubur, semua sudah terjadi. Menyalahkan kebijakan sebelumnya tidak akan ada habisnya. Maka ada baiknya pemerintah maupun pihak terkait cepat bertindak sebelum klaster corona pesantren meluas.
Pada 15 Juli 2020, Masduki Baidlowi menyampaikan kabar baik. Ia mengaku Wapres Maruf Amin sudah memanggil & berdiskusi dengan Ketua Gustu Covid-19 Doni Monardo terkait kemunculan klaster pesantren. Dari pertemuan itu, Maruf & Doni sepakat bahwa sebaiknya pihak pesantren menunda kedatangan santri yg masih libur atau belum kembali ke ponpes masing-masing. Pesantren yg diperbolehkan mengerjakan kegiatan belajar mengajar pun cuma pesantren di zona kuning & hijau.
Hal yg menarik adalah bahwa keharapan Wapres & Ketua Gustu supaya pesantren secara rutin mengerjakan tes PCR & dikoordinasikan dengan gugus tugas setempat. Sementara pesantren yg sudah jadi klaster harus dikarantina.
Sumber :Tempo [Pesantren Jadi Klaster Covid-19, Ma'ruf Amin Panggil Doni Monardo]
Upaya pemerintah ini patut diapresiasi & didukung. Sebab keharapan pemerintah untuk mengpakai tes PCR secara rutin di pesantren jauh lebih baik ketimbang rapid test yg selama ini dipakai.
Hari ini 17:27