• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Berita Wapres: Harusnya Makanan Haram yang Diberi Label

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48
Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai aturan mengenai pemberian label halal pada makanan dan minuman perlu dikaji ulang. Menurut dia, lebih baik jika makanan atau minuman haram yang diberi label dibandingkan makanan atau minuman halal.

"Dari sisi Pemerintah memang peraturan-peraturan selalu jadi pembahasan, misalnya undang-undang halal. Sebaliknya, sering saja juga dan teman-teman berpikir terbalik, yang halal ya halal, yang ditulis hanya yang tidak halal. Karena begitu banyak yang halal," kata Kalla di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Selasa (7/4/2015) saat menerima Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI).

Kalla menilai, pemberian label halal atau haram pada makanan dan minuman mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap suatu produk. Pemberian label juga menjadi bagian dari promosi atau strategi pemasaran suatu produk makanan dan minuman.

Wapres juga mengatakan bahwa penjualan makanan dan minuman sulit dipengaruhi daya beli masyarakat. Pasalnya, makanan dan minuman merupakan kebutuhan pokok masyarakat yang harus dipenuhi sehari-hari.

"Apalagi makanan yang pokok. Tentu ada juga makanan bukan pokok yang bisa kalau pendapatan menurun, katakanlah Coca Cola, ya berhenti minum. Tapi tidak dengan beras, makanan pokok, Aqua, Indomie, itu pasti lebih pokok dan mustinya akan susah betul kalau itu berkurang," ucap Kalla.

Atas dasar itu, lanjut dia, Pemerintah perlu waspada jika daya beli masyarakat sudah mempengaruhi konsumsi makanan dan minuman. Jika angka penjualan retail besar mulai menurun, kata Kalla, Pemerintah harus bersiap melakukan perbaikan.

"Kita tidak menutup mata bahwa memang ada masalah itu, tapi masalah itu ada dari luar dan dalam. Dari luar kita paham bagaimana dollar menguat, tapi kalau dibandingkan dengan Yen, kita masih lebih baik. Ada hal-hal negatif dan positif, tapi ini pasti berpengaruh. Dari dalam juga, khususnya daya beli masyarakat, yang konsumsinya tinggi itu pasti terjadi penurunan," tutur Kalla.

Ia juga berpendapat bahwa pasar industri makanan dan minuman bergerak cepat seiring dengan perkembangan teknlologi dan pendidikan. Ia pun meminta GAPMMI tidak khawatir akan kehilangan pasar.

"Dulu Ibu saya musti masak, cuci, pikirin anak. Kalau sekarang banyak ibu-ibu sebelum pulang dari kantor singgah di toko, beli sesuatu, tinggal dimicrowave, selesai, makan. Jadi industri ini terbangun karna pengembangan pendidikan dan teknologi, jadi bukan makin lama makin kurang," kata Kalla.

Hanya saja, menurut dia, baik Pemerintah maupun GAPMMI perlu bersama-sama meningkatkan daya saing produk makanan dan minuman dalam negeri agar bisa bersaing dalam pasar internasional.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.