Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Ke khawatiran masyarakat atas corona virus sangat akbar hingga menimbulkan banyak spekulasi bahkan hingga ada yg menghubungkan nya dengan teori konspirasi seperti senjata biologis yg bocor kemudian ada yqng dikaitkan dengan ulah amerika untuk menghambat ekonomi cina ada juga yg menghubungkan nya dengan pola makan orang china.
Melihat dari itu semua kita tahu bahwa masyarakat bumi sedang mengalami masalah hyper realitas, kita tidak menyadari realitas sesungguh nya karena kita sadar bahwa realitas saat ini jadi komoditas media yg mempunyai kepentingan yg di jadikan referensi oleh manusia untuk berfikir atau mengetahui bukan berdasarkan indrawi (realitas virtual).
Apa daya kita kalau penyedia informasi (media) ini berbohong atau menyisipkan informasi yg salah bagaimana cara kita memisahkan berita faktual & opini?
Kita hingga lupa bahwa di dunia ini ada yg lebih mengerikan dibanding covid -19 ada di depan mata kita, membunuh lebih banyak manusia, merusak lingkungan lebih parah lagi padahal sangat dekat dengan kita tetapi kita abaikan karena kita tidak paham bahwa hal ini sangat berbahaya, untuk hampir setiap tipe manusia di planet ini.
Yang penulis mau bicarakan dalam hal ini bukan terkait penyakit tetapi pencerahan kita sebagai manusia yaitu Makanan sisa.
Makanan sisa secara statistik membunuh lebih banyak manusia, merugikan ekonomi lebih akbar daripada korona, juga memiliki efek antar generasi yg jauh lebih menakutkan.
Makanan sisa yg kita lihat & kita buang selama ini menyebabkan 1,5 juta bayi di planet ini meninggal. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada covid-19 yg di beritakan oleh media secara luas, tetapi fakta mengenai terbunuh nya jutaan bayi & orang dewasa yg tanpa kita sadari juga bahwa kita bagian yg harus di salahkan terkait makanan sisa ini, kita salah satu pihak yg harus di salahkan.
Apa hubungan nya dengan makanan sisa?
1. Kemanusiaan
Di indonesia saja per orang dalam satu tahun menghasilkan sisa makanan sebanyak 300-400 kg kalau di akumulasikan indonesia menghasilkan makanan sisa 500 kali lebih berat dari monas, 7500 ton perhari sampah makanan kita buang bagai menyeka ingus, & laporan ABD menyebutkan 22 juta orang indonesia kelaparan & kurang gizi, dengan kenyataan indonesia bukan negara maju sehingga menciptakan 30% bayi di indonesia ini stunting atau kurang gizi.
Kasus terbanyak terjadi di hotel & ketering & fakta makanan terbuang itu seharus nya dapat menghidupi masyarakat kita yg kelaparan. Dalam hal ekonomi indonesia mengimpor sampah makanan senilai 27 triliun untuk di olah jadi pakan ternak tetapi kita membuang lebih banyak dari itu.
Begini, sampah makanan yg kita buang ini jadi polusi yg upaya untuk membersihkan nya menghabiskan danang 2 triliun, lalu kita beli sampah makanan dari luar senilai 27 triliun untuk industri pakan ternak sementara ada 22 juta saudara kita sebangsa tanah & sebangsa air terancam mati kelaparan lalu kita panik soal virus corona?
Kita merugikan negara sebanyak 27 triliun untuk belanja sampah lalu kita buang 2 triliun untuk upaya pembersihan sehingga secara ekonomis nilai kerugian kita 29 triliun.
Pemerintah DKI jakarta saja tahun lalu mengajukan anggaran 2 triliun cuma untuk MEMPERBAIKI sekolah, lalu berapa banyak bangunan sekolah BARU yg kita dapat Buat kalau 29 triliun itu tidak kita buang?
29 triliun itu jutaan mulut dapat terisi makanan bos.
Padahal indonesia di kenal dengan negara dunia ketiga, negara miskin, indonesia masih merangkak, politik & pertumbuhan ekonomi kita jelek, tetapi kita membuang begitu saja 29 triliun seperti menyeka ingus ini baru masalah makanan.
2. Lingkungan hidup
Sisa makanan yg kita buang itu mengahasilkan efek rumah kaca lebih akbar 27 kali lipat dari karbondioksida bayangkan akibat gas metana yg ditimbulkan oleh makanan sisa yg kita buang.
Pemanasan global ini akibat ekonomi sosial hingga korban jiwa nya itu luar biasa, kira berfikir bagaimana cara pemanfaatan sampah plastik yg membunuh biota laut & hewan darat tetapi apakah kita memikirkan sampah makanan yg membunuh manusia di planet ini.
Sampah makanan ini 55% dari seluruh sampah yg ada.
Kenapa tidak kita pakai dengan prosedur tertentu hal ini dijadikan subsidi untuk fakir miskin, 1/3 - 1/2 makanan yg kita makan setiap hari itu di buang.
Dengan fakta seperti ini kenapa kita harus makan atau jajan di tempat yg mahal, mewah, padahal itu semua memperburuk kesehatan, karena dengan cara makan kita yg seperti itu kita merubah lingkungan jadi semakin buruk, akibat nya lintas generasi.
Sesekali kunjungi BPS & lihat data orang yg mati kelaparan & kurang gizi di indonesia sebelum membuang sisa makanan mahal & mewah yg kita bangga karena sanggup membeli nya.
Kita masuk ke bahasan global / dunia,
Indonesia itu penghasil sampah makanan terbanyak kedua di dunia dibawah saudi arabia yg katanya negara islam. Sementara tetangga saudi yaitu yaman sedang mengalami krisis pangan yg luar biasa, coba fikirkan sekali lagi mana yg lebib fatal dari pada agama maksud saya virus corona, sampah makanan kita di dunia itu 1,3 miliar ton pertahun & itu menurut FAO dapat memberi makan 800 juta orang di dunia & berapa manusia yg kelaparan di planet ini? Sekitar 790 juta orang, jadi dengan prosedur tertentu kita dapat alihkan makanan sisa itu bukan nya di buang tetapi di berikan pada 790 juta orang, sayang nya distribusi pangan prosedur nya tidak terfikirkan & kalah dengan ketakutan akan virus corona, mers, sapi gila, flu burung & lain sebagainya.
Dampak kita menyia - nyiakan makanan ini kita membunuh 1,3 juta bayi di dunia karena kita terlalu banyak makan, yaman 18 juta orang kelaparan 11 juta di antaranya tidak dapat makan tanpa bantuan & indonesia negara yg damai tanah nya subur gemah ripah loh jinawi 22 juta orang mengalami kelaparan & gizi buruk, tanpa mengurangi simpati kepada covid-19 kita bandingkan. Dari makanan yg kita buang ratusan juta orang kelaparan beberapa juta diantaranya meninggal, mana yg harus nya lebih kita khawatirkan?
Kembali lagi ini adalah hyper realitas dimana pengetahuan terbagi & bergantung pada media masa & kita begitu egois merasa kita sanggup membeli makanan tetapi virus tidak memandang kemampuan ekonomi seseorang untuk terjangkit.
Dalam masalah agama apapun itu agama nya saya yakin kita sangat berdosa
"Bukan termasuk orang beriman oranv yg kenyang sedangkan kita tahu saudara kita kelaparan"
(HR. Bukhori)
Dalam konteks agama kita makan makanan haram.
Mari kita termasuk saya mengupayakan makanan yg efektif & efisien yg tidak menghambur - hamburkan yg setiap suapan dari piring kita itu kita pikirkan banyak orang yg terancam mati karena kelaparan.
Bukan untuk menyalahkan siapa - siapa tetapi kita coba introspeksi paling tidak kita mengerjakan nya untuk diri kita sendiri dengan cara menghemat makanan & kalau memang harus di buang maka carilah cara supaya tidak merusak lingkungan terlebih dapat bermanfaat seperti di buat pupuk & olahan lain.
Hari ini 20:22