Sosmed MMI
IndoForum Newbie D
- No. Urut
- 282168
- Sejak
- 16 Okt 2013
- Pesan
- 72
- Nilai reaksi
- 0
- Poin
- 6
Jakarta, GEO ENERGI - Direktur Eksekutif Reforminer Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan, masalah yang dihadapi sektor migas Indonesia adalah iklim investasinya yang tidak menarik.
“Tidak ada kepastian aturan main. (Revisi) UU Migas tidak selesai-selesai. Investor besar menunggu kepastian itu,” kata Pri kepada MigasReview akhir pekan lalu.
Dikatakannya, produksi besar hanya bisa dihasilkan oleh cadangan yang besar sementara cadangan besar hanya bisa diperoleh dengan banyak eksplorasinya.
“Eksplorasi kita kurang. Orang pada malas melakukan eksplorasi, sehingga tidak bisa menemukan cadangan yang besar. Sehingga, mau belajar dari Kolumbia, atau dari mana saja, silakan. Tetapi intinya adalah bagaimana kita ini bisa menggalakkan eksplorasi,” kata dia.
Untuk itu, dibutuhkan insentif untuk menarik investor.
“Mau pakai modal sendiri, kita kan nggak. Modelnya mengundang orang. Nah, mengundang orang ya harus diberi iklim investasi yang menarik. Itu yang tidak kita lakukan. Itu yang tidak terjadi selama paling tidak 10 tahun terakhir ini. Sehingga, cadangan makin kecil dan produksinya terus turun,” kata dia.
Pri menegaskan, semestinya harus ada kepastian hukum dan penghormatan pada kontrak.
“Aturannya berubah-ubah terus. Kontraktor juga bingung. Kalau mereka sudah tidak percaya pada aturan main, jangan harap mereka mau investasi. UU Migas yang jadi payung hukum yang paling mendasar saja tidak selesai-selesai kok,” kata dia.
Namun Pri menyambut baik gagasan pembentukan petroleum fund.
“Sebagian pemasukan dari migas dimasukkan ke sektor migas lagi itu bagus kalau bisa jalan. Makanya, selesaikan UU-nya dulu. Kalo mau dimasukin ke UU ya masukin. Kita hanya ngomong doang sih,” kritik Pri. (G)
- See more at: http://www.geoenergi.co/read/gas/1803/uu-migas-mangkrak-selama-5-tahun/#.U0NVQaLov5M
“Tidak ada kepastian aturan main. (Revisi) UU Migas tidak selesai-selesai. Investor besar menunggu kepastian itu,” kata Pri kepada MigasReview akhir pekan lalu.
Dikatakannya, produksi besar hanya bisa dihasilkan oleh cadangan yang besar sementara cadangan besar hanya bisa diperoleh dengan banyak eksplorasinya.
“Eksplorasi kita kurang. Orang pada malas melakukan eksplorasi, sehingga tidak bisa menemukan cadangan yang besar. Sehingga, mau belajar dari Kolumbia, atau dari mana saja, silakan. Tetapi intinya adalah bagaimana kita ini bisa menggalakkan eksplorasi,” kata dia.
Untuk itu, dibutuhkan insentif untuk menarik investor.
“Mau pakai modal sendiri, kita kan nggak. Modelnya mengundang orang. Nah, mengundang orang ya harus diberi iklim investasi yang menarik. Itu yang tidak kita lakukan. Itu yang tidak terjadi selama paling tidak 10 tahun terakhir ini. Sehingga, cadangan makin kecil dan produksinya terus turun,” kata dia.
Pri menegaskan, semestinya harus ada kepastian hukum dan penghormatan pada kontrak.
“Aturannya berubah-ubah terus. Kontraktor juga bingung. Kalau mereka sudah tidak percaya pada aturan main, jangan harap mereka mau investasi. UU Migas yang jadi payung hukum yang paling mendasar saja tidak selesai-selesai kok,” kata dia.
Namun Pri menyambut baik gagasan pembentukan petroleum fund.
“Sebagian pemasukan dari migas dimasukkan ke sektor migas lagi itu bagus kalau bisa jalan. Makanya, selesaikan UU-nya dulu. Kalo mau dimasukin ke UU ya masukin. Kita hanya ngomong doang sih,” kritik Pri. (G)
- See more at: http://www.geoenergi.co/read/gas/1803/uu-migas-mangkrak-selama-5-tahun/#.U0NVQaLov5M