JAKARTA - Tahun depan, pemerintah masih bergantung pada utang yang terlihat dari penetapan defisit RAPBN mencapai Rp150,2 triliun.
"Tradisi kecanduan utang masih mewarnai RAPBN 2013," tutur Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, hari ini.
Kecanduan ini, lanjutnya, terlihat dari besarnya penetapan defisit anggaran dalam RAPBN 2013 yang sebesar Rp150,2 triliun atau 1,62% dari PDB. "Defisit ini akan ditutup melalui utang baru. Padahal posisi outstanding utang pemerintah hingga akhir Juni 2012 telah mencapai Rp1.938,6 triliun," ujar Enny.
Sementara rasio realisasi pembayaran bunga utang terhadap penerimaan pajak untuk periode APBN tahun anggaran 2007-2011, sudah mencapai 13,3%.
Ia mengatakan, angka rasio tersebut akan mencapai 22,5% bila ditambah dengan cicilan pokok utang. Bahkan pada 2007 rasionya menembus 28%. "Artinya hampir seperempat pajak masyarakat hanya habis digunakan untuk membayar cicilan utang beserta bunganya," kata Enny.
"Tradisi kecanduan utang masih mewarnai RAPBN 2013," tutur Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, hari ini.
Kecanduan ini, lanjutnya, terlihat dari besarnya penetapan defisit anggaran dalam RAPBN 2013 yang sebesar Rp150,2 triliun atau 1,62% dari PDB. "Defisit ini akan ditutup melalui utang baru. Padahal posisi outstanding utang pemerintah hingga akhir Juni 2012 telah mencapai Rp1.938,6 triliun," ujar Enny.
Sementara rasio realisasi pembayaran bunga utang terhadap penerimaan pajak untuk periode APBN tahun anggaran 2007-2011, sudah mencapai 13,3%.
Ia mengatakan, angka rasio tersebut akan mencapai 22,5% bila ditambah dengan cicilan pokok utang. Bahkan pada 2007 rasionya menembus 28%. "Artinya hampir seperempat pajak masyarakat hanya habis digunakan untuk membayar cicilan utang beserta bunganya," kata Enny.