• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Unboxing pendidikan di indonesia

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Unboxing pendidikan di indonesia


Penulis tidak untuk menentang para penyelenggara pendidikan formal yg ada di indonesia, namun kalau ada anggapan bahwa sekolah di buat untuk menciptakan anak bapak ibu sekalian jadi pintar, maka kita harus kritis dengan pernyataan itu. Karena dalam prakteknya sekolah di indonesia jadi salah satu penyebab atas merosot nya kualitas generasi muda di indonesia. Ini kritik & PR bersama yg justru sekolah malah memperburuk & menghancurkan generasi. Tulisan ini bukan anjuran untuk tidak bersekolah.

Kita awali dengan pernyataan George Bernard shaw "kadang sekolah itu lebih buruk dari penjara" menurut beliau di penjara tidak ada paksaan seperti menciptakan PR, untuk ber keilmuan atau mengasah sekil tertentu, atau di cekoki pengetahuan - pengetahuan yg pada akhirnya harus menghadapi test. Kemudian karena kebetulan penulis pernah mengajar & paham perkataan bernard shaw ini, dimana upaya sekolah sudah melenceng dari cita - citanya.

Unboxing pendidikan di indonesia


Misalkan apa yg di ajarkan kepada anak SD mengenai sungai subsekuen & konsekuen sejujurnya tidak relevan di usianya, bahkan tidak berguna di kemudian hari lantas penting nya apa. Mungkin orang - orang seperti president & pejabat lain nya di tanyakan hal yg praktis, tekhnis faktual seperti itu tidak dapat menjawab juga seperti pertannyaan di atas atau misal pertanyaan tahun berapa pangeran diponegoro meninggal, tetapi tetap saja mereka dapat jadi presiden & jadi pejabat.


Ada lagi contoh soal sin cos tan dalam matematika yg di indonesia sudah di ajarkan pada anak SD tetapi di negara barat baru di ajarkan pada saat SMA atau Kuliah. Bukan karena penulis menolak pertanyaan - pertanyaan/ pelajaran di atas, melainkan penempatan pelajaran atau pertanyaan di atas seharus nya di fungsikan untuk melatih proses berfikir siswa, Agar siswa terbiasa berfikir secara terstruktur, terbiasa dengan lomba & kerjasama, menciptakan siswa terbiasa dengan lingkungan yg penuh tantangan, bukan untuk di nilai. Di indonesia pertanyaan praktis ini malah di jadikan sebagai acuan, ada KKM nya, kalau siswa tidak memenuhi KKM nya siswa tidak naik kelas kemudian ada remedial yg mengulang pertanyaan yg tidak relevan itu yg tujuan nya cuma supaya siswa sanggup menjawab ( orientasi konten ).

Unboxing pendidikan di indonesia


Saya yakin kalau sekelas mentri pendidikan di ikut sertakan dengan ujian SD pasti tidak akan lulus, kalau menyadari itu sejatinya soal - soal itu memang bukan untuk ujian, tujuan sekolah itu untuk mendidik anak berfikir kritis, kronologis, optimistis supaya terbiasa dengan tantangan masa depan bukan berfikir konten nya. Di eropa sendiri setelah keluar pernyataan "sekolah tidak lebih baik dari penjara", mereka menyadari itu & mengubah system sekolah jadi lebih ramah, manusiawi & sesuai dengan perkembangan anak. Tapi tidak cuma di indonesia, di wilayah asia sekolah tidak di buat untuk mengembangkan potensi & otentifikasi si anak, malah menciptakan talenta mereka hilang.

Pada akhirnya bibit seniman, olahraga, tidak tumbuh karena ketika potensi menggambar, bernyanyi, & lain nya terputus saat di marahi oleh gurunya pada saat sd & di jejali dengan dialog di papan tulis. Karena potensi & otentifikasi tidak di fasilitasi dengan baik terjadap anak, maka kebanyakan kesuksesan yg di raih di indonesia beedasarkan keterpaksaan bukan karena otentik. Coba kita lihat apa yg di hasilkan olympiade matematika, fisika, kimia & lain sebagai nya, meskipun indonesia mendapat peringkat paling tinggi seperti negara asia lain bersaing di top ten dengan china mengalahkan negara barat, tetapi setelah sekolah ternyata indonesia tetap tidak maju, yg maju tetap negara yg olympiadenya di bawah indonesia. Karena kenapa? Kalau bukan keterpaksaan tadi itu.

Unboxing pendidikan di indonesia


Guru di sekolah formal sudah capek dengan RPP dengan silabus & yg lain nya, banyak yg akhir nya ketika mengajar jadi tidak fokus apalagi menaruh perhatian kepada siswa. Menghakimi siswa dengan kecerdasan yg berbeda mengpakai status tanda nilai kemudian ada UN yg juga ada standart nilai. Singkatnya di indonesia sekolah menciptakan siswa supaya mengerti satu hal tetapi mereka tidak mengerti pinternya untuk apa.

Belum lagi yg terjadi di tingkat birokrasi yg menciptakan penulis memutuskan berhenti mengajar di sekolah formal. Penulis menyaksikan teman ketika mau perdana kali menjabat jadi kepala sekolah, otak nya di penuhi dengan ide ideal yg baik, di kumpulkan orang yg sama idealis dengan nya & dia juga punya banyak visi yg secara praktis dapat di terapkan dalam kegiatan sekolah. Sampai sejauh ini dia masih optimis & yakin dapat mengubah tatanan pendidikan setidak nya dalam ruang lingkup yg dapat ia jangkau.

Namun belakangan dia sadar, di indonesia untuk jadi seorang pembaharu, butuh faktor lain yaitu kelicikan. Atau dalam bahasa halus nya adalah fleksibilitas dalam berbohong. Ini di sadari ketika datang seorang pejabat ke sekolah nya datang dari dinas terkait & mengatakan dia dapat mendapat kan bantuan untuk sekolah ini, berapapun nilai nya dengan catatan harus ada laporan nya. Setelah itu di tandatangani ternyata ada kelanjutan nya, si calo dana pendidikan itu mengatakan bahwa dana yg di turunkan cuma 60-70% saja, sisanya untuk dibagikan ke teman - teman yg lain. Ternyata dalam pengajuan itu ada birokrasi yg harus di tembus dengan cara saling membayar satu sama lain. Kemudian ini jadi dilema, kalau dia menerima perjanjian ini maka dia korupsi, kalau tidak, sekolah tidak dapat bantuan pendanaan.

Unboxing pendidikan di indonesia


Kemudian ada kasus datang seorang mantan guru honorer yamg pernah mengajar di sekolah nya & meminta surat yg mencantumkan bahwa dia sudah mengajar di sini selama 5 tahun, karena mau mengikuti sertifikasi di sekolah lain, dilema pun kembali mendatangi si kepala sekolah.

Pada masa UN (2009 kebawah) sekolah itu di pacu untuk meluluskan sebanyak - banyak nya harus mencapai nilai 100% kelulusan dimana nilai ini sangat fantastis, ada masa dimana yg tidak lulus 100% (baru baru ini) tingkat sma di indonesia cuma 24 sekolah. Korea & jepang saja kalah semestinya. Dan kenapa ini dapat terjadi? Karena ada konstribusi dinas terkait dengan pertimbangan bagaimana mungkin pelajaran yg sama selama 3 tahun berturut - turut di putuskan dalam waktu 3 hari, dinas terkait tidak tega juga kemudian muncul ide kebohongan berjama'ah meskipun berat tetapi harus di lakukan kepala sekolah.

Pada akhirnya si kepala sekolah tidak dapat lagi mentolelir kebohongan yg terus dilakukan, si kepala sekolah pun mundur dari jabatan nya.




Hari ini 12:43
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.