Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Umat Islam Marah, 4 Patung Dirobohkan & Dibakar
Ribuan massa usai mengikuti Istighosah di Masjid Agung Purwakarta ramai-ramai mengerjakan aksi merobohkan sejumlah patung di Kota Purwakarta, Minggu (18/9). Sedikitnya empat patung wayang dirobohkan & dibakar oleh Massa gabungan sejumlah Ormas Islam, & pondok pesantren di sejumlah sudut kota Porwakarta, Minggu (18/9/2011). Aksi tersebut merupakan akumulasi kekesalan warga kepada Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yg selama ini membandel membangun patung, meskipun berkali-kali diingatkan.
Suasana Kota Purwakarta pun mencekam begitu massa secara tiba-tiba merobohkan patung-patung wayang di beberapa tempat & membakarnya.
Sasaran perdana mereka patung Gatot Kaca di Parapatan Comro. Dengan mengpakai tambang yg diikatkan ke bagian leher patung, massa beramai-ramai menariknya hingga roboh.
Informasi yg dihimpun, massa merobohkan patung perdana dilakukan di perempatan Comro. Massa spontan mengerek patung Gatotkaca mengpakai tambang sebelum ditarik kendaraan. Selanjutnya, mereka bergerak ke pertigaan Bunder & membidik patung Semar. Bukan cuma itu saja, massa berbalik arah menuju letak patung Bima di pertigaan Ciwareng. Terakhir, sasarannya patung Selamat Datang di mulut Jalan Gandanegara yg jadi pusat perkantoran Bupati Purwakarta.
Menurut Iman, seorang saksi mata, massa merobohkan patung-patung tersebut dengan cara ditarik dengan tambang kemudian dibetot kendaraan roda empat.
Setelah ambruk lalu disiram minyak bensin, langsung dibakar, katanya.
Seorang yg terlibat dalam aksi perobohan & pembakaran patung tersebut mengatakan aksi ini sebagai protes keras kepada kebijakan Bupati Dedi Mulyadi yg tetap membangun patung-patung wayang golek itu meski sudah diberikan peringatan keras beberapa kali oleh Tokoh mayarakat. Mereka menilai keberadaan patung tersebut tidak sesuai dengan bukti diri masyarakat Purwakarta yg religius..Kota Purwakarta sebagai kota santri tak pantas dijejali berhala. Ajaran Islam dengan tegas menyebutkan bahwa berhala merupakan simbol kemusyrikan karenanya harus dimusnahkan,kata salah seorang yg terlibat dalam aksi tersebut.
Massa tak cuma berasal dari Purwakarta. Ada pula yg berasal dari sejumlah kota seperti Bandung, Cikampek, Cianjur & Ciamis. Sedikitnya 300 anggota keamanan menjaga aksi tersebut, tetapi polisi kewalahan menghalau aksi massa.
Patung-patung yg sudah tersungkur ke tanah itu terlihat hangus. Sebab massa sempat membakarnya.
Sebelumnya, Forum Ulama Indonesia (FUI) Kab. Purwakarta memang sudah memberikan ultimatum Bupati Purwakarta untuk segera membongkar Patung Bima bernilai ratusan juta yg baru sebulan dibangun di Jalan Baru, Kel Nagri Kaler, Kec/Kab Purwakarta. Pembangunan Patung Bima dinilai tidak membawa manfaat bagi masyarakat Purwakarta.
FUI berpendapat pembangunan Patung Bima ditinjau dari tujuh aspek tidak membawa manfaat. Aspek ekonomi jadi pemborosan, aspek sejarah bukan pahlawan nasional/daerah, aspek sosial justru membawa umat ke alam jahiliyah, aspek budaya mengkultuskan tokoh khayalan, aspek agama mengarah ke kemusyrikan, aspek politik terjadi pemaksaan kepercayaan kepada tokoh tahayul secara sistemik & aspek hukum dapat meresahkan masyarakat. [KbrNet/slm]
Hari ini 06:47
Ribuan massa usai mengikuti Istighosah di Masjid Agung Purwakarta ramai-ramai mengerjakan aksi merobohkan sejumlah patung di Kota Purwakarta, Minggu (18/9). Sedikitnya empat patung wayang dirobohkan & dibakar oleh Massa gabungan sejumlah Ormas Islam, & pondok pesantren di sejumlah sudut kota Porwakarta, Minggu (18/9/2011). Aksi tersebut merupakan akumulasi kekesalan warga kepada Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yg selama ini membandel membangun patung, meskipun berkali-kali diingatkan.
Suasana Kota Purwakarta pun mencekam begitu massa secara tiba-tiba merobohkan patung-patung wayang di beberapa tempat & membakarnya.
Sasaran perdana mereka patung Gatot Kaca di Parapatan Comro. Dengan mengpakai tambang yg diikatkan ke bagian leher patung, massa beramai-ramai menariknya hingga roboh.
Informasi yg dihimpun, massa merobohkan patung perdana dilakukan di perempatan Comro. Massa spontan mengerek patung Gatotkaca mengpakai tambang sebelum ditarik kendaraan. Selanjutnya, mereka bergerak ke pertigaan Bunder & membidik patung Semar. Bukan cuma itu saja, massa berbalik arah menuju letak patung Bima di pertigaan Ciwareng. Terakhir, sasarannya patung Selamat Datang di mulut Jalan Gandanegara yg jadi pusat perkantoran Bupati Purwakarta.
Menurut Iman, seorang saksi mata, massa merobohkan patung-patung tersebut dengan cara ditarik dengan tambang kemudian dibetot kendaraan roda empat.
Setelah ambruk lalu disiram minyak bensin, langsung dibakar, katanya.
Seorang yg terlibat dalam aksi perobohan & pembakaran patung tersebut mengatakan aksi ini sebagai protes keras kepada kebijakan Bupati Dedi Mulyadi yg tetap membangun patung-patung wayang golek itu meski sudah diberikan peringatan keras beberapa kali oleh Tokoh mayarakat. Mereka menilai keberadaan patung tersebut tidak sesuai dengan bukti diri masyarakat Purwakarta yg religius..Kota Purwakarta sebagai kota santri tak pantas dijejali berhala. Ajaran Islam dengan tegas menyebutkan bahwa berhala merupakan simbol kemusyrikan karenanya harus dimusnahkan,kata salah seorang yg terlibat dalam aksi tersebut.
Massa tak cuma berasal dari Purwakarta. Ada pula yg berasal dari sejumlah kota seperti Bandung, Cikampek, Cianjur & Ciamis. Sedikitnya 300 anggota keamanan menjaga aksi tersebut, tetapi polisi kewalahan menghalau aksi massa.
Patung-patung yg sudah tersungkur ke tanah itu terlihat hangus. Sebab massa sempat membakarnya.
Sebelumnya, Forum Ulama Indonesia (FUI) Kab. Purwakarta memang sudah memberikan ultimatum Bupati Purwakarta untuk segera membongkar Patung Bima bernilai ratusan juta yg baru sebulan dibangun di Jalan Baru, Kel Nagri Kaler, Kec/Kab Purwakarta. Pembangunan Patung Bima dinilai tidak membawa manfaat bagi masyarakat Purwakarta.
FUI berpendapat pembangunan Patung Bima ditinjau dari tujuh aspek tidak membawa manfaat. Aspek ekonomi jadi pemborosan, aspek sejarah bukan pahlawan nasional/daerah, aspek sosial justru membawa umat ke alam jahiliyah, aspek budaya mengkultuskan tokoh khayalan, aspek agama mengarah ke kemusyrikan, aspek politik terjadi pemaksaan kepercayaan kepada tokoh tahayul secara sistemik & aspek hukum dapat meresahkan masyarakat. [KbrNet/slm]
Hari ini 06:47