• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

ULAS ISLAM! Sikap Toleransi Yang Diajarkan Para Ulama

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
ULAS ISLAM! Sikap Toleransi Yang Diajarkan Para Ulama
ULAS ISLAM! Sikap Toleransi Yang Diajarkan Para Ulama

Akhir-akhir ini umat Islam tengah di bombardir dengan perdebatan masalah Furu'iyah yg tidak ada ujung pangkalnya. Mereka saling mencaci, menyesatkan antar perseorangan atau golongan lantaran disparitas pendapat. Padahal berabad-abad yg lalu disparitas masalah pandangan hukum ini bukanlah hal yg langka. Namun, tahukah saudara seimanku bagaimana para orang berilmu ini menyikapinya?

Mereka tidak pernah saling tuduh, saling caci, atau saling menyesatkan. Yang tersesat saja mereka gandeng supaya kembali ke jalan yg benar, lalu mengapa dengan mudahnya menyesatkan sesuatu yg tidak di larang?

Sebut saja pada zaman Syaikh Hasyim Asy'ari dengan KH Maskumambang, di mana syekh Hasyim mengharamkan kentongan sebagai penanda waktu shalat. Apakah mereka bersilat lidah saling merendahkan? Tidak sama sekali. Justru saat Syaikh Hasyim berkunjung ke kediaman KH Faqih, beliau meminta para warga untuk menurunkan kentongan guna menghormati kunjungan kawan dakwahnya tersebut. Padahal sanad keilmuan dua ulama kharismatik ini hampir beberapa akbar sama, tetapi mereka memiliki disparitas pandangan dalam beberapa aspek.

Lalu ada lagi Sayid Muhammad Al Maliki, ulama mekkah yg berhasil meluluhkan raja Arab Saudi kala itu. Beliau yg bermahzab Maliki ketika berkunjung ke Indonesia saat jadi imam shalat subuh, beliau mengpakai qunut sebab tahu kalau mayoritas warga Indonesia bermazhab Syafii.

Guru saya & menantunya juga mengalami beberapa disparitas cara pandang padahal adalah santri Sayyid Muhammad Maliki. Di pesantren yg di asuh guru saya ini lebih mengedepankan pola ala nusantara, di mana mayoritas santri banyak yg memakai sarung juga santri putri yg tidak di wajibkan bercadar. Sementara di pesantren menantunya yg cuma berjarak beberapa meter saja, menerapkan pola yg sedikit berbeda. Santri putra di haruskan berjubah putih saat berjamaah juga santri putri yg harus bercadar kalau keluar area pesantren. Apakah keduanya berdebat? Tidak juga. Justru dua pesantren ini saling melengkapi. Santrinya juga tak ada yg saling ejek atau cemooh, apalagi bersikap fanatik. Sebab masing-masing memiliki dalil juga pendapat yg kuat.

Tak cukup rasanya menulis ratusan lembar pun untuk mengagumi kisah-kisah indah para ulama terdahulu kita. Agama Islam masuk ke nusantara dengan jalan damai, mengedepankan sikap tasamuh juga toleran. Tak etis rasanya kalau menodai perjuangan para ulama terdahulu ini dengan saling hujat. Susah payah mereka mengislamkan warga nusantara, maka janganlah dengan mudahnya anda menyesatkan apalagi mengkafirkan.

Jujur saya tidak tahu pasti bagaimana konflik para Ustadz yg sedang memanas saat ini. Karena saya memang jarang mendengarkan ceramah Ustadz dari Youtube atau pun TV. Bukan berarti saya tidak menyukai mereka cuma saja, saya lebih nyaman duduk dalam satu majelis bersama guru-guru saya. Mengkaji kitab-kitab klasik dengan santai tanpa adanya ujaran kebencian. Pendapatmu mungkin benar, tetapi bukan berarti pilihanku salah. Dan mari kita sama-sama memilih jalan dakwah kita masing-masing tanpa harus saling berdebat & menghujat.

-======-

Sumber :



Hari ini 01:10
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.