Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Kampus religius sering dianggap sebagai oase di tengah padang pasir sekularitas. Di sana, katanya, moralitas diajarkan bersamaan dengan ilmu pengetahuan. Di brosur penerimaan mahasiswa baru, semua itu terlihat rapi & menenangkan: ada kaligrafi, ada ornamen Islami, ada jargon tentang integrasi iman & ilmu. Tapi di balik itu semua, kampus seringkali bukan lagi laboratorium akademik, melainkan laboratorium absurditas. Jika di kampus sekuler orang sibuk berebut jabatan akademik, di kampus religius orang berebut citra kesucian, sambil diam-diam merawat jejaring kelam di bawah meja.
Di UIN Alauddin Makassar, absurditas ini mencapai titik kulminasinya ketika dua kasus akbar pecah hampir bersamaan: satu kasus sodomi yg menyeret pegawai kampus berinisial SS, & satu lagi kasus pemalsuan uang yg melibatkan kepala perpustakaan berinisial AI. Dua kasus ini, meskipun tampak berbeda di permukaan, sebenarnya adalah cerminan dari satu masalah yg sama: sistem kampus yg membiarkan penyimpangan berlangsung selama bertahun-tahun dengan cara pura-pura tidak tahu.
Mari kita mulai dengan lakon pertama: kasus sodomi. SS bukan dosen, bukan pula pejabat struktural, tetapi entah bagaimana ia memiliki kekuasaan sosial yg melebihi dosen tetap. Ia mengatur urusan administrasi, menolong perpanjangan KRS, memuluskan pengurusan SK, bahkanmenurut beberapa korbanmenjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk mendapatkan akses ke fasilitas kampus tertentu. Di balik jabatan non-strukturalnya, ia jadi semacam gatekeeper informal.
Inilah yg disebut oleh sosiolog Pierre Bourdieu sebagai modal sosial terselubung. Di kampus, kekuasaan tidak sering ditentukan oleh SK rektor atau jabatan di struktur organisasi. Ada kekuasaan lain yg bergerak di bawah radar, melalui rekanan informal, jaringan pertemanan, & praktik-praktik backstage yg tidak tercatat secara administratif. Dalam ruang-ruang itulah kekuasaan seperti milik SS bekerja: menawarkan bantuan dengan syarat yg tidak tertulis, seringkali dengan harga yg tidak kasat mata.
Modus operandinya klasik & kolonial: memanfaatkan kebutuhan orang-orang yg lebih lemah. Mahasiswa yg terdesak urusan administrasi, bingung mengurus beasiswa, takut di-DO karena KRS tak selesai, semua itu jadi target empuk. Mereka datang dengan asa dibantu, lalu masuk ke dalam perangkap rekanan kuasa yg bengkok. SS, menurut laporan polisi, mengpakai celah ini untuk memaksa beberapa mahasiswa mengerjakan hubungan seksual sesama jenis. Ada yg dipaksa, ada yg diancam, ada yg diiming-imingi. Kombinasi antara kekuasaan kecil & kebutuhan ekonomi menciptakan kondisi sempurna bagi kekerasan seksual terselubung.
Kita sering membayangkan kekerasan seksual sebagai peristiwa yg berlangsung di lorong gelap, tetapi kenyataannya dapat berlangsung di ruang administrasi, di ruang tunggu kampus, atau bahkan di depan meja fotokopi. Kekerasan ini tidak sering berbentuk paksaan fisik. Ia dapat muncul dalam bentuk bujuk rayu, tekanan psikologis, atau rekanan ketergantungan. Dalam istilah Michel Foucault, ini adalah bentuk kekuasaan yg tidak kasat mata tetapi sangat efektif, karena bekerja melalui tubuh & pikiran korban.
Lebih tragis lagi, kasus ini tidak muncul begitu saja. Ia bukan petir di siang bolong. Menurut beberapa sumber, praktik ini sudah berlangsung sejak 2016. Artinya, selama tujuh tahun lebih, ada aktivitas seksual menyimpang yg terjadi di lingkungan kampus dengan modus kekuasaan administratif. Pertanyaannya: kenapa selama itu dibiarkan? Kenapa baru sekarang terbongkar?
Jawabannya dapat macam-macam, tergantung dari mana kita memandang. Bisa jadi karena korban baru berani bicara. Bisa juga karena ada dorongan politik tertentu. Atau dapat jadi karena memang sudah waktunya pentas ini dibuka, sebagai bagian dari eksibisi yg lebih besar. Di dunia simulasi sosial, skandal seringkali bukan sekadar kebocoran informasi, melainkan bagian dari pentas yg sengaja dipersiapkan.
Baudrillard pernah mengatakan bahwa kita hidup di zaman simulakrum, di mana yg palsu lebih terang daripada yg nyata. Skandal jadi komoditas. Ia dikemas, dijual, dipertontonkan, lalu dilupakan. Ketika satu kasus muncul, publik dibuat heboh. Tapi di balik kehebohan itu, ada permainan lain yg lebih akbar yg sengaja disembunyikan oleh layar skandal.
Di saat publik masih sibuk membahas siapa pelaku sodomi, apakah benar ada rekaman video, apakah ada alat pelicin bermerk, tiba-tiba muncul lakon kedua: penangkapan kepala perpustakaan AI yg diduga mencetak uang palsu di lingkungan kampus. Ini bukan cerita fiksi. Polisi menemukan mesin cetak uang di ruang perpustakaan, lengkap dengan kertas & tinta khusus. AI diduga menjalankan bisnis uang palsu sejak 2010. Bayangkan: 15 tahun mencetak uang palsu di ruang yg semestinya jadi simbol peradaban intelektual.
Bagaimana mungkin mesin cetak uang dapat berdengung di perpustakaan selama belasan tahun tanpa diketahui siapa-siapa? Bukankah perpustakaan adalah ruang publik? Ada pegawai lain, ada dosen, ada mahasiswa yg bolak-balik. Apakah mereka tuli semua? Ataukah memang sudah masuk dalam ekosistem permisif, di mana semua orang pura-pura tidak tahu demi kenyamanan bersama?
Kasus uang palsu ini memperlihatkan satu hal yg lebih dalam: kampus sebagai ruang produksi bukan cuma ilmu, tetapi juga simulasi & kepalsuan. Di UIN Makassar, perpustakaan ternyata bukan cuma tempat meminjam buku, tetapi juga tempat memproduksi lembaran rupiah palsu. Di luar sana, masyarakat sibuk memperdebatkan halal-haram uang digital, e-money, & fintech syariah, sementara di dalam kampus uang palsu dicetak secara manual di belakang rak buku. Sungguh pemandangan yg tak tercantum di literatur fiqh mana pun.
Kedua kasus inisodomi & uang palsubukanlah dua kejadian yg berdiri sendiri. Mereka adalah dua paras dari satu koin yg sama: simulasi kampus religius yg rapuh. Di depan publik, kampus sibuk menampilkan citra kesucian. Ada parade dosen memakai sorban di seminar. Ada ceramah tentang akhlakul karimah setiap Jumat pagi. Ada jargon integrasi iman & ilmu di setiap spanduk. Tapi di belakang layar, ada praktik kekuasaan yg menyimpang, ada rekanan sosial yg korup, ada jaringan kekerasan seksual & pemalsuan uang yg berlangsung tanpa kontrol.
Inilah yg disebut oleh Slavoj iek sebagaicinisme sistemik. Semua orang tahu ada yg salah, tetapi semua orang memilih diam, karena sudah masuk dalam ekosistem kepentingan. Dosen tahu, tetapi tidak bicara. Pegawai tahu, tetapi pura-pura sibuk. Mahasiswa tahu, tetapi memilih menunduk. Diam jadi bagian dari protokol sosial. Semua pura-pura suci di siang hari, & pura-pura buta di malam hari.
Ketika dua kasus ini meledak di publik, pihak kampus seperti biasa mengeluarkan pernyataan klise: membentuk regu etik, timad hoc,dan regu verifikasi. Mereka berpura-pura terkejut, seakan-akan baru tahu hari ini. Padahal, dalam sistem birokrasi kampus, sulit membayangkan ada aktivitas selama tujuh tahun (apalagi lima belas tahun) tanpa diketahui atasan. Jika benar tidak tahu, berarti kampus ini sangat buruk dalam sistem pengawasannya. Jika tahu tetapi diam, berarti kampus ini sudah lama jadi organisasi semi-kriminal dengan topeng keagamaan.
Akar masalahnya bukan sekadar tindakan individu, tetapi struktur yg melanggengkan budaya permisif. Di kampus religius, ada kecenderungan untuk menyembunyikan skandal supaya citra kesucian tetap terjaga. Ini berbahaya, karena menciptakan kultur penyangkalan yg sistematis. Semakin suci citra yg dipamerkan, semakin banyak ruang gelap yg dibiarkan tumbuh di belakangnya.
Lucunya, publik cuma sibuk membahas aktor kecil di permukaan. SS & AI jadi kambing hitam yg sempurna. Padahal, mereka hanyalah bagian dari sistem yg lebih besar. Di belakang dua orang ini, ada jaringan birokrasi yg permisif, ada kultur organisasi yg anti-kritik, ada pola rekanan sosial yg membiarkan penyimpangan karena semua orang merasa punya dosa masing-masing.
Jika diteruskan, jangan-jangan beberapa tahun lagi UIN Alauddin akan membuka program studi baru: Magister Simulasi & Ilmu Kepalsuan Terapan. Mata kuliahnya dapat mencakup; Manajemen Simulasi Moral di Institusi Religius. Strategi Distraksi Berbasis Media Sosial. Estetika Kepalsuan & Etika Kemunafikan. Judul skripsinya mungkin seperti ini: Hegemoni Simulakrum dalam Institusi Pendidikan Islam: Studi Kasus UIN Alauddin Makassar.
Kita dapat tertawa membacanya, tetapi tawa itu getir. Karena yg kita saksikan bukan sekadar dua skandal, melainkan pentas akbar kepalsuan yg sudah lama dipelihara oleh sistem. Ini bukan soal SS atau AI, tetapi soal ekosistem yg membiarkan penyimpangan karena takut kehilangan kenyamanan sosial.
Jika publik cuma berhenti di level heboh, maka pentas ini akan terus berulang. Hari ini sodomi, besok uang palsu, lusa mungkin narkoba, esok lusa dapat korupsi beasiswa. Semua jadi bagian dari eksibisi yg rutin, seperti episode sinetron yg berganti setiap minggu.
Akhirnya, publik adalah penonton yg sibuk mengomentari adegan, tetapi lupa memeriksa siapa dalang di belakang layar. Selamat datang di UIN Wonderland, kampus semiotik, tempat realitas tak lagi penting, yg penting adalah bagaimana cerita dikemas.
Jika Anda merasa terganggu membaca ini, berarti Anda masih punya akal sehat. Jika tidak, mungkin Anda sudah lama jadi bagian dari simulakrum.
Di UIN Alauddin Makassar, absurditas ini mencapai titik kulminasinya ketika dua kasus akbar pecah hampir bersamaan: satu kasus sodomi yg menyeret pegawai kampus berinisial SS, & satu lagi kasus pemalsuan uang yg melibatkan kepala perpustakaan berinisial AI. Dua kasus ini, meskipun tampak berbeda di permukaan, sebenarnya adalah cerminan dari satu masalah yg sama: sistem kampus yg membiarkan penyimpangan berlangsung selama bertahun-tahun dengan cara pura-pura tidak tahu.
Mari kita mulai dengan lakon pertama: kasus sodomi. SS bukan dosen, bukan pula pejabat struktural, tetapi entah bagaimana ia memiliki kekuasaan sosial yg melebihi dosen tetap. Ia mengatur urusan administrasi, menolong perpanjangan KRS, memuluskan pengurusan SK, bahkanmenurut beberapa korbanmenjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk mendapatkan akses ke fasilitas kampus tertentu. Di balik jabatan non-strukturalnya, ia jadi semacam gatekeeper informal.
Inilah yg disebut oleh sosiolog Pierre Bourdieu sebagai modal sosial terselubung. Di kampus, kekuasaan tidak sering ditentukan oleh SK rektor atau jabatan di struktur organisasi. Ada kekuasaan lain yg bergerak di bawah radar, melalui rekanan informal, jaringan pertemanan, & praktik-praktik backstage yg tidak tercatat secara administratif. Dalam ruang-ruang itulah kekuasaan seperti milik SS bekerja: menawarkan bantuan dengan syarat yg tidak tertulis, seringkali dengan harga yg tidak kasat mata.
Modus operandinya klasik & kolonial: memanfaatkan kebutuhan orang-orang yg lebih lemah. Mahasiswa yg terdesak urusan administrasi, bingung mengurus beasiswa, takut di-DO karena KRS tak selesai, semua itu jadi target empuk. Mereka datang dengan asa dibantu, lalu masuk ke dalam perangkap rekanan kuasa yg bengkok. SS, menurut laporan polisi, mengpakai celah ini untuk memaksa beberapa mahasiswa mengerjakan hubungan seksual sesama jenis. Ada yg dipaksa, ada yg diancam, ada yg diiming-imingi. Kombinasi antara kekuasaan kecil & kebutuhan ekonomi menciptakan kondisi sempurna bagi kekerasan seksual terselubung.
Kita sering membayangkan kekerasan seksual sebagai peristiwa yg berlangsung di lorong gelap, tetapi kenyataannya dapat berlangsung di ruang administrasi, di ruang tunggu kampus, atau bahkan di depan meja fotokopi. Kekerasan ini tidak sering berbentuk paksaan fisik. Ia dapat muncul dalam bentuk bujuk rayu, tekanan psikologis, atau rekanan ketergantungan. Dalam istilah Michel Foucault, ini adalah bentuk kekuasaan yg tidak kasat mata tetapi sangat efektif, karena bekerja melalui tubuh & pikiran korban.
Lebih tragis lagi, kasus ini tidak muncul begitu saja. Ia bukan petir di siang bolong. Menurut beberapa sumber, praktik ini sudah berlangsung sejak 2016. Artinya, selama tujuh tahun lebih, ada aktivitas seksual menyimpang yg terjadi di lingkungan kampus dengan modus kekuasaan administratif. Pertanyaannya: kenapa selama itu dibiarkan? Kenapa baru sekarang terbongkar?
Jawabannya dapat macam-macam, tergantung dari mana kita memandang. Bisa jadi karena korban baru berani bicara. Bisa juga karena ada dorongan politik tertentu. Atau dapat jadi karena memang sudah waktunya pentas ini dibuka, sebagai bagian dari eksibisi yg lebih besar. Di dunia simulasi sosial, skandal seringkali bukan sekadar kebocoran informasi, melainkan bagian dari pentas yg sengaja dipersiapkan.
Baudrillard pernah mengatakan bahwa kita hidup di zaman simulakrum, di mana yg palsu lebih terang daripada yg nyata. Skandal jadi komoditas. Ia dikemas, dijual, dipertontonkan, lalu dilupakan. Ketika satu kasus muncul, publik dibuat heboh. Tapi di balik kehebohan itu, ada permainan lain yg lebih akbar yg sengaja disembunyikan oleh layar skandal.
Di saat publik masih sibuk membahas siapa pelaku sodomi, apakah benar ada rekaman video, apakah ada alat pelicin bermerk, tiba-tiba muncul lakon kedua: penangkapan kepala perpustakaan AI yg diduga mencetak uang palsu di lingkungan kampus. Ini bukan cerita fiksi. Polisi menemukan mesin cetak uang di ruang perpustakaan, lengkap dengan kertas & tinta khusus. AI diduga menjalankan bisnis uang palsu sejak 2010. Bayangkan: 15 tahun mencetak uang palsu di ruang yg semestinya jadi simbol peradaban intelektual.
Bagaimana mungkin mesin cetak uang dapat berdengung di perpustakaan selama belasan tahun tanpa diketahui siapa-siapa? Bukankah perpustakaan adalah ruang publik? Ada pegawai lain, ada dosen, ada mahasiswa yg bolak-balik. Apakah mereka tuli semua? Ataukah memang sudah masuk dalam ekosistem permisif, di mana semua orang pura-pura tidak tahu demi kenyamanan bersama?
Kasus uang palsu ini memperlihatkan satu hal yg lebih dalam: kampus sebagai ruang produksi bukan cuma ilmu, tetapi juga simulasi & kepalsuan. Di UIN Makassar, perpustakaan ternyata bukan cuma tempat meminjam buku, tetapi juga tempat memproduksi lembaran rupiah palsu. Di luar sana, masyarakat sibuk memperdebatkan halal-haram uang digital, e-money, & fintech syariah, sementara di dalam kampus uang palsu dicetak secara manual di belakang rak buku. Sungguh pemandangan yg tak tercantum di literatur fiqh mana pun.
Kedua kasus inisodomi & uang palsubukanlah dua kejadian yg berdiri sendiri. Mereka adalah dua paras dari satu koin yg sama: simulasi kampus religius yg rapuh. Di depan publik, kampus sibuk menampilkan citra kesucian. Ada parade dosen memakai sorban di seminar. Ada ceramah tentang akhlakul karimah setiap Jumat pagi. Ada jargon integrasi iman & ilmu di setiap spanduk. Tapi di belakang layar, ada praktik kekuasaan yg menyimpang, ada rekanan sosial yg korup, ada jaringan kekerasan seksual & pemalsuan uang yg berlangsung tanpa kontrol.
Inilah yg disebut oleh Slavoj iek sebagaicinisme sistemik. Semua orang tahu ada yg salah, tetapi semua orang memilih diam, karena sudah masuk dalam ekosistem kepentingan. Dosen tahu, tetapi tidak bicara. Pegawai tahu, tetapi pura-pura sibuk. Mahasiswa tahu, tetapi memilih menunduk. Diam jadi bagian dari protokol sosial. Semua pura-pura suci di siang hari, & pura-pura buta di malam hari.
Ketika dua kasus ini meledak di publik, pihak kampus seperti biasa mengeluarkan pernyataan klise: membentuk regu etik, timad hoc,dan regu verifikasi. Mereka berpura-pura terkejut, seakan-akan baru tahu hari ini. Padahal, dalam sistem birokrasi kampus, sulit membayangkan ada aktivitas selama tujuh tahun (apalagi lima belas tahun) tanpa diketahui atasan. Jika benar tidak tahu, berarti kampus ini sangat buruk dalam sistem pengawasannya. Jika tahu tetapi diam, berarti kampus ini sudah lama jadi organisasi semi-kriminal dengan topeng keagamaan.
Akar masalahnya bukan sekadar tindakan individu, tetapi struktur yg melanggengkan budaya permisif. Di kampus religius, ada kecenderungan untuk menyembunyikan skandal supaya citra kesucian tetap terjaga. Ini berbahaya, karena menciptakan kultur penyangkalan yg sistematis. Semakin suci citra yg dipamerkan, semakin banyak ruang gelap yg dibiarkan tumbuh di belakangnya.
Lucunya, publik cuma sibuk membahas aktor kecil di permukaan. SS & AI jadi kambing hitam yg sempurna. Padahal, mereka hanyalah bagian dari sistem yg lebih besar. Di belakang dua orang ini, ada jaringan birokrasi yg permisif, ada kultur organisasi yg anti-kritik, ada pola rekanan sosial yg membiarkan penyimpangan karena semua orang merasa punya dosa masing-masing.
Jika diteruskan, jangan-jangan beberapa tahun lagi UIN Alauddin akan membuka program studi baru: Magister Simulasi & Ilmu Kepalsuan Terapan. Mata kuliahnya dapat mencakup; Manajemen Simulasi Moral di Institusi Religius. Strategi Distraksi Berbasis Media Sosial. Estetika Kepalsuan & Etika Kemunafikan. Judul skripsinya mungkin seperti ini: Hegemoni Simulakrum dalam Institusi Pendidikan Islam: Studi Kasus UIN Alauddin Makassar.
Kita dapat tertawa membacanya, tetapi tawa itu getir. Karena yg kita saksikan bukan sekadar dua skandal, melainkan pentas akbar kepalsuan yg sudah lama dipelihara oleh sistem. Ini bukan soal SS atau AI, tetapi soal ekosistem yg membiarkan penyimpangan karena takut kehilangan kenyamanan sosial.
Jika publik cuma berhenti di level heboh, maka pentas ini akan terus berulang. Hari ini sodomi, besok uang palsu, lusa mungkin narkoba, esok lusa dapat korupsi beasiswa. Semua jadi bagian dari eksibisi yg rutin, seperti episode sinetron yg berganti setiap minggu.
Akhirnya, publik adalah penonton yg sibuk mengomentari adegan, tetapi lupa memeriksa siapa dalang di belakang layar. Selamat datang di UIN Wonderland, kampus semiotik, tempat realitas tak lagi penting, yg penting adalah bagaimana cerita dikemas.
Jika Anda merasa terganggu membaca ini, berarti Anda masih punya akal sehat. Jika tidak, mungkin Anda sudah lama jadi bagian dari simulakrum.