facebookeb
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 210735
- Sejak
- 9 Jan 2013
- Pesan
- 7.471
- Nilai reaksi
- 96
- Poin
- 48
Ketua tim pengembang Handheld Merapi Monitor, Prof. Ir. Sunarno mengatakan bahwa dengan handheld ini semua informasi perkembangan aktivitas Gunung Merapi dapat diketahui secara real time. Informasi mencakup aktivitas seismik, cuaca, suhu, kelembaban, curah hujan, serta informasi parameter bahaya lainnya.
“Dengan adanya informasi yang bersifat real time maka dapat meminimalisir jatuhnya korban jiwa jika terjadi bencana,” katanya, Jumat, 5 Oktober 2013
Pengembangan handheld, katanya, dibangun dalam sebuah stasiun di daerah Balerante, Klaten, Jawa Tengah, yang terdiri dari rangkaian sensor mulai dari sensor seismik, sensor parameter cuaca, dan sensor parameter gas beracun. Dari stasiun data yang ditangkap sensor selanjutnya dikirim ke pusat pemantau dengan transceiver dan modulatorfrequency-shift keying (FSK) .
“Jadi dari stasiun data digital yang diperoleh diubah dalam bentuk suara, frequency-shift keying yang kemudian ditangkap dengan HT. Lalu data yang telah ditangkap diubah menjadi bentuk digital kembali setelah diproses melaluidecoder handheld yang telah dihubungkan ke HT," katanya.
Sunarno menjelaskan bahwa dengan decoder handheld yang dihubungkan ke HT dengan frekuensi penerima UHF, masyarakat bisa memantau secara langsung kondisi terkini Gunung Merapi.
“Jadi masyarakat bisa siap siaga dengan kondisi bahaya bencana yang mungkin terjadi,” ujar Kepala Lab Sensor dan Sistem Terkontrol Jurusan Teknik Fisika UGM ini.
Melalui HT tersebut, informasi terkini tentang Merapi tak hanya bisa dimonitor di wilayah Yogyakarta saja, melainkan hingga kawasan Surakarta, Sragen, Wonogiri, Purworejo, dan Kebumen.
“Kalau memakai antena luar informasinya bisa dimonitor sampai Jawa Barat dan Jawa Timur. Masyarakat pun bisa langsung mengakses info terkini Merapi melalui internet,” katanya.
Sunarno menyebutkan, decoder handheld mampu mengirimkan data dengan energi listrik mandilu --menggunakan solar sel -- yang mampu bertahan hingga tiga hari. Dengan demikian sistem informasi tidak akan terputus meski jaringan listrik PLN mati.
“Saat ini kami juga tengah mengembangkan aplikasi telemonitoring berbasis Android,” kata Sunarno.