• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Tut Wuri Handayani di Era Kurikulum Merdeka

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Tut Wuri Handayani di Era Kurikulum Merdeka


Cangkeman.net -Dalam sebuah pelatihan kepemimpinan bertajukeducational administration and leadership (EDAL)yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya tempo hari, saya memaparkan beberapa inspirasi dari tokoh pendidikan nasional. Di antaranya adalahpatuladhandari Panembahan Senopati yg termuat dalam kitab Wedhatama pupuh sinom pada 15. Dan tentu saja tiga semboyan dari Soewardi Soerjaningrat yg termahsyur:ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, serta tut wuri handayani.

Kala itu ada seorang mahasiswa yg melayangkan pertanyaan kritis kepada saya: dari tiga slogan pendidikan Ki Hajar Dewantara, mengapa hanyaTut Wuri Handayaniyang dipakai sebagai slogan Departemen Pendidikan? Kenapa bukan yg lain? atau ketiga-tiganya sekaligus?

Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat cukup panjang untuk dijabarkan. Kita mulai saja dari makna filosofisnya.

Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, & Tut Wuri Handayani
Ki Hajar Dewantara meninggalkan warisan bagi dunia pendidikan Indonesia berupa tiga kalimat pitutur luhur. Kalimat pertama,ing ngarsa sung tuladhamengandung makna harfiah memberi contoh ketika berada di depan. Artinya seorang pendidik harus dapat memberi teladan yg baik bagi para siswa. Ia dituntut untuk tidak cuma pandai berucap, namun harus mempraktikkan terlebih dahulu apa yg ia ucapkan kepada siswanya. Terdengar seperti perilaku politisi Negara Nusacanda, kan?

Ing madya mangun karsaberarti memberisupportketika berada di tengah. Maknanya seorang guru harus dapat jadi pemain tim di antara peserta didiknya. Laiknya seorangteam player, Ia harus dapat merangsang anggota timnya untuk mengeluarkan segala potensi, alih-alih menonjolkan kemampuan pribadinya sendiri. Idealnya, seorang guru akan merasa bangga kalau para siswa dapat lebih pandai darinya.

Sedangkantut wuri handayaniberarti memberikan dorongan dari belakang. Praktiknya guru lebih berperan sebagai fasilitator ketimbang jadi sumber utama keilmuan. Dengan semboyan ini corak pembelajaran bukan lagi teacher centered, melainkan student centered. Pengejawantahan yg paling biasa dapat jadi berupapositive encouragementa.k.a. dorongan moral supaya siswa berani mengeksplorasi segala potensi dalam dirinya, tanpa terbebani perasaan takut salah.

Mengapa harusTut Wuri Handayani?
Kembali ke pertanyaan awal, mengapa harus tut wuri handayani, alih-alih mengpakai ketiga kalimat semboyan tersebut secara utuh?

Bagi saya, penetapan kalimat tut wuri handayani sebagai semboyan pendidikan Indonesia melalui Keputusan Menteri Pendidikan & Kebudayaan No 0398/M-1977 menunjukkan bahwa Prof. Dr. Syarif Thayeb memiliki visi yg jauh melampaui masanya.

Bagaimana tidak, di tahun 70an tersebut dunia pendidikan Indonesia belum sepenuhnya lepas dari pengaruh feodalisme warisan kraton & pemerintah kolonial Belanda. Pendidikan feodal di masa tersebut masih kental dengan aromaing ngarsa sung tuladhadi mana guru menjadicenter of universebagi siswa. Ia jadi sumber utama pengetahuan & keilmuan. Di tengah corak pendidikan yg seperti itu, Pak Syarif Thayeb seolah melawan arus dengan menetapkantut wuri handayanisebagai motto.

Meskipun pada praktiknya corak pembelajaran di sekolah-sekolah formal pasca Keputusan Menteri tersebut masih juga berkutat di kubangan feodalisme, namun paling tidak visi sudah dicanangkan. Sebut saja Kurikulum 1984 yg lebih populer dengan sebutan kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Kurikulum ini mendorong siswa supaya dapat mengikis dominasi guru dengan cara terlibat aktif dalam pembelajaran.

Kemudian ada kurikulum 2006 atau yg lebih diketahui dengan nama KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Di kurikulum ini guru diberi keleluasaan untuk menyusun kurikulum di tingkat satuan pendidikan (sekolah) secara mandilu. Harapannya supaya kurikulum yg dipakai dapat disesuaikan dengan keadaan & kondisi masing-masing sekolah. Namun pada praktiknya, baik kurikulum 1984 maupun 2006 belum sanggup mendobrak corak pembelajaran yg berpusat pada guru.

Gebrakan yg lebih terasa gaungnya adalah penggunaan Kurikulum 2013 (K-13). Dalam kurikulum dengan pembelajaran berbasis tema ini peran guru lambat laun mulai bergeser mendekati peran sebagai fasilitator. Penerapan K-13 khususnya dalam masa pandemi Covid-19 membuka peluang yg sangat lebar bagi siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Hal ini juga dimudahkan oleh keberadaan internet yg menyediakan sumber informasi & keilmuan yg melimpah ruah. Pada akhirnya guru tidak lagi jadi sumber utama pengetahuan.

Tut Wuri Handayani dalam Implementasi Kurikulum Merdeka
Masih dalam keadaan pandemi Covid-19, Mendikbudristek Nadiem Makariem meluncurkan Kurikulum Merdeka pada Februari 2022. Kurikulum ini dapat jadi semacam gong bagi kurikulum-kurikulum yg pernah dipakai sebelumnya. Ia menegaskan corak pendidikan nasional menuju ke arah yg lebihstudent centered.

Implementasi dari pembelajaran yg berpusat pada siswa tersebut dilakukan melalui pembelajaran berbasis projek. Mau tidak mau, para siswa akan didorong untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran berbasis projek. Para siswa harus jadi subyek yg mengalami (tidak sekedar mengetahui & memahami) pengetahuan. Di sini guru cuma akan mengarahkan, memberikan semacamroadmapdari suatu projek. Sedangkan eksekusinya sepenuhnya ada di tangan siswa.

Dalam cara belajar semacam itu menjadicetha wela-wela, terlihat jelas bahwa peran guru adalahtut wuri handayani,menyediakansupportdari belakang. Ibaratnya kita cuma perlu memasang baterai dalam sebuahremote control toys,kemudian biarkan ia berjalan sendiri dengan daya baterei tersebut. Dengan corak pembelajaran semacam ini saya menaruh asa yg sangat akbar supaya siswa dapat mengembangkan semua potensi dirinya, tidak cuma sekedar mengcopy gurunya.

Eventuallysaya berharap penerapan Kurikulum Merdeka ini kelak dapat melahirkan generasi yg memiliki kemampuan sesuai dengan jamannya. Terdengar seperti asa yg klise ya? Harapan khususnya sih, paling tidak 10 atau 15 tahun lagi kita dapat mempunya Kadiv Propam & Kadiv Humas yg lebih pintar & empatik, eh


Tulisan ini ditulis oleh Rois Pakne Sekar diCangkemanpada tanggal 6 November 2022.
Hari ini 17:02
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.