Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Merahputih.com - Sebelum berangkat saja sudah banyak minta buah tangan. Dari mulai keluarga inti, kerabat, teman kantor, pacar, hingga keluarga pacar bahkan sudah memberi semacam daftar keharapan oleh-oleh khas Yogyakarta. Mereka tahu destinasi liburan mendatang Kota Pelajar.
Kalau diperhatikan satu per satu, catatan permintaan mereka meliputi, bakpia kukus maupun bakpia orisinal, gudeg kering & basah, salak pondoh, yangko, tiwul, wedang uwuh, oseng-oseng mercon, jadah tempe, kain batik, wayang kulit kertas, & blankon, serta beberapa barang ikonik lainnya. Kalau dihitung-hitung, anggaran oleh-oleh saja dapat jadi jauh lebih mahal ketimbang tiket pesawat. Lagian kenapa enggak minta oleh-oleh seperangkat delman berikut pak kusir & kudanya, atau sekalian nitip segerombolan klitih.
Mau enggak dikabulkan rasanya enggak enak hati, apalagi keluarga pacar udah nitip, tetapi kalau semua pihak dituruti bukan saja anggaran babak belur melainkan pula dapat jual ginjal demi mengamini semua daftar permintaan oleh-oleh.
Memang bagi kebanyakan warga +62, membeli buah tangan jadi semacam keharusan ketika akan pulang liburan. Rasanya seperti ada keganjilan bila tak membawa oleh-oleh begitu hingga rumah. Mungkin kalau jumlahnya dalam kategori wajar boleh saja. Apalagi peruntukannya untuk dikonsumsi 'orang rumah'. Namun, sangat aneh kalau memberi oleh-oleh untuk banyak orang tetapi keluarga inti tidak kebagian sama sekali.
Lagi pula, apakah oleh-oleh jadi suatu kewajiban ketika seseorang liburan? Bisa jadi tidak. Semua bergantung pada orang tersebut. Ketika anggaran tidak memadai, buat apa memaksa membeli buah tangan. Nanti malah dapat beli oleh-oleh tetapi enggak dapat pulang karena enggak punya ongkos pulang.
Menurut data Jakpat Survey Report, wisatawan berusia 25-29 tahun memiliki kesiapan anggaran lebih stabil untuk membeli barang atau buah tangan saat sedang liburan karena belum mempunyai tanggungan dalam keuangan. Mereka juga memiliki perhitungan matang kepada siapa saja oleh-oleh tersebut pantas diberikan.
Sementara, wisatawan lebih muda, berusia 20-24 tahun cukup rendah karena kesiapan anggaran karena keuangannya masih belum stabil. "Cenderung untuk tidak membeli barang atau buah tangan saat sedang berlibur".
Memang tak dapat dipungkiri bagian beberapa orang, oleh-oleh jadi semacam tanda bukti orang tersebut sudah berkunjung ke sebuah letak wisata. Apalagi oleh-oleh di banyak tempat jadi salah satu penopang ekonomi daerah tujuan wisata.
Dari sisi ekonomi, komoditas oleh-oleh ikut berkontribusi bagi sektor pariwisata & perekonomian Indonesia. Pertumbuhan pariwisata Indonesia meningkat sebesar 7,2 persen ditahun 2015, melampaui pertumbuhan pariwisata dunia, sebesar 4,4 persen.
Di tahun 2017, pariwisata Indonesia kembali naik mencapai 22 persen, sedangkan rata-rata pertumbuhan wisatawan dunia sebesar 6,4 persen. Dan pada 2019, sektor pariwisata Indonesia mencatat pertumbuhan tertinggi, masuk peringkat ke-9 dunia, data versi The World Travel & Tourism Council (WTTC).
Dengan 34 provinsi di Indonesia & memiliki keberagaman citarasa oleh-oleh khas dari tiap daerah, komoditas masakan termasuk oleh-oleh dapat jadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, selain beragam destinasi menawarkan keindahan alam & lainnya.
Namun, bukan berarti hal tersebut jadi pemakluman pulang dari berlibur harus membawa buah tangan. Ingat, tidak semua orang harus dikabulkan permintaannya menyangkut oleh-oleh. Kamu perlu sadar diri melihat lebih seksama ketahanan keuanganmu.
Jangan hingga abis healing malah pusing akibat anggaran jebol demi membeli semua permintaan oleh-oleh buat orang lain. Jujur saja bilang kepada mereka kalau anggaran liburan terbatas. Bisa juga tak perlu bilang pada mereka ketika harap pergi liburan.
Sumber Hari ini 16:41