• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Tuk

roughtorer

IndoForum Senior A
No. Urut
44416
Sejak
24 Mei 2008
Pesan
6.755
Nilai reaksi
175
Poin
63
Pencerahan yang terjadi pada manusia-manusia unggul di muka bumi ini terjadi terus menerus, terus menerus dalam lingkaran yang silih berganti berputar. Pencerahan didapat saat tidak dicari. Dia datang saat usaha untuk mengenalinya hilang.

Selama masih ada keinginan untuk memiliki, baik itu kebijaksanaan atau pengetahuan, maka akan ada usaha untuk mengarah ke sana. Selama proses itu pula pembelajaran terjadi pada jiwa-jiwa miskin papah yang sangat merindukan manisnya madu pencerahan.

Keterikatan adalah belenggu. Dia adalah rahulla yang mengikat mencengkeram kuat seperti tangan tangan besi dari proses pencapaian pencerahan. Manusia terikat, manusia semakin terperosok pada keinginannya untuk memenangkan pendapat.

Ibaratkan seorang laki-laki jatuh ke lubang sumur yang dalam. Sebelum mencapai dasar, dia berhasil bergantungan pada akar-akar pohon tua yang sedikit memberikannya nafas untuk bertahan. Di bawah menunggu ribuan kalajengking dan kelabang dengan sungut sungut beracun. Sementara untuk naik ke atas dan menghiru kebebasan adalah teramat sulit.

pada saat itu, si laki-laki menyadari ada sebuah sarang lebah penuh madu manis yang menetes membangkitkan gairah. Dia menjilatinya. Semakin nikmat, teramat nikmat, dalam kondisi terjepit beban masalah dunia. Kadang dia lupa untuk tujuan kebahagiaan mencapai awan di atas. Sementara kadang dia juga tidak ingin memikirkan ribuan binatang beracun pembunuh yang sudah tak sabar untuk melahap tubuhnya.

Dan Sidarta Gautama gagal dalam usahanya mencari pencerahan. Setelah dia meninggalkan anak dan istrinya, kerajaannya. Dia masih gagal. Kemudian dia melakukan tapa brata maha keras selama beberapa tahun di hutan Uruwella. Dia masih gagal.

Hingga serombongan penari dan pemusik jalanan melintas dengan mendendangkan syair sederhana:

Kecapi yang senarnya terlalu kencang akan putus, dan tidak menghasilkan musik.
Kecapi yang senarnya terlalu kendor juga tidak bisa menghasilkan musik.

TUK

Hanya sekali. Sebuah pencerahan datang. Sebuah kesadaran baru. Bahwa ada perlunya sebuah pelepasan untuk menggapai kebijaksanaan. Sia-siakah pengorbanan? Meninggalkan anak istrinya untuk mencapai kesempurnaan?

Dan apa yang silakukan umatnya? Melakukan seperti yang diperbuat gurunya. Meninggalkan anak istri untuk mengejar, TUK?

Hidup justru menjadi ajaran utamanya, yang tidak disadari umatnya. Sebuah ironis, karena Sidartta justru melarang penerimaan Bhiksu/Bhiksuni apabila tidak da ijin/kerelaan dari orangtua/suami/istri/anak/saudara.

Itulah pelepasan. Bukan choki choki…
yang panjang dan lama…

Pelepasan. Penghilangan harapan. Bahwa sebuah usaha untuk mencapai pencerahan dilakukan tanpa mengharapkan pencerahan itu sendiri. Bahwa akhirnya egoisme harus hilang untuk mencapai pencerahan. Untuk mencapai TUK.

Dan terpujilah mereka yang sudah mewartakan tentang Tuhan. Sesuatu yang akan menjadi sangat asing, bila masih ada rasa egois untuk ngotot mengenalNya. Dan ternyata Dia bisa datang tanpa dicari. Dia ternyata sering datang setalah segala yang membelenggu dilepaskan.

Dan semoga dia juga kembali, setelah dia dilepaskan. Bukan untuk dicengkeram lagi, tapi dibiarkan lepas, bebas, karena hati tak bisa dibohongi. Karena rasa tak bisa diprogram.

Untuk apa bicara dengan emosi, bila bicara dengan cinta ternyata lebih menyenangkan, lebih nyaman, lebih lepas dan lebih indah?

Untuk apa mengharapkan TUK, bila ternyata dia datang justru pada saat usaha untuk menggapainya dilepaskan.

TUK hanyalah sebuah metafora. Sebuah umpama pd kondisi jiwa yang singkat. Seperti seberkas sinar terang yang datang tiba-tiba saat seluruh SUMUT mati lampu.

salam

Kevin Roughtorer Gildor Lubis
 
Saya tidak mengerti maksud dari Thread ini...
Tolong TS jelaskan...
 
Saya tidak mengerti maksud dari Thread ini...
Tolong TS jelaskan...

(Dlm tradisi Tantrayana ada istilah kontak batin.mgkn ini jarang disebut dlm Mahayana,Theravada)

Pd sebuah forum diskusi langsung pd suatu kebaktian, ada siswa yg bertanya pd si maha biksu. Siswa ini tengah berlatih untuk mencapai kontak batin dgn bodhisattva yg dipujanya, krn sudah sekian lama dia tidak jg mendapatkannya, untuk itulah dia menanyakannya pd si maha biksu penyebabnya. Krn jawaban sibiksu jg tetap tdk membuatnya mengerti. akhirnya sisiswa itu tetap menjalani rutinitasnya latihannya tsb tanpa mengharapkan apa-apa lg. Malam harinya dia bermimpi bertemu dgn bodhisattva yg mengabarinya bahwa,panggilannya dijawab.

Intinya sang siswa tsb baru mendapatkannya disaat ia sudah melepaskan keinginan untuk mendapatkannya.

Kemudian siswa itu bertanya kembali pd sibiksu, biksu itu menjawab dgn bahasa sederhana: niat keras untuk mendapatkan pencerahan adalah ego. dengan ada ego mana bisa pencerahan datang.semakin ngotot dicari semakin tidak ketemu.longgarkan lalu biarkan berlalu anda akan menemukannya.
---


ada jg org yg bilang seseorang mendapat pencerahan begitu ia melihat baling-baling kipas angin yg dimatikan. ia melihat baling2 tsb mulanya berputar kencang, baling2 berputar perlahan hingga akhirnya baling2 berhenti total. pd saat berhenti,tak ada lagi yg terjadi.semua berhenti.kemudian org itu mencapai pencerahan. ia menilai mesin panas akibat bergerak,dan ia tak akan panas bila ia tak bergerak.sama spt ego manusia.

Tuk yg dimiliki Budha adalah Tuk yg maha sempurna. sedang kita untuk mendapat satu Tuk aja belum tentu sanggup)..
jd pengertian Tuk diatas ditulis sbg analogi pencerahan seketika.

pencerahan seketika menurut Master Sheng Yen:

saya pernah baca buku karya Chang Sheng Yen yg merupakan guru zen terkenal di Amrik.(Jetli sk belajar meditasi ama dia,prnh liat fotonya :P).
Kembali ketopik, yg membedakan pencerahan/tuk para budha dgn Tuk org awam adalah: Tuk para budha adalh Tuk yg maha sempurna. Sedang Tuk org awam adalah Tuk yg datang dan berlalu dengan cepat. namun itu adalah maha pengetahuan yg ada didunia ini! bahkan profesor sekalipun yg kebanyakan mikir ini ono blm tentu mendapatkannya.

sheng yen menyebut manusia ibarat berada pd ruang yg sangat gelap skali dimana tiba2 Tuk ini adalah kilatan petir yg sangat terang menyambar shg terlihatlah semuanya. namun setelah itu ia akan kembali gelap spt semula.
itulah pencerahan seketika org awam. tp biar cm liat sekilas, ia akan mencari kilatan itu lg,maka itulah disebut org yg pernah mengalami pencerahan seketika, ia tak akan mundur dr jalan kebudhaan..
----
kl saya menyebut dgn bahasa awam, pencerahan seketika adalah pengertian plg dalam yg datang scr tiba2 dr pikiran kita. Dia datang dgn menyentuk hati dan pikiran kita.seolah2 kita mengerti sesuatu secara sangat mendadak tanpa disengaja.bahkan mulut kitapun tak akan sempat berkomentar pd saat ia datang.

Begitukah Roughtorer? kl salah mohon dikoreksi atau ditambahi,krn saya masih adik kecil..:P mungkin saja tread anda disini bs membawa pencerahan bagi sesama.:)
trims
 
Itulah yang sebenarnya dilemparkan ke forum.

Pelepasan. Mengapa harus ada maksud? Karena kita kebiasaan di forum kan saling berargumen. Sodoran seperti ini, membingungkan? hehehehe

Jangan bingung, anggap saja artikel.
 
Hanya sekali. Sebuah pencerahan datang. Sebuah kesadaran baru. Bahwa ada perlunya sebuah pelepasan untuk menggapai kebijaksanaan. Sia-siakah pengorbanan? Meninggalkan anak istrinya untuk mencapai kesempurnaan?

Dan apa yang silakukan umatnya? Melakukan seperti yang diperbuat gurunya. Meninggalkan anak istri untuk mengejar, TUK?

Sumpah Teratai (Pemuda Megha dan Seorang Gadis)

--------------------------------------------------------------------------------

Dikutip dari buku Jalur Tua Awan Putih (Jilid 2), Bab 36 hal 66, karya Y.A.Thicht Nhat Hanh.


Putri Yasodhara mengundang Buddha, Kaludayi, Nagasamala dan ibu ratu untuk makan bersama di istananya. Setelah mereka selesai makan, dia lalu mengundang mereka untuk menemaninya pergi ke sebuah desa kecil miskin tempat ia bekerja dengan anak anak. Rahula juga bergabung dengan mereka. Yasodhara memandu mereka menuju pohon jambu air tua tempat Buddha mengalami meditasi pertama-Nya ketika masih kecil. Bhagava heran betapa kejadian itu serasa baru terjadi kemarin padahal dua puluh tujuh tahun sudah berlalu. Pohon itu tumbuh jauh lebih besar selama sekian puluh tahun.

Atas permintaan Yasodhara, banyak anak miskin berkumpul di sekitar pohon itu. Yasodhara memberitahukan Bhagava bahwa anak anak yang pernah dijumpai Beliau puluhantahun silam sekarang sudah pada menikah dan punya keluarga masing-masing. Anak anak yang ada dibawah pohon berusia antara tujuh hingga dua belas tahun. Ketika melihat Buddha tiba mereka berhenti bermain lalu membentuk dua baris untuk Beliau berjalan ditengahnya. Sebelumnya Yasodhara sudah menunjukkan mereka cara menyalami Bhagava. Mereka menaruh sebuah kursi bambu khusus di bawah pohon untuk Bhagava dan menghamparkan tikar untuk alas duduk Ratu Gotami, YAsodhara, dan dua orang bhikkhu itu.

Buddha merasa bahagia duduk di sana. Beliau mengenang kembali hari hari yang pernah dilalui-Nya bersama anak anak miskin desa Uruvela. Beliau menceritakan kepada anak anak itu tentang Svasti, si gembala kerbau dan Sujata, gadis remaja yang memberi-Nya susu segar. Beliau membabarkan tentang menumbuhkembangkan hati yang penuh cinta kasih dengan cara memperdalam pengertian. Selain itu, Beliau juga menuturkan kepada mereka kisah tentang menyelamatkan seekor angsa dari sepupu laki laki-Nya yang memanah jatuh angsa itu. Anak anak mendengarkan semua uraian Bhagava dengan penuh ketertarikan.

Buddha mengisyaratkan RAhula untuk duduk dihadapan-Nya. Lalu beliau menceritakan anak anak itu sebuah kisah kehidupan lampau.

"Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda bernama Megha di kaki pegunungan himalaya. Dia adalah pemuda yang baik dan rajin. Kendati tak punya uang, dengan penuh keyakinan pergilah dia ke ibukota untuk belajar. Dia hanya berbekal sebatang tongkat untuk berjalan, sebuah topi, sekendi air, pakaian yang dikenakannya, serta sebuah mantel. Sepanjang perjalanan, ia berhenti dan bekerja di ladang untuk mendapatkan nasi dan terkadang uang. Sewaktu tiba di ibukota Divapati, dia sudah mengumpulkan uang setara lima ratus rupee."

"Ketika dia memasuki kota, tampaknya penduduk sedang mempersiapkan suatu perayaan penting. Ingin tahu perayaan apa, ia pun melihat ke sekeliling guna mencari orang untuk ditanyai. Pada saat itu, melintaslah seorang gadis cantik di hadapannya. Gadis itu sedang memegang sebuah karangan bunga teratai yang setengah mekar."

Megha bertanya kepadanya, "Numpang tanya dik, ada perayaan apakah hari ini?"

GAdis itu menjawab, "Engkau pasti orang asing di Divapati, kalau bukan, engkau pasti tahu hari ini Guru yang tercerahkan, Dipankara sudah datang. Beliau dikatakan bagaikan sebuah obor yang menerangi jalan bagi semua makhluk. Beliau adalah putra Raja Arcimat yang berkelana mencari Jalan Sejati dan telah menemukan-Nya. Jalan beliau menerangi seantero dunia sehingga masyarakat menyelenggarakan perayaan ini untuk menghormati beliau."

Megha sangat gembira mendengar kehadiran seorang Guru yang telah Tercerahkan. Ingin sekali ia mempersembahkan sesuatu untuk Guru itu dan memohon menjadi murid-Nya. Bertanyalah ia kepada gadis itu, "Seharga berapakah engkau beli bunga bunga teratai itu ?"

GAdis itu menatap Megha dan dengan mudah dapat melihat bahwa ia adalah seorang pemuda yang cerdas yang penuh perhatian. Gadis itu menjawab, "Aku hanya membeli lima tangkai itu saja. Dua tangkainya lagi aku petik dari kolam di rumahku sendiri."

Megha bertanya, "Berapa uang yang engkau keluarkan untuk lima tangkai itu ?"

"Lima ratus rupee."

Megha meminta untuk membeli lima tangkai teratai dengan lima ratus rupeenya untuk dipersembahkan ke Guru Dipankara. Tapi gadis itu menolak dengan berkata, "Aku membeli bunga untuk dipersembahkan kepada Beliau. Aku tidak bermaksud untuk menjualnya kepada orang lain."

Megha mencoba membujuknya. "Tetapi engkau kan masih bisa mempersembahkan dua tangkai yang engkau petik dari kolammu sendiri. Mohon ijinkanlah aku membeli lima tangkai. Aku ingin mempersembahkan sesuatu untuk Guru. Sungguh satu kesempatan langka yang sangat berharga dapat menjumpai Guru sekaliber itu dalam kehidupan ini juga.Aku ingin menemui Beliau dan bahkan memohon untuk menjadi murid-Nya. Jika engkau mengijinkan aku membeli lima tangkai terataimu itu, aku akan sangat berterima kasih kepadamu untuk seluruh sisa hidupku."

Gadis itu menatap ke tanah dan tidak menjawab.
 
Megha membujuknya. "Jika engkau mengijinkan aku untuk membeli lima tangkai teratai itu, aku akan melakukan apa saja yang kau pinta."

GAdis itu tampak tersipu sipu malu. Lama dia tidak mengangkat pandangannya dari tanah. Akhirnya ia pun berkata, "Aku tidak tahu jodoh apa yang terjalin di antara kita dikehidupan lampau. Yang jelas, aku jelas jatuh cinta kepadamu pada pandangan pertama. Kujumpai banyak pemuda namun belum pernah hatiku bergetar seperti ini. Akan kuberikan teratai teratai ini kepadamu untuk dipersembahkan kepada Yang Tercerahkan, tapi hanya jika engkau berjanji kepadaku bahwa di dalam kehidupan ini dan kehidupan kehidupan kita selanjutnya, aku akan menjadi istrimu."

Dia mengucapkan kata kata tersebut dengan tergesa gesa sehingga setelah selesai hampir saja ia kehabisan nafas. Megha tak tahu apa yang harus dikatakannya. Setelah hening sejenak dia pun berkata, "Engkau sangat istimewa dan jujur sekali. Waktu melihatmu, aku pun merasakan sesuatu yang khusus dalam hatiku. Tapi aku mencari jalan menuju pembebasan. Jika menikah, tak akan bebas kutelusuri jalur itu saat kesempatan yang tepat menampakkan diri."

GAdis itu menjawab, "Berjanjilah bahwa aku akan menjadi istrimu dan aku bersumpah ketika tiba waktunya bagi dirimu untuk mencari jalurmu, aku tak akan mencegahmu pergi. Sebaliknya, aku akan melakukan segala yang kumampu untuk membantumu sepenuhnya mencapai pencerahanmu."

Dengan bahagia Megha menerima usulannya dan bersama berangkatlah mereka mencari Guru Dipankara. Massa begitu padat sehingga mereka hampir tidak dapat melihat Beliau di depan sana. Walaupun hanya dapat memandang wajah Beliau sekilas saja, tapi sudah cukup bagi Megha untuk mengetahui bahwa Beliau benar benar adalah Yang Tercerahkan. Megha merasakan kegembiraan yang luar biasa dan bersumpah bahwa suatu hari dirinya pun akan mencapai pencerahan tersebut. Ingin sedekat mungkin ia menghampiri agar dapat mempersembahkan Guru Dipankara bunga teratai, tapi mustahil baginya untuk bergerak maju melalui lautan manusia. Tak tahu apa yang harus dilakukan, ia pun melemparkan bunga bunga itu ke arah Guru Dipankara. Secara ajaib sekali teratai-teratai itu mendarat tepat di tangan sang Guru. Megha begitu gembira melihat betapa ketulusan hatinya terbukti. Gadis itu meminta Megha untuk melemparkan bunganya ke arah sang Guru. Gua tangkai teratai itu juga mendarat di tangan sang Guru. Guru Dipankara berseru, meminta pihak yang mempersembahkan bunga teratai untuk menampakan diri. Massa membelah diri memberikan jalan untuk Megha dan gadis itu. Megha menggandeng tangan sang gadis. Bersama mereka membungkuk hormat di hadapan Guru Dipankara. Sang Guru menatap Megha lalu berkata, "Aku memahami ketulusan hatimu, dapat kulihat engkau memiliki keteguhan hati yang besar untuk menelusuri jalur spiritual guna mencapai penerangan sempurna dan menyelamatkan semua makhluk. Berbahagialah, Suatu hari dalam kehidupan mendatang, engkau akan mencapai sumpahmu."

Setelah itu Guru Dipankara memandang gadis itu yang sedang berlutut di sisi Megha dan berkata kepadanya, "Engkau akan menjadi sahabat terdekat Megha dalam kehidupan ini maupun banyak kehidupan mendatang.Ingatlah untuk menepati janjimu. Engkau akan membantu suamimu merealisasikan sumpahnya."

MEgha dan gadis itu tersentuh mendalam sekali oleh kata kata Sang Guru. Mereka membaktikan diri untuk mempelajari jalur menuju pembebasan yang diajarkan oleh Yang Tercerahkan, Dipankara.

"Anak anak, dalam kehidupan ini dan banyak kehidupan selanjutnya. Megha dan gadis itu hidup sebagai suami istri. Sewaktu sang suami harus pergi guna menelusuri jalur spiritualnya, si istri membantunya dalam segala cara yang ia mampu. Tak pernah ia mencoba mencegahnya. Oleh sebab itu, dia merasakan syukur yang paling dalam kepada istrinya. Akhirnya, berhasillah ia merealisasikan sumpahnya dan menjadi manusia yang mencapai penerangan sempurna, seperti yang diramalkan Guru Dipankara di banyak kehidupan sebelumnya."

"Anak anak, uang dan kemasyhuran bukanlah yang terpenting dalam kehidupan. Uang dan kemasyhuran bisa hilang cepat sekali. Pengertian dan cinta kasih adalah hal yang terpenting dalam kehidupan. Jika kalian memiliki pengertian dan cinta kasih, kalian akan tahu kebahagiaan. Berkat pengertian dan cinta kasih masing-masing, Megha dan istrinya saling berbagi kebahagiaan di banyak kehidupan. Dengan pengertian dan kasih sayang, tiada yang tak bisa kalian selesaikan."

Yasodhara beranjali dan membungkuk hormat kepada Bhagava. Dia begitu tersentuh hingga menitikkan air mata. Ia tahu meskipun Bhagava menuturkan kisah itu kepada anak anak, tetapi sesungguhnya kisah itu secara khusus ditujukan kepada dirinya. Itu adalah cara Beliau menghaturkan terima kasih kepada dirinya. Ratu Gotami menatap Yasodhara. Dia pun paham mengapa Bhagava menceritakan kembali kisah ini. Dia lalu meletakkan tangannya ke atas pundak menantunya dan berkata kepada anak-anak, "Tahukah kalian siapa Megha dalam kehidupan ini? Beliau adalah Buddha. Dalam kehidupan kali ini. Beliau menjadi orang yang mencapai penerangan sempurna. Dan tahukah kalian siapa istri Megha dalam kehidupan kali ini ? Dia tak lain tak bukan adalah Putri Yasodhara kalian. Berkat pengertiannya, Pangeran Siddharta bisa menelusuri jalurnya dan mencapai kebangkitan. Sudah sepantasnya kita menghaturkan terima kasih kepada Yasodhara.

Lama sudah anak anak mengasihi Yasodhara. Sekarang mereka berpaling ke arahnya lalu membungkuk hormat kepadanya untuk menyatakan seluruh kasih yang ada di dalam lubuk hati mereka. Buddha tersentuh secara mendalam. Setelah itu, Beliau bangkit berdiri dan dengan perlahan berjalan kembali ke vihara diikuti bhikkhu Kaludayi dan Nagasamala
 
Yasodhara beranjali dan membungkuk hormat kepada Bhagava. Dia begitu tersentuh hingga menitikkan air mata. Ia tahu meskipun Bhagava menuturkan kisah itu kepada anak anak, tetapi sesungguhnya kisah itu secara khusus ditujukan kepada dirinya. Itu adalah cara Beliau menghaturkan terima kasih kepada dirinya. Ratu Gotami menatap Yasodhara. Dia pun paham mengapa Bhagava menceritakan kembali kisah ini. Dia lalu meletakkan tangannya ke atas pundak menantunya dan berkata kepada anak-anak, "Tahukah kalian siapa Megha dalam kehidupan ini? Beliau adalah Buddha. Dalam kehidupan kali ini. Beliau menjadi orang yang mencapai penerangan sempurna. Dan tahukah kalian siapa istri Megha dalam kehidupan kali ini ? Dia tak lain tak bukan adalah Putri Yasodhara kalian. Berkat pengertiannya, Pangeran Siddharta bisa menelusuri jalurnya dan mencapai kebangkitan. Sudah sepantasnya kita menghaturkan terima kasih kepada Yasodhara.

Lama sudah anak anak mengasihi Yasodhara. Sekarang mereka berpaling ke arahnya lalu membungkuk hormat kepadanya untuk menyatakan seluruh kasih yang ada di dalam lubuk hati mereka. Buddha tersentuh secara mendalam. Setelah itu, Beliau bangkit berdiri dan dengan perlahan berjalan kembali ke vihara diikuti bhikkhu Kaludayi dan Nagasamala

Nah, adan sudah mulai mengerti maksudku. Kesadaran datang pelan-pelan sebagai sebuah reaksi. Tentu saja jangan dianggap kesadaran yang aku maksud dengan 'pencerahan' seperti di kitab-kitab yah.... Kadang-kadang memang terlalu banyak sudut pandang yang bisa diambil dari menilai sesuatu. Adakah sudut pandang yang hakiki? Ada, kalau kita mau berusaha melihat dari semua sudut pandang yang ada. Ada, bila kita tidak berusaha untuk mencari sudut pandang yang paling benar, justru saat itu terkadang muncul sudut pandang yang 'pas' bener dengan pengertian kita.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.