Menteri yang satu ini memang banyak membuat berita. Ada banyak berita positif. Gebrak sana gebrak sini. Perubahan ke arah yang lebih pun banyak dirasakan, walaupun penting juga ditelaah dengan cermat, karena jangan-jangan seperti pada kasus PLN yang konon kabarnya – menurut beliau sendiri sih – negara harus nombok seratus triliun hanya agar citra PLN dan tentu saja citra beliau sendiri juga menjadi baik dan bahkan hebat. Pasokan listrik lancar, tetapi kalau untuk ini seratus triliun harus dikucurkan oleh negara, lho kan tidak perlu dia yang jadi dirut PLN. Angkat saja orang biasa di PLN dan beri kebebasan menggunakan danang tambahan seratus triliun, pasti beres tuh PLN. Maksud dia diangkat kan supaya anggaran dihemat tetapi pasokan listrik lancar karena semua perilaku koruptif selama ini dapat diminimalisir. Tetapi mungkin karena kepala negara terkesan pada keberhasilan ‘semu’ ini, sang dirut pun diangkat menjadi menteri.
Setelah menjadi menteri, gebrakan demi gebrakan, berita demi berita, terus dibuat. Simpati mengalir dari segala penjuru. Ide mencalonkan beliaunya menjadi capres juga terus menguat dan terdengar di mana-mana. Tetapi lagi-lagi riak yang tidak perlu disulapnya sehingga menjadi gelombang. Nah ketika gelombang mulai menerjang balik dirinya, dengan cerdik ‘si kancil’ ini menghindar. Contohnya ketika nama para pemeras BUMN dilansir ke media. Ada banyak. Belasan katanya. Kemudian menjadi beberapa. Tetapi karena tidak ada bukti kerasnya, riak dan gelombang ini sepertinya berlalu begitu saja. Dia pun berhenti membicarakan ini, padahal kasus ini jauh dari selesai.
Selesai mengubah riak menjadi gelombang yang pertama, gaya mengubah riak menjadi gelombang yang kedua segera dibuatnya. Mobil listrik. Tujuannya menghemat BBM – berarti menghemat uang – plus menjaga lingkungan tetap bersih dan nyaman. Sekilas gebrakan ini memang luar biasa tetapi manakala orang mendengar bahwa harga mobil listrik yang digadang-gadang tidak kurang dari seribu lima ratus juta, mulai kening banyak orang berkerut. Nggak salah nih menteri? Bagaimana bisa mobil dengan harga seribu lima ratus juta akan mempunyai dampak signifikan pada usaha menghemat BBM dan membuat lingkungan tetap ‘green’? Entah apa yang ada dalam pikiran menteri yang satu ini tetapi jika memang benar ini yang diharapkan, yah … betapa naïf dan ‘bodohnya’ orang yang satu ini. Memangnya mobil bergaya ‘ferrari’ ini akan menggantikan taksi di banyak kota? Yah …
Negara maju di Eropa dengan teknologi dan riset puluhan tahun en toh masih tetap memproduksi mobil bermesin konvensional dengan teknologi ICE – Internal Combustion Engine – yang menggunakan mesin BBM. Memangnya mereka itu bodoh semua sehingga mobil listrik yang jelas jauh lebih hemat dan lebih ramah lingkungan tidak diproduksi besar-besaran? Pasti ada kendala yang belum dapat diatasi. Nah kalau negara dengan tradisi riset dasar puluhan tahun masih harus terhenti langkahnya karena sejumlah kendala yang belum dapat diatasi, lalu bagaimana bisa Indonesia yang boleh dikatakan sama sekali tidak mempunyai tradisi riset ilmu-ilmu dasar yang kuat, tiba-tiba saja berdiri tegak, membusungkan dada, mendongakkan kepala dan berkata membahana mobil listrik akan segera menjadi raja di jalan-jalan nusantara? Yah …
Tetapi ‘kancil’ yang satu ini tampaknya akan terselamatkan lagi. Riak yang sekarang mungkin berubah menjadi gelombang, akan segera reda dengan sendirinya seiring dengan hancurnya mobil perdana berharga seribu lima ratus juta karena remnya blong. Ha … ha … ha … benar-benar ‘blessing In disguise’ bagi si kancil. Yah …
Publik tentu masih akan disuguhi drama lanjutan. Apa itu? Tunggu saja tanggal mainnya. Bagaimana orang yang hanya lulus SMA dan hanya sempat menjadi mahasiswa ini akan menghipnotis Indonesia dengan langkah dan gebrakannya. Untuk membuat gebrakan orang memang tidak perlu lulus sarjana atau pascasarjana. Pengalaman sebagai wartawan dan ‘taipan’ surat kabar sudah cukup. Apalagi jika diingat ada sangat banyak lembaga pendidikan tinggi melacurkan nilai-nilai akademis sampai ke titik nadirnya. Yah …
http://forum.kompas.com/nasional/227932-ferrari-kok-tidak-tahu-diri.html#post1193576