yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
BANYAK orang Eropa yang ingin memiliki kulit gelap seperti orang Asia. Salah satu cara yang mereka lakukan dengan tanning.
Tak hanya menggelapkan gulit, tanning ternyata diketahui sebagai salah satu cara agar tubuh menjadi seksi. Benarkah?
Sebuah studi baru ditemukan bahwa tanning telah dikaitkan dengan kanker kulit pada studi sebelumnya. Tapi, di balik itu semua, tanning dapat membuat wanita terlihat seksi, seperti dikutip Mid Day.
Para peneliti di Emory University menemukan bahwa foto-foto wanita dengan kulit yang di-tanning membuat mereka tampil dengan daya tarik yang meningkat. Mereka menggunakan website untuk mengukur apakah nilai keseksian akan berubah ketika seorang wanita mengubah kulitnya menjadi cokelat.
Setelah mencoba mengubah warna kulitnya yang putih menjadi lebih cokelat, dengan teknik photoshop, hasilnya sangat mengejutkan. Percobaan itu dilakukan pada 45 foto wanita berusia 21 tahun sampai 35 tahun. Para peneliti menemukan bahwa versi lebih gelap yaitu dua kali lebih mungkin untuk dinilai sebagai wanita yang lebih menarik.
Sementara itu, kampanye oleh organisasi kesehatan seperti American Academy of Dermatology memperingatkan masyarakat tentang risiko kanker kulit mengenai tanning yang mereka lakukan.
"Orang berpikir, jika mereka memiliki kulit kecokelatan akan menjadi lebih menarik dan sehat dilihat. Tapi, ini memiliki kesulitan tersendiri melihat diri mereka berbondong-bondong untuk menggelapkan kulit di mana mereka harus berurusan dengan risiko setelahnya," kata dermatolog Dr. Audrey Kunin.
Sejumlah penelitian telah menghubungkan overexposure sinar UV dengan kanker kulit, terutama melalui penggunaan tanning bed. "Semua pasien muda saya, anak perempuan berusia awal 20-an, telah melakukan penggelapan kulit dengan menggunakan tanning bed," kata Kunin.
Orang-orang menghabiskan 20 menit di tanning bed sama dengan satu hari di pantai tanpa sun block. “Tetapi, sampai mereka memiliki risiko kanker kulit yang besar, sulit untuk meyakinkan mereka tentang risiko tersebut,” tutupnya.