• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

TTST (Tentang Tidak Selalu Tersedia)

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Ada masa ketika saya mengira jadi orang yg baik berarti sering ada. Membalas pesan secepat mungkin, mengiyakan ajakan, menyesuaikan jadwal, & berusaha tidak mengecewakan siapa pun. Rasanya wajar. Bahkan terasa benar.

Namun, pelan-pelan saya mulai menyadari ada sesuatu yg ganjil. Semakin sering saya tersedia, semakin ringan pula kehadiran saya dirasakan. Bukan karena orang lain jahat, tetapi karena saya sendiri tidak sedang menjaga hidup saya dengan serius.

Saya jarang bertanya pada diri sendiri: apakah saya benar-benar punya ruang untuk ini?
Yang saya tanyakan justru: kalau saya tidak membalas sekarang, apa mereka akan kecewa?

Dari situ saya mulai melihat bahwa cara kita mengpakai waktu adalah bahasa yg diam-diam dibaca orang lain. Bukan secara sadar, bukan dengan niat menilai, tetapi tetap terbaca.

Ketika seseorang sering ada, sering cepat merespons, sering menyesuaikan diri, muncul kesan bahwa waktunya tidak sedang dipakai untuk sesuatu yg penting. Kesan itu dapat salah, tetapi tetap terbentuk.

Saya juga mulai sadar bahwa orang-orang yg saya hormati bukanlah mereka yg sering tersedia. Justru sebaliknya. Mereka hadir seperlunya, berbicara ketika perlu, & tidak merasa bersalah karena tidak sering dapat ada. Bukan karena mereka dharap, melainkan karena hidup mereka sudah terisi.

Di titik ini, saya memahami bahwa persoalannya bukan tentang bersikap ramah atau tidak. Persoalannya adalah apakah saya memiliki hidup sendiri yg saya hormati.

Memiliki hidup sendiri berarti berani memberi jeda. Berani tidak langsung membalas. Berani mengatakan nanti tanpa merasa harus menjelaskan panjang lebar.
Bukan sebagai strategi sosial, bukan pula sebagai upaya terlihat berharga, tetapi sebagai bentuk kejujuran pada diri sendiri.

Anehnya, ketika saya mulai mengerjakan itupelan-pelan & tanpa niat pamerhubungan justru terasa lebih seimbang. Saya hadir ketika memang hadir. Dan ketika tidak hadir, saya tidak sedang pergi, cuma sedang hidup.

Saya belajar bahwa menghargai diri sendiri sering kali terlihat dari hal-hal yg sunyi. Dari batas yg tidak diumumkan. Dari waktu yg dijaga tanpa perlu dipertontonkan.

Dan mungkin benar: orang tidak sering menghargai kita karena kita sering ada. Kadang mereka mulai menghargai ketika kita tidak sering tersedia, tetapi kehadiran kita terasa utuh & disengaja.

Sekedar refleksi diri.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.