• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Trowulan, Laboratorium Arkeologi Paling Lengkap

roughtorer

IndoForum Senior A
No. Urut
44416
Sejak
24 Mei 2008
Pesan
6.755
Nilai reaksi
175
Poin
63
2943599p.jpg
143751p.jpg


Minggu, 2 November 2008 | 14:33 WIB

Laporan wartawan Kompas Yurnaldi

TROWULAN, MINGGU -- Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur, akhir-akhir ini menjadi subyek penelitian menarik para arkeolog. Para arkeolog dan mahasiswa arkeologi dari Universitas Indonesia, Universitas Hasanuddin, Universitas Udayana, dan Universitas Gadjah Mada membentuk tim terpadu beranggotakan 100 orang untuk meneliti situs itu.

Arkeolog dan peneliti dari Universitas Indonesia Heriyanti Hari Oentoro Dradjat mengatakan, dari penelitian selama satu bulan, diperkirakan Trowulan adalah pusat Kerajaan Majapahit. Sementara situs Kedaton diasumsikan sebagai Keraton Kerajaan Majapahit. Ditemukan banyak artefak di sana. "Berdasar penggalian 10 hari lalu diperoleh gambaran, di seputar Kedaton ditemukan banyak artefak. Hasil penelitian akan dipublikasikan Desember mendatang, karena saat ini masih dalam pengolahan. Analisisnya masih perlu waktu," kata Heriyanti.

Menurut Heriyanti, Trowulan merupakan bukti otentik kerajaan Hindu-Budha yang merupakan suatu kota. Dengan demikian, Trowulan merupakan laboratorium arkeologi yang paling lengkap.

Sedangkan Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Provinsi Jawa Timur I Made Kusumajaya mengatakan, luas Kota Majapahit semula diperkirakan 4 x 5 km persegi, namun penelitian oleh Nurhadi Rangkuti mendapati luas Kota Majapahit ternyata 9 x 11 km persegi. "Di luar batas sakral itu masik banyak ditemukan sisa-sisa aktivitas manusia masa lalu. Setiap jengkal banyak ditemukan peninggalan seperti tembikar, keramik, dan uang yang berlaku di era Majapahit," jelasnya.

Terakhir, lanjutnya, ditemukan sebuah kaki candi. Ini sangat istimewa, karena kaki candinya berukir dan terbuat dari bata dengan teknik pembakaran yang luar biasa. "Bata-bata yang digunakan untuk membangun candi-candi di Kerajaan Majapahit sampai sekarang masih kuat, padahal dulu belum ada semen," katanya.

Dengan banyaknya ditemukan artefak dari China, Jepang, dan Thailand, suatu bukti bahwa Kerajaan Majapahit memiliki hubungan dagang dengan ketiga negara itu yang berjalan baik.


Candi Pemujaan Kuno Ditemukan di Trowulan

Kamis, 30 Oktober 2008 | 18:45 WIB

TROWULAN, KAMIS - Sebuah bangunan kuno peninggalan zaman Kerajaan Majapahit ditemukan oleh seorang warga bernama Pairin (68) di Desa Wates Umpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Menurut Pairin, Kamis (30/10), bangunan kuno berupa struktur batu bata dengan sejumlah relief itu ditemukannya tanpa sengaja saat tengah melakukan penggalian tanah untuk pembuatan batu bata pada Selasa (28/10) lalu.

"Saya sudah berada di lokasi ini sekitar 10 bulan untuk membuat batu bata, setelah sebelumnya berada di lokasi lain. Saat sedang menggali pada Selasa sore saya menemukan bangunan ini," kata Pairin. Ia lantas membuat pagar bambu yang mengelilingi lokasi temuan itu bersama sejumlah warga lain agar tidak terjadi perusakan.

Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur, I Made Kusumajaya, yang dikonfirmasi soal temuan itu menyatakan bangunan kuno itu adalah sebuah candi pemujaan. Candi pemujaan peninggalan zaman kerajan Majapahit itu diperkirakan berasal dari abad ke-13.


Candi Ditemukan Para Penggali Tanah

Rabu, 10 September 2008 | 21:50 WIB

KEDIRI, RABU--Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan memastikan beberapa pecahan batu yang ditemukan para penggali tanah batu bata di Dusun Babadan, Desa Sumber Cangkring, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jatim merupakan bagian dari bangunan candi.

"Adanya relief bergambar Kala dan banyaknya batu bata kuno yang berserakan ini, mengindikasikan di dalam tanah ini ada bangunan berbentuk candi," kata Kepala BP3 Trowulan, I Made Kusumajaya di lokasi penemuan benda cagar budaya di Dusun Babadan, Rabu.

Indikasi itu juga diperkuat dengan adanya sungai kecil, dua buah umpak (alas tiang rumah dari batu), dan batu besar di sekeliling situs tersebut.

Ia memperkirakan, bentuk arsitektur candi di Dusun Babadan itu sama dengan candi-candi yang ada di Jawa Tengah yang dibangun pada masa transisi Kerajaan Mataram Hindu. "Ini sesuai dengan Prasasti Empu Senduk yang menjelaskan bahwa adanya perpindahan peradaban dari Jateng ke Jatim pada masa kerajaan dulu, karena adanya wabah penyakit, bencana alam, dan serangan musuh," kata Made menjelaskan.

Namun demikian, lanjut dia, bukan tidak mungkin dalam perkembangannya candi yang ada di Dusun Babadan itu kemudian berubah menjadi areal pemukiman masyarakat Jawa pada abad ke-12. "Kemudian kalau melihat fragmen-fragmen yang ditemukan warga bisa disimpulkan, bangunan candi itu rusak akibat bencana alam," katanya menambahkan.

Sebelumnya, tiga penggali tanah bahan batu bata di Dusun Babadan, Syai’in (47), Hasan (27), dan Suprapto (23) menemukan benda cagar budaya berupa relief Kala, fragmen arca Dwara Pala, fragmen kepala dewa, dan fragmen arca Ganesha.

Untuk selanjutnya, menurut Made, pihaknya akan berkoordinasi dengan Balai Arkeologi Yogyakarta, karena benda-benda yang ditemukan warga Dusun Babadan mirip dengan benda-benda yang ditemukan warga di Dusun Tondowongso, Desa Gayam, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri pada 2007 lalu.

Balai Arkeologi Yogyakarta sebelumnya telah melakukan penggalian tahap pertama Situs Tondowongso. "Benda-benda di Dusun Babadan ini diperkirakan di buat pada zaman yang sama dengan benda-benda di Situs Tondowongso," katanya.

Ia menambahkan, bukan hal yang aneh jika di Kecamatan Gurah banyak ditemukan benda-benda cagar budaya, karena pada tahun 1956 seorang arkeolog pertama di Indonesia, Sukomono menyatakan, Gurah merupakan pusat Kerajaan Kadiri. "Banyak sekali benda cagar budaya ditemukan, termasuk beberapa arca yang kini menjadi koleksi Museum Nasional di Jakarta yang bentuknya juga memiliki kemiripan dengan benda-benda yang ditemukan warga di Situs Tondowongso," katanya.

Oleh sebab itu dia meminta, masyarakat memahami kondisi saat ini dengan tidak merusak dan memindahkan benda-benda cagar budaya yang telah banyak ditemukan warga. (ANT)
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.