Rosetta
IndoForum Beginner C
- No. Urut
- 2047
- Sejak
- 10 Jun 2006
- Pesan
- 716
- Nilai reaksi
- 20
- Poin
- 18
Putus Cinta, Siswi SMP Kelas 3 Gantung Diri
MUARAENIM, SRIPO — Tri Puji Lestari (14), pelajar kelas VIII F SMPN 2 Lawang Kidul, Muaraenim, nekat bunuh diri, Rabu (15/9) tanpa sebab yang jelas. Apalagi, aksi itu dilakukan menyusul dua kawan akrabnya yang sudah lebih dulu bunuh diri.
Tri, Wella Septiandiny dan Elsa Mayora bunuh diri dengan cara yang sama. Yakni dengan menggunakan dasi sekolah yang diikatkan di lemari. Ketiganya bersekolah di tempat yang sama. Mereka pun sama-sama anak bungsu.
Berdasarkan informasi dan data yang dihimpun di lapangan, Kamis (16/9), sebelum peristiwa tragis tersebut terjadi, Tri pernah mencoba bunuh diri namun gagal karena ia mendengar suara azan.
Gejala tersebut mulai timbul semenjak temannya Wella Septiandiny tewas gantung diri. Semenjak itu korban sering terlihat murung. Bahkan korban pernah bercerita pada keluarganya jika ia sering terbayang-bayang pada temannya tersebut.
Namun ada juga informasi yang menyatakan jika korban nekat melakukan aksi tersebut karena ada masalah internal keluarga.
Perisitiwa itu bermula saat korban pulang sore dari rumah temannya. Ibunya menyuruh korban untuk makan dulu. Sementara ibunya membereskan dan membersihkan perabotan rumah tangga.
Namun ternyata korban belum juga makan dan memilih masuk kamar. Karena curiga tidak ada suara, sepupu korban bernama Febi memanggil korban di kamarnya. Namun tidak ada sahutan. Ia pun sempat menendang pintu kamar yang tidak terkunci.
Setelah pintu terbuka, ia melihat korban sudah posisi tersender di sisi lemari dengan leher terikat dasi sekolah warna biru. Melihat hal tersebut spontan ia menjerit memanggil ibu korban. Kemudian oleh keluarga, korban dibawa ke RS PTBA. Namun ternyata nyawa korban sudah tidak tertolong lagi dan akhirnya meninggal dunia.
Menurut Kapolres Muaraenim melalui Kapolsek Lawang Kidul, AKP Nusirwan SE, melihat tipe dan modus mereka bertiga hampir mirip dan benar-benar dari hasil visum, ciri-cirinya dan hasil keterangan keluarga mereka memang murni meninggal akibat gantung diri.
Awalnya kita memang beranggapan hal tersebut wajar dan memang sudah ajal. Namun jika melihat tipe dan modus yang sama serta berantai, tentu sedikit percaya dan tidak dengan hal mistis. “Mereka bertiga tergolong berasal dari keluarga mampu dan di sekolah sebagai siswa yang periang serta cukup pandai. Mereka teman satu angkatan, sama-sama anak bungsu, di sekolah yang sama, dan tenggang waktunya tidak sampai empat puluh hari,”kata Nusirwan.
Hasil visum memperlihatkan, ada memar merah di leher bekas jeratan dasi dan kemaluan. Hidung keluar cairan.
Surat Wasiat Rumah almarhum Tri Puji Lestari yang berpagar besi bercat merah beratap asbes, yang berlokasi di bed Air Paku, Blok T No 18 Tanjungenim, Muaraenim, Kamis tampak ramai.
Tenda ukuran 5 x 10 meter, penuh oleh pelayat baik dari sanak famili, tetangga dan teman-teman korban dan guru dari SMPN 2 Lawang Kidul.
Dari luar terdengar lantunan ayat-ayat suci Alquran. Selain itu, kedua orangtua masih terlihat syok.
Menurut informasi yang dihimpun, korban sebelum meninggal sempat meninggalkan selembar surat wasiat yang ditulis tangan. Adapun inti dari surat wasiatnya, korban meminta keluarganya untuk tidak menangisi kepergiannya dan ia meminta maaf serta mendoakan kepergiannya.
Selain itu juga ia meminta kamar tidurnya jangan diubah-ubah. Ia meminta menyumbangkan uang sebesar Rp 50 ribu untuk masjid. Uang itu dijepitkan dengan penjepit kertas di surat wasiatnya.
Dasi Pendek Sementara itu paman korban Sarwito meminta kepada pihak terkait terutama pihak sekolah untuk tidak lagi menggunakan dasi sekolah yang ukurannya panjang bagi siswa. Ia meminta agar diganti dengan dasi ukuran pendek.
Sebab dalam tiga aksi bunuh diri yang dilakukan oleh siswa di SMPN 2 Lawang Kidul semuanya menggunakan dasi sekolah. Selain itu juga, ia meminta kepada pihak terkait untuk serius menangani kasus ini.
Sementara itu menurut Kapolres Muaraenim melalui Kapolsek Lawang Kidul AKP Nusirwan SE, membenarkan korban sebelum meninggal sempat membuat surat wasiat, tetapi pihaknya belum dapat. Dan rencananya setelah suasana tenang dan kondusif, barulah surat tersebut akan diminta guna melengkapi barang bukti yang telah ada.
Diduga Karena Nilai Menurun, Siswi SMK Gantung Diri
KRAMATJATI – Rasa kecewa mendalam lantaran prestasinya menurun ditambah sering dimarahi keluarga, membuat Siti Annisa Salihatin tertekan. Diduga putus asa, siswi SMK di Jakarta Timur ini mengambil jalan pintas. Pulang sekolah, Senin (25/6) siang ia gantung diri menggunakan dasi seragam sekolah.
Masih mengenakan seragam sekolah warna abu-abu dan putih, Siti Annisa Salihatin, 16, ditemukan tewas tergantung di lantai dua rumahnya di Jl. Sidih, Kel. Tengah, Jakarta Timur. Diduga Siti yang akrab disapa Nisa, kecewa saat menerima nilai semester bayangan, menurun drastis. Padahal semester sebelumnya pelajar SMK Pertiwi Jakarta Timur itu duduk di peringkat ke dua terbaik di kelasnya.
Komarudin, 25, kakak Nisa, yang pertama menemukan remaja itu tergantung. “Saya mau ambil handuk, tahu-tahu saya lihat adik saya tergantung di plafon tempat jemuran di lantai dua,” ungkapnya. Saat itu, rumah sedang sepi karena orangtua mereka; pasangan Suhar, 54, dan Jaroh, 50, tengah jualan buah di Pasar Induk Kramatjati.
Kaget melihat adiknya tak lagi bernyawa, Komarudin, sulung dari empat bersaudara berteriak minta tolong. Tetangga pun berdatangan. Dua tetangga, Nakim dan Idam, bergegas menurunkan tubuh remaja yang tergantung menggunakan dasi yang disambungkan dengan gesper yang biasa dipakainya ke sekolah. Nisa dilarikan ke Klinik Al-Fauzan untuk mendapat pertolongan.
Namun anak ketiga dari empat bersaudara itu sudah tak bernyawa. Keluarga enggan jenazah gadis manis itu diotopsi dengan alasan kematian Nisa sebagai kecelakaan. Jasadnya dibawa pulang dan disemayamkan di rumah. Meski begitu, polisi tetap meminta keterangan sejumlah saksi. Termasuk keluarga orangtua korban.
PRESTASI MENURUN
Kapolsek Kramatjati, Kompol Imran Gultom, yang ditemui di rumah duka mengatakan keluarga korban mengungkapkan gadis itu stres setelah mendapat rapot bayangan semestrer 2. Soalnya, nilai pelajarannya merosot drastis.
“Ibu korban mengatakan kemungkinan anaknya malu dengan nilai yang menurun itu,” ungkap kapolsek. “Jadi, dugaan awal kami, motif korban bunuh diri adalah karena permasalahan nilai sekolahnya.”
Kekecewaan Nisa atas nilai sekolah yang merosot tajam juga dilontarkan Ririn, teman sekolah. Menurut gadis 16 tahun ini, Nisa sering dimarahi kakaknya lantaran nilai rapot yang menurun. “Kemungkinan Nisa tertekan karena nilai yang jeblok itu,” katanya saat melayat bersama teman-temannya.
Ririn juga menyebutkan beberapa waktu lalu Nisa putus hubungan cinta dengan pacarnya. “Tapi saya nggak tahu siapa pacarnya itu karena dia nggak pernah cerita. Dia hanya sesekali cerita tapi nggak detail. Nisa itu sangat tertutup,” tambah Ririn.
Banyumas - Seorang siswi kelas 3 SMP Suteran, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di rumahnya menggunakan dasi sekolah. Tindakan nekatnya diduga karena putus cinta.
Korban adalah Marisa Dharmawan (16). Kejadian tersebut baru diketahui oleh bapak angkat korban, Ho Lie, pada Selasa (22/2/2011) dini hari, di rumahnya di Jl Masjid, Kelurahan Sokanegara, Purwokerto.
Saat ditemukan, kondisi Marisa sudah menggantung di teralis jendela kamarnya. Di lokasi kejadian juga ditemukan kursi yang digunakan untuk menyangga tubuhnya.
"Dia putus cinta dan gantung diri dengan dasi sekolah di teralis kamar. Saat ditemukan sudah meninggal dan di bawahnya ada kursi yang sudah ditendang," kata Popo, sahabat korban, saat melayat.
Sementara orangtua angkat korban tidak kuasa menahan kesedihan saat teman-teman anaknya datang melayat ke rumah duka. Saat ditemui, pihak keluarga enggan memberikan keterangan kepada wartawan.
Kasus ini masih ditangani aparat kepolisian Polres Banyumas. Sedangkan hasil pemeriksaan dokter Rumah Sakit Elizabeth Purwokerto menyimpulkan, Marisa tewas karena saluran pernapasan korban terhalang di bagian tenggorokan. Tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuh korban.
Kode:
src://news.detik.com/read/2011/02/22/150304/1576205/10/putus-cinta-siswi-smp-kelas-3-gantung-diri
Siswi SMP Bunuh Diri Susul Dua Kawannya
MUARAENIM, SRIPO — Tri Puji Lestari (14), pelajar kelas VIII F SMPN 2 Lawang Kidul, Muaraenim, nekat bunuh diri, Rabu (15/9) tanpa sebab yang jelas. Apalagi, aksi itu dilakukan menyusul dua kawan akrabnya yang sudah lebih dulu bunuh diri.
Tri, Wella Septiandiny dan Elsa Mayora bunuh diri dengan cara yang sama. Yakni dengan menggunakan dasi sekolah yang diikatkan di lemari. Ketiganya bersekolah di tempat yang sama. Mereka pun sama-sama anak bungsu.
Berdasarkan informasi dan data yang dihimpun di lapangan, Kamis (16/9), sebelum peristiwa tragis tersebut terjadi, Tri pernah mencoba bunuh diri namun gagal karena ia mendengar suara azan.
Gejala tersebut mulai timbul semenjak temannya Wella Septiandiny tewas gantung diri. Semenjak itu korban sering terlihat murung. Bahkan korban pernah bercerita pada keluarganya jika ia sering terbayang-bayang pada temannya tersebut.
Namun ada juga informasi yang menyatakan jika korban nekat melakukan aksi tersebut karena ada masalah internal keluarga.
Perisitiwa itu bermula saat korban pulang sore dari rumah temannya. Ibunya menyuruh korban untuk makan dulu. Sementara ibunya membereskan dan membersihkan perabotan rumah tangga.
Namun ternyata korban belum juga makan dan memilih masuk kamar. Karena curiga tidak ada suara, sepupu korban bernama Febi memanggil korban di kamarnya. Namun tidak ada sahutan. Ia pun sempat menendang pintu kamar yang tidak terkunci.
Setelah pintu terbuka, ia melihat korban sudah posisi tersender di sisi lemari dengan leher terikat dasi sekolah warna biru. Melihat hal tersebut spontan ia menjerit memanggil ibu korban. Kemudian oleh keluarga, korban dibawa ke RS PTBA. Namun ternyata nyawa korban sudah tidak tertolong lagi dan akhirnya meninggal dunia.
Menurut Kapolres Muaraenim melalui Kapolsek Lawang Kidul, AKP Nusirwan SE, melihat tipe dan modus mereka bertiga hampir mirip dan benar-benar dari hasil visum, ciri-cirinya dan hasil keterangan keluarga mereka memang murni meninggal akibat gantung diri.
Awalnya kita memang beranggapan hal tersebut wajar dan memang sudah ajal. Namun jika melihat tipe dan modus yang sama serta berantai, tentu sedikit percaya dan tidak dengan hal mistis. “Mereka bertiga tergolong berasal dari keluarga mampu dan di sekolah sebagai siswa yang periang serta cukup pandai. Mereka teman satu angkatan, sama-sama anak bungsu, di sekolah yang sama, dan tenggang waktunya tidak sampai empat puluh hari,”kata Nusirwan.
Hasil visum memperlihatkan, ada memar merah di leher bekas jeratan dasi dan kemaluan. Hidung keluar cairan.
Surat Wasiat Rumah almarhum Tri Puji Lestari yang berpagar besi bercat merah beratap asbes, yang berlokasi di bed Air Paku, Blok T No 18 Tanjungenim, Muaraenim, Kamis tampak ramai.
Tenda ukuran 5 x 10 meter, penuh oleh pelayat baik dari sanak famili, tetangga dan teman-teman korban dan guru dari SMPN 2 Lawang Kidul.
Dari luar terdengar lantunan ayat-ayat suci Alquran. Selain itu, kedua orangtua masih terlihat syok.
Menurut informasi yang dihimpun, korban sebelum meninggal sempat meninggalkan selembar surat wasiat yang ditulis tangan. Adapun inti dari surat wasiatnya, korban meminta keluarganya untuk tidak menangisi kepergiannya dan ia meminta maaf serta mendoakan kepergiannya.
Selain itu juga ia meminta kamar tidurnya jangan diubah-ubah. Ia meminta menyumbangkan uang sebesar Rp 50 ribu untuk masjid. Uang itu dijepitkan dengan penjepit kertas di surat wasiatnya.
Dasi Pendek Sementara itu paman korban Sarwito meminta kepada pihak terkait terutama pihak sekolah untuk tidak lagi menggunakan dasi sekolah yang ukurannya panjang bagi siswa. Ia meminta agar diganti dengan dasi ukuran pendek.
Sebab dalam tiga aksi bunuh diri yang dilakukan oleh siswa di SMPN 2 Lawang Kidul semuanya menggunakan dasi sekolah. Selain itu juga, ia meminta kepada pihak terkait untuk serius menangani kasus ini.
Sementara itu menurut Kapolres Muaraenim melalui Kapolsek Lawang Kidul AKP Nusirwan SE, membenarkan korban sebelum meninggal sempat membuat surat wasiat, tetapi pihaknya belum dapat. Dan rencananya setelah suasana tenang dan kondusif, barulah surat tersebut akan diminta guna melengkapi barang bukti yang telah ada.
Kode:
src://palembang.tribunnews.com/17/09/2010/siswi-smp-bunuh-diri-susul-dua-kawannya
Diduga Karena Nilai Menurun, Siswi SMK Gantung Diri
KRAMATJATI – Rasa kecewa mendalam lantaran prestasinya menurun ditambah sering dimarahi keluarga, membuat Siti Annisa Salihatin tertekan. Diduga putus asa, siswi SMK di Jakarta Timur ini mengambil jalan pintas. Pulang sekolah, Senin (25/6) siang ia gantung diri menggunakan dasi seragam sekolah.
Masih mengenakan seragam sekolah warna abu-abu dan putih, Siti Annisa Salihatin, 16, ditemukan tewas tergantung di lantai dua rumahnya di Jl. Sidih, Kel. Tengah, Jakarta Timur. Diduga Siti yang akrab disapa Nisa, kecewa saat menerima nilai semester bayangan, menurun drastis. Padahal semester sebelumnya pelajar SMK Pertiwi Jakarta Timur itu duduk di peringkat ke dua terbaik di kelasnya.
Komarudin, 25, kakak Nisa, yang pertama menemukan remaja itu tergantung. “Saya mau ambil handuk, tahu-tahu saya lihat adik saya tergantung di plafon tempat jemuran di lantai dua,” ungkapnya. Saat itu, rumah sedang sepi karena orangtua mereka; pasangan Suhar, 54, dan Jaroh, 50, tengah jualan buah di Pasar Induk Kramatjati.
Kaget melihat adiknya tak lagi bernyawa, Komarudin, sulung dari empat bersaudara berteriak minta tolong. Tetangga pun berdatangan. Dua tetangga, Nakim dan Idam, bergegas menurunkan tubuh remaja yang tergantung menggunakan dasi yang disambungkan dengan gesper yang biasa dipakainya ke sekolah. Nisa dilarikan ke Klinik Al-Fauzan untuk mendapat pertolongan.
Namun anak ketiga dari empat bersaudara itu sudah tak bernyawa. Keluarga enggan jenazah gadis manis itu diotopsi dengan alasan kematian Nisa sebagai kecelakaan. Jasadnya dibawa pulang dan disemayamkan di rumah. Meski begitu, polisi tetap meminta keterangan sejumlah saksi. Termasuk keluarga orangtua korban.
PRESTASI MENURUN
Kapolsek Kramatjati, Kompol Imran Gultom, yang ditemui di rumah duka mengatakan keluarga korban mengungkapkan gadis itu stres setelah mendapat rapot bayangan semestrer 2. Soalnya, nilai pelajarannya merosot drastis.
“Ibu korban mengatakan kemungkinan anaknya malu dengan nilai yang menurun itu,” ungkap kapolsek. “Jadi, dugaan awal kami, motif korban bunuh diri adalah karena permasalahan nilai sekolahnya.”
Kekecewaan Nisa atas nilai sekolah yang merosot tajam juga dilontarkan Ririn, teman sekolah. Menurut gadis 16 tahun ini, Nisa sering dimarahi kakaknya lantaran nilai rapot yang menurun. “Kemungkinan Nisa tertekan karena nilai yang jeblok itu,” katanya saat melayat bersama teman-temannya.
Ririn juga menyebutkan beberapa waktu lalu Nisa putus hubungan cinta dengan pacarnya. “Tapi saya nggak tahu siapa pacarnya itu karena dia nggak pernah cerita. Dia hanya sesekali cerita tapi nggak detail. Nisa itu sangat tertutup,” tambah Ririn.
Kode:
src://www.poskotanews.com/2012/06/26/diduga-karena-nilai-menurun-siswi-smk-gantung-diri/
