Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Cangkeman.net -Stadion Kanjuruhan, 1 Oktober, 2022, kita semua tahu bahwa itu adalah ruang & waktu dari peristiwa yg memilukan. Sebuah peristiwa yg agaknya sudah terlalu keras menampar kita sebagai manusia dalam melihat pola kehidupan. Tentang berapa nyawa yg sudah hilang, itu bagi saya bukan lagi persoalan yg utama untuk sekarang. Karena ketika ada satu nyawa yg hilang, itu sudah jadi fakta yg telampau tragis untuk perkara menonton olahraga sepak bola.
Melihat fenomena tersebut, saya lantas bertanya-tanya: sebetulnya mereka ini sedang mengupayakan apa? Ada apa dengan mereka? Sehingga seolah-olah tentang nyawa sudah bukan lagi yg paling utama daripada euphoria permainan kehidupan. Entah itu dari sisi suporter, aparat, media penyiaran, panpel, atau industri olahraga sepak bola, bukankah itu yg jadi esensi dari beberapa tendensi eksistensi mereka?
Dari kejadian tersebut, kini ruang publik dipenuhi berbagai macam opini, & tentu keberagaman opini yg hadir itu muncul dari latar belakang & tendensinya masing-masing. Setelah membaca beberapa opini yg beredar, sifat opini agaknya terbagi jadi dua jenis, yaitu dari opini yg menyalahkan tindakan pemerintah, & opini yg menyalahkan tindakan suporter. Fenomena semacam itu menurut ekonomis saya tidak memberikan alternatif, tetapi justru memberikan pemahaman yg sporadis & semakin runyam melihat titik temu antara pemerintah & suporter atas tragedi Kanjuruhan.
Namun, juga bukan berarti tulisan ini berupaya jadi pelopor kebenaran atas fakta yg terjadi. Perihal benar & salah, atau pengintegrasian informasi atas kejadian itu saya pikir sudah ada petugasnya masing-masing, entah itu dari regu investigasi media massa maupun pihak pemerintah. Di sini upaya saya cuma berusaha untuk mendisposisikan sesuatu supaya ruang publik tidak saling sok tahu atau saling menyalahkan terlebih dahulu sebelum fakta menunjukkan otentisitasnya. Akan jadi tidak sehat kalau saling menyalahkan di tengah keadaan yg masih pekat dengan hipotesa & kesedihan ini.
Sebelum pada substansi pembahasan lebih dalam, perlu adanyadisclaimerbahwa saya bukan termasuk dari kategori orang yg suka dengan pertunjukkan sepak bola, apalagi orang yg sedang berselimut di balik kekuasaan petahana. Saya hanyalah salah satu dari masyarakat Indonesia yg sedang belajar berpikir logis & objektif. Dengan melihat berbagai macam opini dari mulai status WhatsApp, Instagram, TikTok, Twitter, hingga media literasi, menurut saya apa yg ada di sana masih pekat dengan subjektivitas yg tidak bersandar pada objektivitas.
Secara garis besar, kedua tipe opini yg beredar bermula pada persoalan tentang ketidakdisiplinan aparat dengan aturan FIFA di Pasal 19 Nomor b tentangPitchside stewards, yg berbunyi No fi rearms or crowd control gas shall be carried or used(tidak boleh membawa atau mengpakai senjata api atau gas pengendali massa). Opini tersebut menyatakan bahwachaosyang mengakibatkan ratusan nyawa suporter hilang, itu disebabkan gas air mata yg ditembakkan ke arah tribun & beberapa supporter yg turun ke lapangan. Lebih lanjut, opini tipe ini menambahkan: sangat tidak masuk akal kalau gas air mata itu ditembakkan ke tribun. Kalau saja aparat mendamaikan suporter tidak dengan gas air mata, makachaosdan ratusan nyawa yg hilang pun tidak akan terjadi.
Kalau melihat fakta dari video maupun narasi dari wawancara dengan narasumber, memangchaosdi stadion tidak lepas dengan kepulan gas air mata. Tetapi apakah tepat, menyatakan bahwa sebab paling dasar darichaosdi stadion pada saat itu adalah tembakan gas air mata oleh aparat kepolisian?
Sekarang coba kita abstraksikan secara apa adanya, kalau aparat menembakkan gas air mata, apakah mungkin mereka mengerjakannya tanpa sebab? Banyak kok, video beredar detik-detik tragedi Kanjuruhan & berita media massa yg menyatakan kalau awalnya terjadichaositu karena oknum suporter yg turun ke lapangan, lalu bertindak anarkis ke pemain Arema maupun Persebaya. Secara aturan, dalam hal ini tindakan suporter pun sudah tidak tepat dengan mereka turun ke lapangan. Fungsi dari adanya tribun & pembatas stadion itu, ya supaya mencegah kekisruhan & supaya ada proporsi antara suporter dengan pesepak bola.
Tetapi pihak suporter juga tidak dapat sepenuhnya disalahkan cuma karena mereka jadi sebab paling dasar. Pihak dari PSSI, PT LIB, Polri, panpel, mereka sebagai bagian dari pemerintah yg mengakomodir suporter, itu juga jadi sebab darichaosyang ada di tragedi Kanjuruhan. Tidak adanya pencerahan dari pemerintah atas regulasi ataupun mitigasi resiko bencana, akhirnya mengakibatkan aparat kepolisian kacau dalam penanganan bencana di stadion. Di sinilah menurut saya proporsi persoalannya: antara suporter & pemerintah saling tidak punya pencerahan atas eksistensi pertandingan sepak bola.
Balik pada perkataan saya di awal tadi, bahwa mengapa seakan nyawa tidak lebih berharga daripada euphoria permaian kehidupan? Dari sisi suporter, pertandingan sepak bola itu kan, sebuah permainan kehidupan, di mana sebuah permainan itu pasti ada pemain, rivalitas, strategi, peraturan, & tentu yg paling ditunggu adalah tentang menang-kalah. Setelah pertandingan sepak bola berakhir, apakah semua itu berdampak pada kita sebagai manusia yg sedang hidup? Mau menang ataupun kalah, itu kan cuma sebuah permainan, & kita pun masih tetap hidup terlepas dari sesuatu yg bernama menang & kalah. Menang & kalah hanyalah sesuatu yg bersifat kesementaraan, yg terpenting dari semua itu adalah bagaimana kita tetap hidup meskipun sedang & setelah menonton pertandingan sepak bola.
Begitupun juga dari pihak pemerintah, utamanya pihak kepolisian. Sebagai manusia yg bertugas untuk menangani keamanan manusia lainnya, harusnya perlakuannya itu berkorelasi dengan tugasnya. Bukan malah memperlakukan manusia seperti binatang, & justru menciptakan manusia lainnya merasa terancam, bahkan menewaskan. Apa yg melekat pada profesi polisi, itu juga beberapa dari permainan kehidupan. Tanpa memperlakukan kekerasan, pun dia masih hidup & profesinya masih melekat dalam dirinya. Justru akan tidak ada artinya kalau sebuah aparat; seseorang yg dipandang lebih cerdas dalam strategi penanganan, tetapi ada saudaranya yg tewas karena perlakuannya sendiri.
Semoga di balik tragedi Kanjuruhan, dapat jadi bahan evaluasi bagi pemerintah untuk mengakomodasi keberadaan warganya lebih serius lagi. Juga, bagi kita, khususnya yg bahagia dengan pertandingan sepak bola, supaya memawas diri dari segala fanatisme yg pada mulanya untuk menciptakan hidup, tetapi justru menciptakan kita luka diri. Aristoteles (284-322 SM) mengatakan, fitrah manusia adalah makhluk sosial, & menurut saya, tidak ada yg lebih penting dari kehidupan bersosial, kecuali mengangkat martabat kemanusiaan.
Tulisan ini ditulis olkeh Achmad Fauzan Syaikhoni diCangkemanpada tanggal 4 Oktober 2022. Hari ini 08:33