Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
SUGENG RAWUH
Salam jumpa agan agan sekalian
Ane mau share dikit nih, tentang tradisi di Kota Kudus yg di anjurkan tidak menyembelih sapi.
Mari kita simak gan
Quote:
Di Kudus, ada larangan atau himbauan untuk menjadikan sapi sebagai hewan yg dikurbankan. Bukan karena di haramkan, melainkan menjaga tradisi yg memang tidak terlepas dari sejarah penyebaran agama Islam di Kudus. Hal ini merujuk pada zaman ke 16, ketika Sunan Kudus yg bernama asli Ja'far Shodiq menyebarkan agama Islam di wilayah tersebut.
Sunan Kudus adalah salah satu dari Wali Songo, yg berusaha memelopori pentingnya kerukunan antar umat beragama.
Sunan Kudus mencoba menarik simpati masyarakat dengan cara melarang atau mengimbau kepada para pengikutnya supaya tidak menyembelih sapi. Hal ini karena sapi merupakan hewan yg disucikan oleh umat Hindu. Selain itu, Kudus juga sudah diketahui sebagai daerah pusat agama Hindu pada saat itu.
Pada suatu hari Sunan Kudus membeli seekor sapi. Sapi ini berasal dari India, dibawa oleh pedagang asing dari kapal besar. Sapi itu diletakkan di halaman rumah Sunan Kudus. Rakyat tergerak harap tahu apa yg akan dilakukan Sunan Kudus kepada sapi itu.
Sapi dalam pandangan Hindu merupakan hewan suci & dianggap kendaraan para dewa. Menyembelih sapi termasuk dalam perbuatan dosa & akan dikutuk para dewa. Dalam tempo singkat, rumah Sunan Kudus pun dibanjiri oleh rakyat, baik yg beragama Islam maupun Hindu. Pada saat itu, Sunan Kudus pun berceramah.
Dalam ceramahnya Sunan Kudus mengatakan "Saudara saudara sekalian yg saya hormati. Saya melarang saudara saudara menyakiti apalagi menyembelih sapi. Sebab diwaktu kecil, saya hampir mati kehausan lalu seekor sapi datang menyusui saya, demi rasa hormat saya kepada tipe hewan yg pernah menolong saya, maka saya melarang penduduk menyakiti atau menyembelih sapi" ujar Sunan Kudus di tausiyahnya.
Mendengar cerita tersebut para pemeluk Hindu terkagum-kagum. Penduduk yg umumnya beragama Hindu terpesona atas kisah itu. Sunan Kudus melanjutkan, di antara surah surah Alquran ada surat yg dinamakan surah sapi betina (Al-Baqarah). Masyarakat semakin tertarik, dapat ada kisah tentang sapi di dalam kitab suci. Mereka jadi harap tahu lebih banyak & untuk itulah mereka harus sering-sering datang mendengarkan ceramah Sunan Kudus.
Tidak cuma sapi, bentuk masjid yg dibangun oleh Sunan Kudus pun tak jauh bedanya dengan candi candi milik orang Hindu. Menara ini berbentuk seperti candi, sesuatu yg menunjukkan sikap toleransi Sunan Kudus di daerah itu. Menara Kudus yg antik itu, menciptakan orang Hindu merasa akrab & tidak segan untuk masuk ke masjid guna mendengarkan Sunan Kudus berceramah.
Dengan cara ini Sunan Kudus berusaha meluaskan ajaran Islam tanpa menyinggung perasaan umat agama yg lain. Akhirnya secara bertahap masyarakat Kudus mulai banyak yg tertarik untuk mengikuti ajaran Islam.
Spoiler for Menara Kudus:
Spoiler for Menara Kudus:
Penghormatan umat Hindu kepada sapi sangat besar, Sunan Kudus mengpakai celah tersebut jadi strategi dakwah dengan fatwanya melarang masyarakat menyembelih sapi & menggantinya dengan kerbau. Berdasarkan latar belakang tersebut, masyarakat Kudus hingga saat ini tetap mengpakai daging kerbau pada acara tertentu.
Selain itu, bagi orang Jawa terkenal istilah tepa salira yaitu dapat merasakan perasaan orang lain sehingga tidak menyinggung atau melukai hati. Sunan Kudus memahami benar perasaan warga Kudus yg saat itu masih banyak penganut Hindu, bila hewan yg mereka muliakan disembelih oleh umat Islam.
Meski larangan atau anjuran tidak menyembelih sapi itu cuma merupakan salah satu kiat Sunan Kudus, tetapi ternyata pada perkembangan berikutnya hal ini mengakar pada masyarakat Kudus. Hal itu dapat dibuktikan dengan keragaman masakan khas Kudus yg mengpakai daging kerbau sebagai bahan utamanya, seperti sate kerbau, & juga soto kerbau.
Untuk saat ini, memang tidak semua masyarakat Kudus masih menyembelih kerbau saat Idul Adha, cuma beberapa yg masih melestarikan tradisi itu. Namun tradisi menyembelih kerbau saat Idul Adha bukanlah ritual tanpa makna. Di balik itu, ada pesan pendidikan toleransi beragama, sehingga tradisi ini harus dipertahankan.
Kendati demikian, tampaknya masih ada pihak yg menjaga tradisi tidak menyembelih sapi untuk kurban. Mereka masih mengikuti fatwa Sunan Kudus di beberapa tempat, seperti di Masjid Menara Kudus. Bahkan, sejumlah perusahaan & instansi pemerintah juga menghindari menyembelih sapi. Walaupun menurut ane tradisi ini mulai luntur, karena beberapa tempat saat Idul Adha ada yg menyembelih sapi. Pertimbangan untuk menyembelih sapi, karena dagingnya cukup banyak dibandingkan dengan kerbau. Selain itu, harga sapi juga lebih murah dibandingkan dengan kerbau. Namun seperti yg ane jelaskan di atas tadi, masih ada kok masyarakat yg melestarikan tradisi itu.
Kalo ane pribadi sebagai orang asli Kudus, sama sekali gakpernah makan daging sapi gan. Tapi pas masuk pendidikan perdana di daerah Gombong & pendidikan lanjutan di Klaten sana, menu makan siangnya adalah daging sapi. Ya harus ane makan tho, kalo gak makan nanti lemes
Ya ternyata emang rasanya enak, lembut daripada daging kerbau
Pas dapet penempatan dinas di Sumatera Barat, pas masih di barak remaja, ya lauk setiap senin siang rendang sapi. Ya ane makan aja kan gan
Spoiler for Boleh dong mampir di thread ane lainnya:
suka duka jaga warung
Lentog Tanjung masakan khas kota Kudus
mengulas album SLAYER
Guns N' Roses - The Spaghetti Incident
Quote:
abis baca jangan lupa
Quote:
boleh dong di cendolin
Quote:
jangan di
Sekian dari ane gan terimakasih
Hari ini 10:14