• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Berita Tradisi Kapal Othok-Othok di Sekaten SOLO

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48
eY9sv.jpg



SOLO—Sekaten Solo telah digelar sejak Sabtu (29/12/2012). Gelaran itu akan dilangsungkan selama satu bulan di Alun-alun Utara Keraton Kasunanan Surakart Hadiningrat. Ada sekitar 400 stan yang memeriahkan hiburan rakyat itu.
Selain wayang kulit, Sekaten identik dengan suguhan mainan tradisional lainnya seperti alat memasak berbahan tanah liat atau alat gamelan berukuran kecil. Tak ketinggalan, kapal otok-otok pun tampak dijajakan pedagang hampir di setiap pintu masuk menuju Alun-Alun Utara.

Kapal otok-otok merupakan salah satu mainan tradisional yang hampir dijual setiap Sekaten ataupun acara pasar malam digelar. Meski model dan cara memainkannya tak pernah berubah, namun kapal itu tak pernah sepi peminat.

Hal itu diakui salah satu pedagang, Edy, 46. Pria asal Cirebon, Jawa Barat itu mengaku dalam sehari dirinya bisa menjual sekitar 20 kapal dengan harga Rp7.000-Rp12.000/mainan. “Hampir disetiap acara pasar malam saya pasti jualan kapal seperti ini. Peminatnya masih banyak. Kadang sampai 50 kapal terjual setiap harinya,” kata pria yang mengaku pernah sampai ke Lombok untuk jualan kapal otok-otok kepada Solopos.com, Minggu (30/12/2012).

Ditanya cara memainkan kapal itu, Edy menegaskan tak pernah berubah sejak dulu hingga kini. “Pakai baskom berisi air, bagian bawah kapal berupa dua lubang kecil diisi air dulu terus dimasukkan kapas yang sudah dibakar ke dalam kapal. Sudah, kapal bisa jalan,” ungkapnya.

Edy merasa bersyukur masih banyaknya minat anak-anak terhadap mainan yang dijualnya di saat banyak mainan modern dari Cina masuk ke Indonesia. “Saya punya anak dua, satu SMP satunya lagi SMA. Ya melalui ini saya bisa menyekolahkan mereka,” kata dia.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.