Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Assalamualaikum, GanSis! Kali ini ane mau berbagi uneg-uneg yg bikin jengkel. Maaf sebelumnya, bukan harap mencari simpati, cuma sedikit berbagi pengalaman.
Syukur ada hal baik yg dapat dipetik dari sini.
Jadi, tadi malam itu ane ke warung untuk beli sesuatu, lalu diminta tolong sama suami untuk menanyakan tipe HP si pemilik warung. Kata suami ane, si pemilik warung ini mau minta dibenerin hapenya yg layar sentuhnya bermasalah. FYI, suami ane memang sehari-hari nyambi servis HP, laptop, tab, dll. Apalagi di keadaan pandemi macam sekarang, suami yg biasanya jual jasa sewa sound system di acara pernikahan, rapat, atau acara-acara lain otomatis jadi nggak dapat kerja.
Alhamdulillah ada saja orang yg butuh tenaga suami, dari tukang cat, tukang masak, hingga tukang mengurus dokumen seperti paspor & berkas pengadilan.
Apa saja, yg penting tidak mencuri, rampok, & hal-hal terlarang lainnya. Termasuk servis HP, ada saja orang yg percaya. Kadang, ada yg begitu baik melebihkan ongkos barang Rp. 25.000,00, Rp. 50.000,00, bahkan Rp.100.000,00 atau lebih. Memang, Allah sering memberikan rezeki dari pintu-pintu mana saja yg Dia kehendaki. Suami sudah menjalani profesi sebagai tukang servis rumahan sejak 2011, sebelum anak perdana lahir.
Masa itu, kami masih tinggal di Denpasar.
Klien-klien kebanyakan adalah bule yg kadang laptopnya eror sedikit sudah panik.
Dari sana suami diketahui dari mulut ke mulut.
Sampai sekarang balik ke Pulau Jawa, servis HP dkk masih terus dilakukan demi menutupi kebutuhan sehari-hari.
Nah, balik ke kasus si pemilik warung.
Ane tanya tipe ponselnya, tetapi dia malah menyuruh ane supaya bawa saja untuk dicek. "Yang penting jadi," katanya. Berhubung sudah biasa dititipi ponsel rusak oleh berbagai macam orang, ane oke-oke saja.
Ternyata, dia WA suami, wanti-wanti untuk jangan dibuka-buka isinya. Suami nanggapin santai. Selama ini mana pernah usil?
Singkat cerita, siangnya, si pemilik warung ngasih uang karena suami ngasih tau harganya. Layar sentuh baru langsung dipesan oleh suami supaya lekas dapat dipasang. Ah, lupa kasih tahu, begitu ponsel diterima, suami langsung tanya stok layar sentuh ponsel itu ke vendor-vendor langganan.
Ternyata nggak ada yg punya. Mau nggak mau pesan online lewat market place. Ponsel dibuka unitnya, supaya begitu layar sentuh datang dapat langsung pasang. Ternyata barang yg dipesan belum juga dikirim.
Malamnya, dia WA bilang nggak jadi dibenerin.
Suami minta pendapat ane. Terus terang ane masih belum begitu kesal. Ane bilang suami untuk jelaskan baik-baik bahwa layar sentuhnya sudah dipesan.
Tahu jawabnya apa? Katanya takut kalau isinya dibuka-buka. Itu PRIVACY. Astagfirullah.
Dia kukuh mau ambil. Suami kebetulan pas keluar, cari konektor ponselnya yg sudah ngadat saat isi batrai. Suami WA untuk kasih ponsel orang itu yg dalam keadaan terbongkar, tetapi dimasukkan dalam plastik & terikat.
Memang, setiap ponsel servisan, suami biasanya memisahkan dengan kantong-kantong plastik supaya tidak ada yg tertukar atau hilang. Kalau hilang kan kita sendiri yg rugi karena harus mengganti. Untuk itu, ponsel si orang ini pun diperlakukan sama. Akan tetapi, saat suami baru pulang dari cari konektor & hendak makan, orang itu WA katanya kartu SIM ponselnya nggak ada.
Suami kaget, memang dia bongkar tidak ada apa-apa di dalamnya. Orang itu ngotot katanya ada. Suami yg capai & lapar akhirnya memilih untuk keluar & menemui orang itu. Tambah menggilalah itu ngadu bacot.
Katanya SIM hilang, lalu ada bagian dari ponsel itu yg tidak ada. Adu mulutlah mereka hingga suami dikatain berkelitlah apa segala macam. Ane yg dengar cerita suami ikut kesal.
Seumur-umur ane menemani suami servis ponsel, ya, ada onderdil sekecil apa yg jatuh pun kami cari hingga dapat. Ini masa yg akbar malah hingga kelewat? Mustahil. Lalu, dia kan buka plastik itu di rumah, bukan di depan ane.
Nggak habis pikir dengan orang macam itu.
Ane hingga kasihan lihat suami yg akhirnya makan dengan cemberut. Akhirnya ane bilang untuk kembalikan saja uangnya. Lepas tangan, biar saja begitu.
Masalah layar sentuh yg sudha dibayar & tidka dapat dibatalkan pemesanannya, ya siapa tahu nanti ada yg butuh. Walau kalau dipikir, lumayan uang Rp. 50.000,00 dapat untuk beli makanan anak-anak. Cuma, ya sudah, ane cuma berharap akan ada gantinya nanti. Ane cuma dapat ngelus dada, miris.
Ternyata masih ada orang yg bahkan tidak peduli dengan profesi orang lain, sehingga berlaku seenak hati. Sudah dikasih harga murah karena tetangga, eh ngelunjak. Astagfirullah. Gusti, paringono sabar.
Sekian dulu curhat ane yg sedikit unfaedah.
Jangan suka curiga sama orang, ya, GanSis!
Nggak semua orang, kok, suka kepo sama urusan orang lain. Tukang servis juga punya etika. Tahu mana yg boleh & tidak boleh dilakukan.
Wassalamualaikum.
Opini & foto pribadi, thread ini berisi uneg-uneg. Hari ini 02:49