yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Puluhan pengunjuk rasa yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Pemuda Indonesia, menggelar aksi di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa, 4 September 2012. Massa aksi menolak kedatangan Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton.
Sempat terjadi aksi saling dorong antara massa dan polisi yang melakukan penjagaan. Selain protes kedatangan Hillary Clinton, massa juga menuntut agar pemerintah menutup perusahaan tambang emas PT Freeport dan Newmont di Indonesia.
"Kedatangan Menlu Amerika ke Indonesia harus diwaspadai. Kedatangan Hillary jelas membawa agenda AS untuk mempertahankan dominasinya menguasai kekayaan alam Indonesia. Khususnya kekayaan tambang," kata koordinator aksi, Masinton Pasaribu di depan Kedubes AS, jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.
Dalam orasinya, massa mendesak agar pemerintah menyelesaikan kontrak terhadap perusahaan tambang emas AS yakni Newmont dan PT Freeport karena sudah menguasai 90 persen produksi emas nasional.
"Kedatangan Hillary ditujukan untuk mengintervensi proses renegoisasi kontrak yang sedang dilakukan pemerintah Indonesia dan memanasnya perlawanan rakyat terhadap Freeport," katanya.
Langkah yang harus dilakukan Pemerintah bukan hanya renegoisasi, namun semestinya pemerintah melakukan nasionalisasi Freeport tanpa syarat apapun.
"Kami desak ini tidak cukup renegoisasi, tapi nasionalisasi. Nasionalisasi itu dibolehkan. Pemerintah telah lakukan kebodohan, seolah-olah nasionalisasi tidak bisa dilakukan, padahal ada aturannya," katanya.
Selain melakukan orasi, massa pengunjuk rasa juga membentangkan spanduk yang bertuliskan Amerika Serikat sama dengan VOC. Dalam aksi tersebut, sempat terjadi aksi dorong antara aparat polisi dan massa ketika spanduk yang berlatar belakang bendera Amerika Serikat tersebut dibakar massa.
Berdasarkan pantauan media, pengunjuk rasa yang berusaha membakar bendara di Kedubes AS lansung didorong mundur oleh polisi. Beberapa orang yang mencoba bertahan sempat terjatuh dan mencaci maki aparat kepolisian.
"Ini negara kami, kalian polisi Indonesia. Kenapa kami disuruh mundur," ujar salah seorang demonstran.
Hingga saat ini massa yang terdiri dari organisasi pemuda seperti PMII, Repdem LMND dan PRD serta beberapa organisasi dari Papua seperti National Papua Solidarty (NAPAS) masih berkumpul di depan kantor kedubes AS. Mereka masih berusaha untuk menunggu perwakilan dari kedutaan besar untuk melakukan audiensi bersama mereka.
Sempat terjadi aksi saling dorong antara massa dan polisi yang melakukan penjagaan. Selain protes kedatangan Hillary Clinton, massa juga menuntut agar pemerintah menutup perusahaan tambang emas PT Freeport dan Newmont di Indonesia.
"Kedatangan Menlu Amerika ke Indonesia harus diwaspadai. Kedatangan Hillary jelas membawa agenda AS untuk mempertahankan dominasinya menguasai kekayaan alam Indonesia. Khususnya kekayaan tambang," kata koordinator aksi, Masinton Pasaribu di depan Kedubes AS, jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.
Dalam orasinya, massa mendesak agar pemerintah menyelesaikan kontrak terhadap perusahaan tambang emas AS yakni Newmont dan PT Freeport karena sudah menguasai 90 persen produksi emas nasional.
"Kedatangan Hillary ditujukan untuk mengintervensi proses renegoisasi kontrak yang sedang dilakukan pemerintah Indonesia dan memanasnya perlawanan rakyat terhadap Freeport," katanya.
Langkah yang harus dilakukan Pemerintah bukan hanya renegoisasi, namun semestinya pemerintah melakukan nasionalisasi Freeport tanpa syarat apapun.
"Kami desak ini tidak cukup renegoisasi, tapi nasionalisasi. Nasionalisasi itu dibolehkan. Pemerintah telah lakukan kebodohan, seolah-olah nasionalisasi tidak bisa dilakukan, padahal ada aturannya," katanya.
Selain melakukan orasi, massa pengunjuk rasa juga membentangkan spanduk yang bertuliskan Amerika Serikat sama dengan VOC. Dalam aksi tersebut, sempat terjadi aksi dorong antara aparat polisi dan massa ketika spanduk yang berlatar belakang bendera Amerika Serikat tersebut dibakar massa.
Berdasarkan pantauan media, pengunjuk rasa yang berusaha membakar bendara di Kedubes AS lansung didorong mundur oleh polisi. Beberapa orang yang mencoba bertahan sempat terjatuh dan mencaci maki aparat kepolisian.
"Ini negara kami, kalian polisi Indonesia. Kenapa kami disuruh mundur," ujar salah seorang demonstran.
Hingga saat ini massa yang terdiri dari organisasi pemuda seperti PMII, Repdem LMND dan PRD serta beberapa organisasi dari Papua seperti National Papua Solidarty (NAPAS) masih berkumpul di depan kantor kedubes AS. Mereka masih berusaha untuk menunggu perwakilan dari kedutaan besar untuk melakukan audiensi bersama mereka.