Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Cangkeman.net -Merawat orang tua di usia senja sudah jadi tanggung jawab setiap anak. Bukan cuma sekadar memberinya makan & minum, tetapi juga harus siap menjaganya selama dua puluh empat jam. Konon, ketika orang tua sudah sangat sepuh, tindakannya akan kembali seperti balita atau kanak-kanak lagi.
Ketika sudah usia di atas 80 tahun, tidak sedikit orang tua yg sudah pikun atau hilang ingatan secara tiba-tiba. Selain sering lupa sudah makan & minum, orang tua yg yang sudah pikun juga kerapkelambrangan(berjalan tanpa tujuan). Tentu saja, peristiwa hilangnya orang tua secara mendadak tersebut kerap menciptakan anak cucunya panik, & menggegerkan tetangga sekitar.
Tidak dapat dipungkiri, merawat orang tua yg sudah pikun merupakan suatu pekerjaan yg cukup pelik. Saya sendiri pernah mengalaminya. Bukan orang tua, melainkan simbah (orang tua bapak). Beliau hampir tidak ingat lagi dengan orang-orang terdekat. Kecuali bapak, paklik, & bulik.
Ada masa di mana simbah benar-benar layaknya anak kecil, seperti menaruh gorengan ke dalam gelas yg berisi teh panas, merengek minta es dawet, hingga mengaku belum dikasih makan, padahal sudah makan dua kali.
Selain kita, ada juga tetangga dekat rumah, pasangan suami istri muda yg juga tengah merawat orang tua berusia lebih dari 90 tahun. Mereka kerap kali mencari orang tuanya yg sering pergi tanpa pamit. Bahkan sempat beberapa kali harus diumumkan via TOA masjid.
Sebagai kawula muda yg pernah merawat orang tua berusia lebih dari 80 tahun & sudah pikun, saya memiliki tips cara merawat orang tua usia senja.
Singkirkan Benda Tajam & Berbahaya dari Rumah
Salah satu tips merawat orang tua pikun yaitu menyingkirkan benda-benda tajam di rumah. Orang tua yg sudah lansia & pikun, terkadang tidak menyadari apa yg sedang beliau lakukan. Untuk menghindari ancaman atau tindakan berbahaya, ada baiknya anda menyingkirkan benda-benda tersebut.
Selain itu, ada beberapa benda lainnya yg perlu disingkirkan, seperti tali pramuka, tali rafia, selendang, & tipe tali lainnya. Dalam beberapa kasus, khususnya di daerah Gunungkidul, ada beberpa lansia yg memiliki riwayat penyakit kronis & berniat untuk mengakhiri hidupnya. Dengan menyingkirkan tipe tali tersebut, dapat meminimalisir tindakansuicide.
Tanyakan Perihal Pasang Susuk
Pasang susuk di bagian tubuh tertentu jadi salah satu ritual yg masih eksis hingga sekarang, tak terkecuali di Gunungkidul, tempat saya lahir & merenung. Biasanya, pasang susuk dilakukan untuk menjaga kewibawaan, menambah kharisma, hingga menambah kekuatan seseorang. Namun hal itu bukan tanpa resiko. Konon, orang yg pasang susuk akan susah meninggal dunia. Sederhananya, meski sudah sangat tidak berdaya atau sakit parah, orang yg menjalani cara klenik ini akan susah meninggal dunia. Biasanya, keluarga akan mencarikan dukun atau "orang pintar" untuk mengambil susuk di bagian tubuhnya. Dengan begitu, apabila orang tua yg lansia sudah tidak berdaya, dapat meninggal dunia dengan tenang.
Sebelum orang tua terlalu pikun, ada baiknya anak menanyakan tentang susuk yg dipakai orang tuanya. Hal ini cukup penting, mengingat untuk kemudahan orang tua yg lanjut usia dalam menghadapi kematian.
Selain itu, untuk beberapa masyarakat Gunungkidul, mengambil susuk dari orang tua yg sudah lansia adalah untuk menghindari kematian pada malam Selasa Kliwon. Karena masyarakat Gunungkidul percaya kalau ada orang yg meninggal pada hari tersebut, mayatnya akan dimakan binatang buas atau jadi tumbal pesugihan. Sehingga biasanya, makamnya akan dijaga selama 7-40 hari.
Terlepas dari itu semua, tentu saja kematian, jodoh, & rejeki semua ada di tangan Tuhan. Hal tersebut cuma bagian dari tradisi atau kepercayaan yg hingga kini masih ada, khususnya di Gunungkidul, tempat saya tinggal & menghirup udara segar.
Sadar Diri
Setiap orang tua akan sering berkorban untuk anak-anaknya. Berbagai cara ditempuh supaya kelak anaknya jadi orang yg berguna & berbakti kepadanya. Bahkan mereka rela mengorbankan apa saja demi putra-putrinya.
Apa yg sudah dilakukan seorang anak untuk orang tuanya, tidak akan sebanding dengan perjuangan para orang tua dalam membesarkan anak-anaknya. Seberat apapun kondisi yg dialami saat menghidupi anak-anaknya, orang tua tidak akan pernah mengeluh & meminta imbalan.
Sementara itu, tidak sedikit anak yg menitipkan orang tuannya yg sudah lansia di panti sosial karena sibuk mengurus pekerjaan. Banyak sekali anak meninggalkan orang tua seorang diri di rumah untuk urusan duniawi.
Sudah semestinya anak memiliki pencerahan yg tinggi bahwa mereka semua pernah ngompol,pupdi celana, menangis minta mainan, & pernah ketiduran, & pernah ketiduran di depan televisi lalu keesokan paginya sudah di kamar. Bukankah semua itu mereka lakukan demi sayang? Bukan seperti anak-anak mereka yg kadang cuma memikirkan warisan semata?
Tulisan ini ditulis oleh Jevi Adhi Nugraha diCangkemanpada tanggal 17 Januari 2022.
Hari ini 19:54