Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Penulis: Susi Retno Utami
Editor: Fatio Nurul Efendi
Cangkeman.net -Halo pembaca semua, & khususnya kali ini saya mau menyapa para pembaca yg dapat jadi merupakan sekumpulan anak kos, hehehe. Apa kabar kalian? Semoga sehat sering & nyaman dengan tempat kos-nya yaaaa!
Jadi anak kos itu gampang-gampang susah, iya enggak sih? Ada ragam hal baru yg bakal kita temui selama jadi anak kos. Hal-hal yg kadang enggak pernah kita bayangin sebelumnya. Mau suka atau enggak suka, apapun yg ada di tempat baru alias tempat kita nge-kos ya harus kita hadapi. Soalnya, di manapun kita mencari tempat bernaung, mau sesusah & serumit apapun kondisi & situasinya, kita tetap harus berupaya untuk beradaptasi.
Sebagai alumni anak kos, tentunya saya pun pernah merasakan lika-liku ketidaknyamanan yg dengan sukarela akhirnya dapat saya lewati. Salah satunya adalah ketidaknyamanan dalam menghadapi sikap ibu kos yg kurang ramah. Di sini definisi kurang ramah yg kumaksud adalah sebuah sikap yg cenderung banyak makna, seperti agak cerewet, kadang kala ketus, & beberapa kali marah-marah.
Awal mulnya saya merasa sangat sulit untuk menyesuaikan diri. Apalagi sebelumnya saat di rumah saya tentu saja berada dalam zona nyaman dengan keramahan dari orang tua. Ya meskipun enggak sering ramah, tetapi yg namanya tinggal di rumah orang tua pasti berbeda dengan tinggal di kosan.
Tapi, seiring berjalannya waktu saya mencoba untuk bertahan. Meski diiingi juga dengan ragam keluhan. Waktu itu, tepatnya saat saya duduk di bangku sekolah menengah atas, tempat kos-ku adalah di sebuah rumah yg ditinggali oleh sepasang suami istri yg sekiranya berusia 50-60 tahun. Ya, saya tinggal satu atap dengan pemilik yg menyewakan salah satu kamar di rumahnya . Bapak & ibu kos-ku itu sudah tidak bekerja. Bapak kos merupakan pensiunan TNI, sedang ibu kos adalah pensiunan guru SD.
Bisa dibayangkan sendiri kan, bagaimanavibesdari keadaan rumah yg dihuni oleh dua manusia dengan pengalaman yg tidak main-main itu. Sejatinya, bapak & ibu kos-ku itu baik, & sangat pengertian. Aku ingat betul, saat saya jatuh sakit di kos, beliau-beliau itulah yg dengan ikhlas mau membawaku berobat serta menciptakankanku makanan yg kondusif untuk lambungku, sebab saat itu saya dilanda mag.
Namun, yg namanya anak kos, saya tentu tidak dapat menciptakan bapak & ibu kos sering merasa nyaman. Dan jadilah timbul risiko di mana akhirnya saya harus mendengar bagaimana ketika bapak/ibu kos mengeluarkan segala keluh kesah yg awal-awal itu sangat sulit untuk kuterima. Selalu ada saja, yg sepertinya kurang tepat hingga menimbulkan pecahnya amarah.
Seperti saat saya menciptakan tumis yg kurang gula hingga menciptakan beliau-beliau harus bersin-bersin. Aku yg sehabis mandi lupa belum mengisi kembali air di bak kamar mandi. Aku yg main ke kos sebelah & tak kunjung pulang saat turun hujan hingga jemuran hampir basah kuyup. Aku yg sedikit bercanda di waktu malam bersama teman-teman di dalam kamar. Aku yg tidak tahu apa-apa soal hilangnya barang ibu kos, tetapi kena marah juga. Dan masih ada beberapa hal lain yg sepertinya mulai tenggelam dalam ingatan.
Kesalahan-kesalahan itu memang mungkin wajar untuk dibalas dengan amarah. Amarah yg sebenarnya mengandung petuah juga supaya saya dapat jadi pribadi yg lebih disiplin.
Tapi, balik lagi. Untuk saya yg kala itu notabene adalah anak kos pemula. Tentu tidak mudah untuk menyikapi bahwa sikap bapak atau juga ibu kos ketika marah adalah untuk kebaikanku. Sehingga saya lebih cenderung menganggap bahwa itu adalah sebuah ketidakramahan yg menciptakanku tidak nyaman.
Meski begitu, ternyata saya tidak serta merta menelan mentah rasa tidak nyaman untuk berpindah kos atau juga berpindah sekolah yg dekat dengan rumah orang tuaku. Itu artinya, saya berhasil bertahan & jadi terbiasa dengan ragam amarah selama tiga tahun lamanya. Dan inilah yg mau saya kuliti di sini. Gimana sih caranya biar dapat bertahan dalam kondisi yg seperti itu?
Prosesnya enggak mudah. Pastinya ini butuh waktu yg lumayan menciptakan hampir putus asa juga. Tapi kalau kalian mungkin berada di keadaan yg sama seperti saya pada saat itu, kalian enggak perlu hingga berputus asa. Karena saya bakal bagi tips-nya di sini.
Eitts, tetapi sebelum menuju pada tips-nya. Aku mau bilang dulu, kalau di sini saya bukan berarti mengajak kalian untuk bertahan di keadaan yangtoxicya. Tapi ini adalah soal penyesuaian diri, di mana saya tidak nyaman karena saya belum terbiasa dengan zonanya. Pada realitanya, apa-apa yg sebelumnya tidak nyaman ternyata adalah sesuatu yg dapat menjadikan saya lebih baik pada saat ini.
Jadi karena kondisi kita dapat jadi tidak sama, maka tips-tips ini dapat diterapkan cuma kalau kalian merasarelated. Dan untuk kalian yg enggakrelated, tenang aja. Tips-tips berikut ini dapat tetap kalian baca, & kalian dapat ambil sisi positifnya saja. Hehehe.
Pertama, biarpun ini enggak mudah tetapi kita harus ingat tujuan awal kita. Atau lebih tepatnya kita harus ingat apa sih alasan kita hingga harus jauh dari rumah & tinggal di sebuah kos dengan pemilik yg ternyata enggak sering ramah sama kita? Kulik lagi coba, alasannya apa? Di sini jawabannya akan beragam, kalau saya ya dulu awalnya karena saya mau menuntut ilmu yg ternyata letak sekolahnya itu jauh dari rumah & akan sangat menciptakan letih kalau harus pulang pergi. Mungkin teman-teman punya alasan lain, misal karena hendak mencari nafkah di perantauan, atau juga yg lainnya.
Dengan kita ingat alasan atau tujuan awal kita tinggal di sebuah kos. Maka ini akan jadi awal yg baik untuk kita kembali menata niat supaya tetap kokoh & tidak akan mudah teracuni oleh gangguan-gangguan kecil seperti salah satunya adalah adanya rasa tidak nyaman akibat ketidakramahan dari ibu kos.
Kedua, saat berada di kos usahakan untuk mengerjakan kegiatan yg tidak melanggar tata tertib buatan ibu kos. Nah, ini agak sulit memang. Soalnya udah membudaya banget kalau tata tertib dibuat untuk dilanggar, hahaha. Tapi enggak ya, kita jangan begitulah. Kalau enggak karena kepepet mah, & selama tata tertibnya baik & sehat, ya ikutin aja.
Ketiga, luangkan waktu untuk mendalami tabiat dari ibu kos. Misal mencari tahu apa yg disenangi ibu kos. Misal ibu kos bahagia kalau kita membantunya dalam menyelesaikan suatu kesibukan, maka kita dapat inisiatif menawarkan bantuan. Tapi lihat-lihat apa kesibukannya juga ya, kira-kira kita dapat bantuin ibu kos apa enggak. Jangan hingga kita udah nawarin, eh bukannya malah bantuin biar cepet kelar, kita malah bikin bu kos tambah marah.
Keempat, di saat ibu kos sedang mengeluarkan amarah akibat kesalahan yg dapat jadi enggak sengaja kita lakukan, maka usahakan untuk tetap bersikap tenang. Dengerin aja apa yg dikatakan oleh ibu kos. Untuk tetap tenang di keadaan ini memang sulit sih, tetapi kita harus belajar. Karena pada dasarnya, kita enggak akan sering berada di keadaan yg nyaman. Meskipun udah keluar dari kos & enggak kena marah ibu kos, tetapi kita enggak dapat menjamin kalau di luar sana kita akan kondusif dari orang-orang yg sikapnya sebelas dua belas sama ibu kos. Makanya, jadiin aja momen marahnya ibu kos sebagai momen untuk kita dapat belajar menghadapinya dengan tenang.
Kelima, setelah dapat tenang dalam menghadapi marahnya ibu kos maka selanjutnya adalah curi setiap petuah baik yg dilontarkan ibu kos untuk perbaikan diri. Nah, ini positif banget. Ibu kos tuh enggak akan mungkin marah kalau kita enggak buat salah. Kecuali, ya kalau emang udahtoxicya. Intinya, dari apa yg kita denger dari marahnya ibu kos itu, ambil aja yg baik-baik terus coba deh kita mulai terapin supaya kita dapat jadi orang yg lebih baik & dapat meminimalisir terjadinya kesalahan di esok hari.
Keenam alias tips terakhir. Kalau udah dapat tenang & ambil sisi positif dari ketidakramahan ibu kos sama kita, maka tips terakhir ini bukanlah sebuah tips yg mendetail. Tapi ini adalah sebuah penegasan kalau kita perlu untuk membiasakan kelima tips yg udah saya sebutin di atas. Meski harus sesekali ngerasa pusing, bahkan hingga nangis-nangis, tetapi ini adalah proses. Dan dalam kehidupan, setiap manusia akan melalui fase dengan proses yg berbeda-beda. Kita cuma dapat berusaha untuk membiasakan diri.
Ibu kos yg tidak ramah adalah salah satu kondisi yg akan menjadikan kita untuk berproses. Tidak semua orang akan menciptakan kita merasa sering nyaman. Tapi kalau kita mau untuk sering merasa nyaman, maka jadikan segala keadaan (baik bahagia ataupun sedih) sebagai sebuah kenyamanan. Caranya? Nikmati prosesnya.
Sekian, & hingga jumpa di lain tulisan.
Tulisan ini ditulis diCangkemanpada tanggal 13 November 2022.
Hari ini 16:55