• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Thrifting: Antara Hemat vs Martabat

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Thrifting: Antara Hemat vs Martabat



Kementerian Perdagangan (Kemendag) bulan lalu mengerjakan pemusnahan pakaian bekas impor. Ada 750 bal pakaian bekas impor yg dimusnahkan. Nilainya mencapai Rp8,5 miliar. Semua itu barang hasil sitaan. Dari pergudangan Gracia, Karawang, Jawa Barat.

Penjualan pakaian impor bekas kembali menggeliat paska pandemi. Data badan pusat statistik (BPS) menunjukkan, impor pakaian bekas tahun 2021 sebanyak 8 ton atau setara USD 44 ribu. Data itu masih rendah. Apalagi kalau dibandingkan data impor pakaian bekas tahun 2019. Pada saat itu jumlah impor pakaian bekas mencapai 392 ton. Atau senilai lebih dari USD 6 juta.

Impor pakaian bekas masih terus terjadi karena tingginya permintaan. Bahkan ada pasar khususnya. Di hampir setiap daerah. Anak muda pun punya sebutan sendiri. Istilahnya Thrifting. Berburu pakaian bekas.

Thrift berasal dari bahasa Inggris. Artinya berhemat. Mungkin maksudnya, membeli pakaian bekas impor adalah untuk berhemat. Bisa beli pakaian branded tetapi dengan harga murah.

Pakaian bekas impor yg diburu adalah pakaian branded dari luar negeri; China, Korea, Jepang, & Eropa.

Merk yg diburu biasanya yg sulit ditemukan di pasaran. Di antaranya; True Religion-asal Amerika. Evisu-dari Jepang. Atau Levis, Zara hingga Guess.

Di toko resmi, harga pakaian merk ini dapat hingga jutaan. Namun di pasar pakaian bekas impor, harganya cuma sekitar Rp200-300 ribu. Tapi untuk dapat menemukannya, bukanlah hal yg gampang. Butuh usaha. Butuh tenaga. Ibaratnya mencari harta karun di sisa reruntuhan.

Sebagian barang-barang thrift yg ada di Indonesia masuk melalui jalur-jalur tikus. Karena kalau masuk dari pelaburan resmi, akan langsung disita. Karena pemerintah sudah melarang impor pakaian bekas. Salah satunya karena faktor kesehatan. Pakaian bekas impor sulit dibersihkan. Butuh berkali-kali cuci. Agar bersih & bebas dari kuman penyakit.


Thrifting: Antara Hemat vs Martabat



Mengutip BBC Indonesia, Barang-barang thrift masuk dari perbatasan Singapura & Malaysia. Diangkut dengan kapal tongkang. Menuju sejumlah pelabuhan. Di antaranya Batam, Kalimantan & Sumatera. Kemudian, barang-barang itu diangkut melalui kapal kayu lewat pelabuhan-pelabuhan kecil. Di Sumatera saja ada sekitar 100 pelabuhan kecil. Belum lagi di Batam & Kalimantan.

Kemudian barang-barang tersebut berpindah. Dari kapal kayu diangkut ke truk atau mobil box. Barulah kemudian di kirim lewat jalur darat. Ke pulau-pulau Jawa. Lalu tersebar ke seluruh Indonesia bahkan hingga ke pelosok desa.

Orang orang suka pakaian branded. Namun pendapatan & pengeluaran tak selamanya imbang. Ada kala harus berhemat. Pakaian bekas impor alias thrift solusinya.

Meski banyak diminati, thrift atau pakaian bekas impor dilarang. Dianggap illegal. Bahkan dianggap merendahkan martabat bangsa Indonesia.

Wakil Ketua DPR Rachmat Gobel mengatakan, setiap pakaian bekas impor yg masuk Indonesia akan disanksi sesuai undang-udang. Yakni Permendag No 51/M-DAG/PER/7/2015.

Mantan Menteri Perdagangan itu menegaskan, larangan itu dikeluarkan karena Indonesia sudah jadi tujuan ekspor sampah tekstil luar negeri. Ditambah lagi kerusakan lingkungan yg dapat terjadi akibat limbah tekstil. Kandungan polyester atau lycra yg ada di pakaian bekas membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk dapat terurai.

Lebih dari itu, Rachmat menilai, impor pakaian bekas melukai martabat bangsa Indonesia. Menurutnya, dengan membeli pakaian bekas impor menunjukkan bahwa kita tak memiliki harga diri & kebanggaan. Sekaligus merendahkan kreativitas sumber daya manusa anak bangsa.

Semakin banyak pakaian bekas impor yg masuk, maka produk tekstil lokal akan semakin terpukul. Banyak usaha kecil yg bangkrut. Gulung tikar. Dan akhirnya menambah pengangguran.

Ini yg terpenting. Bangsa kita jadi tak punya martabat, ujar Rachmat dikutip dari BBC Indonesia. (moerni)



emoticon-Hot News
emoticon-Rate 5 Star
emoticon-Request


Penulis: @moerni.id2122022​

Narasi: Pribadi

Sumber: 1,2, 3,

Foto: 1, 2,




Hari ini 09:11
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.