Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
NU Online, dalam artikel berjudul Revitalisasi Karakter Santri di Era Milenial, menulis bahwa istilah santri konon berasal dari dua mengatakan bahasa Inggris,sun(matahari) danthree(tiga), yg bersama-sama menyiratkan tiga matahari sebagai metafora tiga penciptaan tabiat utama: Iman, Islam, & Ihsan . Pendekatan ini terasa seperti cara yg cerdas untuk mengubah bahasa sehari-hari jadi slogan yg mudah dihafaltapi juga meninggalkan jejak pertanyaan: mengapa kita harus percaya begitu saja pada metafora itu, sementara asal-usul mengatakan santri masih kaya kemungkinan?
Kuntowijoyo, sejarawan & sastrawan yg gemar membongkar makna tersembunyi dalam kata-kata, pernah menulis bahwa istilah santri memang tidak lahir di ruang hampa. Dalam catatan yg banyak dikutip, ia menelusuri kemungkinan asal-usulnya dari katashastridalam bahasa Sanskerta atau Tamil, yg berarti orang yg mempelajari kitab suci. Kuntowijoyo tidak bicara langsung soalThree Suns, apalagi dalam kerangka kristenisasi, tetapi nada analitisnya sering membuka ruang bagi pembacaan bahwa istilah ini dapat bermigrasi makna, berganti kulit, & jadi alat kuasa. Jika seseorang mau sedikit nakal menghubungkan titik-titik,Three Sunsdapat saja jadi salah satu paras tersembunyi dari mengatakan yg kini kita pakai dengan santai di warung kopi.
Persoalannya bukan semata etimologi, melainkan politik bahasa. Bahasa, seperti diingatkan Michel Foucault, bukan cermin netral realitas, tetapi arena pertarungan kekuasaan. Ketika sebuah istilah lahir, berkembang, & diterima, ia seringkali membawa serta agenda pihak yg mempopulerkannya. Jika santri memang memiliki irisan dengan simbol Three Suns yg akrab di dunia misionaris Eropa, kita harus siap menghadapi kenyataan bahwa beberapa bukti diri Islam tradisional di Indonesia mengandung jejak konstruksi kolonial.
Bayangkan, sebuah pesantren di pedalaman Jawa, dengan ratusan santri berpeci putih, khusyuk mengaji kitab kuning. Tak ada yg menyangka bahwa mengatakan yg mereka pakai untuk menyebut diri sendiri mungkin memiliki hubungan jauh dengan simbol tiga bola api kosmik yg dulu dicetak di panji-panji gereja Katolik. Apakah ini kebetulan linguistik atau hasil infiltrasi simbolik? Dalam sejarah kolonial, kebetulan sering kali hanyalah nama lain dari strategi.
Kita dapat mulai dengan menelisik praktik pendidikan berasrama. Zoetmulder dalamKalangwanmengingatkan bahwa model pendidikan tinggal di kompleks guru sudah ada jauh sebelum Islam datangparacantrikdi padepokan Hindu-Buddha adalah bukti. Lalu, di era kolonial, model ini direkayasa ulang dalam bentukboarding schoolmisionaris, yg bertujuan mencetak kader rohani & sosial yg patuh. John W. OMalley mencatat bagaimana sekolah-sekolah ini didesain untuk memutus ikatan siswa dengan keluarga & tradisi lama, supaya doktrin baru dapat meresap tanpa gangguan.
Jika pesantrensebagaimana kita kenal sekarangmengadopsi format berasrama ini, maka penggunaan istilah santri yg kebetulan (atau sengaja) selaras bunyinya dengan Three Suns dapat dibaca sebagaibrandingcanggih ala zaman ke-17.Brandingini tak cuma menandai bukti diri murid, tetapi juga menyisipkan warisan visual & teologis dari proyek kolonial.
Di sinilah satire mengintip: kita mengira sedang menegakkan kemandirian Islam tradisional, padahal mungkin sedang merawat bibit yg ditanam di lahan kolonial. Seperti memelihara tanaman langka yg ternyata bibitnya dibawa VOC dari kebun misi di Manila.
Anthony Reid dalamSoutheast Asia in the Ageof Commercemenguraikan bahwa para misionaris kerap memodifikasi simbol asing supaya terasa akrab di mata lokal. Di Filipina, Three Suns dipadukan dengan simbol-simbol agraris & kosmik pribumi. Tidak sulit membayangkan trik serupa terjadi di Jawa, di mana masyarakat sudah akrab dengan konsep kosmologi tiga unsur, tiga dewa, atau tiga sumber cahaya. JikaThreeSunsdisisipkan ke dalam istilah yg kemudian kita kenal sebagai santri, proses penerimaannya akan mulusbahkan tanpa disadari.
Sejarah, seperti mengatakan Kuntowijoyo, harus dibaca sebagai proses yg memuat makna. Artinya, sebuah istilah bukan cuma label, tetapi kapsul sejarah yg menyimpan fragmen kekuasaan, perjumpaan budaya, & benturan ideologi. Membaca santri cuma sebagai murid pesantren sama saja dengan membaca prasasti cuma dari ukirannya, tanpa menggali tanah di sekitarnya.
Denys Lombard, dalamNusa Jawa: SilangBudaya, menulis bahwa santri di masa kolonial membentuk kelompok sosial baru: berbeda dari rakyat jelata, tetapi tetap berada dalam orbit patronase elite. Dengan mengatakan lain, santri tidak sepenuhnya merdeka; mereka adalah bagian dari sistem yg menghubungkan kiai, bangsawan lokal, & penguasa kolonial. Dalam perspektif ini, kalau ada jejak Three Suns dalam istilah santri, maka ia bukan sekadar lelucon etimologis, melainkan bukti bahwa simbol kolonial dapat berasimilasi dengan struktur sosial lokal.
Ironi jadi lebih perih ketika kita menyadari bahwa beberapa orang yg paling gigih membela kemurnian istilah santri sebenarnya sedang mempertahankan warisan kolonial yg dibungkus sarung. Ini seperti orang yg marah-marah soal nasionalisme tetapi setiap hari meminum kopi merek Belanda tanpa sadar.
Membicarakan santri sebagai ThreeSuns memang mengundang risiko tuduhan: ahistoris, provokatif, bahkan menghina tradisi. Namun sejarah Nusantara sudah terlalu lama diperlakukan seperti album foto keluarga: cuma menampilkan momen-momen cantik, menghapus bagian-bagian yg memalukan. Kita diajari untuk merayakan kebesaran masa lalu sambil mengabaikan noda di sudut bingkai.
Michel Foucault pernah mengingatkan bahwa tugas kritikus sejarah adalah mengembalikan peristiwa yg terkubur ke permukaan, bahkan kalau itu mengganggu narasi yg sudah mapan. Dalam hal ini, membongkar kemungkinan hubungan santri & ThreeSuns adalah bagian dari tugas itu.
Jika kita menerima bahwa bahasa adalah arsip hidup, maka mengatakan santri adalah semacamtrojan horselinguistik. Ia terlihat lokal, akrab, Islami, tetapi mungkin membawa muatan simbolik dari proyek kekuasaan global. Dan seperti semua kuda Trojan, muatan ini bekerja senyap, menunggu momen tepat untuk memengaruhi struktur makna di kepala pemilik rumah.
Pertanyaannya: apakah kita siap membaca ulang bukti diri sendiri tanpa takut kehilangan romantisme? Apakah kita siap mengakui bahwa beberapa keaslian kita adalah hasil percampuran, infiltrasi, bahkan manipulasi simbolik?
Mungkin sudah saatnya kita berhenti memperlakukan istilah santri sebagai relik suci yg tak boleh disentuh kritik. Sebaliknya, kita dapat memanfaatkannya sebagai studi kasus tentang bagaimana simbol bergerak lintas budaya, agama, & politik.
Karena, pada akhirnya, tiga mentari itu masih bersinar. Entah mereka sedang menerangi halaman pesantren, altar gereja kolonial, atau halaman arsip VOC di Belandacahayanya tetap hingga, meski kita pura-pura tidak melihatnya.
Kuntowijoyo, sejarawan & sastrawan yg gemar membongkar makna tersembunyi dalam kata-kata, pernah menulis bahwa istilah santri memang tidak lahir di ruang hampa. Dalam catatan yg banyak dikutip, ia menelusuri kemungkinan asal-usulnya dari katashastridalam bahasa Sanskerta atau Tamil, yg berarti orang yg mempelajari kitab suci. Kuntowijoyo tidak bicara langsung soalThree Suns, apalagi dalam kerangka kristenisasi, tetapi nada analitisnya sering membuka ruang bagi pembacaan bahwa istilah ini dapat bermigrasi makna, berganti kulit, & jadi alat kuasa. Jika seseorang mau sedikit nakal menghubungkan titik-titik,Three Sunsdapat saja jadi salah satu paras tersembunyi dari mengatakan yg kini kita pakai dengan santai di warung kopi.
Persoalannya bukan semata etimologi, melainkan politik bahasa. Bahasa, seperti diingatkan Michel Foucault, bukan cermin netral realitas, tetapi arena pertarungan kekuasaan. Ketika sebuah istilah lahir, berkembang, & diterima, ia seringkali membawa serta agenda pihak yg mempopulerkannya. Jika santri memang memiliki irisan dengan simbol Three Suns yg akrab di dunia misionaris Eropa, kita harus siap menghadapi kenyataan bahwa beberapa bukti diri Islam tradisional di Indonesia mengandung jejak konstruksi kolonial.
Bayangkan, sebuah pesantren di pedalaman Jawa, dengan ratusan santri berpeci putih, khusyuk mengaji kitab kuning. Tak ada yg menyangka bahwa mengatakan yg mereka pakai untuk menyebut diri sendiri mungkin memiliki hubungan jauh dengan simbol tiga bola api kosmik yg dulu dicetak di panji-panji gereja Katolik. Apakah ini kebetulan linguistik atau hasil infiltrasi simbolik? Dalam sejarah kolonial, kebetulan sering kali hanyalah nama lain dari strategi.
Kita dapat mulai dengan menelisik praktik pendidikan berasrama. Zoetmulder dalamKalangwanmengingatkan bahwa model pendidikan tinggal di kompleks guru sudah ada jauh sebelum Islam datangparacantrikdi padepokan Hindu-Buddha adalah bukti. Lalu, di era kolonial, model ini direkayasa ulang dalam bentukboarding schoolmisionaris, yg bertujuan mencetak kader rohani & sosial yg patuh. John W. OMalley mencatat bagaimana sekolah-sekolah ini didesain untuk memutus ikatan siswa dengan keluarga & tradisi lama, supaya doktrin baru dapat meresap tanpa gangguan.
Jika pesantrensebagaimana kita kenal sekarangmengadopsi format berasrama ini, maka penggunaan istilah santri yg kebetulan (atau sengaja) selaras bunyinya dengan Three Suns dapat dibaca sebagaibrandingcanggih ala zaman ke-17.Brandingini tak cuma menandai bukti diri murid, tetapi juga menyisipkan warisan visual & teologis dari proyek kolonial.
Di sinilah satire mengintip: kita mengira sedang menegakkan kemandirian Islam tradisional, padahal mungkin sedang merawat bibit yg ditanam di lahan kolonial. Seperti memelihara tanaman langka yg ternyata bibitnya dibawa VOC dari kebun misi di Manila.
Anthony Reid dalamSoutheast Asia in the Ageof Commercemenguraikan bahwa para misionaris kerap memodifikasi simbol asing supaya terasa akrab di mata lokal. Di Filipina, Three Suns dipadukan dengan simbol-simbol agraris & kosmik pribumi. Tidak sulit membayangkan trik serupa terjadi di Jawa, di mana masyarakat sudah akrab dengan konsep kosmologi tiga unsur, tiga dewa, atau tiga sumber cahaya. JikaThreeSunsdisisipkan ke dalam istilah yg kemudian kita kenal sebagai santri, proses penerimaannya akan mulusbahkan tanpa disadari.
Sejarah, seperti mengatakan Kuntowijoyo, harus dibaca sebagai proses yg memuat makna. Artinya, sebuah istilah bukan cuma label, tetapi kapsul sejarah yg menyimpan fragmen kekuasaan, perjumpaan budaya, & benturan ideologi. Membaca santri cuma sebagai murid pesantren sama saja dengan membaca prasasti cuma dari ukirannya, tanpa menggali tanah di sekitarnya.
Denys Lombard, dalamNusa Jawa: SilangBudaya, menulis bahwa santri di masa kolonial membentuk kelompok sosial baru: berbeda dari rakyat jelata, tetapi tetap berada dalam orbit patronase elite. Dengan mengatakan lain, santri tidak sepenuhnya merdeka; mereka adalah bagian dari sistem yg menghubungkan kiai, bangsawan lokal, & penguasa kolonial. Dalam perspektif ini, kalau ada jejak Three Suns dalam istilah santri, maka ia bukan sekadar lelucon etimologis, melainkan bukti bahwa simbol kolonial dapat berasimilasi dengan struktur sosial lokal.
Ironi jadi lebih perih ketika kita menyadari bahwa beberapa orang yg paling gigih membela kemurnian istilah santri sebenarnya sedang mempertahankan warisan kolonial yg dibungkus sarung. Ini seperti orang yg marah-marah soal nasionalisme tetapi setiap hari meminum kopi merek Belanda tanpa sadar.
Membicarakan santri sebagai ThreeSuns memang mengundang risiko tuduhan: ahistoris, provokatif, bahkan menghina tradisi. Namun sejarah Nusantara sudah terlalu lama diperlakukan seperti album foto keluarga: cuma menampilkan momen-momen cantik, menghapus bagian-bagian yg memalukan. Kita diajari untuk merayakan kebesaran masa lalu sambil mengabaikan noda di sudut bingkai.
Michel Foucault pernah mengingatkan bahwa tugas kritikus sejarah adalah mengembalikan peristiwa yg terkubur ke permukaan, bahkan kalau itu mengganggu narasi yg sudah mapan. Dalam hal ini, membongkar kemungkinan hubungan santri & ThreeSuns adalah bagian dari tugas itu.
Jika kita menerima bahwa bahasa adalah arsip hidup, maka mengatakan santri adalah semacamtrojan horselinguistik. Ia terlihat lokal, akrab, Islami, tetapi mungkin membawa muatan simbolik dari proyek kekuasaan global. Dan seperti semua kuda Trojan, muatan ini bekerja senyap, menunggu momen tepat untuk memengaruhi struktur makna di kepala pemilik rumah.
Pertanyaannya: apakah kita siap membaca ulang bukti diri sendiri tanpa takut kehilangan romantisme? Apakah kita siap mengakui bahwa beberapa keaslian kita adalah hasil percampuran, infiltrasi, bahkan manipulasi simbolik?
Mungkin sudah saatnya kita berhenti memperlakukan istilah santri sebagai relik suci yg tak boleh disentuh kritik. Sebaliknya, kita dapat memanfaatkannya sebagai studi kasus tentang bagaimana simbol bergerak lintas budaya, agama, & politik.
Karena, pada akhirnya, tiga mentari itu masih bersinar. Entah mereka sedang menerangi halaman pesantren, altar gereja kolonial, atau halaman arsip VOC di Belandacahayanya tetap hingga, meski kita pura-pura tidak melihatnya.