Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Quote:
Maaf sebelumnya, kemungkinan cerita ini agak panjang supaya runtut. Yang lagi berpuasa dapat untuk membunuh waktu menanti maghrib. Tapi kalau ngantuk minum kopinya nunggu bedug Maghrib ya...
Quote:
Marhaban Ya Ramadhan...Selamat Datang bulan suci Ramadhan. Selamat beribadah di bulan Ramadhan bagi kalian yg menunaikannya. Tunaikan #DiRumahAja ya...
Sedih memang, gue gak pernah membayangkankan sebelumnya kalau gue akan mengalami bulan puasa di tengah pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) seperti sekarang ini. Tapi tak mengapa. Mengutip dari Syekh Ali Jaber (seorang ulama akbar asal Madinah yg kini sudah jadi WNI), bahwa kita harus mengikuti anjuran pemerintah untuk bekerja, & beribadah dari rumah. Tarawih di rumah, Shalat Jumat juga di rumah. Seorang ulama akbar yg sudah hafal Al Qur'an di usia 10 tahun & sudah jadi Imam sejak usia 13 tahun saja mengatakan hal ini. Jadi gue yg hina ini, yg ilmunya sangat jauh dari beliau, ya gak mau keras kepala seperti pergi ke masjid saat pandemi Covid-19 seperti ini.
(Detik.com)
Quote:
Sudah sejak tahun 2016 gue nyambi jadi driver ojol. Meski gak suka milih-milih orderan, orderan gue lebih sering makanan ketimbang penumpang atau barang. 90% makanan. Maka gue lebih sering motoran sendirian di jalanan. Helm ojol aja jarang terpakai. Malah seringkali gue tinggal supaya spacenya dapat bawa makanan lebih maximal.
(Fimela.com)
Karena sering sendirian, gue suka berhenti untuk menawarkan tebengan pada orang yg jalan kaki & terlihat menempuh perjalanan yg jauh. Seperti orang yg pulang kerja atau ketinggalan kereta terakhir. Gak sering orang yg gue tawarin ini menerimanya. Apalagi cewek. Apalagi kalau cantik! Yang ada mereka akan menatap gue dengan curiga atau buru-buru mempercepat jalannya. Kalau perlu nyeberang jalan dulu.
Gue gak menyalahkan mereka. Ini Jakarta. Di mana sulit membedakan mana yg tulus mana yg modus bahkan kriminal.
Kenapa gue mengerjakan hal ini? Toh gak merugikan gue. Apalagi kalau searah. Gak searah melenceng dikit juga paling setetes - dua tetes bensin. Dan doeloe banget, gue sering terpaksa jalan kaki pulang pergi ke tempat kerja karena ngirit bahkan gak punya ongkos. Jadi gue tau banget gimana rasanya.
Quote:
Gue pernah membonceng seorang pria sekitar 50 tahunan yg berniat jalan kaki dari Halte Pertanian Ragunan - Jakarta Selatan ke Pondok Cabe - Tangerang Selatan! Dikarenakan TransJakarta sudah habis (kasus terapi kejut Gubernur DKI Jakarta). Dia dapat saja ke Harmoni dulu tetapi selain muter, dia gak yakin juga dapet angkutannya.
Di sekitar Cilandak sebelum Rumah Sakit Fatmawati gue melewati dia. Gue gak langsung berhenti. Gue liat dari belakang & sekilas wajahnya dari spion. 'Oh, orang pulang kerja,' batin gue yakin.
Gue minggirin motor & menyalakan sein kiri. Gak lama dia akan melewati gue & gue tawarin bareng. Awalnya sempet ragu, tetapi melihat helm & jaket ojol (yang malem itu gue lagi bawa helm penumpang ojol) dia pun naik ke boncengan. Lalu gue kasih helm penumpang ke dia.
"Gapapa, Pak. Searah ini kok sama saya. Lagian saya emang udahan nariknya mau pulang."
"Mau kemana?" tanya gue.
"Terminal Lebak Bulus."
Gue ragu, karena emang lagi ada pembatasan angkutan umum. "Mau naik angkot atau rumahnya dekat situ?"
"Angkot yg Pondok Cabe, Mas."
Akhirnya dia cerita kenapa dia jalan kaki dari Halte Pertanian Ragunan karena TransJakarta arah Lebak Bulus tidak ada. Gue sih emang udah gak hapal rute TransJakarta yg sekarang.
Singkat cerita, gue menawarkan dia hingga rumahnya. Karena daripada dia gak dapet angkot juga, jalan kaki lagi sampe Pondok Cabe. Lumayan ada kali 7 km. Tadi aja jalan kaki itu perkiraan gue sekitar 5 km an. Dengan ragu dia mengiyakannya.
Di sepanjang jalan kami mengobrol. Dia banyak bercerita tetang keluarganya. Dan benar saja, saat ini ia sedang ditunggu oleh anaknya yg kecil.
Dia sempat mengajak untuk makan bubur ayam langganan dia. Gue menolak halus dengan alasan mau makan di rumah. Bagaimanapun dia kan lagi ditungguin anaknya.
Sampai rumah dia, 2 anaknya ada di depan rumah. Dan yg kecil langsung berlari ke arahnya. Meski dia gak cerita, dari bungkusan yg ia keluarkan dari tas, sepertinya makanan atau hadiah. Andai benar makanan, apa yg terjadi andai dia tadi jalan kaki sampe rumah?
Gue pun pamit. Kami sempat bertukar nomor WhatsApp.
Quote:
Tema event Kaskus Kreator kali ini dalah soal dampak akbar dari sebuah kebaikan. Gue percaya, sekecil apapun sebuah kebaikan, maka akan berdampak akbar baik untuk si pemberi kebaikan maupun penerima kebaikan. Satu kebaikan, akan melahirkan berjuta-juta kebaikan lainnya.
Dan satu pelajaran hidup yg gue pegang teguh hingga saat ini adalah: Hidup itu ibarat melempar bola tenis ke tembok. Jadi, akan berdampak ke diri sendiri. Entah itu kebaikan maupun kejelekan. Semakin keras kita lempar, semakin keras juga bola ini akan mengenai kita.
Kebiasaan sederhana gue membonceng orang yg sepertinya membutuhkan, sangat berdampak dalam hidup gue. Sebagai ojol, gue tentu pernah mengalami yg namanya motor mogok. Baik karena mesin maupun karena abis bensin. Dan seumur-umur gue dorong motor, belum pernah dorong sendiri sampe tujuan. Which is ke SPBU atau ke bengkel. Selalu saja ada malaikat penolong yg menolong mendorong motor gue dengan satu kakinya. Di sini diketahui dengan istilah 'setut'. Gak tau di tempat kalian disebut apa.
Paling sering sih di-setut sesama ojol. Ini mah mainstream. Gue pernah disetut seorang anak ABG (yang suka nongkrong-nongkrong di pinggir jalan itu loh! Gak sering mereka negatif. Ada yg baik hati juga).
Malam itu sekitar jam 11 malam, gue ada orderan food di daerah Jakarta Utara. 50 km-an dari rumah gue. Gue tau sih kalau bensin gue pas-pasan. Gue komat-kamit aja sepanjang jalan anter makanan supaya gak mogok. Uang gue udah gue pakai untuk belanja makanan ini. Jadi mau gak mau gue harus anter makanannya, payment dia masuk ke e-Wallet gue, gue ke ATM, baru deh nyari bensin. Berapa tahapan tuh?
2 km di waze dari tujuan motor gue mogok. Padahal itu perumahan baru yg masih sepiiii. Gue Bismillah aja dorong motor. Gue yakin, Allah gak akan nguji di luar batas kemampuan gue. Gue kuat kok dorong 2 km, batin gue.
Gak lama ada anak ABG yg nawarin diri untuk setutin motor. Kira-kira 10 meter gue dorong. Dan dia anter sampe depan perumahan si customer gue. Gue tawarin untuk tungguin gak mau. Niatnya, mau gue kasih sebagai ungkapan terima kasih sih, after gue drop makanan. Dianya menolah. Setelah dia memberi tahu posisi bensin eceran terdekat, dia berlalu.
Quote:
Gue standarin motor & lapor ke security. Gue hinggakan kalau motor gue mogok abis bensin. Gue berniat untuk jalan kaki mengantarkan makanannya. Gue juga chat ke customer udah di gerbang perumahan & lagi jalan kaki karena motor mogok.
Gue dikasih arah alamat yg gue tuju. Dan belum jauh gue jalan, sebuah motor berhenti di samping gue. Security yg tadi, nawarin diri nganterin. Karena jaraknya yg lumayan jauh. Alhamdulillah. Customer gue pun gak perlu berlama-lama untuk menikmati pesanannya.
Security ini bonceng gue lagi sampe post satpam. Bahkan dia minta ijin ke komandannya untuk nganter gue cari bensin.
Quote:
Sesuai tahapan yg gue tulis di atas, gue gak dapat langsung cari bensin. Tapi ke ATM dulu. Itupun gak mudah. Karena selain ATM jarang (ini masih di pelosok utara Jakarta), gue harus cari ATM dengan pecahan 50 ribu. Rata-rata ATM yg gue temuin pecahan 100 ribu. Untung security ini sabar & nganter ke beberapa ATM.
Akhirnya, pas nemu ATM 50 ribuan, gue ambil ATM, beli bensin ecerean 20 ribu. Karena dia gak mau gue beliin rokok. Pas udah sampe post satpam lagi, & abis isi bensin motor gue, gue pamit & memaksanya menerima 20 ribu ke kantong jaketnya. Dan meski uang tunai gue tinggal 10 rubu, abis dari situ gue masih dapet beberapa orderan lagi yg bahkan ada yg ngasih tips persis sejumlah gue beli bensin & yg gue kasih ke security ini. Tuhan memang kadang bekerja dengan cara yg gak kita duga-duga.
Sorry kepanjangan. Mulusnya juga dikit. Gue emang pengen fokus ke ceritanya.
Spoiler for Barbuk Cendol: